“Pangeran akan marah jika kau memakai pakaian rakyat itu,” ucap Niu sembari mengunyah kecil biji kacang.
“Aku tidak peduli. Sangat menyusahkan sekali gaun itu. Bukankah kau lihat sendiri, aku hampir terjatuh ke lembah hitam karena menginjak lapisan kain bodoh itu,” sahut Silky. Lalu menoleh kepada Moya yang sedari tadi sibuk di tengah rerumputan.
“Sedang apa dia?” tanya Silky kemudian.
“Memungut beberapa tanaman herbal, tentu saja.”
“Haiss. Sia-sia aku membawanya untuk bersantai,” ucap Silky dengan tatapan mengarah pada Moya.
“Dia tidak akan pernah bisa santai dengan tenang, itu memang pekerjaan sampingannya,” bela Niu.
“Tempat apa di balik bukit yang melingkar itu?” tanya Silky sembari menunjuk ke arah jauh.
Niu mengikuti arah telunjuk Silky. Lalu menurunkan telunjuk Silky. “Danau terlarang. Tidak ada yang bisa menginjak ke tempat itu,” jawab Niu.
“Kenapa? Apa ada penghuni yang buas?” tanya Silky penasaran.
“Tempat itu memiliki segel sendiri. Tak terjamah dan tidak ada yang tahu apakah ada penghuninya,” sahut Moya yang tiba-tiba datang dan duduk bersama.
“Benarkah?” Silky tidak percaya.
“Catatan sejarah hanya mengungkapkan beberapa kalimat saja. Setinggi apapun ilmu sihir mereka, tidak ada satupun yang bisa menerobos masuk,” ungkap Moya.
“Niu, bisakah kau mengantarku?” pinta Silky.
“Tentu saja tidak. Jika Pangeran tahu, aku dan Moya akan dipenggal,” tolak Niu.
“Hidupmu sudah enak dan terjamin di sini, jangan menempuh jalan untuk melanggar aturan,” peringat Moya.
“Hm.” Silky menanggapi singkat sambil melempar biji kacang ke udara dan ditangkap dengan mulut terbuka.
Malam telah tiba. Seperti biasanya, kesepian menghampiri Silky. Semua kembali pada tugas masing-masing. Rasa kantuk pun tak kunjung menghampiri, sedangkan ruang kamar yang di tempatinya tidak ada hal menarik untuk menemani. Bangkit dari kursi kayu, lalu meraih jubah hitam dan menaikkan penutup kepala.
Jajaran obor yang menjadi penerang lorong panjang, menyaksikan langkah kecil Silky. Keheningan dan kesunyian malam tak menciutkan nyali Silky untuk bertindak sesuai kemauannya. Hentakkan langkah dari arah berlawanan menerkam pendengaran Silky, sontak memutar arah ke lorong kiri yang gelap tanpa penerangan. Tangga menurun yang tak mampu Silky tangkap oleh pandangan hampir menjatuhkan, beruntung tangannya segera meraba pegangan. Rasa ngilu cukup terasa di betisnya, namun ia hanya mampu meringis dengan lelehan air mata, menahan bibir mengatup rapat agar tidak berteriak lepas. Ia paksakan kakinya untuk terus menyusuri tangga hingga ujung.
Cahaya merah delima yang redup menyapa Silky setelah menginjak tangga terakhir. Tebing batu yang lembab mengapit tubuhnya dan hanya satu gerbang menjulang tinggi di depan mata. Tanpa ragu pun waspada, ia hampiri satu-satunya gerbang itu. Ukiran aneh pun memenuhi dua pilar yang menyatu dengan lengkungan atas sebagai penghubung. Dua telapak tangan berniat untuk mendorong, namun gerbang dengan sendirinya terbuka. Cahaya merah delima berpadu dengan ungu redup menyapa netra, segera ia masuk sebelum pintu tertutup kembali.
Seluruh pasang mata menatap silky dengan tajam. Ia hanya mampu terdiam dan berjalan lebih dalam tanpa memedulikan bencana apa yang akan mengancam nyawanya. Seperti warga pada umumnya dengan aktifitas masing-masing, namun yang membedakan adalah pakaian mereka cenderung sama pun warna gelap.
“Ikutlah denganku,” ucap salah seorang wanita paruh baya sembil menarik pergelangan tangan Silky.
“Ikut denganku saja!” sahut wanita paruh baya yang lain, pun menarik pergelangan tangan Silky satunya.
“Tidak. Kau harus ikut denganku!” teriak wanita muda yang di depan Silky.
“Dia harus ikut denganku!” seru seorang pria muda sambil menarik jubah Silky ke belakang.
“Aku pun ingin dia!” teriak semua orang dengan berbagai jenis.
Tempat itu mendadak riuh dengan teriakan sama pun saling berusaha mengambil Silky ke dalam genggamannya. Gesekan pedang mulai berdengung di telinga Silky, namun ia tidak mampu melepaskan diri dari satu tangan ke tangan lain. Jubah yang melindungi tubuh pun ikut melayang karena seseorang menembakkan panah dan membawa terbang. Belati, ujung panah, pedang, berkali-kali menggores kain hingga menembus ke kulit. Gaun indah yang dikenakan terlihat compang-camping penuh dengan noda darah. Ditengah perebutan, tubuhnya terlepas dan jatuh ke tanah. Baru saja berdiri untuk lari, dari arah depan ada seorang pria sedang berlari ke arahnya dengan satu tangan mengeluarkan cahaya merah darah menyala yang siap dihantamkan kepadanya. Segera berbalik untuk berlari sejauh yang ia mampu.
Beberapa senjata tajam yang melayang bebas pun sesekali menggores. Teriakkan atas rasa perih tak mengurungkan pelariannya, meski dengan langkah pincang ia terus berusaha lari dari kejaran yang semakin dekat. Sampai akhirnya, tubuh lemah itu tersungkur dan beban berat mendadak menindih punggung.
Tanpa tahu sebab, jantung Silky mulai berdenyut dan semakin nyeri. Satu persatu seluruh tulangnya seperti dipatahkan. Jerit tangis meraung sekuat tenaga untuk meluapkan sakit. Detik berikutnya, kesadaran mulai hilang dan menggelapkan jiwanya.
Rapat besar yang sedang berjalan di aula mendadak berubah tegang saat Diarkis menunduk sembari memegang sebelah telinganya. Mata biru terangnya berubah menjadi lebih gelap. Ia pun segera turun dari singgasana dan berlari keluar. Ayunan langkah kaki terus dipercepat menuju ke satu tempat, berharap kecemasannya mereda tapi ternyata semakin kuat menendang tulang hati.
“Pangeran! Jangan!” cegah Niu.
“Tetaplah di sini!” titah Diarkis.
Usai memerintahkan Niu, Diarkis menuruni tangga gelap. Gerbang besar terbuka tanpa perlu di perintah. Riuh gesekan benda, teriakkan kemurkaan, benda tajam beterbangan tak terkendali, menyambut kehadiran Diarkis. Namun, kedua mata pria itu sibuk mencari sebab kekacauan. Hingga satu-satunya cahaya putih yang ditangkap, menyulutkan api dalam jiwa Diarkis. Secepat kilat Diarkis melemparkan cahaya kuning keemasan ke arah cahaya putih yang dikerubungi para penghuni setempat. Butuh sedetik semua terlempar ke segala arah, termasuk seorang pria yang siap mencabut jantung Silky.
“Kau terlalu lancang!” maki Diarkis setelah beralih di depan si pria yang mencoba menerkam Silky.
Detik selanjutnya, tubuh si pria terbelah dan seluruh organ dalamnya melebur. Baru beberapa detik, seorang pria paruh baya mencoba mengambil alih tubuh Silky, sialnya tujuh belati api menghantam lebih dulu. Segera membawa tubuh Silky keluar dari tempat dan menyegel gerbang terlarang dengan darahnya agar tidak terulang lagi dikemudian hari.
Tujuh hari telah berlalu. Diarkis yang masih menjalani pemulihan, sedangkan Silky dengan aturannya sendiri. Menghalalkan segala cara untuk mencari peluang kabur. Namun sia-sia, karena sebelumnya Diarkis telah mengunci seluruh istana dengan mantra.
“Kali ini mau kemana?” tanya Niu yang menghadang Silky tiba-tiba.
Sekilas raut terkejut menghampiri Silky. “A-ku hanya berjalan-jalan,” jawab Silky santai dengan kedua tangan terkunci di belakang.
“Kau itu gadis kecil, bodoh pula, tapi senang membuat bencana orang lain,” ucap Niu memaki pun menunjuk dahi Silky.
“Apa kau bilang! Aku bodoh? Kau burung terkutuk!” balas Silky.
Umpatan Silky menyulut amarah Niu. Ia satu-satunya burung suci di seluruh negeri. Tidak ada yang berani mengatakan buruk terhadap dirinya. Tapi, gadis kecil peliharaan Tuannya telah lancang.
“Kau memang bodoh. Berkat kebodohanmu, Pangeran hampir celaka. Ingat! Kau bisa bernapas atas belas kasihannya!” tegas Niu. Setelahnya lenyap dari hadapan Silky.