Aku duduk diam di teras rumah menunggu Mas Naren, ia tengah pergi menemui Teguh dan Frans untuk membicarakan hal ini, aku tahu ini pasti berat baginya namun Mas Naren memilih untuk menanganinya sendiri. Hal yang berat andai dibagi dua pasti akan terasa ringan kan? Tapi, Mas Naren memilih menanganinya sendiri dan menanggungnya sendiri. Ponselku bergetar, aku menoleh dan melihat telepon dari Mas Fikram. Mau apa dia? Setelah apa yang ia katakan padaku kemarin, dia menelponku? Berubah pikiran? ‘Assalamu’alaikum,’ ucap Mas Naren. ‘Kamu dimana? Ayo bicara.’ ‘Ada apa, Mas? Bicarakan saja di telepon.’ ‘Tapi ini tidak bisa dibicarakan lewat telepon.’ ‘Kamu berubah pikiran?’ ‘Iya. Aku akan menghapus video ini, yang penting Ibu dan Mbak di bebaskan.’ ‘Bukannya kamu sudah tidak perduli padanya

