Artefak Aro

1362 Words
“Pa...Pangeran, jangan begini,” Silky panik bukan main. Jantungnya berdegup kencang, tangan dan dahi berkeringat dingin, kedua kaki pun ikut bergetar, kala kilauan besi putih memancarkan kilat saat tersorot cahaya yang datang dari luar jendela. “Tuan, bicaralah!” paksa Silky sambil menarik kecil ujung rambut putih yang tergerai panjang. Ujung baju tujuan Silky, karena tangan gemetar yang sulit dikendalikan, jadi rambutlah yang tersentuh. Terdengar helaan napas. Pria serba putih itu meraih tangan Silky, lalu tersenyum hangat. “Kau takut?” “Lepaskan tangannya!” bentak Diarkis. Pedang yang sedari tadi mengacung, semakin menempel erat. “Pangeran, ini bisa dibicarakan baik-baik,” bujuk Silky sambil mencubit lempeng besi dingin itu. Meski, dalam hati rasanya diterjang tsunami dan digulung oleh angin tornado. “Pecahan lada yang menghasilkan rasa pedas, kusiapkan untukmu.” Kedua mata Silky melebar. Tangannya beralih menarik piring yang dihadapan Diarkis, ia lahap satu potongan. “Ini rasa yang kusuka. Pangeran, ini bukan racun, tetapi rasa pedas,” jelas Silky. “Jangan dimakan!” larang Diarkis. Silky melebarkan kedua mata. “Tidak. Aku suka. Sudahlah, turunkan pedang gagahmu itu,” bujuk Silky. “Kau berani memerintahku!” “Ck. Biarkan aku makan ini, di istanamu tidak ada rasa yang sesuai lidahku.” Setelah mengatakan, Silky kembali duduk untuk menikmati. Diarkis menuruti ucapan Silky, menyimpan pedangnya dan kembali duduk. “Makanan mencekik seperti itu saja kau suka, tidak istimewa.” Diarkis mencemooh. “Memang tidak istimewa,” jawab Silky ketus. “Tuan, siapa namamu?” tanya Silky dengan wajah yang telah berubah menyenangkan. “Chikos, atau panggil saja Chi,” jawabnya sembari tersenyum hangat kepada Silky. “Baik,” balas Silky sambil mengangguk pelan. Seusai makan, Silky berkeliling satu rumah kayu yang tertata rapi. Chi, si pria serba putih pun dengan senang hati mengekor di belakang, menunjukkan satu persatu barang yang dimiliki. Sedangkan, di bangku kayu depan, Diarkis memilih duduk saja sembari melihat membaca buku. “Boleh aku ke sana?” tanya Silky sambil menunjuk ke luar jendela yang baru saja menarik perhatiannya. “Tentu saja,” jawab Chi. “Aku sudah lama berada di tempat asing ini, tidak pernah kutemui tanaman ini semua,” ucapnya setelah berada di depan sepetak kebun. “Ah, bangku ini mirip dengan bangku yang ada di samping rumahku. Tidak, tidak, ini sama.” Soraknya. Jemarinya menelusuri setiap inchi lengkung kayu. “Tuan, aku selalu duduk di bagian tepi ini.” Tunjuknya. “Kenapa? Apa tepi ini tidak nyaman?” tanya Chi. Sejenak mengedarkan pandangan, untuk mengingat kapan terakhirnya duduk santai di bangku rumahnya. “Itu karena...” menjeda kalimat, lalu mengangkat telunjuknya lurus ke depan. “Tepat di depan ini, ada pohon apel yang tidak terlalu tinggi, namun mampu menghalangi arah pandang dari kamar kakakku. Arak kesukaannya yang kuambil diam-diam, selalu kuminum di bangku ini,” jelasnya. Meski terbit senyum dari bibir, kedua mata tertuju ke arah depan yang sangat jauh. “Apa kau merindukannya?” Arah pandang Silky masih sama, lurus ke depan yang tersaji bukit. “Tentu. Jika tahu begini, mungkin aku akan mengatakan semua larangan yang aku langgar.” “Apa dia tidak baik terhadapmu?” Kali ini mengalihkan pandangan kepada Chi. “Dia terbaik. Aku tidak pernah melakukan kesalahan di matanya. Semua yang kulakukan akan dibenarkan,” jelasnya sambil tertawa kecil. “Kurasa, kau gadis yang baik,” timpal Chi. Silky tertawa rendah. “Tidak, aku ini tidak cukup baik. Hampir setiap hari berurusan dengan hukum. Mungkin, jika berada di sini sudah dipenggal sejak usia empat belas tahun,” paparnya. “Lalu? Bagaimana kau bisa lepas dari hukum?” “Di tempatku, uang bisa membeli segalanya. Kecuali, mengembalikanku lagi,” jawabnya. Lalu disusul tawa. “Kau tidak bahagia di sini?” “Aku bisa apa? Tidak ada yang bisa menarikku keluar dari tempat ini. Meski tidak ada kakak, setidaknya masih ada pria kaku itu, untuk berlindung.” Silky memelankan suara di ujung kalimat. “Berikan telapak tanganmu,” pinta Chi. Tanpa ragu, Silky mengulurkan tangan kepada Chi. Lalu, sekeping lempeng giok dengan ukiran sebuah putik berwarna biru bercampur ungu berada di telapak tangannya. “Tuan, apa ini?” tanyanya pelan. “Dunia ini, tidak cukup baik untukmu. Anggap saja, ini hadiah dariku untuk mewakili kakakmu. Memastikan, jika adiknya akan aman,” ucap Chi, sambil memasukkan benda itu ke jantung Silky. “Bagaimana rasanya?” tanya Chi, memastikan. “Rasa sejuk dan nyaman,” jawabnya. “Pangeran Diarkis sangat melindungimu, akan sangat aman, jika artefak Aro berada padamu.” “Tuan begitu yakin kepadanya?” “Dia pemilik negeri ini, tidak ada yang melampauinya. Maukah kau memenuhi permintaanku?” Chi memohon. “Katakan!” “Akan banyak cabang jalan ke depan, aku harap kau tidak akan pernah memilih jalan yang melawan arah.” “Apa maksudnya?” “Segala sesuatu yang melawan, hukum langit tak bisa ditolak. Namun, jika sekedar berjalan pada jalur, semua akan landai dan menyenangkan,” pesan Chi kepada Silky. “Aku akan mengingat kata-katamu ini. Akan tetapi, aku masih tidak mengerti tentang diriku?” jujur Silky sambil menunjuk dirinya sendiri. Suatu kepercayaan yang tidak asing terhadap Chi. “Kau terlahir istimewa, dan berada di tempat ini pun termasuk takdir. Hanya itu saja yang bisa kuberitahu kepadamu. Ingatlah, bahwa setiap nyawa yang berada di tempat ini memiliki porsi batasan,” jelas Chi, sesingkat dan berharap gadis di depannya ini bisa memahami setiap kata yang diucapkan. “Lalu, apa fungsi artefak Aro ini?” tanyanya dengan suara sangat pelan. “Dia mengenalimu, dan dia bisa melindungi jantung terataimu dari pandangan orang lain,” jelasnya. “Terima kasih,” ucapnya tulus. “Jika kau jenuh, kau bisa datang ke tempat ini. Setiap pagi, aku akan berada di atas itu untuk berjemur.” “Boleh aku bertanya?” sekilas Silky mengingat sesuatu. “Ya, katakan!” “Sebelum kami mencapai rumahmu, aku melihat setangkai bunga yang dilindungi gelembung transparan,” Chi tersenyum. “Bunga itu, hanya tinggal satu. Itu pun tak lagi utuh, gelembung yang melindungi, terbentuk sebab separuh energi spiritual para tetua terdahulu.” “Hanya sebuah bunga, harus merelakan sebagian jiwa?” “Merelakan jiwa untuk menyelamatkan sebuah jiwa.” Satu kalimat ambigu yang bisa Chi katakan. “Kami butuh jalan pulang,” ucap Diarkis yang tiba-tiba duduk diantara mereka. “Kau. Bukan kami,” sela Silky sambil memiringkan kepala. “Jalannya hanya satu arah, Pangeran,” jawab Chi. Tanpa menjawab, satu tangan Diarkis mencengkram kerah belakang Silky. Sekilat, mereka telah berada di depan tebing batu. “Pangeran!” teriak Silky. Orang yang diteriaki malah berjalan meninggalkan seorang diri. Hanya mampu menatap punggung besar, gagah, dan tinggi menyerupai raksasa. Tidak, ia yang pendek. Segera berlari mengejar Diarkis. “Pangeran,” Niu dan Moya memberi hormat serentak, begitu Diarkis sampai di lorong utama. Setelahnya, mengekor di belakang bersama Silky. Kedua bawahan itu mengamati jubah yang melekat indah pada gadis kecil diantara mereka. Hanya sebuah kain, namun, tampak melindungi. Aroma dan jenis bahan tidak pernah mereka jumpai seumur hidup. “Jubahmu indah sekali,” tiga kata meluncur begitu saja dari bibir Niu. “Tampak lembut, ringan, hangat, dan menyejukkan,” timpal Moya sambil meraba lembut. “Kau dapat dari mana?” todong Niu. “Ya, bahkan Pangeran tidak memiliki jenis kain ini,” timpal Moya. Obrolan asik di belakang, mengambil alih ketertarikan Diarkis. Seingatnya, gadis kecil tadi mengenakan pakaian yang dibelikan. Satu lagi, apa maksud kedua bawahan yang mengatakan dirinya tidak memiliki? Ia berhenti dan berbalik badan. “Apa yang tidak kumiliki?” Suara dalam dan berat, membuatnya ketiga orang di belakang tersentak kaget. Ketiganya pun serentak membulatkan bola mata. Bukan karena suara itu, melainkan geraknya yang berhenti tiba-tiba. “Dari mana kau dapat jubah jelek itu?” tanya Diarkis penuh intimidasi. Jujur, Silky sendiri tidak tahu dari mana asalnya. Andai kedua pria di sampingnya tidak bertanya, ia pun tidak akan menyadari. “Chi,” jawabnya singkat. Lalu berjalan mendahului, meninggalkan ketiga pria yang terdiam memandang punggung kecilnya. “Pria bisu yang dingin itu memberikan jubah berharga kepadanya?” heran Niu. “Tidak hanya bisu, pria kesepian yang menikmati ketampanannya sendiri,” timpal Moya. “Kalian mengenalnya?” “Ya, Pangeran. Dia pemasok toko obat,” jawab Moya. Pandangan mereka masih tertuju pada Silky yang semakin jauh dan hilang di ujung lorong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD