Penjualan yang semakin berkembang

1024 Words
Usaha Candra kini semakin maju, sudah memiliki banyak pelanggan adalah wujud kesuksesan pada usahanya. Awalnya Candra hanya bisa menjual seratus potong ayam, kini Candra bisa menjual dua ratus potong ayam goreng buatannya. Tapi Candra menambah jam pekerjaannya. Yang biasa Candra mulai keliling pukul tujuh sampai dengan pukul sembilan saja, kini Candra bisa berdagang pada pukul tujuh sampai dengan pukul dua belas siang. Keuntungan Candra kini bisa mencapai dua kali lipat dari sebelumnya. Biasanya Candra setiap seratus ekor ayam bisa menghasilkan uang sampai lima ratus lima puluh ribu rupiah, kini setiap hari Candra bisa mendapatkan uang sampai satu juta rupiah hingga lebih. Tentunya uang satu juta itu bukanlah hasil bersihnya, belum dipotong untuk belanja ayam, minyak goreng, tepung dan juga bumbu-bumbu rahasia ayam goreng spesial buatan Candra. Didesa itu memang hanya Candra saja yang berkeliling jualan ayam goreng, sisanya hanya penjual tape, sayur keliling dan sebagainya. Harga yang ditawarkan Candra pun juga tergolong murah untuk kalangan warga sekitar yang rata-rata memiliki perekonomian menengah kebawah. Candra semakin sibuk menjual ayam goreng buatannya sampai untuk bertemu dengan Wulan juga Candra merasa menyayangkan hal itu. Tapi Wulan bisa mengerti keadaannya, semuanya Candra lakukan hanya untuk berjuang untuk bisa menikah dengan dirinya yang sangat beda status sosialnya. “kenapa kau begitu antusias berjualan, aku tidak akan meminta mas kawin yang mungkin tidak bisa kau beli.” Ucap Wulan. “Apa yang kau katakan itu, Wulan? Aku pasti bisa memberi apapun yang kau inginkan, kau mau berlian? Permata? Aku pasti bisa membelikannya untukmu.” Ucap Candra. Melihat Candra begitu semangat memperjuangkan cintanya, membuat Wulan semakin terpana akan Candra. Candra begitu bersikeras bisa memberikan apa yang Wulan inginkan, sebenarnya Wulan tidak menginginkan apapun dari Candra, mengingat Wulan sudah memiliki segalanya. Wulan juga memiliki beberapa koleksi batu permata yang sering dihadiahkan ayahnya setiap ulang tahunnya atau saat-saat tertentu seperti saat Wulan batu saja lulus dari universitas Amerika, Wulan mendapatkan intan dari ayahnya. “Wulan..., Memangnya apa yang paling kau inginkan didunia ini?” tanya Candra. Wulan pun lalu menggelengkan kepalanya sambil melayangkan senyumnya, “tidak ada..., Aku sudah merasa cukup dihidupku. Aku mempunyai kedua orang tua yang menyayangi diriku, aku juga mempunyai apapun yang aku inginkan. Semuanya tidaklah penting bagiku kecuali kasih sayang dari kedua orang tuaku. Melihat kedua orang tuaku tak pernah bertengkar saja membuatku sangat bersyukur. Tapi aku saat ini masih merasakan kesedihan.” Ucap Wulan. Candra tampak bingung, apa yang membuat Wulan sedih, “apa yang membuatmu sedih?” tanya Candra. “Ayahku..., kemarin aku melihat kakinya memar dan mengeluarkan darah yang katanya akibat dari tersandung batu ketika ronda malam. Aku tahu betapa sakit rasanya, aku pun bisa merasakannya. Tapi ayahku tetap melayangkan senyumnya kepadaku walau aku tahu ia sangat merasa kesakitan. Aku jadi berfikir kembali mengenai dirinya yang pernah menolak hubungan kita. Sebagai seorang ayah, ayahku pasti sangat khawatir ketika putrinya akan menikah dengan laki-laki. Aku bisa memaklumi ayahku yang pernah menolakku, hal itu dikarenakan ia begitu sangat menyayangi diriku.” Ucap Wulan bercerita. Candra lalu menghela nafasnya, “aku juga berusaha untuk membahagiakanmu, Wulan. Kalau ayahmu menyanyangiku sejak kau kecil, akulah yang menyanyangimu saat ini. Terkadang aku tidak mengerti apa yang kau inginkan dariku, kau selalu memberikan lebih kepada keluargaku, sementara aku yang tak pernah memberikan apapun kepadamu.” Ucap Candra sambil menundukkan kepalanya. Wulan tampak merasa bersalah ketika mengatakan hal yang baru saja ia katakan. Wulan sesungguhnya tak bermaksud akan hal itu, tapi Candra sepertinya salah memahami perkataan Wulan. Tak ingin membuat Candra tersinggung, Wulan pun berpamitan untuk pulang saja. Wulan tampak bangga melihat kekasihnya itu bisa berdagang dan dagangannya sering habis terjual. Tentunya dengan Candra berjualan ayam goreng, kedua orang tuanya juga bisa menikmati ayam goreng buatan Candra. Kini Wulan tak khawatir lagi kedua orang tua kekasihnya itu bisa makan ayam setiap hari. Pernah suatu kali, Wulan berkunjung kerumah Candra untuk memberikan makanan kepada kedua orang tua Candra. Saat itu Wulan tengah berjalan kearah dapur untuk mengambil piring, tapi saat Wulan berjalan kearah dapur, tidak ada satu pun lauk, atau nasi disana. Wulan pun langsung berfikir berarti sedari tadi pagi mereka belum makan sampai Wulan datang kerumahnya. Saat itu juga Wulan merasa sangat bersyukur bisa dilahirkan di keluarga paling kaya didesanya. Tidaklah kaya pun tidak mengapa, yang terpenting bisa makan setiap hari seperti yang ada sekarang ini. Mulai saat itu pun Wulan selalu mengubah pandangannya. Wulan sekarang selalu menghabiskan makanannya dan selalu terima dengan apa yang dimasak oleh pembantunya. Banyak hal yang mengubah Wulan ketika dirinya dekat dengan keluarga Candra. Wulan melihat keluarga Candra yang memang hidup dibawah garis kemiskinan, tapi keluarga mereka selalu bersyukur atas apa yang diterimanya. Sampailah Wulan dirumahnya yang disana sudah ada ayahnya. “Dari mana saja nak?” tanya pak Cokro. “Ayah..., Wulan batu saja bertemu dengan Candra. Ayah bagaimana keadaan kaki ayah? Kita kedokter yuk?” ajak Wulan. Pak Cokro lalu tersenyum, “ayah tidak apa-apa nak, percayalah. Sini duduk didekat ayah sebelum putri ayah ini menikah.” Ucap pak Cokro sambil menepuk sofa disebelahnya. Wulan pun mengikuti perintah ayahnya dan duduk disamping ayahnya. Mereka banyak berbincang sambil menunggu kepulangan Bu Sekar yang masih berada di perkebunan kopi miliknya. Terasa hangat perbincangan antara Wulan dan juga pak Cokro. Pak Cokro pun berkata dengan lembut agar setelah menikah putrinya itu bisa tetap tinggal dirumahnya. Pak Cokro bahkan berjanji akan menyanyangi Candra seperti putranya sendiri. Wulan pun juga menyetujui hal itu. Terasa tidak mungkin jika Wulan tinggal dirumah Candra yang sangat terbatas itu. Dirumah Candra tidak ada kamar mandi, kalau untuk mandi mereka juga harus ke kamar mandi umum buatan Wulan yang dibangun dekat dengan danau. Saat Wulan membayangkan hal itu, tiba-tiba Bu Sekar pun pulang kerumahnya dan langsung masuk kedalam rumah. Bu Sekar lalu melihat suami dan juga putrinya sedang berbincang, “hmm...., Lagi pada ngomongin apa?” tanya Bu Sekar. “eh..., Ibu sudah pulang, sini duduk dulu Bu.” Ucap Wulan dengan senyumnya. Bu Sekar menolak dan memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas dirumahnya. Pak Cokro yang sedang duduk disamping putrinya merasa sangat tentram dan damai dalam hatinya. Pak Cokro lalu berjanji dalam hatinya dan akan selalu melindungi Wulan dari ancaman apapun. Pak Cokro bahkan akan mengorbankan nyawanya sendiri agar Wulan tetap hidup didunia ini. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD