Bab 5. Rumah

879 Words
Pagi itu, rumah Maida masih terbungkus udara sejuk ketika Rayna menutup koper kecilnya. Tidak banyak barang yang ia bawa, hanya pakaian ganti dan beberapa keperluan pribadi. Menginap di rumah mertua selalu terasa seperti pulang ke rumah kedua. Sandy berdiri di dekat pintu kamar, memperhatikan istrinya dengan santai. “Udah, Sayang?” tanyanya. Rayna mengangguk. “Udah, Mas. Kamu nggak bawa apa-apa?” Sandy mengangkat bahu. “Aku ke mana-mana bawa kamu, jadi rasanya cukup.” Rayna mendengus kecil. “Jawaban gombal tapi males.” “Efisien,” Sandy membela diri. Mereka turun ke ruang tamu. Maida langsung menghampiri Rayna dan memeluknya sebentar. “Hati-hati di jalan,” ucap Maida. “Jangan capek-capek.” Rayna tersenyum. “Iya, Ma.” Anjas hanya mengangguk dari kursinya. “Kalau ada waktu, mampir lagi.” “Pasti, Pa,” jawab Rayna tulus. Di luar, Arman sudah menunggu di balik kemudi. Begitu Rayna dan Sandy masuk, Arman menoleh sebentar. “Langsung pulang, Pak? Atau ada tujuan lain?” Sandy menoleh ke Rayna. “Kamu mau ke butik?” Rayna berpikir sejenak. “Aku pengen mampir beli beberapa bahan. Stok lace hampir habis.” Sandy mengangguk. “Ke toko kain dulu, Man.” “Siap, Pak.” Mobil melaju pelan meninggalkan halaman rumah. Rayna menyandarkan punggungnya, menikmati perjalanan tanpa terburu-buru. “Kamu capek?” tanya Sandy. “Nggak, Mas,” jawab Rayna. “Aku malah senang. Rasanya… ringan.” Sandy tersenyum. “Aku senang kamu betah di rumah Mama.” “Bukan cuma betah,” sahut Rayna pelan. “Aku merasa diterima.” Sandy menggenggam tangan Rayna. “Karena kamu memang bagian dari keluarga kami.” Rayna menoleh, menatap Sandy beberapa detik lebih lama. “Makasih.” Sandy hanya membalas dengan senyum kecil, tidak berlebihan. Toko kain ramai seperti biasa. Rayna turun lebih dulu, Sandy menyusul. Arman memilih menunggu di mobil. Rayna berjalan menyusuri lorong-lorong kain dengan mata berbinar. Tangannya menyentuh berbagai tekstur, halus, kasar, ringan, jatuh. Sandy mengikuti dari belakang, sesekali memperhatikan harga, sesekali hanya memperhatikan istrinya. “Kamu serius beli yang ini?” tanya Sandy sambil menunjuk kain berwarna ivory. Rayna mengangguk. “Ini bagus buat gaun Alya.” “Harganya…,” Sandy berhenti sejenak, “…fantastis.” Rayna terkekeh. “Tenang. Aku nggak beli pakai kartu kamu.” “Bukan itu maksudku, kalau kamu mau pake kartuku, aku kasih sekarang, uangku uang kamu juga,” Sandy tersenyum. “Aku cuma kagum.” Rayna mengangkat alis. “Kagum karena apa, Mas?” “Kamu tahu apa yang kamu mau,” jawab Sandy jujur. Rayna terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Aku belajar.” Setelah semua selesai, mereka kembali ke mobil. Arman langsung menjalankan mobil menuju rumah. “Pak,” kata Arman sambil menatap jalan. “Besok ada agenda makan siang sama klien jam dua belas. Tadi, Pak Damar telepon, tapi Bapak tidak angkat katanya.” “Iya,” jawab Sandy. “Saya ingat.” Rayna menoleh. “Kamu sibuk besok?” “Lumayan,” jawab Sandy. “Tapi malamnya buat kamu.” Rayna tersenyum tipis. “Aku nggak minta.” “Aku kasih, Sayang,” balas Sandy cepat. Sesampainya di rumah, Ijah dan Mirna sudah menunggu. “Bu Rayna pulang,” sapa Ijah ceria. Mirna segera membantu membawa belanjaan. “Kami bikin pisang goreng sama kopi, Bu.” Rayna tersenyum. “Pas banget.” Mereka duduk di ruang keluarga. Sandy melepas jasnya, Rayna menyilangkan kaki di sofa. Kopi hangat mengepul di meja. “Kamu tahu nggak,” kata Rayna sambil meniup kopinya, “kadang aku mikir rumah ini terlalu besar.” Sandy menoleh. “Kamu ngerasa sepi?” “Enggak,” jawab Rayna jujur. “Cuma… sunyi yang nyaman.” Sandy mengangguk. “Aku suka sunyi yang kamu maksud.” Rayna tersenyum, lalu menatap Sandy. “Mas.” “Hmm?” “Kalau suatu hari hidup kita berubah… kamu tetap di sini, kan?” Sandy tidak langsung menjawab. Ia menatap Rayna dengan serius, lalu meraih tangan istrinya. “Aku di sini karena aku mau,” ucapnya pelan. “Dan, aku nggak pernah kepikiran pergi.” Rayna mengangguk pelan. “Aku cuma mau memastikan.” “Kenapa tiba-tiba nanya gitu?” Rayna mengangkat bahu. “Nggak tahu. Kadang aku takut terlalu bahagia.” Sandy tertawa kecil. “Takut bahagia itu aneh.” “Takut kehilangan,” koreksi Rayna. Sandy menggenggam tangan Rayna lebih erat. “Kita nikmati aja, ya, Sayang.” Rayna mengangguk. *** Malam menunjukkan pukul 11, setelah makan malam, bercerita sejenak, menikmati cemilan dan teh hangat, lalu mereka masuk ke kamar. Malam itu, sebelum tidur, Sandy duduk di tepi ranjang. Rayna baru selesai mandi, rambutnya masih setengah basah. Sandy mengambil sisir dari meja dan mulai menyisir rambut Rayna perlahan. “Kamu tahu,” kata Sandy pelan, “aku paling tenang pas kayak gini.” Rayna menutup mata. “Disisir?” “Iya,” jawab Sandy. “Kamu diem.” Rayna terkekeh kecil. “Aku bisa pura-pura tidur kalau kamu mau.” “Jangan,” sahut Sandy cepat. “Aku mau ngobrol.” Rayna membuka mata. “Ngobrol apa?” “Ngobrol tentang hal-hal kecil,” jawab Sandy. “Tentang kamu, tentang aku.” Rayna menoleh. “Kamu nggak pernah bosan, Mas?” Sandy menggeleng. “Belum nemu alasan buat bosan.” Rayna tersenyum, lalu bersandar di d**a Sandy. “Aku juga.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD