Pak Cokro kini sudah sembuh, berkat ketelatenan dari Wulan yang setiap saat selalu bisa mengganti perban yang membalut luka pak Cokro. Entah siapa yang memasang batu ditengah semak-semak sehingga membuat pak Cokro sampai tersandung, pak Cokro tak lagi memperdulikan hal itu. Sudah dua Minggu lamanya pak Cokro dirumah menyembuhkan lukanya. “Ayah..., Pagi ini mau ke peternakan?” Tanya Wulan. Pak Cokro lalu mengangguk semangat, “iya sayang..., Sudah dua Minggu kan ayah tidak ke peternakan.” Ucap pak Cokro. “Ayah..., Lain kali berhati-hati, jangan sampai ayah mengalami kejadian yang sama lagi ya.” Ucap Wulan memperingatkan. Pak Cokro lalu mengangguk dengan apa yang telah Wulan katakan.
Peternakan terlihat seperti biasanya. Sapi-sapi dirawat dengan baik, begitu pun dengan perkebunan teh yang sudah dua Minggu ini tak terawasi oleh mata pak Cokro. Wulan ikut dengan ayahnya menuju ke peternakan. Disana Wulan juga bertemu dengan pak Raharjo, orang yang nantinya akan menjadi ayah mertuanya. Seperti biasa, Wulan selalu ramah dengan para karyawan pak Cokro. Banyak orang yang kagum terhadap Wulan, selain kecantikannya yang tidak bisa dikalahkan oleh gadis desa disekitarnya, Wulan pun juga anak yang cerdas. Seperti yang pernah diceritakan, semua usaha pak Cokro yang sedang berkembang pesat ini atas campur tangan sang putri, yaitu Wulan. Banyak orang yang menyayangi Wulan, semua karyawan dan tentunya kedua orang tua Wulan sangat menyayangi Wulan. Banyak yang menyayangkan Wulan berpacaran dengan Candra, tentu saja hal itu dikarenakan semua orang juga tahu, Wulan anak dari konglomerat sedangkan Candra hanya seorang buruh di perkebunan miliknya.
“Pak Cokro itu kok ya mau ya, putrinya menjalin kasih dengan seorang anak buruh.” Ucap salah seorang pemetik kebun teh milik pak Cokro. “Iya..., Saya juga tidak habis pikir. Mungkin Candra spesial menurut pak Cokro, jadi dibiarkan saja putrinya pacaran dengan anak pak Raharjo itu.” Jawab salah satu temannya. “atau jangan-jangan, Candra mempunyai ilmu hitam untuk mengguna-gunai putri pak Cokro itu ya?” ucap seorang lainnya. “Hushhhh..., Diam! Itu ada non Wulan.” Ucap salah seorang pemetik teh.
Wulan pun melintas dengan menaiki kuda melewati area perkebunan teh milik ayahnya. Semua orang terpesona dengan Wulan yang terlihat cantik dengan menaiki kuda putih kesayangannya. Rambutnya terurai berwarna hitam pekat, kulitnya putih dan tubuhnya yang langsing semampai membuat nilai plus bagi orang yang melihatnya. “Cantiknya...,” salah seorang pemetik teh diperkebunan milik pak Cokro. “Ya benar saja! Candra tidak mau dengan putriku, itu dia saingan putriku!” ucap Bu Ida, teman Bu Indah yang pernah menanyakan tentang Candra yang ingin dijodohkan dengan putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri. Putri Bu Ida adalah seorang wanita yang seumuran dengan Wulan dan pernah bekerja di Hongkong sebagai seorang TKW. Selama dua tahun putri Bu Ida bekerja disana dan kini mereka sudah bisa membeli sawah dari hasil jerih payah putrinya.
Mengingat hidup di desa yang notabene usia dua puluhan sudah berkeluarga, Bu Ida tampak risau karena sang putri sampai sekarang belum mendapatkan jodoh. Bu Ida juga sudah tidak mau lagi menanggung hidup sang putri dan ingin segera menikahkan putrinya agar bisa lepas tanggung jawab. Begitulah hidup disebuah desa dengan masyarakat berpenghasilan rendah dan juga pendidikan rendah. Kehidupan rumah tangga Bu Ida sangat berbanding terbalik dengan kehidupan di keluarga Wulan. Ayah Wulan, pak Cokro malah tidak menginginkan putrinya untuk menikah di usia muda. Pak Cokro dan Bu Sekar sebenarnya sepakat akan hal itu, tapi jika Wulan sudah mendapatkan jodohnya, pak Cokro dan Bu Sekar akan mendukung hal itu.
“Iya, sebenarnya juga pantas jika anak Bu Ida dinikahkan dengan Candra, kita sama-sama miskin, kita sama-sama tahu kesusahan yang kita alami.” Ucap teman Bu Ida. “tapi Bu Indah menolak keinginan saya untuk menjodohkan Candra dengan anak saya.” Jawab Bu Ida. “ya tentu saja Bu Indah akan memilih non Wulan, selain cantik, non Wulan juga anak satu-satunya pak Cokro yang tidak akan berebut harta. Candra nantinya akan hidup enak bersama keluarga pak Cokro. Kalau Candra menikah dengan anak Bu Ida, sama-sama miskin ya buat apa.” Ucap teman Bu Ida yang membuat Bu Ida semakin panas hatinya kala kehidupannya dibanding-bandingkan dengan Wulan.
Bu Ida semakin sengit jika melihat Wulan. Dirinya tampak iri dengan kehidupan Wulan yang bisa mendapatkan segalanya sedangkan kehidupan Bu Ida yang sama dengan kehidupan Bu Indah, tapi Bu Indah malah menolak keinginannya.
Wulan tidak tahu ada salah seorang pekerja yang membenci dirinya akibat dari iri dan dengki terhadapnya. Wulan pun juga tidak peduli akan hal itu. Wulan lalu kembali ke kantor tempat para staf perkebunan teh itu bekerja. Disana Wulan bertanya-tanya mengenai perkembangan hasil teh yang dikelola oleh ayahnya itu. Wulan juga bermaksud untuk mengelola perkebunan teh milik ayahnya agar bisa berproduksi secara maksimal.
“ayah..., Aku boleh kan mengelola perkebunan teh ini? Wulan lihat kebun teh milik kita ini tidak terlalu pesat perkembangannya.” Ucap Wulan.
“Tentu saja boleh nak..., Ini semua boleh kau kelola, bagus jika kau mau turun tangan sendiri mengelola perkebunan teh milik kita ini.” Ucap pak Cokro.
Pak Cokro tampak senang dengan rencana Wulan yang mau mengambil alih mengelola perkebunan teh itu. Mulai besok Wulan akan lebih rajin ke perkebunan teh yang akan segera dikelolanya itu. Dengan begitu semua usaha pak Cokro bisa terkelola dengan baik. Tampaknya Wulan akan lebih tegas dan agak keras jika menjadi seorang pemimpin. Wulan sudah pasti akan betul-betul memperhatikan hal yang menyangkut perkebunan teh miliknya.
“Ingat nak..., Kau tidak boleh angkuh jika menjadi seorang pemimpin.” Ucap pak Cokro mengingatkan putrinya. “iya ayah..., Aku tak sekejam yang ayah bayangkan.” Ucap Wulan sambil tersenyum kecil didepan ayahnya.
Wulan hanya ingin mencari tahu mengapa perkebunan teh milik ayahnya itu tidak berkembang pesat seperti perkebunan kopi dan juga peternakan sapi yang dikelola oleh kedua orang tuanya. Wulan ingin tahu penyebab akan hal itu. Wulan juga berjanji akan memperhatikan kesejahteraan karyawannya jika kebun teh sudah resmi dikelola olehnya, tentu saja Wulan akan tahu penyebab dari perkebunan teh milik ayahnya tidak berkembang pesat.
Hari sudah agak siang, Wulan mulai berpisah dengan ayahnya. Wulan belajar kembali mengenai teh, sedangkan pak Cokro kembali ke peternakan untuk kembali bekerja mengawasi para pekerja di peternakan sapi miliknya.
Wulan mulai melihat laporan keuangan yang diberikan oleh stafnya. Wulan memperhatikan dengan teliti melihat ke bagian pemasukan dan pengeluaran uang di perkebunan teh miliknya. Sejenak Wulan memperhatikan wajah stafnya yang tampak panik itu. “ada apa kang?” tanya Wulan sambil menatap tajam mata stafnya itu. Orang yang biasa melaporkan keuangan itu tampak risau dan berkeringat. Wulan kembali meneliti keuangan di perkebunan teh miliknya.