Menjelang pernikahan Candra dan Wulan

1046 Words
Minggu depan adalah perkawinan antara Candra dan Wulan akan segera dilaksanakan. Pak Cokro dan Bu Sekar sibuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari persiapan tenda dan juga lainnya. “Wulan..., Kau sudah tentukan periasnya?” Tanya pak Cokro. “Sudah ayah..., Wulan datangkan langsung dari Jakarta.” Ucap Wulan. “Bagus...., Oh iya Wulan. Selama seminggu menjelang pernikahanmu, kau setiap hari berkeliling lah kekampung untuk membagikan makanan-makanan yang sudah disiapkan. Untuk data-datanya sudah ada ditangan Asep.” Ucap pak Cokro. “selama seminggu nanti ayah akan memberi makan mereka?” tanya Wulan. “tentu saja nak..., Dihari bahagia pernikahan putri ayah, semua orang juga harus berbahagia.” Ucap pak Cokro lalu tersenyum. Entah berapa uang yang akan dikeluarkan pak Cokro untuk pernikahan putrinya nanti. Satu Minggu sebelum pernikahan pun pak Cokro sudah membuat makanan untuk warga kampung. Sepertinya pernikahan Wulan nantinya akan diselenggarakan secara meriah. Banyak warga kampung yang sudah menunggu acara itu termasuk para karyawan Wulan. Seminggu sebelum pernikahan itu, tenda mewah sudah dipasang didepan rumah Wulan. Halaman rumah pak Cokro yang begitu luas tak membuat acara pernikahan sampai menutup jalanan umum. Para pembantu pak Cokro juga seminggu ini sampai pernikahan selesai akan sangat sibuk. Mereka sudah pasti sibuk memasak makanan dalam porsi besar untuk pernikahan Wulan nantinya. Untuk acara pernikahannya nanti, Wulan memang sudah memesan katering untuk makan para tamu undangan. Undangan sudah dipersiapkan, Wulan dan Candra sudah tidak boleh bertemu lagi sampai nanti akad nikah tiba. Wulan pun juga sudah cuti, semua pekerjaan di kantor perkebunan ia awasi lewat laptopnya saja. “Wulan..., Kau tidak boleh lelah ya...,” ucap pak Cokro mengingatkan. “iya ayah..., Wulan tahu.” Ucap Wulan. Wulan pun juga sudah menjalankan puasanya berharap diacara bahagianya nanti dirinya terlihat berbeda dari biasanya. Wulan juga akan menyiapkan dirinya untuk bertemu para tamu dari hari pertama sampai dengan hari ketiga. “ayah...., Menikah dirayakan tiga hari tiga malam apakah tidak lelah?” tanya Wulan. “Kau boleh berias di hari pertama dan kedua saja karena dihari ketiga nanti hanya pesta rakyat saja.” Ucap pak Cokro. Pak Cokro memang sengaja tidak memanggil warga kampung untuk ikut dalam andil dalam pernikahan putrinya. Hanya orang-orang dari ibukota saja yang memang dibayar untuk mengurusi pernikahan Wulan. Pak Cokro beserta keluarga tidak mau merepotkan warga kampung saat pernikahan putrinya nanti. Mulai dari tenda, prasmanan, make up dan lainnya sudah diatur oleh wedding organizer yang sudah dipilih oleh Wulan. Wedding organizer yang dipilih Wulan juga bukan sembarangan, Wulan memilih WO yang biasa dipakai oleh para artis untuk acara pernikahan mereka. Menjelang sore, Wulan diantar Asep untuk memberikan makanan untuk para warganya. “Kang..., Apa nantinya makanannya akan berbeda apa tetap seperti ini ya?” tanya Wulan. “kayaknya bakal berbeda non. Bapak kan yang mengatur semua ini.” Ucap Asep. “iya memang harus beda kan kang, agar mereka juga tidak bosan dengan menunya.” Ucap Wulan. “haahaha..., Warga disini tidak mempermasalahkan menu non, asal mereka bisa makan itu sudah Alhamdulillah.” Ucap Asep lalu tertawa. Asep merasa bahwa majikannya itu lucu saat berbicara tentang menu makanan yang buat bosan. Warga kampung tidak akan bosan dengan menu makanan seperti itu, asalkan mereka bisa makan setiap hari sudah sesuatu yang sangat bahagia bagi mereka. Banyak ucapan terima kasih dari warga atas pemberian Wulan. Namun, ada satu omongan yang tidak baik ditujukan untuk keluarga Candra. Acara pernikahan akan diadakan seminggu lagi, para warga yang melihat keluarga pak Cokro sedang menebar kebaikan pun dibandingkan dengan keluarga Candra. Dirumah Candra seminggu sebelum pernikahannya tidak ada apa-apa. Bukan karena keluarga Candra tidak mau menyenangkan hati para warga dan membuat kenyang perutnya, namun untuk makan sendiri saja mereka merasa susah, apa yang harus dibagikan kepada warga. Orang sudah tahu pak Cokro orang terkaya dikampungnya, tapi keluarga Candra? Orang juga sudah tahu bahwa keluarga Candra termasuk warga dalam golongan miskin. Bu Indah yang tampak emosi dengan omongan warga pun mengambil simpanan emasnya dan langsung bergegas kerumah pak Cokro. Bukannya Bu Indah marah kepada keluarga pak Cokro, namun Bu Indah merasa terhina atas perbuatan para tetangganya yang memandang rendah dirinya. Langkah kaki Bu Indah lalu dihentikan oleh putranya. “Ibu!” ucap Candra meneriaki ibunya. Bu Indah yang tampak geram pun menengok kearah Candra. Candra langsung menghampiri ibunya untuk menanyakan mau kemana ibunya itu. Emosi Bu Indah langsung memuncak, “kau tahu! Semua orang sudah membicarakan kita tentang kau yang menikah dengan anak orang terkaya itu! Kau tahu! Mereka menduga bapak dan ibu yang telah mengguna-gunai Wulan agar kau bisa hidup enak bersama mereka!” ucap Bu Indah meledak-ledak. Seumur-umur Candra belum pernah melihat ibunya semarah ini. Untuk menenangkan ibunya, Candra lalu menggandeng ibunya dan mengajaknya untuk duduk di kursi depan terasnya. Candra melihat ibunya membawa segenggam emas berupa gelang, kalung, perhiasan lainnya. “bu..., Bukankah ibu sendiri yang bilang kepada Candra untuk tidak terpancing oleh tetangga lainnya? Lalu kenapa sekarang ibu yang terpancing?” tanya Candra. “Ibu sudah lelah Candra, ibu sudah lelah....,” ucap Bu Sekar lalu menangis didada sang putra. Candra lalu menepuk-nepuk pundak ibunya. Candra tahu betapa sakitnya hati ibunya yang telah dihina oleh warga kampung itu. “bu..., Simpan saja perhiasan ibu ya..., Perhiasan ini tak ada artinya bagi pak Cokro.” Ucap Candra lembut. Bu Indah masih menangis dalam pelukan putranya. Seketika Bu Indah lalu menghentikan tangisnya, “Candra..., Berikan seluruh emas ibu untuk Wulan. Ibu ikhlas, ibu akan memberikan semua perhiasan ibu ini untuk Wulan.” Ucap Bu Indah yang langsung melepaskan pelukan putranya dan mengusap air matanya. “bu..., Wulan tak memerlukan semua ini. Dia sudah punya banyak perhiasan. Simpan saja untuk ibu ya...,” ucap Candra yang menolak secara halus. “tidak tidak..., Ini harus kau berikan kepada Wulan. Bagi Wulan ini memang tidak seberapa, tapi ini berarti bagi ibu jika menantu ibu sendiri yang memiliki perhiasan ini.” Ucap Bu Indah. Candra yang tak bisa menolak ajakan ibunya pun menerima perhiasan itu untuk diberikan kepada Wulan. “baiklah Bu..., Jika ibu memaksa, Candra akan memberikannya kepada Wulan.” Ucap Candra sambil mengambil perhiasan yang ada ditangan ibunya. Bu Indah tampak senang saat putranya menerima perhiasan yang tidak ada artinya dimata Wulan itu. Candra lalu membawa ibunya untuk masuk kedalam kamarnya dan memberinya segelas air putih agar ibunya bisa tenang dan tidak terpancing lagi dengan omongan warga yang tidak tahu-menahu dengan hubungan Candra dan Wulan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD