Malam ini, Eleanor memberanikan diri untuk menemui sang tuan yang saat ini sedang berada di ruangannya. Walau jantung rasanya hampir saja copot, Eleanor tetap bertekad untuk menemuinya. Jika bukan karena menyangkut nyawa sang ayah, Eleanor tidak akan mau pergi menemui tuannya yang galak itu. Apalagi sampai meminta bantuan padanya.
Sepanjang langkahnya menuju ke ruangan sang tuan yang berada di lantai dua, banyak sekali hal yang Eleanor pikirkan. Mulai dari reaksi apa yang akan tuannya itu tunjukkan, bahkan kalimat terpedas apa yang akan keluar dari mulutnya pun turut Eleanor pikirkan.
Gadis berusia 25 tahun itu sangat yakin jika Kenzo Roderick Veit pasti akan menolak mentah-mentah permintaannya. Jika dipikir menggunakan logika, mana ada orang yang mau membantu seseorang yang masih berhutang banyak padanya?
Eleanor sendiri akan berpikir seribu kali untuk membantu orang yang masih memiliki hutang banyak kepadanya. Tapi sungguh, ia akan berusaha keras untuk mendapatkan bantuan dari sang tuan. Ia akan melakukan apapun demi keselamatan sang ayah. Bahkan jika perlu, ia akan mencium kakinya dan memohon.
Pintu ruang kerja itu diketuk begitu pelan. Agak sedikit takut-takut, namun Eleanor kembali mengetuknya lebih keras lagi. Saat hendak mengetuknya kembali, suara dari Kenzo terdengar mempersilahkannya untuk masuk ke dalam.
Eleanor menghela nafas panjang sebelum melangkahkan tungkainya ke dalam. Sebagai tanda bahwa ia siap untuk apapun yang akan terjadi. Tanpa tau jika permainan takdir berawal dari sini.
Melihat raut wajah sang tuan yang tampak sedang tidak bersahabat, membuat nyali Eleanor sedikit menciut. Bagaimana tidak? Kenzo benar-benar seperti sedang menahan emosi. Ada amarah yang tidak bisa dijelaskan dari sorot matanya yang saat ini sedang menatap layar ponsel. Bahkan Eleanor dapat mendengar suara gigi Kenzo yang bergemelatuk. Sumpah demi Tuhan, jantung Eleanor berdebar tidak karuan. Takut sekali jika tiba-tiba menjadi sasaran empuk amarah sang tuan.
“Ada keperluan apa kau kemari?” tanya Kenzo, setelah menjauhkan ponselnya. Kenzo menatap lawan bicaranya dengan tatapan penuh. Pria itu agak sedikit menaruh curiga, sebab ia tak merasa meminta puan itu untuk datang menemuinya.
Sementara itu, Eleanor justru masih terdiam. Puan itu nampak kebingungan harus memulainya darimana. Tidak mungkin juga tiba-tiba ia langsung meminta bantuan.
Kenzo sendiri sudah terlihat tidak sabar. Ia sedang kesal setengah mati perihal sesuatu, namun kini kekesalannya justru ditambah lagi dengan munculnya Eleanor.
“Apa kau datang kemari hanya untuk menjadi patung tidak berguna di dalam ruang kerjaku, Eleanor?”
Eleanor segera menggelengkan kepalanya. “Tidak Tuan! S—saya... saya—”
“Bicara yang jelas!” seru Kenzo, terdengar galak sekali di rungu sang puan. “Dan jangan membuang-buang waktuku dengan percuma. Jika memang tidak ada yang penting, silahkan pergi—”
“Tidak Tuan!” seru Eleanor menyela. Puan itu sadar jika ia sudah berseru terlalu lantang. Lantas ia kembali memperlembut suaranya. “Maaf Tuan, kedatangan saya kemari karena ingin meminta bantuan Anda.”
Kenzo menaikkan sebelah alisnya. “Meminta bantuan apa?”
“Ayah saya saat ini sedang berada dalam masalah. Saya ingin meminta bantuan Anda. S—saya butuh uang yang tidak sedikit untuk membebaskan ayah saya dari salah seorang—”
“Mafia?” sela Kenzo, dan ucapannya tersebut sukses membuat Eleanor terkejut.
“B—bagaimana Tuan Kenzo bisa tau hal ini?”
Kenzo terkekeh lalu menjawab, “apa yang tidak aku ketahui, Eleanor?”
Pria itu bangkit dari tempat duduknya. Berjalan mendekat ke arah Eleanor yang tengah berdiri tegap menatapnya.
“Ayahmu itu masih memiliki hutang padaku. Kau pikir, aku akan membiarkannya berkeliaran di luar sana? Jelas aku akan mengawasinya. Bisa saja kan, dia kabur dan tidak membayar hutangnya padaku? Jadi jelas aku tau apapun yang terjadi padanya.”
Sebenarnya, Kenzo sudah mengetahui kabar tersebut sejak kemarin. Itulah mengapa, ia terlihat begitu sensi pada Eleanor. Sebab Antonio—ayah Eleanor, bukannya segera melunasi hutang-hutangnya agar urusan mereka segera selesai, justru saat ini tengah terjerat dalam masalah dengan salah seorang mafia.
Tidak berkaca pada kesalahan sebelumnya, justru kembali diulang dengan berhutang pada yang lainnya untuk menutup hutangnya yang terdahulu. Benar-benar miris sekali.
“Lalu sekarang, dengan beraninya kau datang menghadap padaku untuk meminta bantuan? Kau yakin ingin meminta bantuan pada orang yang hutangnya belum dilunasi sama sekali oleh ayahmu? Eleanor, apa kau tidak dapat berpikir?”
Eleanor menelan salivanya susah payah mendengar segala rentetan perkataan dari pria itu. Jantungnya semakin berdegup kencang. Tangannya bahkan sedikit bergetar, namun ia harus tetap mencoba kan? Demi sang ayah!
“Justru karena saya dapat berpikir, maka dari itu saya meminta bantuan pada Anda, Tuan Kenzo! Lagi pula, saya juga dijadikan sebagai jaminan di sini. Bukankah sama saja?”
“Ayahmu yang menjadikanmu sebagai jaminan di sini. Padahal sebenarnya aku sama sekali tidak membutuhkanmu sama sekali. Lalu sekarang kau mencoba untuk mencari keuntungan di sini agar aku mau membantu ayahmu keluar dari sarang mafia itu?”
Eleanor menggigit bibir bawahnya. Tidak ada cara lain lagi selagi memohon dengan wajah yang memelas. Siapa tau caranya ini ampuh untuk meluluhkan sang tuan. Daripada adu debat yang berakhir ia akan kalah telak.
Eleanor dengan cepat bersimpuh di hadapan Kenzo. Hal itu tentu saja membuat Kenzo mengerutkan dahi. Jujur saja, Kenzo terkejut dengan aksi Eleanor.
“Tuan, saya memohon dengan sangat, tolong bantu saya sekali ini saja. Saya bersumpah akan melakukan apapun yang Anda minta!”
Kenzo terdiam sejenak sembari memperhatikan puan itu. Dilihat dari jarak dekat begini, Eleanor terlihat jauh lebih cantik. Atau memang sudah cantik sejak awal? Tapi karena Kenzo tidak terlalu memperhatikan, jadi ia benar-benar tidak sadar jika Eleanor memang secantik itu.
Ia pandangi tubuh Eleanor yang terbalut seragam pelayan. Ternyata, tubuh puan itu terlihat begitu seksi. Kulitnya juga tampak sangat bersih dan sehat. Kenapa Kenzo sampai melewatkan hal ini?
Mendadak pria itu mulai terpikirkan sesuatu, yang mungkin akan sangat membantunya. Eleanor, bisa ia manfaatkan.
Kenzo membasahi bibir bawahnya, sebelum kembali mengajukan tanya. “Kau yakin dengan perkataanmu itu?”
“Ya, Tuan. Saya bersedia melakukan apa saja, asal Anda bisa membebaskan ayah saya dari kelompok mafia itu.” jawab Eleanor dengan lantang.
“Hutang ayahmu pada kelompok mafia itu bahkan jauh lebih besar dari hutang-hutangnya padaku. Kau pikir aku bersedia mengeluarkan uang untuknya? Bagus jika dia mati saja di tangan para mafia itu!”
“Tuan, saya mohon! Saya bersumpah akan melakukan apa saja. Bahkan seumur hidup, saya bersedia mengabdi pada Anda! Saya—”
“Jadi pemuasku, dan aku akan membantu ayahmu keluar dari sana dengan selamat,” sela Kenzo. “Bagaimana, kau setuju?”