Asumsi Publik (N)

1504 Words

Aku senang mendengar jawaban Reza ketika aku menanyakan tentang perasaannya, entah itu jujur atau bohong tapi aku senang karena Reza menganggap Syaana hanya sebagai teman walaupun aku sempat mengira tidak ada pertemanan di antara laki-laki dan perempuan. Jadi wajar jika aku mencurigai Reza. Setelah makan siang bersama kami kembali ke ruang tengah menikmati hidangan cemilan penutup dan secangkir kopi hangat buatan Syafana. “Silahkan,” kataku mempersilahkan Reza untuk mencicipi hidangan didepannya. “Terima kasih,” jawabnya. “Kalian sejak kapan terlihat akrab begini?” tanya Syafana. Aku dan Reza bertukar pandangan. “Aku baru sadar … temanmu adalah temanku juga, karena Reza teman kamu artinya dia teman aku juga,” jawabku seraya mengelus leher belakangku. “Nah begitu dong kalian itu haru

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD