Pak Cokro sudah menyebar undangan untuk para koleganya dan juga teman-teman bisnis lainnya. Pak Cokro berharap agar pernikahan putrinya akan berjalan dengan lancar sesuai harapannya sendiri. Semua orang juga berharap agar pernikahan yang dilangsungkan Candra dan Wulan nanti lancar tanpa halangan suatu apapun. Wulan sudah sangat rindu dengan kekasihnya itu, Candra pun juga merasakan hal yang sama. Tapi mereka sedang dalam pingitan dan tidak boleh bertemu sampai menjelang akad nikah nanti. Tentunya pak Cokro juga bahagia karena putrinya akan segera menikah dengan laki-laki pilihannya sendiri. Pak Cokro juga berpikir jika seandainya menantunya bukanlah Candra, sudah pasti pak Cokro akan merasakan kesepian setelah pernikahan putrinya itu. Kalau pak Cokro menikahkan putrinya dengan pengusaha juga, tidak mungkin pengusaha itu mau tinggal dirumah pak Cokro seperti yang saat ini telah disetujui oleh Candra. Candra memang sangat patuh dengan pak Cokro dan tidak pernah membantah apapun yang keluar dari mulut pak Cokro. Itulah yang menyebabkan pak Cokro bersyukur saat putrinya memilih untuk menikah dengan Candra. Walau awalnya tidak setuju dan menyayangkan pilihan putrinya, namun kini pak Cokro telah menyetujuinya. Pak Cokro sebenarnya tidak pernah membenci keluarga Candra, tapi karena mereka adalah orang miskin yang tidak sebanding dengan keluarga pak Cokro. Hal itulah yang menyebabkan pak Cokro tidak menyetujui putrinya berpacaran dengan Candra. Namun kini pak Cokro menyetujui pilihan putrinya itu atas saran dari Lulun samak. Lulun samak akan menjadikan Candra sebagai budaknya suatu saat nanti. Lulun samak dan pak Cokro hanya menghitung hari saja untuk mengambil jiwa Candra. Ada sesuatu yang membuat pak Cokro tampak tak yakin dengan kematiannya nanti. Jika suatu saat nanti Candra tiada, apa yang akan diperbuat oleh Wulan? Apakah Wulan tidak merasa depresi jika belahan jiwanya telah tiada. Ketakutan akan hancurnya hati putrinya telah menghinggapi pikiran pak Cokro. Pak Cokro lalu memanggil Wulan, “Wulan..., Kalau seandainya Candra pergi meninggalkanmu, apa yang akan kau lakukan?” tanya pak Cokro. Pertanyaan pak Cokro membuat Wulan terkejut. Wulan seakan teringat ucapan Lulun samak dan ayahnya didanau malam itu. “Ayah..., Kalau Candra mati, aku harus mati juga!” ucap Wulan dengan mantap tanpa keraguan. Seketika keringat dingin keluar dari kening pak Cokro. Apa yang telah dipikirkannya akan terjadi. Sudah pasti Wulan akan mengatakan hal ini kepadanya. Wulan memang menjawab hal itu karena ia tahu bahwa ayahnya hanya ingin tahu apa yang akan terjadi kepadanya saat Candra menjadi tumbalnya. Wulan yakin Candra tak akan mungkin mati dengan cepat setelah tahu bahwa dirinya akan dijadikan tumbal oleh ayah Wulan. Namun terkadang Wulan juga ketakutan akan hal itu.
Sementara itu para tetangga menyayangkan saat mereka tahu mereka tidak diundang diacara pernikahan Wulan. Mereka tampaknya kecewa dengan keputusan keluarga Wulan. Mereka mungkin tidak berani protes atau menanyakan hal ini kepada pak Cokro, tapi keluarga Candra yang menjadi sasaran pelampiasan kekesalan mereka. “Warga kampung satu pun tak ada yang diundang ke acara perkawinan putramu. Memangnya kami tidak layak? Bahkan untuk membantu memasak saja tidak ada satu pun ucapan dari Bu Sekar.” Ucap salah seorang tetangga kepada Bu Indah. Undangan pesta rakyat yang akan diadakan pak Cokro akan dilaksanakan hari Jumat dan undangan juga telah dicetak dan akan dibagikan hari Kamis. Satu hari sebelum acara pesta rakyat dilakukan. Memang biasanya setiap ada orang yang mengadakan pernikahan di desa itu, biasanya warga kampung juga ikut andil dalam masak-memasak makanan sajian untuk para tamu, namun tidak dengan keluarga pak Cokro. Tidak ada satu pun warga yang diundang untuk ikut andil dalam pernikahan Wulan. Selain karena semua makanan sudah diurusi oleh WO, pak Cokro juga tidak ingin merepotkan warga kampung. Kalau pak Cokro mengundang mereka untuk membantu, sudah pasti mereka harus meluangkan waktunya untuk pak Cokro bahkan sampai harus ijin kerja hanya untuk datang membantu pak Cokro. Pak Cokro tak ingin merepotkan mereka.
Bu Indah yang ditanya oleh tetangganya hanya menjawab seperlunya saja. “begini Bu..., Yang mengadakan pernikahan itu kan pak Cokro, saya tidak berhak untuk ikut campur dalam masalah itu. Perihal warga kampung yang tidak diundang itu bukan wewenang saya.” Ucap Bu Indah dengan sabar. Bu Indah tidak ingin berbicara dengan nada tinggi kepada warga yang menanyakan perihal tentang pernikahan putranya dengan Wulan. Saat Bu Indah sedang berbincang dengan tetangganya, Candra pun keluar dari rumahnya karena mendengar para tetangga seperti sedang menyerang ibunya dengan ucapan-ucapan yang tidak enak ditelinganya. “teteh dan juga ibu-ibu sekalian, warga kampung dapat undangan juga nanti dipernikahanku dan juga Wulan, tapi undangan pernikahan akan dibagikan hari Kamis.” Ucap Candra menjelaskan. Tetangga Candra tampak bingung dan menatap satu dan yang lainnya. “Loh..., Bukankah pernikahannya hari Rabu?” tanya tetangga Candra. Candra lalu tersenyum, “teh..., Acara memang akan digelar selama tiga hari tiga malam. Hal itu dikarenakan pak Cokro mengundang banyak orang dan akan membagi para tamu-tamunya menjadi tiga dan kita para warga mendapatkan jadwal datang dihari Jumat.” Ucap Candra. “oh gitu..., Enak ya Candra rasanya menikah dengan anak orang kaya.” Sindir tetangganya. Candra menjawabnya dengan senyuman, “bu..., Ayo masuk saja.” Ajak Candra. Candra tidak ingin melihat ibunya sakit satu lagi atas omongan warga. Biarlah keluarganya menjadi bahan gunjingan warga, namun yang paling penting ibunya tidak mendengar kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut mereka. “Candra..., Kau sebentar lagi akan menjadi menantu orang terkaya dikampung ini, dari sekarang saja sikapmu sudaj berubah!” ucap tetangganya dengan nada yang agak meninggi. Candra yang sudah masuk kedalam rumah pun langsung menutup pintu rumahnya. Candra menghela nafasnya dan mengontrol emosinya. “Bu..., Mulai sekarang ibu tidak usah berkumpul lagi dengan mereka, lebih baik ibu dirumah saja!” ucap Candra yang masih menahan emosinya. Candra tampak kesal dengan omongan warga terhadap keluarganya itu. “Iya nak..., Kau tidak usah pikirkan lagi ucapan mereka. Ibu janji bahwa ibu akan banyak diam Ketika dekat dengan mereka.” Ucap Bu Indah lalu tersenyum. Candra tahu senyum ibunya adalah senyum palsu untuk menutupi kesedihannya. Sebenarnya Bu Indah menyimpan kesedihan atas omongan warga yang sembarangan itu. Ada yang bilang bahwa Candra memakai ilmu pengasihan, ada juga tetangga yang bilang bahwa Wulan sedang hamil, maka dari itu pak Cokro setuju dengan pernikahan ini. Memang apa yang dituduhkan para tetangga itu tidak benar, Candra dan Wulan memang saling mencintai tanpa memandang apapun seperti dugaan tetangga kepadanya. Para warga juga melihat Wulan yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya dikarenakan akhir-akhir ini nafsu makan Wulan. Wulan memang merasakan sendiri tubuhnya lebih sering lapar pada jam-jam tertentu sehingga membuatnya harus mengisi perutnya. Mungkin hal inilah yang membuat para tetangga melihat Wulan seperti wanita hamil.