Pak Cokro pun memanggil kembali pak Raharjo dan istrinya untuk bekerja lagi bersamanya. Tentunya pak Raharjo dan Bu Indah sangat senang akan hal ini. “Wah..., Selamat ya Bu Indah, sudah bisa kerja kembali, pasti karena sebentar lagi karena Bu Indah menjadi besan konglomerat didesa kita ini kan...,” Ucap salah seorang pekerja kebun kopi. Bu Indah hanya tersenyum sebagai jawaban atas semua pertanyaan teman kerjanya itu. Biarlah semua orang menghinanya dan mencemooh. Bu Indah tetap bersabar walau semua orang berpikiran negatif tentang keluarganya, bahkan ada yang berfikiran bahwa Candra memang sengaja dibeli oleh Wulan untuk menjadi pendamping hidupnya karena Wulan tidak mau dijodohkan oleh orang lain. Hal itu sama sekali tidak benar, toh pada kenyataannya saat pak Cokro baru mengetahui bahwa putrinya telah menjalin kasih dengan Candra , Bu Indah dan juga pak Raharjo terkena dampak atas hal ini. Dengan cepat pak Cokro dan Bu Sekar memecat mereka dan sampai saat ini mereka sangat bersyukur karena bisa bekerja kembali. Candra pun sebenarnya juga ditawari untuk bekerja di peternakan sapi, tapi secara halus Candra menolaknya karena Candra sudah memiliki usaha yang baru saja dirintisnya. Pak Cokro tentu saja tak kecewa mengenai hal ini. Pak Cokro malah bangga jika Candra bisa memutar otak untuk memulai usaha yang tidak mudah.
“Mungkin hal ini juga yang membuat wulan mencintai kekasihnya itu. Walau miskin, tapi dia mau berusaha untuk memulai usaha.” Ucap pak Cokro dalam hatinya. Saat pak Cokro sedang melamun, putrinya pun tiba-tiba masuk kedalam ruangannya. “ayah..., Apakah ayah sedang sibuk?” tanya Wulan. “Tentu saja tidak nak...,” ucap pak Cokro tersenyum. “Ayah..., Terima kasih ya..., Ayah sudah mempekerjakan kembali pak Raharjo dan juga Bu Indah.” Ucap Wulan berbalas senyum. “Oh..., Jadi karena hal ini putri ayah mau bicara dengan ayah kembali? Jadi ini yang membuat putri ayah tidak mendiamkan ayahnya lagi?” ucap pak Cokro. “Ayah....., Maafkan Wulan.” Ucap Wulan dengan nada manjanya. “Iya sayang...,” jawab pak Cokro sambil mengelus kepala putrinya.
Mereka pun menikmati kebersamaan yang sudah lama tidak terjalin. Sudah agak lama Wulan mendiamkan pak Cokro dan sama sekali tidak mau berbicara sepatah katapun terhadap ayahnya itu. Pak Cokro lalu berfikir, semakin dirinya menekan Wulan, Wulan akan semakin memberontak. Contohnya saja ketika pak Cokro ingin menikahkan putrinya itu dengan Candra, seketika Wulan langsung menolak, bahkan saat pak Cokro memaksanya, Wulan tetap tidak mau menikah dengan Candra. Setelah pak Cokro membiarkan jalinan kasih antara Candra dan Wulan, Wulan malah yang ingin segera menikah dengan Candra. Kini pak Cokro sudah mengetahui sifat putrinya itu, semakin ditekan, Wulan akan semakin berontak. Mengingat Wulan adalah putri tunggalnya yang memang memiliki sifat sedikit egois. “Nak..., Katanya kamu ingin mengadakan pesta rakyat setiap sebulan sekali?” tanya pak Cokro. “Iya ayah..., Mungkin mulai bulan depan, harusnya bulan ini ayah, tapi kemarin Wulan sakit dan sampai dirawat dirumah sakit.” Ucap Wulan. “iya sayang..., Bagus...,” ucap pak Cokro memuji kedermawanan putrinya. “Ayah tidak keberatan bukan?” tanya Wulan. “tentu saja tidak nak..., Ayah bangga kepadamu.” Ucap pak Cokro. Mereka pun saling melempar senyum dan masih terus berjalan sampai ke area perkebunan teh. “oh iya ayah..., Belilah ladang lagi, Wulan ingin menanam buah anggur, kalau berhasil Wulan bisa memberikan seluruh hasil panen kepada ayah.” Ucap Wulan. “hmmm..., Ide bagus nak..., Boleh saja. Kamu carilah ladang terlebih dahulu, nanti ayah tinggal membayarnya.” Ucap pak Cokro.
Wulan ingin mempraktekkan apa yang dipelajarinya selama kuliah di Amerika. Selama pernah kuliah di Amerika, Wulan mengambil dua jurusan sekaligus untuk menunjang pengetahuannya. Wulan ingin mewujudkan banyak bisnis, tapi mungkin nanti, satu persatu bisnis Wulan akan diwujudkannya bersama keluarga dan juga Candra.
“Selamat pagi pak Cokro, non Wulan...,” ucap salah seorang pekerja pemetik teh ketika melihat dan berpapasan dengan juragannya. Wulan dan pak Cokro pun menyapa balik mereka dan tersenyum ramah. Pak Cokro masih berjalan menyusuri perkebunan teh miliknya itu bersama dengan putrinya. Mereka beristirahat disebuah gubuk ketika mereka merasa lelah. Perkebunan yang sangat luas dan memiliki pekerja lebih dari seratus orang itu adalah milik pak Cokro. Wulan sebenarnya sangat ingin menyadarkan ayahnya yang masih terlibat perjanjian dengan setan yang Wulan pun tidak tahu apa jenisnya. Yang Wulan tahu, setan itu tinggal di sebuah danau yang tidak jauh dari tempatnya tinggal. Wulan juga menekan angka kematian warga yang tenggelam didalam danau itu dengan membuat sumur dan juga kamar mandi umum untuk warga sekitar. Hal itu juga yang membuat Wulan semakin terkenal karena telah membantu membangun fasilitas warga. Banyak yang mengajukan Wulan untuk menjadi kepala desa didesanya itu. Mereka semua juga tahu tentang Wulan yang lulus dari universitas di Amerika. “Selama ini kan belum ada kepala desa yang lulus dari universitas Amerika.” Ujar salah seorang pemetik teh dikebun milik pak Cokro. “iya..., Semoga saja non Wulan mau menjadi kepala desa ya teh, mengingat non Wulan juga sangat baik terhadap warga disini.” Jawab salah seorang diantaranya.
Banyak orang yang menginginkan Wulan untuk menjadi pemimpin didesanya. Mereka bahkan membandingkan Wulan dengan kepala desa yang menjabat sekarang ini yang sama sekali tidak peduli dengan masyarakatnya. Keluarga pak Cokro lah yang memberi pekerjaan, memberi mereka makan disaat waktu tertentu dan sekarang Wulan juga akan mengadakan pesta rakyat setiap sebulan sekali agar warganya bisa makan enak setiap sebulan sekali. Wulan pun juga tak ingin berjalan sendiri, Wulan berencana ingin mengajak para pemuda pemudi yang masih bersekolah untuk mengikuti kegiatan sosial ini. Kalaupun mereka tidak bisa membantu secara finansial, paling tidak mereka membantu memasak untuk bisa dibagikan kepada warga sekitar.
Wulan pun pulang kerumahnya dengan ayahnya yang ternyata sudah ditunggu oleh Bu Sekar. “hmmm..., Dari mana saja kalian?” tanya Bu Sekar agak ketus. “maaf Bu..., Kami baru saja pulang dari kebun teh, kami lupa makan siang sehingga pulang terlambat.” Jawab Wulan. “Baiklah kalau begitu, kau mandilah terlebih dahulu, Wulan, sebentar lagi kita makan siang bersama.” Ucap Bu Sekar kepada putrinya. Wulan pun langsung masuk kedalam kamarnya untuk segera mandi membersihkan seluruh tubuhnya.
“Wulan sudah mau berbicara dengan bapak?” tanya Bu Sekar. “ya..., Seperti yang ibu lihat, ibu tahu kan tadi, Wulan tampak hangat ketika bersama dengan bapak.” Jawab pak Cokro dengan senyumnya. Bu Sekar pun senang karena suami dan juga putrinya sudah akur kembali dan mereka tampak hangat, tidak seperti hari-hari sebelumnya, mereka tampak dingin bahkan Wulan tahan untuk mendiamkan ayahnya itu.