Di persimpangan jalan, seorang pria gagah dengan pakaian sederhana namun terlihat nyentrik tampak tenang menunggu kedatangan. Hingga lambaian tangan dari kejauhan merubah raut wajahnya.
“Apa aku terlambat?” tanya Silky, setelah sampai di hadapan Vola dengan beberapa helai rambut yang keluar dari ikatan.
“Terlambat jika tidak segera pergi,” jawabnya dengan senyum bercanda.
Silky menganggukkan kepala beberapa kali sembari melepas jejak. Lalu, disusul oleh Vola yang tersenyum hingga menampilkan deretan gigi rapi.
“Pangeran?”
“Hm,”
“Berapa lama kita akan berjalan kaki?” tanya Silky dengan menyimpan pertanyaan lain di kepala.
“Akan segera sampai.”
“Pangeran tidak membohongiku ‘kan?” memastikan sambil melihat sekeliling dengan gelisah.
“Masih meragukanku?” langkah kaki berhenti, begitu pula dengan Silky yang ikut berhenti.
Silky menggeleng cepat sambil melambaikan tangan di depan wajah Vola, meski mendongak karena tingginya tak sejajar.
“Bukan begitu, tempat ini seram sekali,” jawabnya lirih.
“Tentu. Kita akan menuju ke kemakaman, ayo!” jawab Vola. Membawa pergelangan tangan Silky untuk mengikutinya masuk.
“Pa-Pangeran sebaiknya kita menikmati arak saja, atau pergi memancing ikan hingga petang saja...”
“Aku sedang tidak ingin,” potongnya.
“Atau...”
“Aku tidak menerima penolakan.” Vola memutus tawaran Silky.
Sedangkan di belakang, Silky hanya mampu menjatuhkan wajah pada genggaman. Kabur? Genggaman itu sangat kuat, dan melihat betapa besar dan kokoh telapak tangan pria yang sedang menggeretnya pun semakin merasa putus harapan. Hanya berdoa agar ia tidak di kubur hidup-hidup.
Langkah kaki semakin jauh dari jangkauan. Terangnya cahaya semesta pun ikut meredup perlahan. Semilir angin lembut terasa mencekam, hingga hampir semua oksigen di dalam tubuh Silky semakin tipis. Gejolak aneh menghampiri dan mencoba menggoyahkan pikiran, mencoba mengubah imajinasi manipulatif. Getar tubuh tak lagi bisa Silky cegah meski ia berusaha setenang mungkin.
“Pangeran,” panggilnya pelan. Bersuara pun seakan dicegah.
Sontak Vola berbalik. Ia lupa jika wanita yang dibawa hanya manusia kosong. Ditengah dirinya memberi mantra kepada Silky, suara lain bergema.
“Sekian lama melupakan, tiba-tiba datang membawa persembahan,” ucap seorang pria berjubah merah menyala yang telah muncul di depan mereka, dan tamparan keras mendarat di pipi pria berjubah merah.
“Dari bangsa mana kau berani menamparku?” Tunjuknya dengan tatapan dingin menusuk.
Spontan setelah kalimat tanya selesai, ribuan pedang es melayang, mendorong pria berjubah merah mundur cukup jauh.
“Baiklah. Aku tidak benar-benar serius!” tegasnya dari kejauhan.
Ribuan pedang es yang siap mencungkil setiap pori-pori pun ditarik oleh Vola. Tepukkan tangan yang menggema memecah ketegangan sekitar.
“Apakah seru?” tanya Vola kepada Silky.
Anggukan dan dua jempol tangan diacungkan sejajar dengan wajahnya. “Benar-benar seorang Pangeran yang hebat,” puji Silky.
“Jika kau terus mengikutiku, akan kutunjukan keseruan lain,” timpal Vola penuh semangat.
“Mengajariku juga atau tidak? Aku ini sangat mementingkan keuntungan, tidak mau merugi.”
Vola menghadap Silky sambil berkacak pinggang, “Aku menunjukkan banyak hal selama ini masih kau ragukan. Pangeran mana yang mengajakmu bersenang-senang selain aku? Tidak ada.”
Diarkis juga tidak kalah hebat.
Kedua bola mata mata Vola membulat, “Pangeran sok sibuk itu apa hebatnya? Semua tahu hidupnya sangat monoton.”
“Siapa?”
“Yang kau sebut tadi.”
“Aku tidak mengatakan apa pun.”
“Lebih baik tidak membahas dia.”
Sialan.
“Jangan mengumpat.”
“Tidak...”
Seperti tahu saja.
“Memang tahu dan aku mendengar.”
“Ya. Astaga... berhenti menguping batinku.” Silky mulai frustasi.
“Jadi?”
“Apa?”
“Siapa yang paling hebat?”
“Kalian hebat, aku yang payah.”
“Aku atau Diarkis?”
“Keduanya.”
Rasa bangga dan senang menyelimuti jiwa Vola. Memang pujian selalu dikumandangkan kepadanya, tapi pengakuan gadis kecil di samping terdengar sangat memuaskan. Sedangkan bagi pria berjubah merah terdengar menjijikan dan berlebihan.
“Apa hebatnya,” cibir pria berjubah merah sambil berjalan mendekat.
Silky melangkah mundur dua langkah agar posisi Vola berada terdepan. “Dia tidak hebat atau takut padamu, Pangeran?” tanya Silky pelan.
“Tidak hebat, tapi kau butuh dia untuk mempelajari beberapa hal dasar.”
Silky mendongak menatap Vola dengan keraguan. “Sepertinya aku tidak yakin akan hidup panjang.”
“Kau masih muda, pasti dagingmu sangat empuk dan gurih setelah dipanggang,” goda pria berjubah merah, wajahnya pun sejajar dengan wajah Silky.
“Pangeran...”
“Jangan menakutinya,” tegas Vola memperingati.
Ditepuk pundak Silky pelan. “Aku di sini, dia hanya bercanda. Mintalah dia untuk mengajarimu mantra! Aku duduk di batu,” ucapnya lembut, lalu menunjuk satu tempat.
“Mantra apa?”
“Tidakkah, dia memberimu buku?”
“Banyak, tapi aku tidak memahami sama sekali.”
“Sudah membacanya?”
“Sudah.”
“Trigon, ajarkan apa pun yang bisa dia pelajari,” ucap Vola pada pria berjubah merah.
“Kau yakin dia tidak akan mencelakaiku, kan?”
“Aku di sini. Ikuti dia! Dia memiliki banyak harta karun kuno, asal mau ikut denganmu ambil saja. Ingat, jangan mengambil paksa.”
“Kenapa?”
“Semua benda yang ada di tempat ini memiliki nyawa.”
“Seram sekali.”
“Tidak. Mereka tetap benda mati.”
“Menakuti saja.” Silky menghempaskan ujung jubah Vola yang sejak tadi dipegang lembut.
“Hei! Kau dengar tidak, yang dikatakan Pangeran?”
“Aku tidak tuli.”
“Pangeran, kau akan mengawasiku ‘kan?” Silky memastikan dan diangguki oleh Vola.
Trigon memainkan jari, lalu tubuh Silky berjalan mengikutinya dengan paksa. Tidak bisa menolak, lari, menghindar, hanya mengikuti langkah Trigon.
Gundukan batu menyerupai meja, tersebar banyak jenis pusaka kuno. Semua terletak presisi, seperti wadah yang memang tercetak pas. Tidak hanya satu tempat, semakin berjalan menanjak, semakin banyak pula benda-benda kuno berserakan. Ribuan pedang berbagai jenis ukiran menancap tenang tak terusik, bahkan jenis perhiasaan pun ada.
“Ingin merampok? Coba saja!”
“Tidak berminat.”
“Munafik. Semua benda di sini bernilai tinggi, tidak mungkin jika kau tidak tergiur.”
“Merampok? Merepotkan sekali.”
“Benarkah? Kau hanya belum menguasai mantra, jadi berkata seperti itu.”
“Kurasa, Pangeran yang menungguku itu memiliki harta yang melimpah.”
“Sial. Gadis kecil pandai bersilat lidah.”
“Apa salah? Jika aku mau, semua yang ada di sini bisa kubawa pulang.”
“Jangan bicara lagi. Kepalaku ingin meledak.” Trigon memutus pembicaraan. Jika berlanjut, sudah pasti akan meledak semua emosinya.
Silky mengatupkan bibir rapat. Diam dan mengikuti langkah pria besar di depannya. Sampai akhirnya, sampailah pada rak besar terbuat dari batu yang menjulang tinggi ke atas. Satu buku kecil berbentuk persegi panjang melayang turun ke arah Trigon.
“Pelajari dan ikuti petunjuk dalam buku itu,” ucap Trigon sambil melemparkan ke Silky.
“Lalu?”
Terdengar helaan napas. “Kau ikuti saja. Setiap tahap yang pelajari berhasil, tinta itu akan hilang.”
“Lalu, aku bisa memilih salah satu pusaka kuno milikmu?”
Trigon memicingkan kedua mata. “Kau memang sudah mengincar sejak awal.”
“Pangeran yang mengatakan, kalau aku boleh meminta salah satu,” ucap Silky sambil menyapukan pandangam ke padang pusaka.
Trigon hanya mampu mendesah dan berdecak kesal. Sepanjang hidup mengenal Pangeran, dia satu-satunya yang dimanjakan. Sudahlah, itu tidak penting. Terpenting adalah segera menendang gadis kecil yang menjengkelkan ini dari depan mata.
“Kau ingin apa?” tanya Trigon sinis.
“Itu!”
Arah pandang Trigon mengikuti telunjuk Silky. Kedua bola matanya membulat sempurna, seolah ingin lompat dari wadah. Busur beku berukir teratai dengan benang yang terbuat dari hati akar lac balsam.
“Tidak boleh. Pilih lain!”
“Tidak tertarik.”
“Semua yang ada di sini sama bagusnya,” bujuk Trigon.
“Tidak mau.”
“Silahkan pilih yang lain. Laka tidak termasuk dipilih.”
“Laka! Kau mau ikut denganku?” teriak Silky.
Sebuah busur yang mengambang di puncak ketinggian itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya biru lembut, bergerak pelan dan bergeser semakin turun hingga berhenti tepat di depan Silky.
Trigon tercengang dengan mulut menganga. Sedangkan Silky, kedua mata memancarkan rasa senang. Gerak pelan penuh hati-hati mengangkat satu tangan untuk mengusap.
“Kau sangat gagah dan besar, bagaimana agar aku mudah membawamu?”
Busur itu mengecil, lebih kecil dari telapak tangan Silky. Begitu berada di telapak tangan, benda itu merubah menjadi gelang.
“Kau siapa?” tanya Trigon serius.
“Gadis menyebalkan katamu.”
“Pangeran mana pun tidak bisa mendapatkan. Bahkan, dia menghampirimu suka rela.”
“Mana aku tahu.”
Setelah menjawab, Silky berbalik meninggalkan Trigon. Mengikuti jalan setapak satu garis untuk keluar dari lautan pusakan.