Menemani pak Cokro

1075 Words
Pagi itu setelah selesai mandi, Wulan langsung berjalan menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Kedua orang tuanya belum ada disana. Seperti biasa, walau pagi itu Wulan sangat lapar, Wulan tetap harus menunggu kedua orang tuanya sampai kemeja makan untuk sarapan bersama-sama. Wulan yang sudah duduk menunggu kedua orang tuanya itu pun tampak kaget melihat ibunya yang sedang memapah ayahnya yang baru saja keluar dari kamar tidur mereka. Melihat ibunya merasa agak berat memapah ayahnya, Wulan pun dengan sigap langsung berlari menghampiri kedua orang tuanya, “ayah...., Ayah kenapa? Ayah sakit?” tanya Wulan. “Terima kasih sayang..., Ayah hanya tersandung batu saja kok nak, tidak perlu khawatir.” Ucap pak Cokro sambil tersenyum didepan putrinya walau pak Cokro masih merasakan kesakitan di kakinya. “Ayah, hari ini ayah dirumah saja ya, tidak usah pergi ke peternakan atau kemanapun. Wulan akan jaga ayah dirumah.” Ucap Wulan yang tampak prihatin melihat kaki ayahnya. “iya sayang...,” ucap pak Cokro yang tampak terharu dengan sikap Wulan yang khawatir terhadapnya. “Kang Asep..., Kang...,” suara Wulan memanggil nama supir pribadi keluarganya. Asep yang mendengar suara Wulan yang memanggilnya itu pun langsung datang menemui Wulan. “iya non..., Ada apa non?” tanya Asep. “Kang..., Ambilkan kursi roda digudang ya, bersihkan juga dan bawa kemari. Saya tunggu!” ucap Wulan kepada supirnya itu. Asep pun mengangguk dan bergegas pergi berjalan menuju gudang untuk mengambil kursi roda yang dimaksud oleh Wulan. “Nak..., Tidak perlu pakai kursi roda, ayah masih bisa berjalan kok.” Ucap pak Cokro kepada putrinya. “Ayah diamlah dulu! Kursi roda bisa membantu ayah mempermudah perjalanan ayah bukan?” ucap Wulan. Pak Cokro pun hanya terdiam sambil tersenyum kecil ketika putrinya yang keras kepala itu memperlakukannya berlebihan. “Ini non kursinya, sudah saya bersihkan.” Ucap Asep sambil mendekat kearah Wulan dan membawa kursi roda. “Kang Asep bantu ayah ya.” Ucap Wulan kepada Asep untuk memapah ayahnya duduk di kursi roda. “Ayo ayah..., Kita berjalan-jalan terlebih dahulu untuk pagi ini.” Ucap Wulan sambil mendorong pelan kursi roda yang diduduki pak Cokro. Wulan mengajak sang ayah keluar dari rumahnya sambil membawa tas kecil berisi kotak P3K. “ayah..., Kita keluar mencari udara segar ya.” Ucap Wulan sambil terus berjalan mendorong kursi roda ayahnya. Pak Cokro hanya mengangguk menuruti perintah putrinya itu. Pak Cokro tidak mau membantah putrinya yang dianggapnya memang keras kepala. “Ayah..., Kita duduk dulu disana, Wulan ganti perban ayah terlebih dahulu ya.” Ucap Wulan. Pak Cokro lalu mengangguk dan membiarkan putrinya berjongkok didepan kursi rodanya. Secara perlahan Wulan mengganti perban yang membalut luka ayahnya itu. Pak Cokro juga mengamati putrinya yang telaten merawatnya. Pak Cokro terus memperhatikan cara Wulan mengganti perban yang membalut lukanya. Wulan terlihat profesional melakukan hal itu. Seketika pak Cokro teringat kembali akan kata-kata Lulun samak yang mengatakan bahwa putrinya adalah jalan penghambat untuknya menambah pundi-pundi uangnya. “Mungkin Lulun samak itu berkata salah, buktinya walau aku hanya sakit seperti ini, putriku sangat memperhatikanku. Tidak mungkin jika putriku adalah penghalangmu, bisa jadi sebaliknya, dia adalah pendukung ku.” Ucap pak Cokro dalam hatinya. “Nah..., Sudah ayah, ayah mau berjalan kemana lagi? Perban ayah sudah baru, oh iya ayah..., Apa yang membuat kaki ayah terluka seperti ini?” tanya Wulan. “Hmmmm...., Ayah hanya tidak berhati-hati dan tersandung batu yang berada ditengah jalan.” Ucap pak Cokro. “Kapan ayah? Bukankah semalam ayah langsung masuk kedalam kamar setelah kita selesai makan malam?” tanya Wulan tampak keheranan. Pak Cokro lalu menghela nafasnya agar tidak terlihat gugup didepan putrinya, “ayah semalam keluar sebentar, ada ronda malam dikampung kita, kita berkumpul-kumpul bersama disana.” Ucap pak Cokro sambil menunjuk arah sebuah gubuk tempat para bapak-bapak ronda malam berkumpul. “Ayah..., Kenapa ayah tidak menyuruh kang Asep atau siapapun untuk menggantikan posisi ayah disana?” tanya Wulan. “ayah ingin lebih dekat dengan para tetangga kita nak, dengan seperti itu, ayah bisa tahu apa keluhan mereka, kalau ayah bisa membantu, ayah sudah pasti akan membantu bukan.” Ucap pak Cokro. Wulan pun tersenyum dan tampak puas dengan jawaban pak Cokro. Sifat ayahnya yang dermawan itu terkadang Wulan juga ingin mengimbangi ayahnya untuk melakukan hal-hal besar untuk perubahan kampungnya. Saat Wulan dan pak Cokro sedang berbincang, lewatlah Candra yang melintas didepan kekasih dan calon mertuanya itu. Mau tak mau, Candra pun harus berhenti didepan mereka. Sambil membawa kerombong dibelakang motornya, Candra lalu berhenti. “Pagi Wulan, pak Cokro ...,” ucap Candra sambil mengulurkan tangannya didepan pak Cokro. Pak Cokro pun juga langsung menyambut uluran tangan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu sekaligus calon tumbal untuk kekayaannya. “pagi, Candra.” Sapa balik pak Cokro. Candra pun mencium punggung tangan calon mertuanya itu. “Wulan..., Kamu mau ayam?” tanya Candra. “Hmmm...., Kami sudah sarapan Candra...,” jawab Wulan yang memang tidak mau mengurangi dagangan Candra. “Iya Candra, jual saja ayam-ayam itu dan kunpukanlah uangnya. Segeralah melamar Wulan ya.” Ucap pak Cokro sambil melirik putrinya. Wulan yang tampak malu pun langsung menundukkan pandangannya sambil tersenyum. “Wulan..., Ayo kita pulang nak, ayah agak haus.” Ucap pak Cokro yang memang tidak ingin melihat Candra terlalu lama. Sikap baik pak Cokro terhadap Candra hanyalah pura-pura semata. Sesungguhnya pak Cokro sangat membenci Candra yang dengan berani mencintai putrinya itu. Wulan pun langsung berpamitan sambil mendorong pelan kursi roda ayahnya. Wulan hanya melirik Candra tanpa mengatakan apapun. Candra pun juga meninggalkan tempat dan langsung pergi menjual ayam goreng dagangannya. Candra bisa melihat bahwa pak Cokro memang sama sekali tidak menyukainya. Candra tidak peduli akan hal itu, walaupun Candra berusaha sekuat tenaganya, pak Cokro akan tetap tidak menyukainya. Mungkin jika Candra bisa menjadi orang yang lebih kaya dari pak Cokro, mungkin pak Cokro akan bersikap hangat kepadanya. Tapi mana mungkin, mana mungkin seorang Candra bisa menjadi orang kaya melebihi pak Cokro. Candra lalu membuang pikiran yang membuatnya kalut itu. “Yang terpenting aku selalu berusaha.” Ucap Candra dalam hatinya sambil melajukan motornya lebih cepat dari sebelumnya. Ayah mana yang merelakan putrinya menikah dengan orang miskin seperti yang terjadi kepada Wulan. Candra memaklumi akan hal itu, Candra memaklumi akan sikap pak Cokro yang dingin kepadanya. Candra memang anak orang miskin, bahkan kemiskinannya berada digaris kemiskinan yang distandarkan oleh warga sekitar. Tapi walau bagaimanapun juga, Candra tetap berusaha bekerja agar bisa membahagiakan Wulan nantinya. Mungkin tidak bisa setara dengan ayahnya, tapi paling tidak, Candra tidak ingin Wulan merasa kelaparan seperti yang sering dirasakannya setiap hari. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD