Five

1518 Words
Andrew Sepeninggal ruangan itu, tak henti-hentinya aku mengutuk Hanoman di sebelahku yang telah membawa nasib seorang perempuan jadi kacau hari ini. Bukannya apa-apa, aku tahu wasiat juga merupakan sumber hukum, tapi orang ini nggak bisa mikirin perasaan orang lainkah? "Gue nyesel ngajak lo ke sini," kataku. "Lah gue seneng diajak lo. Pagi-pagi udah ditraktir makan sama Pak Dok dan Bu Dok," jawabnya. Memang tadi di ruangan itu Dokter Abby dan Dokter Jason menjamu kami dengan sarapan kecil. Tapi Hanoman ini malah nggak tahu diri. Makannya banyak banget. "Gue juga seneng jadi bisa ngeliat banyak dokter-dokter sama suster-suster cantik" "Lain kali gue sendirian aja kalo ke sini," balasku. "Nggak bisa gitu dong... gue udah lo sebut sebagai asisten kan tadi?" "Lagian jadwal sidang lo banyak!" "Bentar lagi semuanya juga kelar. Tinggal ketok palu..." "Terserahlah!" Aku menyerah pada akhirnya. Emang susah ngomong sama orang susah ya. Nggak bisa diajak mikir! Aku dan William turun ke lantai bawah. Iya, kami berencana balik ke kantor sebelum aku harus mengajar di kampus. Ah, aku mengajar beberapa mata kuliah di Philantrophy University. Meski bukan lulusan universitas itu, tapi sewaktu aku lihat ada pendaftaran dosen baru aku mencobanya. Luckily, I got accepted! Jadilah saat ini aku sebagai 'Pak Dosen.' "Ngomong-ngomong kalo ada mahasiswi yang cantik di kampus nanti kabarin gue ya? Biar bisa gas poll gue," kata William. "Siapa tahu aja jodoh sama gue yekan?" "Semua cewek juga lo bilang 'siapa tahu jodoh sama gue' padahal ujung-ujungnya lo yang cari-cari cewek lain di luar sana!" balasku jengkel. "Andrew?" panggil sebuah suara tinggi. Aku menoleh mencari arah suara perempuan yang memanggilku. Begitu aku menoleh, perempuan itu tersenyum senang. "Ah, astaga! Beneran Andrew dong!!" perempuan itu langsung memelukku. "It's been so long, long, long time!!! Dan lo masih tetep ganteng aja, Drew." Biar aku kenalkan. Perempuan ini adalah Charity Emmanuela-panggilannya Ella. Namanya rohani banget ya? Tapi jangan tanya kelakuannya. Dia pernah menikah, terus selingkuh sama sahabat suaminya, dan sekarang dia janda. Tapi percayalah, wajahnya tidak akan menunjukkan bahwa dia adalah seorang janda. Singkatnya, dia terlalu cantik untuk menjadi seorang janda. "Hai, La," sapaku sambil memeluknya. Iya, aku memeluknya. Bagaimanapun juga, dia sahabatku. Di luar semua tingkah gilanya. "Ini William kan?" tanyanya sambil menoleh William. "Masih sama ya kayak dulu juga." Aku malah terkekeh mendengar ucapan Ella. William mungkin nggak tahu apa yang Ella katakan, intinya Ella pernah mengatakan ini kurang lebih: "tinggi nggak, putih nggak, cakep nggak. Tapi hobinya deketin cewek mulu?! Heran gue masih ada yang mau sama Hanoman to-be kayak dia!" Pastinya, William bakal kaget kalau denger itu. "Permisi Dok," panggil dokter lain di samping Ella. Aku melihatnya, dia Marceline-perempuan yang menabrakku. Ella mengangguk pertanda mendengar. "Saya diminta Dokter Laura untuk hubungi Dokter. Ada yang perlu anestesi lokal di UGD." Tanpa banyak tingkah lagi, Ella langsung menuju UGD, dan meninggalkan aku, William sama Marceline di sini. Aku memerhatikan perempuan di hadapanku ini. Rambutnya lepek, sepertinya belum keramas. "Anda yang tadi tabrak saya kan?" tanyaku. Marceline langsung membulatkan matanya, terkejut karena aku mengingatnya. "Anda yang tadi ceramahin saya nggak jelas itu kan?" Aku tertawa renyah mendengar ucapannya yang mengejutkan itu. "Andrew. Senang berkenalan denganmu." Aku menjulurkan tanganku kepadanya. Dia membalasnya, dan tersenyum, "Marceline Irena. Biasa dipanggil Mercy." Oh, jadi huruf 'I' di namanya adalah Irena. "Mercy! Cepetan ke UGD! Ada kecelakaan!" Seru salah satu perawat dari arah belakang Mercy. Seruan itu berhasil membuat Mercy terkejut. Dia buru-buru melepaskan tangannya dari jabatan tanganku, kemudian pamit. "Maaf, saya harus pergi dulu. Senang berkenalan dengan Anda juga, Andrew." Aku mengangguk, dan Mercy sudah menghilang di balik ramainya perawat yang menuju UGD. "Itu baru jodoh gue!" seru William. "Jodoh yang mana?" "Noh, yang barusan salaman sama lau!" Aku berdecak heran. "Gue cuma bakal bilang ini satu kali, jadi dengerin ya," kataku padanya. "Pertama, lo aja nggak kenalan sama dia. Kedua, dia nggak kenal sama lo. Ketiga, kalaupun dia kenal sama lo pasti dia nggak akan mau sama Hanoman modelan kayak lo. Keempat, dia pasti udah punya pacar, dan kelima, dia cucunya Dokter Abby dan Dokter Jason." William terlihat kaget saat aku mengatakan kalimat terakhirku. Apalagi, saat mendengar aku menyebut 'cucunya Dokter Abby dan Dokter Jason.' "Yuk cabut. Gue harus ngajar!" seruku. --- Mercy "Mey, makan mulu kerjaan lo," komen Heru. "Berapa pasien yang udah lo kelarin?" Aku tidak memedulikan Heru yang berkomentar. Sekarang sudah jam empat sore, dan aku sudah menangani sepuluh pasien. Aku belum dapat jatah makan sama sekali dari tadi. Jadi, bisakah seseorang me-lakban mulut Heru yang menyebalkan itu?! "Oh iya, Dokter Laura minta sekalian jaga malem," kata Heru. "Jaga malam?" ulangku. "Jaga malam itu cuma buat co-ass!" Aku menarik mie instan cup itu panjang-panjang. Rasa kari yang kumakan hari ini rasanya sangat nikmat. Mungkin karena aku belum mendapatkan jatah makan siang? "Bilang sama Dokter Laura di dalam protokol nggak ada ceritanya residen jaga malem!" "Residen mana yang bisa mengatur konsulennya?" Aku tersedak begitu mendengar suara Dokter Laura yang begitu lantang, mengejutkanku. "Dokter?" "Iya, ini Dokter Laura." "Dok-" "Pantesan Dhani menghukummu di UGD lagi. Kamu udah lupa sama sumpah dokter yang kamu ucapkan dulu?" tanya Dokter Laura. Aku tidak berani berkomentar lagi. Sambil mendengarnya berceramah panjang-lebar tentang sumpah dokter-lagi-aku mengunyah sisa mie yang masih ada dalam mulutku. "Aku kira, kamu belum setua itu untuk melupakannya. Setidaknya, kamu harus ingat betapa pentingnya hidup dan nyawa orang lain di atas kepentingan urusan pribadimu! Apa kamu lupa itu?" Aku masih mengunyah makananku. "JAWAB MARCELINE!" Serunya lantang. Aku berusaha susah payah menelan semua sisa makananku yang di mulut. "Siap, tidak Dok!" "Kalau begitu habiskan makananmu dan baliklah ke UGD," ucapnya sebelum meninggalkan ruangan istirahat residen. Heru terkekeh pelan karena aku berhasil kena semprot lagi dari Dokter Laura. Kalau dihitung-hitung aku sudah kena berapa banyak jackpot hari ini? "Mau mie juga?" tanyaku lemas, menawari Heru yang masih terkekeh. "Ada rasa apa aja?" "Soto, kari, ayam bawang?" aku menyebut satu per satu sisa cup mie instan yang ada di dalam lokerku. "Soto satu," katanya. Aku mengambilkannya satu cup dan memberikannya kepada Heru. Dia segera menyeduh mie itu. "Lo tahu Mey?" "Hm?" "Kadang gue menyesal juga ikut PPDS ini." Aku memandangnya skeptis. "Bukannya lo yang paling semangat buat PPDS lagi? Sampe melas-melas ke Dokter Laura buat bikini surat rekomendasi yang paling bagus?" "Iya... Dulu gue capek banget harus jaga malem empat kali seminggu," balasnya, "Makanya gue pikir kalau ue PPDS mungkin beban jaga malam nggak akan sehebat dulu. Rupanya gue salah." Aku mulai terkekeh mendengar cerita Heru yang cukup miris karena pikirannya yang terlalu optimis. "Jadi residen malah disuruh ngerjain ini, ngerjain itu. Konsulen mintanya apa, harus diturutin, residen senior yang galak dan nyuruh kita buat seduhin mie buat mereka, atau beli kopi hal-hal konyol lainnya. It's exhausted." Aku manggut-manggut menyetujui pendapat Heru barusan. Aku sudah menghabiskan makananku. Aku membereskan semua laporan pasien yang sudah ku selesaikan sejak sebelum aku makan tadi untuk aku taruh di dalam loker. Aku memakai snelli-ku lagi dan bergegas meninggalkan ruangan ini. Ah, sebelum keluar, aku jadi teringat satu hal. "Heru," panggilku. Manusia yang dipanggil pun ikut menoleh ke arahku. "At least, we did our best. Kita udah melakukan yang terbaik dari kita buat kuliah lagi, kan?" Heru menyunggingkan senyuman di wajahnya. "Gue duluan ya. Sebelum Mak Lampirnya UGD ngamuk lagi." --- Semalaman, aku mendapatkan banyak pasien. Mulai dari pasien yang serangan jantung, anak yang tangannya luka-luka karena main petasan, pasien dengan maag kronis, ada juga yang muntah-muntah. Snelli dan bajuku tentu menjadi korban. Tapi itu hal biasa. Aku mendapatkan vitaminku pagi ini. Sergio Romanos. Aku melihat dia menghampiriku ke UGD. Dia biasannya akan membawakan aku satu kotak yogurt minum dan buah-buahan. Oke, aku memang dokter, dan aku tahu makanan mana yang baik dan sehat untukku. Tapi, untuk buah-buahan dan yogurt bukanlah menu yang kusukai. Sergio hanya sering membelikannya untukku, dengan dalih, aku membutuhkannya karena terlalu sering makan makanan yang tidak sehat. "Hai," sapanya. Dia hari ini terlihat tampan, dan bersih. Maksudku, dia terlihat segar. Tidak seperti diriku yang kusut, rambut acak-acakan dan baru memejamkan mata selama sepuluh menit di balik meja jaga UGD. "I brought you this." Dia mengeluarkan satu kotak minuman yogurt rasa stroberi, dan mixed fruit. Persis seperti dugaanku. "Sehatnya pagi-pagi disamperin cowoknya," goda Heru. "Sialan lo," kataku. "Kita ngobrol sebentar di luar boleh?" tanya Sergio. "Hmm... ya boleh. Kenapa nggak?" balasku. "Her, titip bentar ya?" Heru mengangguk setuju. Aku pun segera mengekor Sergio di belakangnya. Kami berdua duduk di salah satu kursi yang ada di taman rumah sakit. Dia duduk di sebelah kanan, dan aku di sebelah kiri. Dia terlihat gelisah, tapi aku nggak tahu kenapa dia kelihatan begitu. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong yang ada di snelli. "Gi, mau ngomongin apa?" "Mey, kayaknya kita harus putus." Putus? Telepon putus gitu? "Putus apaan?" "We should end this up." "End?" ulangku nggak percaya. "Kamu sama aku udahan gitu maksudnya?" "I'm sorry..." Sergio hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali lemah, karena nggak tahu apa yang harus dilakukannya. "Jangan bilang kalau kamu mau memperbaiki semuanya, dan bisa berubah. Nggak ada yang perlu kamu ubah, Mey. Kamu baik, dan tulus." Aku tentu nggak bisa menerima kata 'putus' dari mulut Sergio yang sudah satu setengah tahun ini mengatakan cinta aku dan sayang aku kan? Pasti ada sesuatu kenapa dia tiba-tiba minta putus. Aku mencoba menelannya dengan senyuman. Toh, selama ini Sergio nggak pernah melihatku sedih. Dia cuma sering melihatku mengeluh dan senang. Hanya dua ekspresi itu saja. Aku pun menarik kedua sudut bibirku membentuk senyum-yang sebenarnya nggak ikhlas-untuk bertanya. "Kenapa kamu tiba-tiba minta putus?" Sergio memang cowok yang paling nggak bisa basa-basi dari dulu. Aku tahu itu. Tapi aku juga nggak nyangka dia bakalan sejujur ini untuk mengakui alasannya untuk putus padaku. Biar ku beritahu: alasannya adalah alasan yang paling dibenci oleh seluruh perempuan di muka bumi ini. "I cheat on you." Bukan itu bagian yang paling menyedihkannya. "I also slept with her. Now, she's probably pregnant with my baby." Sekarang, coba katakan padaku, hidup siapa yang paling menyedihkan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD