Tawaran Pangeran Vola

1418 Words
Bersandar membelakangi bingkai jendela, masih dilakukan Silky sejak satu jam lalu. Ia terus memikirkan pertemuannya dengan Vola, setiap ucapan dan beberapa bukti telah meyakinkan dirinya untuk percaya. Diangkat tangan kanan sejajar dengan wajahnya. “Semakin rumit saja, hidupku ini,” keluhnya dengan menatap sejengkal kayu tipis terukir satu tangkai kuncup teratai. “Rumit yang bagaimana? Kutahu hidupmu penuh kemegahan,” sahut seorang pria yang berbaring miring di atas ranjang. Mendengar suara tak asing pun dekat, lantas mengalihkan arah pandang ke asal suara. Sontak kedua mata membulat sempurna. “Kau?” bertanya. Segera berlari ke arah pintu yang terbuka. “Untuk apa kau datang ke sini? Kita bisa bertemu di luar Pangeran,” ucap Silky setelah menutup pintu, sambil berjalan menghampiri ranjang. “Tiga hari aku menunggumu di kedai perbatasan, kau tidak muncul. Jadi, aku menemuimu ke tempat yang ada kau,” jawab Vola. Silky berdiri di samping ranjang sambil melipat kedua tangan di depan tubuh. “Aku tidak bisa ke sana setiap hari,” jawabnya. “Kenapa?” “Kau ingin? aku kena gantung oleh Pangeran Karena mengunjungi kedai arak setiap hari,” jelasnya. “Mengapa tidak mengatakan sejak awal?” “Mana aku tahu, jika kau ingin bertemu denganku lagi,” jawabnya sambil merotasikan kedua bola mata. “Tentu saja. Jika kau mau, tinggallah bersamaku,” tawar Vola. “Kenapa? Apa yang kau dapatkan di sini, akan kau dapatkan di tempatku. Bahkan, aku bisa memberikan lebih,” bujuk Vola. “Tidak bisa Pangeran,” tolak Silky dengan nada normal. “Kau menyukainya?” tuduh Vola. “Jangan asal bicara. Bagaimanapun, dia yang memberiku perlindungan lebih dulu. Sangat tidak tahu diri jika aku mengecewakannya,” jelas Silky. “Baiklah. Kapan kita bisa bertemu?” “Kapan saja. Pangeran tahu aku ini tidak pernah ada pekerjaan selain menonton anak-anak pasar bermain.” Sekedip mata Vola beralih ke depan jendela yang terbuka lebar. Berdiri memunggungi Silky tanpa bergeming. Pandangannya lutus ke arah luar jendela. “Apa yang kau lihat?” tanya Silky. Ikut mengintip dari sisi bingkai. “Apa kau lihat? Bagian kerumunan pohon soa itu?” tunjuk Vola ke arah jauh. “Yang mana? Warna apa?” tanya Silky polos. Vola memejamkan kedua mata sejenak. Ia lupa jika gadis di sampingnya bukan dari negeri ini. “Serumpun pohon yang menjulang lebih tinggi dari sekitarnya,” jelas Vola. “Ya, aku melihat.” “Berikan tanganmu!” titahnya. “Tangan yang kanan atau kiri?” “Apa saja.” Sekilat, mereka telah berada di tengah pepohonan yang menjulang tinggi. Anehnya, meski di tengah gelap malam, tempat yang mereka pijak cukup terang oleh jutaan kunang-kunang yang menghuni tempat itu. “Pangeran, cantik sekali,” ucapnya kagum. “Pangeran, mengapa mereka memiliki beberapa warna?” tanya Silky. Vola mengeluarkan botol kaca, lalu menarik tiga jenis kunang-kunang masuk ke dalam botol. “Menurutmu, warna apa yang mereka hasilkan?” “Putih, biru, ungu,” jawab Silky yakin. “Benar.” “Pangeran, mengapa mereka memiliki warna berbeda? Di tempat asalku, hewan ini hanya memiliki satu warna yaitu kuning,” tanya Silky. “Mereka dipelihara dan dijaga oleh mendiang para ibu,” jawab Vola sambil melepaskan kembali. “Para ibu?” ulang Silky bertanya. “Mendiang ibuku dan ibu Diarkis,” jawabnya. “Mereka berteman baik?” “Mendiang para ibu menyimpan sebagian energi pada mereka, hanya saja... tidak diketahui energi satunya dari siapa,” jelas Vola. Menujuk kilas pada jutaan hewan terbang. “Mungkin saja, mereka migrasi dari tempat lain,” usul Silky. Namun, Vola menggelengkan kepala pelan. “Tempat ini terlindungi.” Silky menepuk pelan bahu Vola. “Sudah, jangan dipikirkan. Mungkin para mendiang ibu menyimpan kenangan untuk mereka sendiri. Jangan sedih, aku juga tidak memiliki ibu sepertimu,” hibur Silky. Vola tertawa pelan. “Berapa usiamu?” tanyanya. “Dua puluh tahun. Setelahnya aku tidak tahu lagi.” “Kau masih kecil sekali. Mengapa tidak tahu?” “Ini dimensi lain, perputaran tahun pasti berbeda. Jadi, aku tidak tahu lagi berapa usiaku. Mengingat, aku telah berada di sini cukup lama,” jelas Silky. “Jika kau mengikutiku, aku akan mengajarimu banyak hal,” tawar Vola. Terdengar tawa pelan dari Silky. “Pangeran, kau ini petinggi negeri. Kau harus mengurus negeri, bukan mengurusku,” ucap Silky. “Jika aku sibuk siang, maka malam aku akan mengunjungimu, bagaimana?” “Kau akan lelah, dan perlu istirahat.” “Bukankah kita sudah berteman? Mengapa masih menolakku?” “Aku tidak menolak.” “Ya sudah,” “Kau tidak terbebani?” “Tidak. Justru, aku merasa lebih santai saat bersamamu,” jelas Vola. “Apa itu bualan kosong?” “Tidak tahu,” jawab Vola enteng. “Hanya bersamamu aku seperti lepas dari kedudukan. Tidak ada kata strategi, laporan upeti, laporan pajak, semua jenis tentang itu. Benar-benar santai,” imbuh Vola. “Pangeran,” panggil Silky. “Apa?” “Kau tidak akan menjebakku, kan?” tanya Silky hati-hati. “Untuk apa? Mengambil jantungmu untuk keabadian?” jawab Vola. Mengerti kekhawatirannya. “Mungkin seperti itu,” sahut Silky pelan. “Kau bisa mengucapkan permintaan, jika takut suatu saat aku melakukan hal itu,” timpal Vola. “Sebenarnya, aku tidak lagi takut kapan aku akan tewas. Aku hanya takut mati sebelum mengetahui asal-usulku. Aku hanya ingin tahu, apa alasan sehingga tertarik ke dimensi ini,” jelasnya. “Aku tidak pernah meyakini, apa itu keabadian? Takhta yang kutempati saja memberiku beban tanggung jawab.” “Jangan terlalu banyak mengatakan kalimat untuk membuatku percaya padamu, Pangeran.” “Untuk apa aku meyakinkanmu? Aku memiliki kuasa besar yang bisa memenuhi keinginan.” “Benar juga,” timpal Silky. “Apa pria kaku itu masih sibuk?” tanya Vola. Silky menoleh ke samping dengan sedikit mendongak. “Pria kaku?” Ulangnya. Setelahnya menyadari siapa yang dimaksud. “Tidak tahu. Em... aku tidak memiliki sihir, bagaimana aku bisa memanggilmu?” “Panggil saja melalui pengikat rambutmu itu, atau lempar batu ke tengah sungai itu,” jawabnya sambil menunjuk ke arah sungai yang ada di depan mereka. Silky mengangkat sejengkal kayu pemberian Vola beberapa hari lalu. “Ini pengikat rambut?” tanyanya polos. “Kau pikir apa? Pria kaku itu tidak cukup perhatian pada peliharaannya.” “Sebenarnya, dia pun memberikan. Hanya saja, aku tidak tahu cara memakainya. Jadi, benda seperti ini hanya tersimpan. “Berikan itu padaku,” pinta Vola. Silky menurut saja, ia berikan kayu itu pada Vola. Lalu, tubuhnya diputar ke samping. Posisinya memunggungi, dan rambut panjangnya terasa seperti dipermainkan. “Selesai.” Silky meraba kepala, rambut bebasnya tergulung menjadi satu dengan sejengkal kayu yang mengait. Karena penasaran, beranjak dari bangku kayu menuju tepi sungai. Bibir tipisnya melengkung ke atas saat melihat pantulan dirinya dengan rambut yang tergulung indah. “Wah, cantik sekali. Bagaimana bisa Pangeran melakukan ini?” sorak Silky yang telah menghampiri Vola di bangku. “Aku sering melihat mendiang ibu menggulung rambutnya,” jawab Vola bangga. “Pakai tangan?” tanya Silky tidak yakin. “Tentu. Bukankah tadi tanganku sangat lihay,” ucapnya sombong. “Maksudku, kalian memiliki sihir, sekedip mata selesai,” jelas Silky. “Sihir bukan untuk mainan. Semakin banyak sihir yang digunakan, semakin banyak pula energi dalam yang dikeluarkan,” jelas Vola. Sorot hangat dari ujung timur, perlahan merayap masuk melalui jendela. Pagi yang biasanya sedatar tembok, kali ini berbeda. Wajah Silky tampak berseri dan senyum di bibir enggan padam. Pasalnya, kali ini ia punya tujuan kesenangan, tidak seperti hari sebelumnya yang harus mencari sesuatu untuk membuat sepanjang hari menyenangkan. Langkah kecilnya sesekali melompat kecil, sesekali berputar, sesekali menyapa tanaman bunga yang mekar, sampai tingkah anehnya telah menarik perhatian Diarkis dari kejauhan. “Aargh..!” Tubuh besar Diarkis yang menghadang Silky tiba-tiba, membuat gadis itu menabrak dan terpental ke belakang hingga jatuh terduduk di tanah. “Tingkahmu aneh sekali, apa kau menemukan cara untuk kabur?” tuduh Diarkis sambil melipat kedua tangan di depan tubuh. “Aku ini tidak ada benarnya,” gumam Silky sambil bangun dan menepuk pelan bokongnya untuk membersihkan tanah yang menempel. “Setelah mengurung diri beberapa hari, tingkahmu jadi aneh. Kau merencakan apa?” todong Diarkis. “Ingin tahu sekali.” Diarkis berdehem. “Aku hanya memastikan, kau tidak akan berulah.” Tanpa membalas atau membantah ucapan Diarkis, Silky berlalu melewati Diarkis. Ekspresi kesal dengan membuang muka, ia bawa semakin jauh meninggalkan Diarkis. Sedangkan Diarkis, masih terdiam di tempat sembari memikirkan apa yang tampak berbeda dengan gadis itu. Tak ingin berpikir keras, lantas ia pun meninggalkan tempatnya menghadang Silky dan kembali pada tujuan awal. Tanpa disadari, rambut Silky yang tergulung rapi, membuat gadis itu terlihat berbeda hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD