“Rayn, selamat pagi.”
“Hmm?”
“Kamu sudah bangun?”
Rayna bergumam pelan, masih memejamkan mata. “Belum sepenuhnya, Mas. Kamu menyiksaku semalam.”
Sandy terkekeh kecil. “Aku sudah mandi.”
“Pamer,” jawab Rayna lirih.
Sandy duduk di tepi ranjang. “Bangun dulu. Nanti kesiangan.”
Rayna memutar tubuhnya, membelakangi Sandy. “Lima menit.”
“Lima menit versi kamu itu tiga puluh menit,” sahut Sandy.
Rayna membuka satu mata. “Berisik ih, Mas.”
Sandy meraih bantal kecil dan menepuk pelan kepala Rayna. “Bangun.”
Rayna akhirnya bangkit, rambutnya berantakan. “Kalau aku telat ke butik, itu salah kamu.”
“Kalau kamu telat, aku antar,” balas Sandy ringan.
Rayna tersenyum kecil, lalu berjalan ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Rayna duduk di depan meja rias. Rambutnya masih basah, handuk melingkar di bahu. Sandy berdiri di belakangnya, mengambil sisir.
“Mas,” kata Rayna sambil menatap cermin. “Kamu nggak capek tiap pagi gini?”
“Capek kenapa?”
“Menyisir rambut istrimu,” jawab Rayna santai.
Sandy mulai menyisir pelan. “Aku capek kalau nggak ngelakuin ini.”
Rayna tersenyum, matanya terpejam. “Kamu aneh.”
“Biarin,” sahut Sandy. “Aku suka.”
Rayna membuka mata. “Mas.”
“Hmm?”
“Kalau suatu hari aku potong rambut pendek?”
Sandy berhenti menyisir. “Pendek kayak gimana?”
“Pendek aja. Praktis.”
Sandy berpikir sejenak. “Selama kamu masih Rayna, aku nggak masalah.”
Rayna terkekeh. “Jawaban aman.”
“Jawaban jujur,” Sandy membela diri.
Mereka turun ke ruang makan. Ijah dan Mirna sudah menyiapkan sarapan.
“Pagi, Pak. Bu,” sapa Mirna.
“Pagi,” jawab Rayna ceria.
Sandy duduk, membuka koran. “Hari ini kamu sibuk?”
Rayna menuang teh. “Lumayan. Ada dua fitting, satu klien baru.”
“Kamu makan siang?”
Rayna mengangguk. “Seperti biasa.”
“Aku kirim,” sahut Sandy tanpa menoleh.
Rayna menatapnya. “Jangan mahal-mahal.”
Sandy melirik. “Aku kirim yang enak.”
“Itu mahal,” protes Rayna.
“Buat kamu,” jawab Sandy singkat.
Rayna menyerah, tersenyum.
Di mobil, Arman menyapa seperti biasa. “Ke kantor dulu, Pak?”
“Iya. Antar Bu Rayna dulu,” jawab Sandy.
Rayna menyandarkan kepala di sandaran kursi. “Mas.”
“Kenapa?”
“Kamu baik banget akhir-akhir ini.”
Sandy menoleh. “Aku dari dulu baik.”
“Ini ekstra,” Rayna mengoreksi.
Sandy tertawa kecil. “Mungkin aku lagi mood, Sayang.”
Rayna menatap keluar jendela. “Jangan capek ya, Mas.”
Sandy mengangguk. “Kamu juga.”
Di depan butik, Sandy turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Rayna.
“Kerja yang rajin,” kata Sandy.
Rayna tersenyum. “CEO jangan lupa makan.”
Sandy mendekat, mencium kening Rayna singkat. “Jangan pulang malam.”
Rayna mengangguk.
Di dalam butik, Juju langsung menyambut. “Wah, diantar lagi.”
Rayna melepas tas. “Biasa.”
“Biasa katanya,” Juju menggoda. “Mukanya berseri.”
Rayna duduk di kursinya. “Kerja!”
Hari berjalan cepat. Dialog, fitting, tawa kecil, diskusi desain.
***
Terlalu bekerja hingga tidak merasakan waktu berjalan begitu cepat hari ini. Ternyata sudah siang hari, makanan datang, bukan hanya makanan untuk Rayna, tapi makanan untuk teman-temannya juga.
“Dari suami tercinta,” kata kurir sambil tersenyum.
Juju melirik. “Aku mau nikah lagi kayaknya.”
Rayna terkekeh. “Satu aja cukup.”
Sore menjelang, Rayna membereskan mejanya. Ponselnya berbunyi.
Sandy: Aku jemput.
Rayna membalas cepat: Aku siap.
Di mobil, Sandy menoleh. “Capek, Sayang?”
“Sedikit,” jawab Rayna. “Tapi senang.”
“Kenapa?”
“Karena aku ngerasa hidupku seimbang.”
Sandy mengangguk. “Aku suka dengarnya.”
Malam itu, mereka makan sederhana. Setelahnya, duduk di ruang keluarga, kopi di tangan.
“Mas,” kata Rayna pelan. “Kamu pernah nyesel nggak?”
“NyeseI apa?”
“Menikah muda,” lanjut Rayna.
Sandy menggeleng. “Nggak pernah.”
“Kenapa?”
“Karena aku tumbuh sama kamu,” jawab Sandy. “Aku belajar jadi dewasa bareng.”
Rayna tersenyum kecil. “Aku juga.”
Mereka terdiam sejenak.
“Rayn,” Sandy memanggil.
“Hmm?”
“Kalau nanti hidup kita nggak berubah-ubah, kamu bosan nggak?”
Rayna berpikir. “Aku lebih takut hidup yang berubah tiba-tiba, Mas.”
Sandy menoleh. “Aku janji nggak akan ninggalin kamu.”
Rayna menatap Sandy. “Janji itu berat.”
“Aku tahu,” sahut Sandy. “Makanya aku nggak bilang sembarangan.”
Rayna mengangguk pelan. “Aku percaya.”
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah, Ijah dan Mirna sudah sibuk menyiapkan makan malam, Rayna tersenyum simpul ketika dua ART di rumahnya itu sungguh sigap menyiapkan apa pun yang mereka butuhkan.
“Sayang, aku ke ruang kerja dulu, ada yang mau aku kerjakan,” kata Sandy.
“Eh tapi di kantor?”
“Ini kerjaan tiba-tiba,” kata Sandy.
“Baiklah. Nanti kalau jam makan malam, aku panggil.”
Sandy mengangguk lalu mengecup puncak kepala istrinya.
Sandy menutup pintu ruang kerjanya pelan, seolah takut suara engselnya terdengar terlalu keras. Lampu meja dinyalakan, menerangi tumpukan map yang rapi, terlalu rapi untuk pikiran yang sedang kacau.
Ia duduk, membuka kancing atas kemejanya, lalu menghela napas panjang.
Ponselnya bergetar.
**JOKO**
Sandy menatap layar itu lama, seolah berharap nama itu berubah, tetap sama. Getaran berhenti, lalu menyala lagi.
**JOKO**
“Capek,” gumam Sandy, lebih ke dirinya sendiri.
Ia memiringkan ponsel, membiarkannya bergetar di atas meja kayu. Satu panggilan terlewat. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.
Sandy memejamkan mata, menekan pelipis. Kepalanya berdenyut, bukan sakit, lebih seperti ditekan dari dalam.
Akhirnya, ia mengangkat.
‘Iya, Ras,’ suaranya rendah.
Hening sepersekian detik, lalu rahang Sandy mengeras.
‘Aku sudah bilang jangan menelponku malam hari.’
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir kecil di ruang kerja yang tak terlalu luas. Tangannya meremas rambut, napasnya memburu.
‘Bukan aku nggak peduli,’ lanjutnya. ‘Aku cuma butuh waktu.’
Suara di seberang membuat Sandy berhenti melangkah.
‘Ras, tolong,’ katanya, kali ini lebih pelan. ‘Jangan ditelepon terus. Aku masih ingat tanggung jawabku.’
Ia menelan ludah. ‘Aku lagi di rumah.’
Ada jeda.
‘Besok aku hubungi,’ Sandy menutup pembicaraan. ‘Jangan sekarang.’
Telepon ditutup.
Sandy menjatuhkan diri ke kursi, menatap kosong ke dinding. Dadanya naik turun pelan. Satu tangannya menutup wajah.
Ponsel kembali bergetar.
**JOKO**
Sandy tidak mengangkat. Ia membalikkan ponsel, layar menghadap meja, seolah dengan begitu semua bisa ikut terdiam.
Ia menyandarkan kepala, memejamkan mata.
Dia lelah mendapatkan telepon Joko yang sebenarnya Joko itu adalah nomor ponsel wanita. Entah siapa yang sudah mengganggu pikiran Sandy.
Terlalu banyak hal yang harus ia jaga dan satu di antaranya terus meminta untuk diakui.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Mas?” suara Rayna lembut dari luar.
Sandy cepat merapikan diri, menarik napas dalam-dalam. “Iya, Sayang?”
“Aku bikin teh hangat,” kata Rayna. “Kamu mau?”
Sandy membuka pintu, tersenyum tipis. “Mau.”
Rayna menyerahkan cangkir. “Jangan dipaksain kerja malam-malam.”
Sandy mengangguk. “Aku istirahat sebentar.”
Rayna menatapnya sejenak, seolah ingin bertanya lebih jauh, lalu memilih tersenyum. “Aku di kamar.”
Pintu menutup kembali.
Sandy menatap ponselnya sekali lagi. Nama itu masih ada di sana. Diam, tapi mengancam.
Ia meminum tehnya perlahan, berharap hangatnya bisa meredakan sesuatu yang jauh lebih dingin di dadanya.