Four

1520 Words
Andrew. Aku melangkah masuk ke dalam Rumah Sakit Effendi yang sudah lama sekali tidak aku datangi sejak aku memutuskan untuk berhenti. Kali ini, aku datang lagi ke dalam rumah sakit ini atas panggilan klienku. Iya, kalian nggak salah, aku memiliki klien di sini. "Will," panggilku ke William. "Oit?" balas William. "Rumah sakit ini masih aja bau etanol," balasku. "Lah, elo sehat? Kalo mau bau kopi, gih ke Starbucks!" kata William jengkel. Aku tahu dia pasti jengkel karena aku mengganggu hari liburnya dari sidang. Oh ya, William memang pengacara yang sudah bolak-balik keluar-masuk ruang sidang. Kali ini, dia memang jadwal sidangnya penuh. Kasusnya yang hari Selasa adalah kasus pencemaran nama baik. Hari Rabunya, adalah kasus sengketa waris yang tidak kunjung selesai meski pewarisnya sudah meninggal lima tahun lalu. Kamis adalah harinya untuk sidang perkara penggelapan dana perusahaan. Jumatnya memang dia libur. Tapi hari ini harusnya dia menyiapkan berkas-berkas untuk sidang perkaranya besok, dan aku malah mengajaknya untuk ke rumah sakit ini guna bertemu klienku. Aku memintanya menemaniku agar ada temen aja sih sebenernya, apalagi kalau ke rumah sakit. "Gue beli kopi dulu ya Drew? Ngantuk parah nih!" Katanya sambil mengucek-ngucek matanya. "Nanti tingkat kegantengan gue menurun drastis dan kaum Hawa berteriak histeris karena pujaannya jadi jelek gimana?" "Halah, dari dulu juga lo emang jelek kali." "Lah iya ya? Nggak papa." William langsung membuka matanya lebar-lebar, sambil mengatakan kalimat pamungkasnya, "Muka boleh Hanoman, yang penting rejeki Arjuna!" Tuh kan. Dia ngomong itu lagi. Dari dulu semua cewek yang dideketin sama dia juga luluh lantak karena dianya aja yang jago gombal. Tapi, ceweknya juga sih yang hobinya digombalin sama Hanoman satu itu. Aku berdiri di depan lobby rumah sakit menunggu William yang sedang mengantre membeli kopi di salah satu coffee shop yang ada di dalam gedung rumah sakit tersebut. Aroma steril rumah sakit, dan sibuknya rumah sakit ini sudah lama tak kurasakan. Aku melihat banyak dokter yang memakai jas putih berlalu-lalang di sana. Perawat pun juga sibuk berjalan kesana-sini. Sampai aku memerhatikan ada seorang perempuan yang sedang berjalan lurus-lurus saja tanpa memerhatikan sekitarannya. Perempuan itu berjalan menunduk. Dia memasukkan tangannya ke dalam jas putihnya, rambutnya diikat habis ke belakang asal-asalan. Dia sepertinya sedang tidak sibuk, karena dari tempo jalannya tidak terlalu cepat. Ada stetoskop yang melingkar di lehernya. Dia berjalan semakin dekat, dan mengarah kepadaku. Dia menabrak bahu kananku—tepatnya, dahinyalah yang menabrak bahu kananku. Dia mendongak, melihatku. Aku menangkap sepasang mata coklat yang ekspresif. Dia memiliki kulit putih bersih, hidungnya tidak terlalu mancung, bibirnya merah tebal alami. Dia memiliki kesan wajah yang chubby, dan aku bisa tahu bahwa dia pasti sangat kurang tidur. Itu semua terlihat jelas dari kulit di sekitaran mata bawahnya yang menghitam. "Anda dokter?" tanyaku penasaran saja. Sebenarnya aku tahu dia adalah dokter. Mana mungkin perawat memakai jas putih berlengan panjang sepertinya? "Kalau Anda sendiri tidak waspada dengan orang-orang sekitar Anda bagaimana Anda bisa menangani orang lain?" "Maaf, saya tadi nggak lihat," balasnya. Aku memerhatikan ID card yang berada di sebelah kiri jasnya. dr. Marceline I. Effendi-Han. Residen Bedah. Rupanya residen spesialis bedah. Ah, dia pasti kenal sama Dhani. "Lain kali kalau jalan lihat-lihat. Siapa tahu orang yang Anda tabrak ternyata orang sakit gimana?" Aku sengaja mengomelinya. Mungkin kalau aku kasih tahu Dhani dia pasti ikut mengomelinya juga. "Kalau malah orangnya celaka gimana? Pupil matanya kian membesar, dia pun mengernyitkan dahinya. Ekspresi wajahnya saat ini tidak menyukai teguranku barusan. Aku tahu, dan aku memang sengaja kok melakukan itu. Mengganggu residen spesialis—apalagi residen spesialis bedah—adalah hal yang menyenangkan. "Iya Bapak, saya tahu. Saya ngerti. Makanya saya minta maaf karena tadi nggak sengaja nabrak Bapak," katanya akhirnya setelah memerlihatkan raut wajah kekesalan. Aku baru saja akan menambahkan ocehan lagi kepadanya, namun dia langsung mengambil alih, "Permisi, saya duluan. Saya harus ke UGD." Perempuan bernama Marceline tadi langsung hilang di balik kerumunan orang yang ada di lobby. Percayalah, dari pengamatanku walau hanya sekilas tentang Marceline tadi. Aku berani jamin kalau menjadi dokter bukanlah pilihan yang dia inginkan di dalam hidupnya. Apalagi menjadi seorang residen spesialis bedah. Raut wajah lelah, dan kesal terlihat dari ekspresinya tadi. Aku tahu bedanya seorang yang lelah karena dia menyukai pekerjaannya, dan seseorang yang melakukannya karena tidak dia sukai. "Yuk, Drew!" sahut William yang kini sudah memegang iced Americano di tangan kanannya. "Gue butuh kafein kenceng nih." "Espresso aja harusnya. Kenapa lo beli Americano? Dingin lagi!" "Espresso kalo dibuat dingin nggak enak. Gue pengen kafein yang nggak bikin lidah gue melepuh," balasnya. "Banyak alesan lu mah," kataku. "Yuk, ke atas. Klien gue ada di atas." "Emang siapa klien lo?" Aku tersenyum, "Dokter Jason Han, dan Dokter Abby Natania." --- Aku berada di ruang direktur utama Rumah Sakit Effendi. Mungkin kalian tidak tahu, tapi Rumah Sakit Effendi ini sudah ada sejak lama. Sejarahnya pun cukup panjang. Pendirinya, Joseph Effendi adalah dokter yang baik, dan memiliki anak perempuan bernama Abby Natania Effendi. Ya, salah satu klien gue adalah anak pendirinya. Tapi yang kita mau bahas bukan pendirinya. Toh, Joseph Effendi sudah meninggal tiga puluh tahun lalu. Sekarang, rumah sakit ini berada di tangan menantunya. Ya, sekali lagi aku membenarkan. Bukan anaknya, tapi menantunya. Dokter Abby Natania adalah dokter bedah plastik hebat sekaligus dia menghabiskan masa mudanya di UGD menjadi kepala departemen. Sedangkan suaminya, Dokter Jason Han adalah internis, subspesialis hematologi dan onkologi medik. Hebat-hebat bukan? Tentu saja. Mereka nggak mungkin memintaku untuk menjadi konsultan hukumnya kalau bukan orang hebat. Ya. Sekali lagi aku membenarkan. Aku sombong. William dan aku duduk di sofa yang tersedia, berhadapan langsung dengan kedua dokter yang sudah sangat sepuh di hadapan kami. Keduanya adalah orang hebat, aku tahu. "Sudah lama nggak kelihatan ya, Drew?" tanya Dokter Abby basa-basi. "Makin ganteng aja." "Dokter bisa aja," gurauku. "You deserve to be the chief resident of surgeon if you were—" Ucapan Dokter Jason kupotong langsung begitu Beliau hendak mengatakan tentang masa laluku. "Ah, tapi saya di sini untuk bertemu Dokter Jason dan Dokter Abby sebagai konsultan hukum. Saya yakin Dokter memiliki masalah genting yang sangat penting sehingga sampai memerlukan bantuan saya." "Kalaupun ada yang kami butuhkan sebenarnya kamu untuk menjadi ahli bedah hebat, dan duduk di kursi itu," tunjuk Dokter Abby kepada kursi yang berada di balik meja. Di atas meja itu tertulis jelas nama Dokter Jason dengan gelar dan jabatannya, sebagai Direkur Utama Rumah Sakit Effendi. "Tapi baiklah. You have your own choice to make. Dan kamu memilih untuk tidak menjadi ahli bedah." William menguap seketika. Melihat itu, aku langsung menyenggolnya. "Maaf Dok, asisten saya masih kurang tidur karena harus baca berkas perkara," kataku berharap Dokter Jason dan Dokter Abby dapat memakluminya. William tersenyum masam melihatku. Aku yakin dia nggak setuju dengan ucapanku. Dia mana sudi dibilang sebagai asistenku? "Baiklah, to make long story short," kata Dokter Jason untuk memulai, "We need a new director." Ucapan yang dilontarkan dari mulut beliau tentu membuatku terkejut. "Direktur baru?" ulangku tak yakin menggunakan bahasa Indonesia. Kalau-kalau aku tadi salah dengar. "Ya. Seorang direktur utama yang baru." Dokter Jason meletakkan kacamatanya di atas coffee table yang ada di depannya. "Andrew, apakah menurutmu aku dan Abby sanggup untuk bertahan dan melindungi rumah sakit ini lebih lama lagi? Maksudku, bukan pada porsi kami lagi untuk berada terus di rumah sakit ini. We are going to retire soon. Bahkan seharusnya kami sudah pension, Andrew. We don't have any candidate to replace our position!" Bagian itu aku tahu. Dokter Jason dan Dokter Abby telah lama mengontakku, bahkan sewaktu aku masih berada di Stanford. Mereka berdua terus menghubungiku, memintaku untuk menolong mereka. Aku tentu tidak akan bisa menjadi direktur utama rumah sakit ini. Tentu saja tidak. "Dan alasan kalian berdua meminta saya di sini untuk?" "Kami akan membuka seleksi terbuka di rumah sakit ini untuk menjadi direktur utama rumah sakit ini," ucap Dokter Abby. Tentunya aku terkejut. Maksudku, rumah sakit ini sudah turun-temurun dipersiapkan keluarga selanjutnya. "Kalau saja anak kami tidak meninggal, kami akan segera memberikannya kepadanya. Tapi kami tidak memiliki anak sama sekali," ucap Dokter Jason. "Tapi cucu kalian..." aku mengingat nama perempuan yang tadi menabrakku. Marceline. Dia pasti cucu dari Dokter Abby dan Dokter Jason. "Dia masih terlalu muda. Terlalu banyak hal yang tidak akan dia mengerti untuk memimpin rumah sakit ini. Meskipun dia telah lulus spesialisnya pun, aku tidak tidak dapat memercayainya," kata Dokter Abby, "Menjadi dokter mungkin memang cita-citanya dari kecil. Tapi menjadi direktur rumah sakit, bukanlah hal yang diinginkannya." Ah, I got the point here. "Dok, sesuai dengan anggaran dasar yang ada dan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Dokter Joseph untuk keberlangsungan Rumah Sakit Effendi," aku mengambil beberapa surat-surat penting dari tas yang dibawa-bawa oleh William tadi. "Yang terpenting adalah untuk memastikan Rumah Sakit Effendi tetap dipimpin oleh keturunan—dalam hal ini harus memiliki hubungan darah—secara langsung dengan Dokter Joseph." "Apanya yang hubungan darah!? Nggak ada yang punya hubungan darah lagi selain Mercy!" seru Dokter Abby dengan nada tinggi, "Maksudku, apa tidak ad acara lain?!" William membaca surat wasiat Dokter Joseph, sementara aku sudah memijit pelipisku. Aku tahu ada satu cara, namun aku tidak akan menganjurkan terakhir itu. Hal itu terlalu politik, dan akan banyak kecurangan. "Hmm, Dokter, di dalam surat wasiat ini juga tertulis kalau setidaknya hubungan dalam pernikahan dapat dibenarkan," kata William tiba-tiba. "Jadi, apabila keturunan dari Dokter Effendi menikah, dan pasangannya layak untuk menjadi direktur rumah sakit ini maka dapat diperbolehkan." Aku menghela napas panjang. Adalah suatu kesalahan fatal aku mengajak Hanoman ini ke sini. Iya, Hanoman! Nggak seharusnya aku membawa bocah ini ke sini. "Kalau begitu," Dokter Abby mulai memancarkan sinar ceria di matanya. "Kita bisa mencarikan Mercy pasangan yang sepadan." "Tapi dia punya Sergio, Abby!" "Hush!" Dokter Abby langsung memotongnya. "Kita bisa kan, Andrew?" Aku tersenyum pahit. Sudah kubilang bukan? Aku tidak akan mengatakan untuk menggunakan opsi terakhir ini atau sekedar menyarankan. Tidak akan. Kutuklah Hanoman sialan itu!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD