Beberapa hari terakhir, Rayna tinggal di rumah mertuanya. Rumah yang selama ini hanya ia kunjungi saat hari raya, atau ketika Maida mengundangnya makan siang. Kini, kamar tamu di lantai atas menjadi tempat Rayna menutup pintu dari dunia. Ironisnya, tidak satu pun orang menduga ia ada di sana. Sandy pun tidak berpikir mencarinya kemari. Karena siapa yang akan berpikir seorang istri memilih bersembunyi di rumah mertuanya, sementara ibu mertuanya sendiri sedang terbaring lemah di rumah sakit akibat penyakit jantung yang kembali kambuh? Justru itu sebabnya Rayna ada di sana dan Sania yang menjemputnya malam itu, tanpa banyak kata, hanya berkata satu hal saat membuka pintu mobil. Hari itu sore merambat pelan. Sinar matahari masuk dari sela gorden tipis ruang keluarga. Rayna duduk di sofa,

