Six

1853 Words
Mercy I'm still alive, but I'm hardly breathing.  Just prayin' to a god that I don't believe in. 'Cause I got time, while she got freedom. 'Cause when a heart breaks no it don't break even. Ya, aku masih hidup, meski Sergio memutuskanku. Aku percaya kalau Tuhan itu memang ada, dan Tuhan pasti tahu kalau aku sedang menderita karena ditinggal oleh lelaki yang amat kucintai. Walaupun aku benar-benar memiliki waktu yang amat sedikit dengan Sergio, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan betapa kelakuannya itu menyakitiku. Her best days will some of my worst. She finally met a man that's gonna put her first.  While I'm wide awake, she's no trouble sleeping. 'Cause when a heart breaks no it don't break even, even, no. Seminggu berlalu sejak Sergio melakukan itu. Aku masih melihatnya tertawa beberapa kali saat melewati departemen obgyn. Pastinya perempuan yang dia temui itu adalah perempuan yang tidak sesibuk aku, perempuan yang akan meletakkan dia dulu ketimbang semua pasien-pasiennya. Dan pastinya, Sergio takkan pernah tahu betapa sulitnya untukku tidur karena dia telah menghancurkanku. Begitu lagu yang kuputar di ruang istirahat residen itu mencapai refreinnya, aku dengan semangat kesedihan para veteran patah hati, aku menyanyikannya: "What am I supposed to do when the best part of me was always you and, what am I supposed to say when I'm all choked up and you're okay? I'm falling to pieces! Yeah, I'm falling to pieces!" "Temen lo udah gila, ya?" Tanya Dea, kepada Heru. "Temen gue? Emang lo bukan temennya juga?" tanya Heru balik. "Ron, lo bantuin dong. Lo kalo putus kan nggak segila ini. Cepet move on." "Orang-orang itu punya waktu yang berbeda-beda untuk move on," kata Roni. "Gue gampang move on karena gue deketin cewek nggak sampe sebulan, dan jadian pasti dibawah satu tahun. Kalo Mercy... Naksir sama Si b*****t Sergio udah dari awal kuliah kedokteran, jadian satu setengah tahun. Lo pikir gampang move onnya kalau lo sendiri yang ngejar-ngejar, lo yang nembak—dan sialannya lo yang diputusin?" Kita berempat sudah selesai berjaga hari ini. Tidak ada jaga malam, tidak ada pasien yang kutangani di UGD tadi yang belum pulang. Makanya kami berempat bisa berada di ruang istirahat residen ini lebih lama. Speaker yang ada di sana kupasang keras-keras untuk mendukung suasana hatiku yang sedang sedih. "Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia.... Hapuskan memoriku tentangnya. Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia.... Ku ingin lupakannya...." Aku kembali menyanyikan kidung galauku yang lainnya setelah lagu The Script tadi selesai. "Haruskah ku mati karena mu, terkubur dalam kesedihan... sepanjang waktu..." "Mercy," panggil Dea miris. Aku tahu, aku menyedihkan. Aku juga mendengar semua ucapan mereka tadi. Tapi biarkan aku begini dulu. Aku belum puas menangisi diriku sendiri yang sudah—seperti Roni katakan tadi. Aku yang kejar-kejar Sergio, aku yang selalu mengejarnya. Aku yang tembak dia tiga kali. Tiga kali aku tembak dia sebelum akhirnya dia terima aku dan pacaran sama aku. Satu setengah tahun. Lalu? Aku diputusin karena dia tidur sama perempuan lain! "Mercy," panggil Roni setelah Dea gagal memanggilku. Aku tetap tidak menggubrisnya. "Marceline!" seru Heru kali ini. Heru menghampiriku, dan dia menangkup wajahku, untuk melihat hanya kepadanya. "Apaan sih, Her!" aku melawannya, dengan melepaskan kedua tangannya yang memegang pipiku tadi. "Cintaku tak harus.... Miliki dirimuuu~" Heru kembali menangkup wajahku, dan mengarahkannya kepada wajahnya sekali lagi. "Marceline Irena. Dengerin gue!" Mau tak mau aku harus melihat Heru. Dia menahan posisi ini cukup kuat sampai-sampai aku tidak melepaskannya. "He doesn't worth you. Dia selingkuh, dia tidur sama cewek lain, dan lo masih tangisin dia? Lo yang g****k kalau gitu!" Aku merasakan mataku panas. Oh, Tuhan aku nggak mau nangis lagi. "Mey, dia nggak pantes buat lo tangisin. Kalaupun ada yang harus lo tangisin, bukanlah dia, tapi diri lo sendiri yang udah memujanya berlebihan sampai-sampai dia selingkuh dan memilih cewek lain." Ucapan Heru selanjutnya malah membuat mataku berair, dan dalam satu kedipan, pipiku langsung basah. Kalian tahu selanjutnya yang terjadi? Aku menangis. Teman-temanku sudah melihatku menangis berhari-hari. Terutama Heru. Setiap kali ada kesempatan melamun, aku langsung menggunakannya untuk menangis. Tapi bedanya, hari ini ketika aku menangis aku tidak sendirian. Ada Dea, Roni dan Heru yang menemaniku. Kalaupun aku menangis di rumah, Oma pasti akan mengomeliku habis-habisan dan Sergio pasti akan dimakunya. Heru memelukku, dan aku merasa tenang. Dia membiarkanku memeluknya, menangis di bajunya, bahkan membuat ingusku juga. Dia tidak keberatan aku melakukan semua hal itu kepadanya, bahkan membuatnya harus membersihkan itu sendiri. "Feeling better?" Tanya Heru. "Sedikit." Dea dan Roni tersenyum melihat kami berdua. Tak lama, mereka berdua pun ikut memelukku. Kami berempat saling berpelukan seperti teletubbies. Dari dulu, kami memang seperti ini. Terserah orang lain mau berpikiran seperti apa, tapi yang jelas kami berempat akan berpelukan untuk menandakan kalau semua hal akan baik-baik saja. --- Aku mungkin nggak semudah itu untuk memutuskan sudah move on dan melupakan Sergio. Gimanapun juga, aku tetap cinta sama Sergio walaupun dia udah hamilin perempuan lain. Plak! Ngomong apa sih aku barusan?! "Dokter Mercy," panggil salah seorang perawat UGD, "Dokter dicariin sama Dokter Dhani tuh di ruangannya." Aku melengos. Di cariin dokter Dhani di ruangannya? Bukannya ini baru lewat satu minggu dari hukuman yang dia kasih? "Ngapain Sus?" tanyaku. Perawat itu mengedikkan bahunya. "Saya cuma diminta buat panggil Dokter Mercy aja." Aku mengangguk paham. Setelah itu aku pamit ke dokter yang berjaga di UGD untuk ke ruangan Dokter Dhani sebentar. Aku sebenarnya bete juga harus ketemu manusia ini. Dia pasti ngomel-ngomel nggak jelas. Mungkin laporan-laporan yang kuberikan kepadanya bener-bener jelek banget sampai dia mau menemuiku secara langsung begini? dr. Dhani Dharmawan, Sp. B. Aku memastikan ruangan itu adalah ruangan milik Dokter Dhani, bukan ruangan dokter lainnya sebelum masuk. Aku mengetuknya dua kali, lalu mendengar suara Si Pemilik Ruangan itu menyaut dari dalam, "Masuk!" Sesuai perintahnya, aku pun masuk ke dalam. Aku melihatnya sedang duduk di kursinya seperti biasa. Raut wajahnya tak menentu, entah sedang membaca apa. Namun dugaanku, pasti rekam medis seseorang. "Oke, jadi saya denger kamu baru putus sama Sergio ya?" tanyanya. Aku memiringkan kepalaku, karena bingung. Ini orang nggak biasanya mau tahu urusan kehidupan orang lain. Apalagi kehidupan residen bedah yang paling tidak disukainya. "Kalau kamu memang udah putus sama Sergio, berarti kamu bisa fokus sama laporan-laporan ini dong?" tanyanya, sambil menunjuk pada tumpukkan laporan pasien keluar. Ada empat tumpukkan, dan dia menunjuk yang dinamai milikku. "Saya udah baca semua laporan yang kamu buat." Aku tahu aku akan diomeli lagi. "It's impressive." Tuh kan apa ku bil—tunggu dulu. Dia bilang impressive? Bukan horrible?! "Kalau dengan kamu putus cinta bisa bikin laporan pasien sebagus ini, dan performa kamu meningkat, lebih baik kamu putus cinta aja terus!" serunya dengan senyuman riang yang mengembang. "Dokter lagi ngejek saya?" tanyaku. Dokter Dhani menggeleng. "Saya justru lagi puji kamu." Aku menyipitkan mataku memandang Dokter Dhani dengan penuh kecurigaan. "Kamu nggak percaya?" tanyanya. "Mungkin saya memang galak sama residen-residen saya. Saya memang nggak sebaik Reny, Yogi atau Freda sebagai konsulen. Tapi kalau saya bilang bagus ya bagus. Saya bilang jelek ya jelek. Yang mau saya bilang, kamu itu bukannya nggak bakat, tapi kamu selama ini menutupinya dibalik kehebatan pacarmu—mantan pacarmu maksudnya." Aku berusaha tersenyum meski sulit. Mataku masih sembap karena kebanyakan menagis. "Cewek yang dia selingkuhin juga nggak lebih hebat dari kamu kok." "Nggak lebih hebat dari saya?" Dokter Dhani mengangguk. "Mantan istri saya masih lebih bagus dari pada dia." Aku cengok. Oke, aku tahu Dokter Dhani pernah menikah, dan dia bercerai karena istrinya selingkuh dengan sahabatnya. Tapi aku nggak tahu cerita lainnya. "Ella itu mantan istri saya," katanya sambil tertawa. Oke, ini pertama kalinya aku melihat Dokter Scalpel berdarah dingin itu tertawa. Biasanya dia cuma ngamuk aja dia bisanya. Tunggu, tadi dia bilang Ella? Dokter Ella ahli anestesi itu?! "Dia selingkuh sama sahabat saya. Tapi ya udah, saya bisa apa?" Dia masih tertawa geli sendiri karena ceritanya. "Kamu mau tahu siapa perempuan yang dihamili sama Sergio?" "Dokter Ella?" tebakku. "Kan saya udah bilang nggak lebih cantik dari Ella." "Terus siapa Dok?" --- Andrew "Terminologi orang, tidak sertamerta kalian artikan sebagai orang-perorangan. Kalian ini bukan masyarakat awam, kalian mahasiswa hukum!" seruku di dalam kelas hukum perdata. "Saya sudah bilang sejak awal perkuliahan. Di dalam hukum perdata hanya ada dua subjek hukum! Pertama, manusia dan kedua badan hukum!" Maaf kalian harus mendapati aku mengomeli mahasiswaku di kelas. "Kalian bilang orang, kalian mengerti apa bedanya orang dengan manusia?" tanyaku. "Masyarakat awam pasti bilang nggak ada bedanya. Mereka bilang sama saja. In law, we only know nature-person and legal person! Orang yang secara naturnya adalah orang, dan orang hukum yang dinyatakan sebagai orang." Aku mengacak-acak rambutku karena kesal. "Kalian ini kuliah hukum udah berapa lama sih? Hal dasar kayak gini aja nggak ngerti?! Sekarang kalian ulangi tugas ini lagi saya tunggu besok pagi di ruangan saya!" Aku meninggalkan ruang kelas itu tanpa menunggu mahasiswaku bertanya apa-apa lagi. Terkadang aku heran. Apa saja sih yang mereka lakukan di dalam kelas sampai-sampai bisa melupakan hal yang sangat mendasar seperti itu? "Galak amat Bapak Dosen yang satu ini," ledek William yang sudah berada di depan pintu ruanganku. "Lo juga ngapain jadi ngikutin gue ngajar?" tanyaku. "Lo mau jadi dosen juga?" "Kalo ada lowongan lagi, kabarin ya biar gue daftar," sahutnya riang. Duh, salah kayaknya nanya begitu ke dia. "Kampus ini terima dosen yang S2-nya di dalam negeri kan?" "Terserah lo. Daftar aja kalo mau," kataku jengah. Aku masuk ke dalam ruanganku, dan duduk di kursi putar. Hari ini jam mengajarku sudah selesai, tapi masih ada pekerjaan lain di luar sana. Aku ada mediasi kasus perceraian, dan aku juga sudah berjanji untuk datang ke Rumah Sakit Effendi lagi hari ini. "Drew, terima lowongan asisten nggak?" tanyanya. Aku mengembuskan napas kasar. "Lo bisa cari duit sendiri, Will. Ngapain sampe harus minta kerjaan ke gue sih?" balasku. Aku membereskan barang-barangku, untuk ku bawa pergi. Tapi tak lama aku pun jadi memperhitungkan ucapan William yang tadi mengajukan diri sebagai asistenku. "Lo mau jadi asisten gue?" William mengangguk semangat. "Ya udah. Kalau gue lagi butuh banget—kayak saat ini—gue minta tolong sama lo buat jadi asisten gue." Dia langsung berhambur memelukku. "Makasih banget Bro!!" "Will gue masih normal!" Aku berusaha melepaskan pelukannya yang tambah erat kepadaku itu. "Woi Hanoman! Lepasin gue!" William pun melepaskan pelukannya. "Maap, kelepasan tadi." --- Aku berhasil menangani mediasi alot tadi. Iya, bagaimana tidak? Suaminya selingkuh dengan sekretaris istrinya sendiri. Sedangkan suaminya hanya tinggal di rumah tanpa bekerja, dan istrinya yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Oh, jangan lupakan anak. Mereka memiliki dua orang anak yang sudah memasuki kelas lima dan tiga SD. William di dalam ruang mediasi hanya menguap, dan mencatat. Aku tidak mengerti bagaimana caranya bisa menangani klien-kliennya di luar sana kalau kelakuannya sendiri begini saat menjadi asistenku. Sore ini aku ke Rumah Sakit Effendi tentunya untuk membahas lebih lanjut mengenai masalah konyol tempo hari. Mungkin buat mereka ini genting, tapi buatku ini konyol. Masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan mudah, malah jadi kacau karena kesalahan William memberitahukan surat wasiat itu. "Oke, jadi Jason dan aku sudah memutuskannya, Drew," kata Dokter Abby. "Baguslah," aku tersenyum sebagai refleksi turut senang dengan berhasilnya klienku membuat keputusan. Bagus bukan? "Baiklah, mari kita dengarkan apa yang menjadi keputusan kalian." Dokter Abby tersenyum bangga sambil mengatakannya. "Kita mau mengadakan kompetisi di rumah sakit ini untuk menjadi direktur utama, dengan kriteria yang sudah kami tentukan." Ah, adalah hal yang baik. Aku melihat kriteria-kriteria yang diberikan Dokter Abby kepadaku. Rata-rata kriteria standard, seperti dokter umum, batas usia, keahlian, dan... tunggu dulu. Apa hal ini disebut sebagai kriteria juga? "Yang terpenting, meski kriteria itu telah terpenuhi, dia harus mendapat persetujuan Mercy untuk menjadi suaminya," lanjut Dokter Abby sebelum aku berhasil mengatakannya. "Aku belum mengatakan ini kepada Mercy, tapi aku ingin kalian berdua, sebagai legal consultant, menjadi juri untuk dokter-dokter yang akan mengajukan diri sebagai direktur utama." Aduh... mampuslah aku. Harusnya aku berpikir beberapa kali dulu sebelum mengiyakan permohonan Dokter Abby untuk menjadi konsultan hukum rumah sakitnya. Bisa-bisa aku yang malah kena masalah sendiri. "Andrew, kamu bisa bantu tolong bilang ke Mercy kan?" Bilang ke Mercy? Nenek ini udah gila apa ya?! 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD