Suasana istana tidak berubah, aktifitas berjalan seperti biasa dan terlihat sama di mata Silky. Beberapa tempat yang telah ia datangi tidak menemukan sang pangeran. Rasa kasihan terhadap dirinya kadang kala menghampiri saat sang pangeran sedang sibuk dengan urusan kerajaan.
Tatapannya menajam diikuti separuh tubuhnya yang condong ke luar pembatas saat melihat Niu dan Moya sedang duduk santai di bawah pohon pir. Segera berlari turun menghampiri dua orang kepercayaan Diarkis.
“Kalian sedang apa?” tanya Silky dengan suara lembut, serta kedipan mata yang mencoba menunjukkan kelucuan. Namun, tidak lucu bagi kedua pria itu.
“Tidakkah kau lihat papan catur ini?” jawab Niu tak acuh.
Silky mengambil duduk diantara mereka. “Pangeran mengatakan bahwa arak di sini sangat enak,” ucap Silky mulai meracuni otak.
“Evdemo adalah negeri penghasil arak terbaik,” timpal Niu. Tapi tatapannya fokus pada permainan catur.
“Bisa kalian memberiku sedikit?” pinta Silky.
Moya mengeluarkan satu botol kecil lalu Silky teguk hingga tandas. Kedua matanya berkeliaran ke segala arah meresapi rasa yang unik di lidahnya. Benar, rasanya melebihi arak paling mahal yang pernah ia cicipi.
“Moya, arak ini tidak cukup memanjakanku,” ucap Silky mulai mempengaruhi.
“Mintalah pada pelayan,” usul Moya.
“Bagaimana jika kalian membawaku ke rumah minum?” usul Silky.
“Tidak.” Bantah Niu tegas. Kali ini menatap Silky tajam.
“Niu, pangeran sedang sibuk. Daripada kalian membuang waktu di sini, lebih baik menyegarkan pikiran di luar,” bujuknya dengan nada lembut.
“Pangeran tidak memberi hari bebas, jangan mencoba mempengaruhi kami.” Tegasnya.
“Aku sama sekali tidak berniat mempengaruhi kalian, tidak juga mengajak untuk melanggar aturan. Kita hanya pergi ke tempat itu, duduk satu jam lalu kembali. Dua hari kalian hanya bermain catur tanpa tugas apapun.” Ucapannya kali ini membuat dua pria di depannya tampak berpikir.
“Pangeran tidak memberi tugas kami selain menjagamu, bukan berarti kami pergi sesuka hati dan menuruti kemauanmu. Kami butuh izin terlebih dahulu dari pangeran,” ucap Niu, mencoba untuk tidak terpengaruh.
“Apa gunanya kalian memiliki sihir. Jika terlambat katakan saja sedang sait perut. Aku yang melihat kalian saja bosan, mustahil jika kalian tidak memiliki rasa itu. Aku yang akan membayar,” bujuk Silky tanpa menyerah. Ia angkat tinggi sambil diayunkan pelan kantong berisi batu emas.
“Baiklah. Tapi, kau yang menjamin jika pangeran memarahi kami,” Niu menyetujui.
“Masalah kecil,” jawab Silky sambil mengukur ujung ruas jarinya.
Lalu menyelipkan tangannya pada lengan kedua pria itu. Wajah tengil penuh muslihat itu tersenyum senang. Sebelumnya, tentu saja telah memakai jubah pelindung milik Diarkis.
Sepanjang jalan menuju pusat industri, tak hentinya Silky bersorak heboh dengan langkah yang kadang berlari, meloncat, hingga kedua pria yang masih setia ia gandeng pontang-panting mengikuti gerakan Silky.
Andai bukan peliharaan pangeran, sudah ku cabut jantungnya.
Tapi sayangnya, nyawanya adalah yang menentukan takdir hidup kita Niu.
Aku yakin dia memiliki mantra pengikat Moya. Jika tidak, mana mungkin pangeran memperlakukan layaknya permaisuri,
Menurutku tidak. Meskipun dia memiliki jantung teratai, dia tidak mempunyai kemampuan sihir.
Obrolan mereka lewat batin harus diakhiri, karena telah sampai di depan kedai minum. Langkah serempak mereka menyibak kerumunan pengunjung, lalu menuju ke lantai atas. Tempat para pejabat tinggi.
“Sediakan semua jenis arak dan hidangan terbaik tempat ini,” ucap Moya pada pelayan yang menghampiri mejanya.
“Apa yang dilakukan para pria tua bau tanah itu?” tanya Silky sambil menunjuk ke arah bawah menggunakan dagunya.
“Hiburan,” sahut Niu singkat.
“Seperti bukan hiburan,” selidik Silky dengan tatapan tajam.
“Kau masih kecil, tidak boleh tahu atau mencari tahu kesenangan orang dewasa,” sahut Niu sambil menutup kedua mata Silky menggunakan sapu tangannya.
Sapu tangan yang menghalangi pandangan, Silky tarik lalu dilepar ke wajah Niu. Tanpa ingin mengucap sepatah kata, ia nikmati sajian yang telah memenuhi meja.
“Daging apa ini? Enak sekali,” puji Silky.
“Rusa,” jawab Moya.
“Lain waktu aku akan kembali berkunjung ke tempat ini,” ucapnya.
Makan bukanlah tujuannya, jadi ia hanya sekedar menyicipi. Selanjutnya dua pria itu yang harus menghabiskan. Dua puluh botol dengan perisa berbeda tersaji dengan rapi di depan Silky yang tidak sabar untuk menegak semua.
“Jangan minum terlalu banyak,” peringat Niu.
“Jika tidak minum banyak, bagaimana bisa menikmati. Selama aku berada di negeri ini, akan ku puaskan menenggak semua arak ini,” ucapnya dengan semangat menenggak.
Satu jam yang dijanjikan oleh Silky hanya tipu daya belaka. Mereka harus menunggu Silky teler tak berdaya, baru kemudian bisa dibawa pulang. Selain kuat minum, Silky juga meracau kacau.
Penyesalan Silky sejak keluar dari kamarnya ialah bertemu Diarkis. Andai saja waktu bisa diputar balik, ia akan memilih bersembunyi diantara warga Evdemo. Kini ia berada di ruang kerja Diarkis, mungkin sudah dua hari dalam perhitungannya. Deretan buku yang tertata rapi, memanjang ke atas. Beberapa kali mengambil buku untuk dibaca, tapi yang ditemukan adalah tulisan kuno yang tak dapat Silky mengerti.
“Pangeran,” panggilnya manja tapi dengan wajah memelas.
“Hm,” jawab Diarkis singkat. Arah tatapannya pada gulungan yang sedang dibaca.
“Aku bosan. Semua buku sialan itu tidak dapat k*****a,” keluhnya. Duduk melantai di samping kaki Diarkis.
Diraih dagu Silky untuk mendongak, membalas tatapan mata kelabu miliknya. Tiga ujung jarinya bergesekan pelan sembari merapalkan mantra, cahaya putih yang keluar diarahkan pada kedua netra Silky.
“Sekarang kau bisa membaca semua tulisan yang ada di negeri ini,” ucap Diarkis.
“Boleh aku keluar?” bukannya mematuhi, malah bernegosiasi.
“Ingin minum arak berlebihan, maksudmu?” sambung Diarkis.
“Tidak,” sanggah Silky.
“Kau akan sangat berbahaya jika hilang kendali. Terlebih, kau sendiri belum memahami cara mengendalikan,” ucap Diarkis sambil mengetuk kening Silky dengan telunjuknya.
“Aku ini hanya manusia biasa, Pangeran.”
“Itu menurutmu,” tegas Diarkis. Ia tegakkan tubuhnya, lalu kembali pada pekerjaannya.
“Pangeran…”
Diarkis menggertakan jari dan tiga buku tebal telah berada di atas mejanya.
“Baca dan pelajari buku ini!” perintahnya. Nadanya terdengar datar pun dingin.
Haruskah aku membaca buku kuno itu? Yang benar saja.
“Harus!” sahut Diarkis.
Kedua bola mata Silky melebar. “Tidak perlu membaca pikiranku,” sahutnya tak suka.
“Pikiranmu itu penuh taktik muslihat dan juga berisik.”
Silky bangun dari duduknya dan berkacak pinggang. “Jangan karena Pangeran memiliki sihir lantas seenaknya. Orang lain membutuhkan privasi.”
Diarkis berdiri hingga kursi yang tadi di duduki bergerak mundur dan menimbulkan suara. Posisinya berhadapan dengan kepala menunduk karena tinggi mereka tak sejajar. Satu tangannya menggerakkan tiga buku, satu tangan lain menggerakkan kedua tangan Silky untuk menerima buku.
“Sebelum tiga buku itu selesai kau baca, jangan berharap bisa keluar kamarmu.”
Setelah mengatakan, ia pindahkan Silky ke kamarnya dengan satu jentikkan. Berlama-lama dengan perempuan itu, kepalanya seakan ingin meledak. Sedangkan urusan istana membutuhkan konsentrasi penuh. Perempuan itu akan diurus setelah pekerjaannya selesai.
Teriakan keras membengkakkan telinga menggema hingga lorong depan kamar. Niu yang tidak sengaja lewat pun menyempatkan masuk.
“Kau hilang kemana?” tanya Niu.
“Hilang kepalamu botak!” Teriaknya dengan nafas yang masih naik turun.
Dengan santai Niu mengusapkan telapak tangan tatanan rambut. “Tidak botak. Kedua matamu sepertinya terbalik,” sahut Niu. Namun, ucapan Niu terdengar ejekan di telinga Silky.
“Niu!” teriak Silky sambil melempar cangkir, namun lebih dulu dihentikan oleh Niu.
“Ada pertunjukan apa?” tanya Moya yang baru saja datang melewati garis pintu.
“Ada kelinci sedang mengamuk setelah hilang dua hari,” jawab Niu.
Karena merasa diejek, Silky meringkuk di samping ranjang. Menyembunyikan wajah di kedua lutut lalu menangis tersedu.
“Pangeran menyulitkanmu?” tanya Moya lembut. Pun ikut duduk melantai di depan Silky.
“Dia menyuruhku membaca buku sialan itu,” jawabnya tanpa mau mengangkat kepala.
Moya dan Niu mengedarkan pandangan untuk mencari buku yang di maksud Silky. Tiga buku tebal yang tersebar di atas ranjang, sedetik kemudian telah berada di tangan. Satu di tangan Niu, dua di tangan Moya.
“Apa susahnya membaca? Tinggal baca dan selesai,” celetuk Niu santai.
“Aku tidak mau.”
“Kau berada di negeri kami, jika tehnik dasar saja tidak kau pelajari, kau akan kesulitan,” bujuk Moya.
“Jika aku selesai membaca semua buku itu, apa aku bisa keluar kamar?”
“Pangeran mengatakan bagaimana?” tanya Niu dengan merotasikan bola matanya malas.
“Sebelum tiga buku itu selesai, tidak akan bisa keluar,”
“Ya sudah, baca saja! Apa yang susah? Pangeran hanya menyuruhmu membaca, bukan untuk eksperimen,” ucap Niu.
Silky mengangkat kepala, menatap Niu dan Moya bergantian. “Kau benar,” sahut Silky sambil menunjuk wajah Niu. Lalu merebut ketiga buku itu dari tangan Niu dan Moya.
“Kau harus mentraktirku mahal,” ucap Niu.
“Apa ini cukup untuk kita bersenang-senang?” tanya Silky dengan kedua alis naik turun.
“Woah, itu gajiku satu tahun!” sorak Moya takjub.
“Apa kau akan membelikanku serbuk herbal untuk perawatan buluku?” tanya Niu dengan kedua mata berbinar menatap sepuluh keping emas.
“Jika cukup, kenapa tidak?” jawab Silky polos. Sungguh, ia tidak tahu berapa nominal sepuluh koin di tangannya.
“Kau dapat darimana?” tanya Moya.
“Di ruang kerja Pangeran,” jawabnya enteng.
“Apa pangeran tahu?” selidik Moya, memelankan suara.
“Tidak pasti. Terakhir dia mengataiku perempuan penuh tipu muslihat, jadi aku enggan mengembalikan kepadanya,” jawab Silky enteng tanpa beban.
“Bagaimana jika jantungmu yang ku cabut?” tanya Diarkis yang tiba-tiba masuk.
“Cabut saja! Tapi setelah aku menikmati sepuluh koin ini,” jawab Silky enteng tanpa rasa takut. Sedangkan Moya dan Niu hanya mampu menunduk.
“Mulutmu memang lancang!” seru Diarkis.
“Aku hanya mengungkap sesuai isi hatiku, dimana letak lancangku? Tentang koin ini, Pangeran sendiri yang mengatakan jika aku penuh tipu muslihat, jadi ku pikir telah merelakan harta yang tidak seberapa ini,” jawabnya penuh berani.
Tanpa aba-aba, Diarkis melempar sekantong koin emas pada Silky yang tangkap dengan sedikit gugup. Setelahnya berbalik keluar kamar Silky.
Punggung Pangeran yang telah hilang dari pandangan, menggerakan Moya dan Niu untuk melihat isi kantong yang dilepar kepada Silky. Ketiga pasang mata itu meloto, seolah bola mata mereka ingin lepas dari tempatnya. Silky rogoh koin emas dari dalam kantong lalu dijatuhkan lagi ke dalam.
“Pikirkan apa yang kalian inginkan, dan bantu aku menghabiskan ini,” ucap Silky dengan tatapan masih terpaku pada puluhan atau bahkan ratusan koin emas.
“Aku siap menjadi mengantarkanmu,” sahut Niu dengan tatapan sama.
“Dan aku siap menjadi pengawalmu selama menghabiskan koin ini,” timpal Moya, pun dengan tatapan sama.
Ketiganya pingsan, namun hanya sekilas. Setelahnya kalang kabut mencari tiga buku yang akan membebaskan Silky dari kamar. Siapapun bisa keluar masuk kamar Silky, kecuali si pemilik. Karena seluruh kamar Silky telah diberi mantra pembatas, dan hanya akan hilang jika perintah Diarkis dilakukan.