Pak Cokro lalu pergi ke danau malam itu untuk menemui sesembahannya itu. Pak Cokro pun memberi tahu bahwa putrinya sudah mau menikah dengan Candra, laki-laki miskin putra dari seorang buruh di perkebunan miliknya. “Iya Cokro..., Biarkan saja mereka menikah, nanti beberapa bulan setelah mereka menikah, pasti aku akan mengambil jiwa menantumu itu dan kau bisa menikahkan putrimu dengan orang yang sebanding dengan kekayaanmu itu.” Ucap sang Lulun samak. Pak Cokro pun menuruti keinginan sang Lulun samak untuk menikahkan putrinya nanti. Pertemuan pak Cokro dan si Lulun samak membahas banyak hal mulai dari bisnis sampai pernikahan putrinya, Wulan. Pak Cokro pun juga meminta kepada si Lulun samak itu hari yang pantas untuk mereka menikah.
Pulanglah pak Cokro kerumahnya, malam yang gelap itu terkadang membuat pak Cokro agak kesusahan berjalan. Kali ini pak Cokro tak membawa senter atau alat bantu apapun yang biasanya dibawa untuk menerangi perjalanannya menemui sesembahannya itu. Pak Cokro tersandung oleh sebuah batu yang lumayan besar sampai kakinya terluka dan mengeluarkan darah. Pak Cokro tetap berusaha berdiri dan meringis menahan sakitnya kaki yang baru saja tersandung oleh batu yang lumayan besar itu. “Aduh...,” serunya. Pak Cokro pulang dengan kaki yang agak pincang akibat tersandung oleh batu itu.
Pak Cokro pun sampai dirumahnya, malam itu sebelum tidur dikamarnya, pak Cokro mengambil obat merah, antiseptik dan juga perban untuk menambal kakinya yang terluka. Saat pak Cokro pulang kerumahnya, darah yang keluar dari kakinya berceceran bahkan sampai ke lantai rumahnya. Pak Cokro lalu mengobati kakinya dan menahan rasa perih itu. “shhhhh....,” rintihnya. Malam itu tak ada satu orang pun yang terbangun dari tidurnya termasuk istri dan juga anaknya. Mereka sudah tertidur pulas dan tak melihat pak Cokro yang sedang merintih kesakitan.
Setelah selesai mengobati kakinya, pak Cokro pun membaringkan tubuhnya persis disamping sang istri yang sedari tadi masih tertidur sangat pulas. Pak Cokro lalu memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit dikakinya.
Baru saja pak Cokro tidur, Bu Sekar dengan tidak sengaja menendang kaki pak Cokro yang baru saja diobatinya, otomatis pak Cokro pun langsung berteriak, “aduh!” serunya. Bu Sekar yang tidak sadar telah menendang kaki pak Cokro pun kaget dan terbangun dari tidurnya, “ada apa pak?” tanya Bu Sekar dengan mata yang masih mengantuk. “Kakiku Bu....,” jawab pak Cokro sambil meringis kesakitan. Bu Sekar pun langsung melihat kearah kaki pak Cokro. Bu Sekar tampak kaget dengan perban yang masih basah dan berwarna merah oleh darah yang keluar dari jempol kaki pak Cokro. “pak! Itu kenapa kakinya?” tanya Bu Sekar mulai panik. Pak Cokro tak menjawab, hanya rintihan yang keluar dari mulutnya. Bu Sekar pun langsung berdiri dan keluar dari kamarnya untuk mengambil kotak P3K diruang tamu. Sementara pak Cokro masih meringis kesakitan merasakan sakitnya kakinya yang baru saja ditendang oleh Bu Sekar. Bu Sekar pun kembali kekamarnya dengan mata yang berkaca-kaca. Bu Sekar tidak tega bila harus melihat suaminya kesakitan seperti yang baru saja dilihatnya. “sini pak kakinya..., Tahan dulu ya...,” ucap Bu Sekar sambil menumpangkan kaki suaminya diatas pangkuannya. Dengan lembut Bu Sekar membuka perban yang penuh dengan darah sampai berwarna merah menutupi warna asli perban yang melilit luka pak Cokro. Bu Sekar melihat luka asli di kaki pak Cokro, kaki pak Cokro tampak memar dan berwana merah agak bengkak. Bu Sekar pun membersihkan luka-luka pak Cokro dengan kapas yang sudah dibasahi oleh air. Bu Sekar lalu menatap wajah suaminya yang merasakan sakit dikakinya. “Bapak..., Istirahat ya, ibu tidur dibawah saja, biar tidak menyenggol kaki bapak lagi.” Ucap Bu Sekar lembut. Pak Cokro pun lalu membaringkan tubuhnya dikasurnya. Bu Sekar tak lagi butuh jawaban pak Cokro dari mana saja suaminya itu sampai kakinya memar seperti yang baru saja dilihatnya. Hanya rasa iba yang ada dipikiran Bu Sekar melihat suaminya merasakan kesakitan itu.
Bu Sekar pun kini mulai membaringkan tubuhnya dikasur lantai yang baru saja disiapkannya. Bu Sekar berbaring sambil mengingat kesakitan yang mendera kaki suaminya. Bu Sekar tampak meneteskan air mata ketika melihat pak Cokro tampak kesakitan seperti yang baru saja dilihatnya. Mendengar suara tangis istrinya yang terisak-isak, pak Cokro pun lalu mengintip istrinya dari kasur atas. “ibu kenapa menangis?” tanya pak Cokro. Bu Sekar yang dilihat suaminya itu pun langsung segera menghapus air matanya, “bapal masih kesakitan?” tanya Bu Sekar. Pak cokro pun lalu tersenyum sambil menjawab, “sudah..., Ibu tidak usah menangis, bapak hanya tersandung batu saja Bu, bapak yang tidak hati-hati ketika tadi berjalan.” Ucap pak Cokro. Bu Sekar lalu ikut tersenyum ketika suaminya juga tersenyum.
Saat seperti inilah pak Cokro bisa merasakan cinta istrinya yang sangat tulus. Seperti yang pak Cokro lakukan, pak Cokro juga sangat tulus mencintai Bu Sekar. Begitu pun juga pak Cokro, walau pak Cokro kaya raya dan punya banyak uang, tak membuatnya gila akan wanita. Bagi pak Cokro, Bu Sekar sudah sangat cukup untuk menemani hidupnya, ditambah lagi dengan Wulan yang kini sudah beranjak dewasa. Semakin lengkap kebagaiaan yang pak Cokro dapatkan.
Walaupun pak Cokro terlihat bahagia, tapi dalam dirinya ada ketakutan yang mendalam. Setiap kali sebelum tidur, pak Cokro selalu menatap tajam wajah istrinya seakan-akan malam itu adalah malam terakhirnya bertemu dengan sang istri. Lulun samak itu bisa mengambil jiwa pak Cokro secara tiba-tiba. Kalau soal nyawa, malaikat pencabut nyawa yang akan mengambilnya, tapi kalau soal jiwa, Lulun samak itu bisa mengambil saat dan waktu yang telah ditentukan sesuai perjanjian. Ketika suatu saat nanti jiwa pak Cokro sudah diambil oleh Lulun samak itu, jika pak Cokro masih dalam keadaan hidup, pak Cokro akan mengalami ketidak Saradan dalam dirinya. Bisa dikatakan pak Cokro akan gila jika masih hidup. Itu disebabkan karena Lulun samak itu telah mengambil jiwa pak Cokro. Tapi jika pak Cokro meninggal, jiwanya akan tetap ikut bersama Lulun samak pujaannya itu.
Walau sudah melakukan perjanjian dengan Lulun samak itu, pak Cokro pun tidak mengetahui kapan waktu gilirannya akan tiba. Maka dari itu, pak Cokro merasa was-was akan hal yang akan terjadi kepada dirinya. Tapi walau begitu, peternakan sapi, pabrik s**u, perkebunan teh dan kopi setidaknya bisa membuat Wulan tak menderita dan tak kekurangan uang dimasa yang akan datang. Pak Cokro tidak ingin putrinya merasakan hal yang sama seperti yang pernah dirasakannya dulu, saat pak Cokro masih hidup miskin.