“Aku akan sibuk untuk beberapa hari ke depan. Kuharap, kau bisa jaga sikap dan tidak membuat onar lagi,” ucap Diarkis saat Silky muncul dari pintu kamar.
Sejenak, menepuk pelan dadanya karena suara besar yang menyambut tiba-tiba. Setelah tenang, ia mendongak agar bisa menatap wajah tegas dan mata tajam selama beberapa bulan ini.
“Anda selalu sibuk, untuk apa berpamitan kepadaku,” ucap Silky, sambil berjalan melewati.
Kedua bola mata Diarkis membulat. Tatapannya mengikuti punggung Silky yang perlahan meninggalkan. Ia gerakkan telunjuk, dengan kilat tubuh gadis kecil itu kembali berada di depannya.
“Apa lagi?”
“Mau kemana?”
“Kemana saja.”
Diarkis menghela nafas. “Aku bertanya kepadamu, tidak bisa kau menjawab dengan benar?”
“Aku menjawab dengan benar,” sanggahnya.
“Jawaban membantah itu, yang kau anggap benar? Dengar! Kau sudah berada di tempatku cukup lama, di sini punya aturan dan hukuman yang berlaku.” Diarkis menekankan ucapannya.
“Baik. Lalu, kau ingin aku bagaimana! Berada di sini, juga bukan kehendakku!” Tegasnya.
“Silky!” Diarkis menyebut nama dengan telunjuk mengacung ke wajah gadis yang kini menantang.
Pura-pura memijat pelipis, diiringi helaan napas perlahan. “Pangeran, aku tidak akan kabur dan tidak akan pernah bisa kabur. Anda sibuk, saya bosan sendirian...”
“Jadi?” potong Diarkis yang terlihat lebih santai menatap Silky.
Silky mendongak menatap ke arah mata Diarkis. “Jalan-jalan, melihat aktivitas para warga, atau melihat anak-anak bermain, atau berkunjung ke pondok Chi,” jawab Silky sambil menghitung dengan jari.
“Kemarin aku makan mie di kedai persimpangan...”
“Pemiliknya sudah menagih kepadaku,” potong Diarkis.
Silky menggaruk rambut yang tidak gatal. “Aku lapar dan tidak membawa uang,” jawabnya pelan.
“Dapur istana ini sangat sanggup menyediakan makanan sampai perutmu meletup.”
“Cita rasanya sangat berbeda, Pangeran.”
“Gunakan dengan bijak. Dasar, anak kecil. Belum bisa kerja sudah berani berhutang,” ucap Diarkis sambil melempar kantong yang ditangkap Silky tiba-tiba, spontan, dan tidak akan membiarkan sampai menyentuh ubin. Sedangkan, yang melempar telah berjalan melewati dan meninggalkan tempat.
“Pangeran! Semoga sibukmu menyenangkan!” teriak Silky sambil menggoyangkan kantong di atas kepala.
Jauh, menuju ujung lorong, Diarkis tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun. Ia buka telapak tangan kiri, jarum kecil mirip sebilah pisau berwarna biru terang bergerak stabil, pertanda gadis peliharaannya dalam jangkauan.
Di sudut lain, tak jauh dari tempat Silky, ada Moya dan Niu yang melihat dengan tatapan iri. Kedua pria itu menggelengkan kepala kompak ketika melihat kantong berisi uang yang diayunkan Silky ke udara.
“Apa kau yakin, jika gadis itu tidak memiliki sihir?” ucap Moya.
“Entahlah, aku pun tidak habis pikir. Benar-benar dianak emaskan oleh Pangeran,” imbuh Niu.
“Sungguh, membuat kita iri saja. Lihatlah! Betapa mudahnya mendapat sekantong keping emas.”
“Sekantong keping emas.” Niu menekan tiga kata dengan kedua mata mendelik.
Pasalnya, Silky meraup isi kantong lalu menaburkan kembali ke dalam kantong, jelas sekali terlihat kilauan keping. Moya dan Niu yang menyaksikan hanya bisa menangis palsu sambil berpelukan.
Dengan sekantong uang yang dimiliki, kini Silky menikmati ramainya pasar raya. Banyaknya penjual tidak membuat Silky tertarik untuk mencicipi. Sampai akhirnya, ia berhenti di kedai arak paling populer. Berada di tempat ini cukup lama, ia pun telah mengenal banyak jenis arak enak.
“Berikan sekendi arak murbei,” ucapnya pada pelayan.
“Seleramu cukup bagus, boleh aku bergabung?” ucap seorang pria bertopi jerami.
Mendengar pujian, Silky mendongak ke arah suara. “Asal tidak mencelakaiku,” jawabnya ketus.
Pria itu tersenyum, lantas mengambil duduk di bangku satu-satunya yang berhadapan dengan Silky.
“Kenapa duduk sendirian di sini?” tanyanya.
“Memangnya kenapa? Apa terlihat aneh, wanita yang duduk sendiri di kedai arak?”
“Beberapa kali aku melihat, kau selalu tidak sendiri.”
“Kedua temanku sibuk. Lagi pula, mereka sangat payah untuk diajak minum,” keluh Silky.
“Aku banyak waktu, bisa kita berteman?” Tawarnya.
“Sayangnya, aku tidak minat berteman dengan sembarang orang,” jawab Silky tegas.
“Percayalah, kita bisa berteman baik.” Bujuknya.
“Kau pikir, aku akan percaya? Tidak.”
Pria bertopi jerami itu menjentikkan jari, seketika mereka berada di tempat yang dikelilingi kelambu putih. Kosong, sunyi, bahkan angin saja tidak ada. Hanya ada mereka berdua.
“Namaku Vola, berasal dari negeri Prota,” ucapnya sembari memperlihatkan plat emas berbentuk persegi. Plat sama dengan milik Diarkis yang pernah Silky lihat di meja kerja pribadi, hanya nama tempat yang berbeda.
Silky raih plat itu untuk dilihat lebih dekat. “Kenapa ada tiga kepala singa bermahkota?” tanyanya sambil menyodorkan kembali.
“Lambang tiga negeri bersaudara,” jawabnya.
“Tiga negeri?” ulangnya sambil mengangkat tiga jari ke udara.
“Evdemo, Prota, dan Antrus. Aku sarankan, jangan pernah dekat dengan Pangeran Antrus,” peringat Vola.
Semakin menarik, lantas Silky memangku dagu dengan satu tangan. “Sekalipun, kau Pangeran, kau pikir aku akan dengan mudah percaya? Tentu tidak.”
Terdengar helaan napas. Lalu, mengeluarkan sebuah batu. “Andai batu ini tidak bereaksi, aku tidak akan mau susah payah menemukanmu.”
Sebilah pisau runcing mengacung tepat di leher Vola. “Sekalipun kau seorang petinggi kerajaan, aku tidak akan segan melukaimu,” ancam Silky.
Vola merotasikan kedua bola mata. “Siapa yang ingin mencelakaimu? Aku hanya ingin tahu, apa hubunganmu dengan batu ini?”
Perlahan Silky menurunkan senjata. “Kau saja tidak tahu, apa lagi aku.”
“Mendiang ibuku hanya mengatakan untuk menjaganya seperti nyawaku sendiri. Nyala terangnya dimulai saat kau berkunjung ke Prota,” jelasnya.
Silky meraih potongan batu itu. “Apa kau tahu asalku?” tanya Silky dengan kepala miring ke samping.
“Tidak.”
“Jika benda ini sangat penting, mengapa kau tidak mencari tahu asalnya?” tanya Silky heran.
“Tentu saja. Tapi, hasilnya sia-sia. Kuputuskan untuk menunggu saat batu itu menunjukkan arahnya sendiri,” jelasnya.
“Kau berteman baik dengan Pangeran, kenapa tidak bertanya kepadanya?”
Vola menghela napas sambil melipat tangan di depan d**a. “Itu wasiat ibuku, jika jatuh ke tangan yang salah akan menjadi bencana besar.”
“Benar juga,” timpalnya. Lalu ia tersadar.
“Berarti, mendiang ibumu tahu tentangku,” ucapnya semangat tapi teringat kembali bahwa ibu Vola telah tiada, jatuhlah bahunya.
“Aku hanya berharap kita bisa berteman untuk mencari tahu tentang batu itu. Kau tahu? Ribuan tahun menyimpan sesuatu yang tidak mengetahui asal dan fungsi, rasanya memikul beban berat.”
“Aku tidak keberatan. Tapi lihat, aku diawasi,” ucapnya sambil membuka telapak tangan.
Vola memicingkan mata ke arah telapak tangan Silky. Lalu, merambat ke arah tubuh yang terlihat seperti jubah pelindung. Ia coba letakkan batu ke atas telapak tangan Silky, tampak energi dari batu terserap dan merayap menuju arah jantung.
“Kau...” ucapan Vola menggantung.
“Pemilik jantung teratai, kata Pangeran,” sahutnya.
“Mendiang ibumu...”
“Aku masih tidak mengerti. Melihat batu itu terhubung denganmu, itu artinya mendiang ibuku ingin aku menjagamu,” ucapnya lesu.
Kedua mata Silky mulai berkaca-kaca, harapan kecil mendadak muncul dari benaknya. Sebuah tanda tanya besar yang tidak dapat diketahui mulai ada setitik terang.