Candra pun menyiapkan dagangannya untuk pertama kalinya. “Kamu mau jualan dimana nak?” Tanya Bu Indah. “Disekitar kampung sini untuk sementara waktu Bu...,” Ucap candra. “Baiklah..., Semoga hari oertama berhasil ya nak...,” Ucap Bu Indah kepada putranya. Harapan besar bagi Candra dan keluarga agar bisa menjual ayam goreng yang baru saja dibuatnya dari satu rumah kerumah. Sebelum berangkat, Candra meminta doa restu kedua orang tuanya dengan membawa seratus potong ayam buatannya.
Candra mulai berjualan dengan menaiki motor bututnya dan mulai berteriak-teriak, “ayam goreng..., Ayam goreng murah meriah Bu.., pak, teteh.., adek neng cantik...” ucap Candra tanpa rasa malu. Mulai dari tetangganya, Candra pun menjual ayam goreng yang dibawanya, “harganya berapa a?” tanya salah seorang ibu yang tampak masih muda. “murah teh..., Yang paha enam ribu, yang sayap lima ribu...,” sahut Candra semangat. “yasudah..., Saya beli empat untuk sayap semuanya ya a...,” ucap ibu muda tersebut. “oke..., Terima kasih teh...,” ucap Candra sebelum meninggalkan rumah ibu muda tersebut.
Hari pertama membuat Candra sangat bahagia, dagangannya laku persatu sebelum keluar dari kampungnya sendiri. Hanya dengan waktu tiga jam saja, Candra bisa menghabiskan ayam goreng jualannya. Candra pun pulang dengan membawa tas kosong yang awalnya berisi ayam goreng dagangannya. Bu Indah yang baru saja selesai masak pun tampak kaget melihat putranya pulang, “loh..., Kok sudah pulang nak?” tanya Bu Indah. “iya Bu..., Lihat dagangannya Candra Bu, sudah habis terjual semuanya.” Ucap Candra dengan memperlihatkan isi tasnya. “alhamdulilah nak..., Hari pertama sudah bisa sukses.” Ucap Bu Indah yang ikut senang dengan habisnya dagangan Candra. Candra pun masuk kedalam rumahnya dengan membawa tas kosongnya. Candra bermaksud agar nanti siang dirinya bisa menemukan langganan ayam dengan harga yang agak miring agar Candra bisa mendapatkan keuntungan lebih. Hari ini saja pendapatan kotor Candra hanya lima ratus lima puluh ribu rupiah saja, tapi dengan segitu sudah cukup bagi Candra. Uang itu belum dikurangi membeli tepung, minyak goreng, dan juga ayam beserta saus dan bumbunya. Untuk hari kedua, Candra mempunyai rencana ingin membawa nasi, tapi dirasa agak repot karena nasi harus tetap hangat saat dijual. “nanti saja lah, kalau aku sudah mampu jualan dirumah, aku akan masak nasi sekalian untuk dijual.” Ucap Candra pada dirinya sendiri. Untuk hari kedua, Candra pun berencana akan menjual seratus lima puluh potong ayam untuk dijual. Candra juga memberi tahu Wulan tentang kesuksesannya berjualan di hari pertama. Tentunya Wulan pun selalu menyemangati kekasihnya itu, walau pendapatannya kecil, tapi bagi Wulan, Candra sudah berusaha sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhannya dan juga kebutuhan kedua orang tuanya.
Bagi Wulan, pendapatan Candra itu sangat kecil, bahkan pendapatan kotor harian Candra adalah uang jajan Wulan setiap hari yang diberi oleh ayahnya. Bu Sekar pun masuk kedalam kamar Wulan, “nak..., Kau yakin mau menikah dengan Candra? Dia itu miskin lho nak...,” ucap Bu Sekar meyakinkan Wulan. “Wulan yakin Bu..., Wulan pasti bisa hidup bahagia bersama dengannya.” Ucap Wulan kepada Bu Sekar. “ya..., Baiklah kalau begitu, kalau itu memang pilihanmu, ibu akan merestuimu, nak...,” ucap Bu Sekar lalu pergi meninggalkan Wulan dari kamarnya. Bu Sekar bermaksud untuk memberi tahu suaminya perihal tentang putrinya yang sudah siap menikah dengan laki-laki miskin pilihannya. Pak Cokro lalu diam sejenak dan menghela nafasnya. Pak Cokro tampak tidak ikhlas dengan pilihan putrinya. Tak sebanding, menurut pak Cokro. Tapi atas saran dari Lulun samak itu, pak Cokro pun menyetujui pilihan putrinya. “Kita restui saja apa yang dianggap putri kita itu baik, Bu. Kalau memang rezeki Wulan menjadi orang kaya, Candra pasti bisa meniti karirnya dengan lancar. Kita sebagai orang tua ya hanya bisa mendukung saja kan Bu.” Ucap pak Cokro kepada istrinya. Dengan sangat tenang pak Cokro mengatakan hal itu, hal yang membuatnya sangat yakin dengan ucapan dan saran dari Lulun samak itu. “Pak..., Besok bapak minta saja kepada mereka untuk bekerja lagi bersama kita, kedua orang tua Candra itu kan juga masih bisa bekerja. Kasihan pak...,” ucap Bu Sekar. “Iya Bu..., Besok bapak akan menyuruh staf bapak untuk memanggil mereka berdua untuk bekerja lagi di kebun dan peternakan milik kita.” Ucap pak Cokro.
Kedua orang tua Wulan dan kedua orang tua Candra sudah sepakat dan setuju dengan pilihan Wulan. Bagi pak Cokro, orang menikah di zaman sekarang sangat simpel, kalau sudah tidak cocok ya tinggal bercerai. Kalau sudah cocok ya akan beranak Pinak sampai mempunyai cucu dan juga cicit. Zaman sekarang sudah berbeda dengan zaman saat pak Cokro masih muda. Beberapa orang terutama wanita, lebih memilih untuk mempertahankan pernikahannya walaupun sudah tidak nyaman lagi hidup bersama dengan pasangannya. Zaman dulu, semua keputusan ada ditangan laki-laki mulai dari hari ini masak apa, mau punya anak berapa, dan mau punya istri berapapun, semuanya laki-laki yang menentukan. Bahkan untuk pasangan juga laki-laki bisa mendua dengan mudahnya tanpa persetujuan sang istri pertama. Zaman pak Cokro masih muda dulu, diskriminasi terhadap kaum wanita sangat merajalela. Wanita tidak sekolah, tidak bisa bekerja, dan hanya bisa melakukan kegiatan-kegiatan dirumah layaknya pembantu. Terkadang zaman dulu wanita juga memilih untuk bertahan saat sang suami memiliki istri lainnya dikarenakan sang istri menggantungkan hidupnya bersama laki-laki itu sendiri. Berbeda di zaman sekarang, wanita bisa mengatakan “tidak” untuk segala sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Di zaman sekarang ini wanita sudah banyak yang tidak membutuhkan laki-laki lagi. Mereka bisa bekerja, sekaligus berperan sebagai seorang ibu yang baik untuk putra-putrinya. Jika wanita sudah merasa tidak nyaman, bercerai menjadi jalan untuk memecahkan suatu masalah. Di masa sekarang ini laki-laki sudah tidak bisa mengekang seorang wanita lagi. Wanita boleh mengajukan pendapatnya, bahkan di forum-forum diskusi, pendapat wanita juga dipertimbangkan.
Kemajuan zaman yang sudah mengubah dunia, mengubah segalanya termasuk pola pikir seorang wanita. Maka dari itu pak Cokro sudah tidak khawatir lagi dengan putrinya. Apalagi putrinya adalah wanita yang berpendidikan, lulusan universitas di Amerika tentunya yang membuat pak Cokro semakin percaya terhadap putrinya itu.
Pak Cokro memikirkan Wulan yang saat ini sudah dewasa, usianya memang masih dua puluh satu tahun, tapi pemikirannya sangat maju. Bahkan Wulan juga berperan penting atas bisnis yang dikelola oleh pak Cokro. Selama tinggal di Amerika, Wulan lah yang memilihkan vitamin untuk sapi-sapi milik ayahnya itu sehingga sapi-sapi milik pak Cokro sehat dan menghasilkan s**u segar. Sampai sekarang pun juga merk impor vitamin sapi masih menjadi pilihan pak Cokro meski Wulan tak lagi tinggal di Amerika.