Nasib Sial?

1322 Words
“Jadi pemuasku, dan aku akan membantu ayahmu keluar dari sana dengan selamat!” Ucapan terakhir dari sang tuan terus terngiang-ngiang di dalam kepala Eleanor. Puan itu belum menjawabnya, dan dengan tegas meminta sedikit waktu untuk berpikir. Terlintas juga untuk mencari cara lain saja. Tapi mendadak pikirannya buntu. Tidak ada ide yang muncul sama sekali. Sumpah demi apapun, Eleanor sama sekali tidak bisa tidur sekarang. Sudah 2 jam berlalu, sejak ia meninggalkan ruang kerja sang tuan. Terus berpikir, dan mencoba untuk berpikir, tapi sayangnya tidak ada yang nyangkut sama sekali di otaknya. “Bagaimana bisa tuan Kenzo memberikan syarat seperti itu? Mana mungkin aku menerima kesepakatan itu? Dia mungkin rugi karena mengeluarkan banyak uang, tapi aku? Bagaimana bisa aku menjual diriku padanya? A—aku tidak bisa...” monolognya. Puan bersurai panjang itu terlihat sekali jika sedang kebingungan. Apa yang harus ia lakukan jika sudah begini? Pada siapa lagi dia harus meminta bantuan? Pada Hanna atau pada bibi Norah? Eleanor menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, Hanna dan bibi Norah juga pasti tidak memiliki tabungan sebanyak itu. Aku juga tidak mungkin menceritakan perihal ayah yang sedang ditahan oleh sekelompok mafia itu. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?!” Eleanor berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ibu jarinya digigit sambil berpikir keras. Waktunya hanya tiga hari. Ya, tiga hari. Dan itu bukan waktu yang lama. Tiga hari benar-benar cepat sekali. Bagaimana bisa mendapatkan uang banyak hanya dalam waktu tiga hari, jika tidak meminta bantuan pada seseorang yang ia kenal? Tapi mengapa harus ada syarat gila di dalamnya untuk mendapatkan uang itu? “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus menerimanya dan melakukan kesepakatan dengan tuan Kenzo? Tapi... aku tidak serendah itu sampai harus mengorbankan tubuhku.” Eleanor terduduk di tepi ranjang. Tubuhnya mulai bergetar, dan air matanya turun membasahi. Ia menangisi betapa sial nasibnya. Sudah dijadikan jaminan, sekarang harus terjebak dalam masalah yang jauh lebih rumit. Ayahnya yang memiliki hutang, tapi ia yang harus berkorban. Eleanor mulai berandai-andai. Jika saja ibunya masih hidup, mungkin ia tidak akan sampai seperti ini. Tapi mengingat sang ayah tak pernah berlaku kasar dan selalu memberikan semuanya, tentu ia menyayanginya juga. Walau sangat disayangkan, hidupnya harus dikorbankan saat ini. “Aku tidak akan sampai hati membiarkan para mafia itu menghabisi ayah. T—tapi, kenapa syarat yang diajukan oleh tuan Kenzo sangat berat?” Eleanor bukan hanya khawatir pada dirinya sendiri, jika ia mengiyakan dan melakukan kesepakatan tersebut dengan sang tuan. Tapi ia juga mengkhawatirkan sang nyonya, yang akan menjadi korban nantinya. Sumpah demi Tuhan, Eleanor tidak ingin menyakiti hati siapapun. Bagaimana mungkin, ia menjadi penghangat ranjang dari pria yang memiliki istri sebaik Florencia? Eleanor merasa berdosa besar jika itu sampai terjadi. “Bagaimana—” ucapannya terpotong, saat tak sengaja melirik ponselnya yang menyala akibat munculnya sebuah pesan baru. Puan itu segera meraih dan membukanya. Sudah dapat dipastikan jika yang menghubunginya pasti sang ibu tiri. Dan benar saja, ibu tirinya itu mengirim pesan yang berisi sebuah tekanan. Ya, Eleanor ditekan untuk bisa membujuk dan berhasil mendapatkan bantuan dari Kenzo. Demi apapun, Eleanor semakin gelisah karena hal itu. Ditambah lagi, sang ibu tiri turut mengirim sebuah pesan forward yang menunjukkan sebuah ancaman. Beberapa foto sang ayah yang sudah babak belur, wajah dan sekujur tubuhnya yang penuh dengan luka. Bahkan nampak darah segar menghiasi pelipisnya. Entah separah apa sang ayah diperlakukan di tempat terkutuk itu. Rasa khawatir dan ketakutan akan kehilangan semakin menggerogoti Eleanor. Walau sang ayah tega menjadikannya sebagai seorang jaminan, tapi Eleanor tidak dapat tutup mata atas segala yang sudah dilakukan oleh ayahnya. “Ini tidak bisa dibiarkan lagi! Tapi...” Eleanor agak sedikit meragu, sebab tidak bisa membayangkan jika ia harus menjadi seorang pemuas. Eleanor meremas lututnya sendiri sembari menahan rasa sesak yang hinggap di hati. Dengan segala tekad yang kuat, dan menekan segala perasaan menyesakkan, Eleanor akhirnya memutuskan untuk melakukan kesepakatan dengan sang tuan, Kenzo Roderick Veit. “Ini demi ayah. Ya, hanya demi ayah!” +++ Kenzo masih berjibaku di dalam ruang kerjanya. Ponsel pria itu terus saja berdering tanpa henti. Lalu disusul dengan banyaknya pesan dari personal asistennya, Hans. Kenzo terlihat acuh, sebab sudah mengetahui apa saja yang tengah dilaporkan oleh Hans padanya. Segala sesuatunya sudah Kenzo ketahui. Sisi gelap yang sering dibicarakan oleh satu atau dua orang pelayan juga sudah Kenzo ketahui. Dan itu semua berhasil membuat emosi Kenzo semakin melonjak dahsyat. Pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang terdekatnya sangat menyakiti hati. Akan tetapi, Kenzo memilih untuk memendam amarah dan emosinya terlebih dahulu. Menutup rapat-rapat apa yang sudah ia ketahui, agar mendapatkan informasi lebih dalam lagi. Sebab Kenzo yakin sekali, ada hal lain lagi yang mungkin akan jauh lebih mengagetkannya. “Tuan Kenzo..." Sang pemilik nama menaikkan pandangannya pada pintu ruangan yang sedikit terbuka. Di sana, Eleanor berdiri di antara celah pintu yang terbuka sedikit. “Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Tuan." lanjut Eleanor, saat tak ada jawaban apapun dari mulut pria itu. “Oh, apa kau sudah memutuskan jawabannya?" tanya Kenzo. Belum juga Eleanor menjawab, Kenzo sudah lebih dulu melanjutkan ucapannya. “Masuk, Eleanor. Dan tutup pintunya!” Eleanor buru-buru masuk ke dalam dan segera menutup pintu ruangan tersebut. Puan itu berbalik badan dan terkejut saat mendapati sang tuan tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakangnya. Entah secepat apa pria itu berjalan mendekatinya barusan?! “Aku kira kau akan datang menemuiku besok pagi, tapi ternyata secepat ini kau kembali menemuiku. Kenapa, Eleanor? Apa benar-benar sudah buntu dan bingung untuk mencari bantuan?” “Tuan—” “Harusnya memang begitu kan?" sela Kenzo. “Seperti yang sudah kau katakan sebelumnya, jika hanya aku saja yang bisa membantumu. Mana ada orang yang mau membantumu untuk menyelamatkan ayahmu dari kelompok mafia itu? Mengeluarkan uang secara cuma-cuma hanya untukmu? Bagus kau datang padaku, dan aku menawarkan timbal balik yang sangat mudah." Kenzo menyelipkan anakan rambut puan itu ke belakang telinganya. Tindakannya itu tentu saja membuat Eleanor sedikit terkejut, namun puan itu hanya mampu menahan diri dengan meremas-remas jari-jemarinya sendiri. “Jadi, apa keputusanmu?" tanya Kenzo, memastikan jika datangnya puan itu padanya saat ini untuk menyetujui kesepakatan yang sebelumnya. Dengan segala tekadnya yang sudah bulat, Eleanor memantapkan hati dan memasrahkan diri demi sang ayah. Nasib sial ini memang terlalu menyakitkan. Tapi demi nyawa seseorang yang sudah membesarkan dan apa saja untuknya, bukankah ia harus membalasnya? “Saya menerima dan bersedia melakukan apa saja yang Tuan Kenzo katakan, serta inginkan. Saya, Eleanor Roosevelt, menyetujui kesepakatan yang sudah dibahas sebelumnya. S—saya, bersedia menjadi pemuas Anda, Tuan Kenzo!” Kenzo terlihat biasa saja, saat mendengar ucapan lantang dari Eleanor. Entah senang atau tidak, benar-benar tidak mampu untuk ditebak. “Besok pagi datang temui aku di sini. Kesepakatan ini harus dilandasi hitam di atas putih. Aku tidak mau sampai kau tipu," Eleanor mengangguk. “Saya juga tidak mungkin berani untuk menipu orang seperti Anda, Tuan Kenzo." “Bagus jika kau sadar diri. Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Besok, kita selesaikan semuanya.” Eleanor kembali mengangguk, lalu bergegas untuk keluar dari sana. Namun, tiba-tiba saja pergelangan tangannya ditahan oleh sang tuan. Hal itu tentu saja membuat Eleanor menoleh dengan raut wajah terkejut. “Jangan kunci kamarmu! Aku akan menyusulmu setelah ini." Setelah mengatakannya, Kenzo langsung melepaskan pergelangan tangan Eleanor, lalu kembali ke tempat duduknya. Membiarkan Eleanor keluar dari ruangannya begitu saja. Jangan ditanya seperti apa jantung Eleanor saat ini. Tentu saja berdetak kencang dan sulit untuk dikendalikan. Wajahnya benar-benar memerah dan tegang sekali. Pikirannya langsung lari kemana-mana, mengingat pesan terakhir dari sang tuan barusan. Sementara itu, Kenzo memeriksa ponselnya terlebih dahulu sebelum meninggalkan ruang kerjanya. Ia mendapati beberapa pesan masuk dari sang istri, yang mengatakan bahwa ia akan menginap di luar. Raut wajah Kenzo seketika berubah menjadi penuh dengan emosi dan amarah. Dan ini bukan karena tidak mengizinkan istrinya untuk menginap, melainkan alasan yang diberikan oleh istrinya itu. “Kau kembali membohongiku, Florencia! Kau pikir, kau saja yang bisa bersenang-senang bersama dengan orang lain? Kita lihat, siapa yang akan mengemis-ngemis nantinya. Kau lah yang lebih dulu berkhianat!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD