Anisa kembali duduk di teras Ceria setelah menerima pesan dari Mang Joko. Katanya, sopirnya itu akan sedikit terlambat menjemput karena jalanan sedang macet parah. Maklum, jam pulang kantor. Suasana kantor mulai sepi, karena itu Anisa agak waswas ketika seorang lelaki paruh baya berbadan tinggi besar menghampirinya. "Kamu Anisa, kan?" tanya lelaki itu sambil tersenyum ramah. Anisa lekas berdiri untuk jaga-jaga. "Maaf, Bapak siapa?" Lelaki paruh baya itu mengulurkan tangan. "Saya Roni, ayahnya Elang." Anisa terkesiap. Pantas saja dia merasa tidak asing. Dia langsung menyambut uluran tangan ayah mertuanya itu. "Duh, maaf, Pak, saya benar-benar nggak tahu." Roni terkekeh untuk meredakan kecanggungan menantunya. "Nggak apa-apa. Bukan salah kamu, kok, tapi salah anak saya karena tidak men

