Pemilik Jatung Teratai

2284 Words
Sepanjang lorong yang dilewati, Silky tidak henti memperhatikan sekeliling. Pilar-pilar besar yang berdiri kokoh menyangga dengan megah di setiap beberapa meter bangunan. Beberapa jenis benda melayang sendiri di seluruh sudut. Namun, saat ada yang melintas seketika beberapa benda itu menyingkir. Silky yakini jika benda itu alat kebersihan, apapun jenisnya semua menunduk saat pria berwibawa yang di depan Silky melintas. Termasuk tanaman merambat. Di balik pembatas yang setinggi pinggang, terpapar luas sisi kerajaan dengan semua penghuni. Banyaknya menara lancip melingkari tempatnya berdiri, namun tidak lebih tinggi dari tempatnya. “Ini kamarmu. Dan dua pelayan ini akan membantumu jika kau butuh sesuatu,” ucap Diarkis sambil menunjuk ruang besar yang telah terbuka. Silky mendekati garis pintu, lalu satu tangannya dimasukkan ke dalam. “Kau ingin memenjarakanku, kan?” tanya Silky sembari menatap Diarkis. “Mana ada penjara sebagus itu,” Diarkis meyakinkan. “Kau tinggal menjentikkan jari, semua akan berubah saat aku telah berada di dalam,” ragu Silky. Terdengar helaan napas. “Aku pemilik kerajaan ini. Masih meragukan pemberianku?” tanya Diarkis sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. “Justru kau pemiliknya, aku...” “Menurut saja!” bentak Niu. “Berhenti membentakku!” tegas Silky sambil menunjuk wajah Niu. Sorot mata tajamnya mengisyaratkan keseriusan dan ketidaksukaannya. Diarkis membuang napas pelan. “Bersihkan tubuhmu dan temui aku segera. Atau kau akan kelapan,” ucap Diarkis lembut. Sorot tajam milik Silky beralih pada Diarkis dan berangsur meredup normal. Menuruti semua yang dikatakan Diarkis, karena ia tidak punya pilihan lain. Kedua bola matanya menyapukan ke sudut ruang yang sangat luas, dari tempat penyimpanan baju yang terbuat dari kayu dan terukir indah, lalu beralih pada ranjang dengan selimut bulu yang sangat halus dan lembut. Kemudian menghampiri jendela yang menyuguhkan hamparan atap rumah warga. “Mari ikut denganku,” ucap seorang pria sembari membungkuk kepada Silky. “Kau siapa?” tanya Silky. Engga menuruti ucapan si pria, masih berdiri di dalam garis pintu. “Perkenalkan, aku Moya. Pelayan pribadi Pangeran,” sebutnya. Silky cubit pelan pipi pria benama Moya. “Kau bukan si burung cerewet kan?” selidik Silky. “Dia sedang ada tugas,” jawabnya. “Em, begitu. Kau akan mengajakku kemana?” tanya Silky mulai santai dengan Moya. “Menemui Pangeran.” “Mencurigakan,” sahutnya sambil melipat kedua tangan di depan dadanya dan bersandar di bingkai pintu. “Pangeran hanya mengajakmu makan. Ayolah, jangan menyulitkan pekerjaanku?” mohon Moya. Saat menegakkan kepala sejajar dengan gadis di depannya, kedua mata Moya tidak sengaja menangkap sinar biru redup dari arah jantung. Seperti tidak asing bagi Moya. Namun, hanya sekilas. Setelahnya ia menunduk dan tidak berani membalas tatapan Silky. Dalam pikirannya terus berputar mengingat bagian pengetahuan yang dilupakan. “Hei, Moya! Istana ini sangat luas, apa kau tidak pusing menghafal lorong panjang yang sama ini?” tanya Silky setelah beberapa saat terdiam mengekori Moya. “Aku telah berada di tempat ini puluhan ribu tahun,” jawabnya santai. “Berarti kau sudah tua bangka.” Moya merotasikan kedua bola matanya. “Aku ini masih muda,” bantah Moya. “Berapa usiamu? Mengataiku tua,” tanya Moya tanpa mau memutar kepala ke belakang, atau bahkan berhenti sejenak. “Dua puluh tahun,” jawabnya enteng pun santai. “Pantas saja,” sahut Moya. Tanga Silky menarik kuat baju Moya. “Apa Maksudmu?” tuntut Silky tepat di samping telingan pria itu. Kedua kaki yang jinjit beberapa detik segera menapak kembali setelah pria itu berhenti dan memutar kepala ke samping. “Gadis kecil mudah emosi,” jawabnya sambil menatap kedua mata Silky. Silky menyipitkan kedua mata, lalu membuang muka dan kembali melangkah, mendahului Moya. Tidak ada kata balasa, karena menurutnya tidak perlu. Ia hanya tahu, bahwa penghuni tempat ini memiliki umur sangat panjang. “Apa kau tersesat?” tanya Diarkis saat Silky telah sampai di depannya tanpa memberi hormat, tanpa menunggu Diarkis menyuruhnya duduk. “Aku memang telah tersesat ke dunia ini sejak... entah berapa hari, aku tidak tahu,” jawabnya sambil meraih paha daging. Diarkis mengibaskan tangan untuk mengusir Moya dari ruangan. “Makanlah sepuasmu, asal jangan sampai kabur dari tempat ini,” ucap Diarkis. Silky mengabaikan ucapan Diarkis. Ia nikmati hidangan yang tersedia di depan mata. Tentang kabur, akan dipikirka nanti. Mengingat tempat ini sangatlah luas dan berputar-putar, butuh waktu lama mempelajari setiap sudut. Matahari telah terbit berkali-kali dan Silky enggan untuk menghitung. Di tempat yang besar ini hanya tiga orang yang dikenalnya, tapi mereka memiliki kesibukan masing-masing. Sedangkan dirinya, hanya sekedar berjalan-jalan di tempat sama. Bukan tidak indah, bahkan berkali lipat lebih indah dari kotanya. Namun, yang disukai tidak ada di tempat ini. Meskipun kali ini Diarkis membawanya keluar, tak juga membuat Silky lega. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Diarkis yang baru saja mendekat. “Aku merindukan kakakku pangeran,” jawabnya tanpa menoleh ke samping. “Aku bisa menjadi kakakmu,” ucap Diarkis menawarkan diri. “Kau sama sekali tidak layak menyamar jadi kakakku,” sahut Silky sambil melempar kerikil ke arah jurang. Diarkis mengambil duduk di samping Silky. “Memangnya kakakmu ada di negeri mana? Mari ku antar,” ucap Diarkis, menawarkan diri. “Sangat jauh dari sini,” jawab Silky murung. “Seberapa jauh? Aku memiliki banyak pusaka untuk mengantar ke tempat kakakmu,” tawarnya lagi. Silky memutar posisi seratus delapan puluh derajat, “Aku hanya tahu, aku keluar dari akar tua itu,” tunjuknya pada sisa akar tua yang berusia jutaan tahun lalu. Diarkis megikuti arah yang ditunjuk Silky. “Bisa kau gambarkan sedikit tentang tempatmu?” tanya Diarkis. “Gedung tinggi…” “Apa itu gedung?” potong Diarkis. Silky merotasikan kedua bola matanya. ”Puluhan rumah yang ditumpuk setinggi dua kali pohon itu,” jelas Silky. Ia sendiri cukup susah untuk menjelaskan pada pangeran masa kuno ini. Diarkis tampak berikir keras. “Jika ditumpuk sampai tinggi, bagaimana mereka turun?” “Ada tangga pangeran,” “Lalu? Ada apa lagi?” tanya Diarkis antusias. “Ada mobil, ada tempat minum yang sangat enak,” sebut Silky. “Arak di negeri ini adalah yang terbaik,” sahut Diarkis tak mau kalah. “Tadi kau mengatakan mobil, apa itu?” “Em… seperti Niu. Tapi tidak bisa berubah wujud dan tidak bisa bicara,” jelasnya. “Pasti tidak lebih tampan dariku,” sahut Niu Burung biru yang menjadi tunggangan Diarkis. “Tapi tidak cerewet sepertimu,” ejek Silky. Tidak lupa menjulurkan lidah pada Niu. Diarkis hanya mengangguk pelan. Tapi sebenarnya dalam otaknya, bayangan mobil itu tetap seekor hewan tunggangan yang bisu. “Mau ikut?” tawar Diarkis. Berdiri sambil mengulurkan telapak tangan pada Silky yang masih setia duduk. “Kemana?” tanyanya tak semangat. “Ikut saja. Cerewet sekali,” sahut Niu geram. “Sepertinya aku harus mencabut lebih banyak bulumu untuk ku jual,” ucap Silky dengan kedua mata yang menyensor seluruh tubuh Niu, hingga makhluk itu memeluk tubuhnya sendiri dengan erat dan melompat ke atas. “Pangeran aku tidak mau menumpangi dia!” teriaknya heboh dari cabang pohon. Hanya satu gerakan tangan, Niu telah berada di depan Diarkis dengan wujud burung. Ditepuknya kepak Niu, “Bersikaplah akur padanya, suatu saat dia akan jadi teman baikmu saat aku sibuk,” ucap Diarkis. Lalu Niu melebarkan sayap sebagai persetujuan untuk Silky ikut naik ke tubuhnya. Silky menarik jubah Diarkis sehingga mengurungkan niatnya yang siap naik. “Pangeran harus memegangi tubuhku, aku takut burung cerewet ini menendangku ke jurang keramat,” ucap Silky cepat dan diangguki Diarkis dengan senyum hangat. “Aku tidak sejahat itu gadis kecil yang cerewet,” gerutu Niu. “Umurku sudah dua puluh tahun. Aku bukan gadis kecil, burung jelek.” Tegas Silky mengoreksi setelah duduk nyaman di badan Niu. “Baru dua puluh tahun saja sudah mengaku dewasa,” sahut Niu tidak mau mengalah. “Memangnya kau berapa?” “Enam ribu tujuh ratus tiga tahun,” jawabnya enteng pun bangga. Kedua bola mata Silky membulat. “Berarti kau akan segera punah,” ucapnya tanpa permisi. “Pangeran, boleh aku cabik rohnya?” izin Niu. Setelah mengungkapkan amarahnya, Niu menggeram kuat karena Silky memukul kepala Niu menggunakan tongkat Diarkis yang ditarik tanpa permisi. Tongkat sepanjang seruling dengan salah satu ujung terukir tiga kepala naga. Karena tidak ada yang mau mengalah untuk diam, Diarkis membungkam mereka dengan mantra. Lalu menyuruh Niu segera terbang. Rasa aneh yang akhir-akhir ini kerap muncul dan mengganggu ritme jantung Diarkis, terulang lagi saat Silky menggenggam telapak tangannya. Ia sangat tahu, batin dan pikiran Silky tidak mengatakan apapun, hanya ada rasa senang bercampur takut akan ketinggian. Hanya saja, setiap kontak fisik diantara mereka selalu menimbulkan perasaan aneh di hati Diarkis. “Apa ini masih wilayah kerajaan Evdemo, pangeran?” tanya Silky. “Bukan. Ini negeri Prota, belilah apapun yang kau inginkan,” ucap Diarkis sambil menyapukan satu tangan ke arah keramaian kota. Silky hanya bisa diam menatap banyaknya orang dengan pakaian kuno. Untuknya tempat ini tidak jauh berbeda dari pasar traditional yang ada di dunianya. Tapi, tempat ini lebih luas dan lebih maju dari pusat pasar negeri Evdemo. “Jangan lepas jubah ini,” pesan Diarkis sambil mengenakan jubahnya pada Silky. “Memangnya kenapa? Aku tidak memiliki kekuatan sihir yang tinggi seperti kalian. Jangankan mantra, rohku saja tidak laku dijual,” ucapnya enteng. “Tapi kau istimewa,” sahut Diarkis. Setelahnya menarik pergelangan perempuan itu untuk mendekati keramaian. Beberapa aroma camila lezat melewati penciuman Silky, namun Diarkis enggan membiarkan dirinya mencicipi camilan yang ditawarkan para penjual. Tidak hanya itu, penjual riasan rambut, gantungan aneh, semua benda asing di matanya hanya terlewat saja. “Pangeran,” panggil Silky. “Ada apa?” sahutnya lembut. Namun langkahnya enggan untuk berhenti. Sadar tidak memiliki uang sendiri, Silky mengurungkan keinginannya. Memilih diam, tapi ekor matanya melirik pada sisi kiri dan kanan para pedagang makanan. Diarkis membawa Silky masuk ke sebuah kedai yang penuh dengan kain. Ada beberapa wanita yang ia yakini adalah penenun. Satu wanita mengarahkan mereka berdua ke meja kayu yang sangat panjang, dimana meja itu telah tertata rapi puluhan kain dengan pilihan warna yang sangat banyak. “Pilihlah mana yang kau suka,” ucap Diarkis. “Apa tidak ada model lain, pangeran?” tanya Silky yang menatap puluhan gaun. “Apa ada yang lain dan terbaru?” tanya Diarkis pada pemilik kedai. “Semua ini model yang terbaru yang mulia,” jawab si pemilik dengan sedikit membungkuk. “Jika tidak ada yang kau minati, kita bisa ke tempat lain,” ucap Diarkis. “Tidak perlu pangeran,” sahutnya cepat. “Nyonya, pilihkan saja yang paling ringan,” ucap Silky pada pemilik kedai. “Berikan semua warna yang kau miliki,” ucap Diarkis sambil mengulurkan sekantong batu emas. Kemudian Diarkis menarik pergelangan tangan Silky untuk keluar. Membawa ke beberapa pedagang penjual camilan. Wajah bahagia dan senyum yang terbit dari Silky membuat hati Diarkis mendadak menghangat. Seperti anak kecil yang berlarian menghampiri satu persatu kedai dan mengantri dengan sabar, serta wajah seriusnya yang mengorek kantong berisi dua jenis batu untuk membayar, semua tampak lucu di mata Diarkis. “Pangeran, aku tak menghabiskan uangnya,” ucap Silky sambil mengangkat kantong uang sejajar dengan wajah Diarkis. “Simpan saja, jika kurang mintalah kepadaku,” ucap Diarkis dan diangguki Silky. Perasaan rindu dan sedihnya mulai dilupakan. Sembari berjalan berdampingan, Diarkis menjelaskan tata cara dan larangan negeri. Memberi pengertian tentang tata cara bicara dan bahasa yang sesuai aturan. Tidak mudah mengajarkan Silky yang terbiasa tumbuh dengan bahasa frontal dan ugal-ugalannya. “Apa kau memahami semua yang jelaskan?” tanya Diarkis. “Ya. Tapi karena terlalu banyak dan menyulitkan otakku untuk mengingat, jangan salahkan aku,” jawab Silky sambil menikmati kue kacang. “Satu hal yang harus kau ingat dan kau patuhi, Jangan tinggalkan negeri Evdemo,” tegas Diarkis. “Pangeran, kenapa aku harus mematuhimu?” tanya Silky setelah berada di udara. “Kau pura-pura bodoh atau memang tidak tahu?” Diarkis bertanya balik. “Aku memang tidak tahu. Mengapa banyak yang mengincarku? Aku hanya manusia biasa tanpa ilmu sihir seperti kalian semua, aku juga hanya manusia yang berumur pendek.” “Karena jantung terataimu,” jawab Diarkis. Dengan polosnya Silky meraba tempat jantungnya bersembunyi. “Sepertinya, jantungku normal saja,” ucap Silky. Masih meraba dadanya hingga membuat Diarkis menarik napas sangat dalam dan mengalihkan tatapannya. Bagaimanapun ia adalah pria normal. “Entah bagaimana langit menjagamu, tapi jantung langka yang kau miliki adalah incaran para penyihir tingkat atas,” jelas Diarkis singkat. Silky menjulurkan wajah lebih dekat pada Diarkis dengan kedua mata menyipit. “Karena itu, kau menahan dan menyenangkan hatiku?” tuduh Silky. Diarkis menggerakkan kepala menatap kedua netra Silky. Ia tatap dalam dengan ketenangan yang menenggelamkan. “Ya. Sampai segel dalam tubuhmu terbuka,” jawab Diarkis. Kedua bola mata Silky membulat sempurna. Lalu ia mundur , namun yang terjadi ia meluncur jatuh. Lautan batu lancip yang mengambang membayangi otak Silky saat tubuhnya membentur beberapa detik lagi. Ia pejamkan mata sekuat mungkin dan bersiap kemungkinan tulangnya yang remuk. Punggung yang membentur dengan nyaman memaksa Silky untuk membuka mata. Langit putih dengan awan yang berwarna kuning emas menyambutnya. “Apa yang kau pikirkan?” tanya Diarkis datar. “Aku masih selamat?” tanya Silky dengan posisi yang masih menatap langit. “Tentu saja,” ucap Diarkis sambil mengetuk kening Silky dengan ujung telunjuknya. Silky menggosok keningnya, lalu duduk dengan benar. “Pangeran, jika kau akan membunuhku, tolong izinkan aku menemui kakak,” ucapnya penuh permohonan. Diarkis mengetuk kepala Silky pelan dengan menggunakan tongkat yang tadi dipakai Silky memukul Niu. “Aku, atau siapapun tidak ada yang boleh mengambil nyawamu. Bahkan, jika langit sekalipun tidak aku izinkan,” ucap Diarkis. “Huft. Bicaramu saja tidak benar, bagaimana aku akan mempercayai. Sebentar mengincarku, sebentar berlagak ingin melindungiku,” cibir Silky. “Terpenting, jangan mencoba kabur dariku.” Diarkis menegaskan larangannya. “Ya.” Diarkis menarik telapak tangan kiri Silky, lalu menuliskan tanda yang telah diberi mantra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD