Terjebak Bersama

1432 Words
Kenapa masih mengikuti aku? Apa Pangeran tidak punya pekerjaan?” tanyanya penuh dengan nada sindiran. “Tidak.” Terdengar helaan napas kasar. Namun, Diarkis berpura-pura tuli dan terus mengekor di belakang Silky. Ia pun juga menikmati tempat tersembunyi ini. Segar, sejuk, menenangkan, berpadu dengan suara gemercik air yang jatuh ke tebing rendah bebatuan di sekitar jalan setapak yang mengikuti langkah mereka. “Kenapa berhenti?” tanya Diarkis yang hampir menabrak punggung kecil gadis di depannya. “Pangeran dengar?” tanyanya tanpa menatap Diarkis dan fokus menyapukan pendengaran. “Tidak.” Silky merotasikan kedua bola mata, lalu memutar tubuh menghadap Diarkis. Ia tatap wajah tampan sang penguasa Negeri yang tidak mau tahu, angkuh dan menjengkelkan di matanya. Silky tarik satu telinga Diarkis ke bawah, lebih tepatnya untuk di dekatkan pada bibirnya. “Dari tadi kau hanya menjawab tidak. Bisakah menjawabku dengan kata lain selain tidak!” teriak Silky di samping telinga Diarkis. Diarkis hanya meringis kecil. Ia tepis pelan tangan mungil Silky lalu perlahan menegakkan tubuh, diikuti pula dengan jubah besarnya seiring pergerakan tubuh yang menegak. “Aku memang tidak mendengar apapun,” jawabnya jujur. “Benarkah?” timpal Silky bingung. Berbalik meningalkan Diarkis. Mengayunkan kembali kakinya mengikuti satu-satunya jalan setapak yang entah akan membawanya ke ujung mana. Sedangkan di belakang, Diarkis dengan tenang mengekor sembari wasapada. Karena sesungguhnya, ia pun belum pernah masuk ke tempat ini. “Pangeran, itu!” tunjuk Silky ke arah tengah danau berwarna ungu. Pandangan Diarkis beralih ke arah yang ditunjuk Silky, terdiam sejenak mengamati. Lalu, melangkah lebih dekat. Langkah kaki terus terayun meski telah meninggalkan tanah dan beralih menapaki genangan air. “Middlemist,” ucapnya pelan sambil meraba gelembung transparan yang melindungi setangkai bunga itu. “Pangeran! Aku pun ingin melihatnya sedekat itu!” teriak Silky dari tepi danau. Diarkis memutar kepala ke belakang. “Kemari!” perintahnya. Kedua bola mata Silky melebar. “p****t kau! Mana bisa!” maki Silky tanpa sadar. Sekilat, Diarkis telah berada di depan Silky. “Memaki seorang Pangeran adalah hukum mati dan siap rohnya dilempar ke lembah Alacson,” ucapnya. “Lempar saja! Siapa tahu aku akan menemukan Pangeran lain yang tidak kalah tampan,” jawab Silky berani. “Kau...!” tunjuk Diarkis pada wajah Silky dengan penuh rasa tidak suka. Bahkan, perlahan warna mata Diarkis berubah dari biru samudera ke abu-abu dan semakin menggelap. Menyadari akan perubahan sang Pangeran, cepat-cepat Silky meninggalkan tempat dengan mepertahankan raut wajah beraninya, walaupun dalam hati terdalam ada sedikit rasa takut. “Hanya setangkai bunga tanpa putik, aku tidak tertarik,” ucapnya setelah tiga langkah meninggalkan Diarkis. Emosi yang tidak setabil sehingga mempengaruhi kinerja pikiran Diarkis, sedetik kemudian telah menghadang Silky. Tubuhnya yang gagah dan tegap berdiri spontan mendapat benturan kecil dari sebuah benjolan yang empuk. Kedua mata yang tadinya setajam belati mendadak membulat polos sekilas, sampai sebuah teriakan kecil mengalihkan arah tatapan ke bawah. “Argh.... pantatku,” keluh Silky yang jatuh terduduk ke tanah. Diarkis masih berdiri sambil melipat kedua tangan di depan tubuhnya, hanya menatap diam Silky tanpa membantunya berdiri. “Kakak, lihatlah aku kesulitan!” rintihnya. “Ada aku tapi kau memanggil yang tidak ada,” ucap Diarkis. Lalu berbalik meninggalkan Silky. Jubah besar yang dikenakan pun ikut berkibar menyapu wajah Silky. “Gambaran tentang Pangeran fiksi itu memang benar nyata,” ucap Silky pelan, dengan menatap tubuh besar itu yang semakin menjauh. Perlahan mulai bangun dari tempat terjatuhnya, lalu menyusul ke arah Diarkis. Langkah kecilnya yang sesekali melompat kecil, menimbulkan hentakan nada yang mengiringi suara kecil dari sekitar. Silky menarik kecil jubah besar milik Diarkis. “Pangeran,” panggilnya. “Apa?” “Apakah kita tersesat?” “Menurutmu?” “Tidak tahu,” “Kau yang membawaku masuk, sekarang mengatakan tidak tahu.” “Em, benarkah? Bukankah Pangeran yang menguntitku.” “Pantaskah, mengataiku seperti itu?” “Aku mengatakan hal benar, bagian mana yang mengataimu?” Silky berjalan mendahului untuk menatap Diarkis, meski harus berjalan mundur. Terlihat pria besar itu menggelengkan kepala. “Selain kecil, pendek, kau pun banyak bicara,” ungkap Diarkis. “Sudah tahu aku begini, kenapa masih dipelihara?” “Itu karena aku masih ingin memelihara gadis cerewet.” “Kulihat banyak yang lain, akan lebih baik kau melepaskanku saja,” tawar Silky. Diarkis meletakkan tangan besarnya di puncak kepala Silky, lalu memutar dan tubuh kecil itu pun ikut berbalik. “Aku ikut tersesat karena kau. Jadi, perhatikan langkahmu dengan benar dan kita telusuri tempat ini, lagi pula aku pun ingin tahu tempat tersembunyi yang tidak bisa kujangkau.” “Berlagak ikut tersesat, padahal ingin memastikan tempat pembuangan yang tepat untuk diriku, benar kan?” tuduhnya enteng tanpa beban. Diarkis membuang pandang, bosan mendengar kata tuduhan tak mendasar dari gadis kecil. Ia dorong punggung kecil Silky untuk memaksanya berjalan. Detik berganti detik, sembari memastikan langkah, Diarkis memperhatikan tangan besar yang menempel pada punggung Silky. “Pangeran,” panggil Silky. Tidak ada sahutan, namun langkah kaki besar masih sanggup ia tangkap, serta tangan besar yang mendorong terasa memikul besi seberat tiga kilo pun masih dirasakan. “Berapa usiamu, Pangeran?” celetuk Silky. “Kau ini benar-benar tidak tahu diam.” “Tinggal jawab saja, apa susahnya?” “Tidak tua dan tidak perangai bayi sepertimu,” jawabnya santai. “Lalu?” “Apa?” “Berapa?” “Sangat muda dan tampan.” Seketika membuat Silky kembali merotasikan kedua bola mata. Sekuat tenaga mengibaskan tubuh kecilnya lalu berlari meninggalkan Diarkis. Terus berlari menuruti keinginan hati, hingga langkah kaki tiba di kaki bukit yang seluruh tanahnya tertutup rumput hijau. Anehnya, rumput hijau itu halus. Bunga kecil berwarna putih dan kuning yang tumbuh diantara rumput semua berkelopak tujuh. Langkahnya menerobos hamparan hijau yang tertata rapi, untuk menghampiri sebuah pohon bercabang dua. Satu cabang tumbuh lurus ke atas, sedangkan satu cabang lagi lurus ke samping. Baru saja meletakkan b****g, bersamaan pula dengan Diarkis yang tiba-tiba telah duduk dengan nyaman di samping. Silky hanya bisa menghela napas. “Selamat datang Nona,” suara lembut menyapa keduanya, hingga arah pandang terangkat. “Maaf, aku tidak menyadari kedatanganmu,” ucapnya lagi sembari membungkukkan separuh badan kepada Silky. “Oh, itu...” “Ada aku,” potong Diarkis sambil menjulurkan kepala ke samping hingga menutupi Silky. “Saya tahu Pangeran,” jawabnya sambil mengangkat bahu Diarkis agar tegak pada posisi semula. “Di sini cukup panas, aku akan menyiapkan sari buah kesukaanmu,” ucapnya sambil meraih lembut pergelangan Silky. Kedua mata Silky melebar gembira. “Kau tahu aku suka itu? Tapi, aku suka manis.” “Baik.” “Empat sendok madu.” “Berapa pun yang kau inginkan.” Diarkis masih terduduk diam melihat kedua punggung dengan obrolan mereka. Hei, ia ini Pangeran. Seharusnya, dirinya yang disambut dengan kehormatan hangat, bukan gadis kecil yang datang dari dunia asing. Tapi, bukankah tadi mengatakan juga mengenalnya. Sibuk dengan isi otak yang tidak jelas, lantas menjentikkan jari. Sekilat, telah duduk di bangku samping Silky. “Segar sekali!” soraknya. “Benarkah? Seringlah datang kemari,” ucap pria berbaju serba putih sambil meletakkan seporsi daging panas. “Selamat datang Pangeran,” sapanya Sambil menyajikan secangkir minuman. “Hanya ini?” tanya Diarkis sinis. “Tentu tidak, Pangeran,” jawabnya, tapi arah pandang kepada Silky. Diarkis melebarkan satu telapak tangan tepat di depan wajah Silky, dan pria serba putih itu kini menatap kepadanya. “Dia membawaku tersesat di tempat ini, dan aku pun lapar.” “Telah disiapkan, mohon menunggu sedikit waktu agar sesuai sajian,” jawabnya ramah. Setelah menjawab, pria itu menurunkan tangan Diarkis pelan, agar bisa menatap Silky kembali. Tak lama lonceng kecil berbunyi, dan pria itu bergegas ke belakang mengambil sesuatu untuk disajikan kepada Diarkis. Diarkis menatap satu porsi hidangan yang berbeda dari milik Silky. “Mengapa tidak sama dengan miliknya?” tanya Diarkis tidak terima. “Pangeran menyukai daging dengan tingkat kematangan sempurna, aroma mint yang meresap, dan aroma asap dengan tetesan madu,” jelasnya. “Tapi, aku menginginkan miliknya!” “Pangeran tidak akan menyukai,” jelasnya halus. “Tidak ada hakmu mengatakan aku tidak suka,” bantahan Diarkis membuat pria itu diam. Silky menoleh ke arah Diarkis dengan kedua mata menikam. Seolah mengisyaratkan agar menghargai si pemilik rumah, tapi Diarkis tidak peduli. Silky menukar piring miliknya dengan milik Diarkis. Tidak langsung menyantap, menunggu sang Pangeran melahap. Ia pun mengangkat satu telapak tangan kepada pria berbaju putih agar tidak memberontak. Tidak lama setelah tiga suapan, Diarkis terbatuk. Wajahnya memerah dan sedikit pucat. Menuang beberapa kali air ke dalam gelas guna meredakan sumbatan yang sedang menghantam tenggorokannya. Ujung runcing yang sejak kapan datang, telah siap menggores leher pria serba putih. Seketika ruang yang tenang menjadi tegang. “Kau sengaja menaruh racun!” teriaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD