Three

1931 Words
Mercy. Hari Senin. Bisa aku skip aja dan lanjut ke hari Selasa aja nggak? Dari tujuh hari yang Tuhan berikan kepada manusia untuk jalani tiap minggunya, aku paling benci hari Senin dan Jumat. Kenapa? Tanyakanlah kepada anak-anak sekolah yang harus berangkat pagi-pagi biar nggak telat upacara pagi tiap Senin di sekolahnya. Semuanya pun sama. Tapi mereka pasti tidak punya masalah dengan hari Jumat. Justru, aku berani jamin mereka suka hari Jumat karena weekend. Dulu aku pun berada dalam posisi yang sama seperti mereka kok. Aku pernah sekolah juga selama dua belas tahun bangun pagi, bolak-balik ke sekolah belajar mata pelajaran yang membosankan dan aku nggak pahami efeknya dikemudian hari untuk apa. Sampai akhirnya aku ikut PPDS Bedah. Senin dan Jumat adalah neraka yang luar biasa untukku—dan sebagian besar residen bedah lainnya. Senin aku harus apel pagi ke Dokter Dhani bersama dengan tim bedahku, dan Jumat pun juga sama. Ingat kejadian aku disuruh cuci alat-alat operasi karena telat sampai ruangan beliau? Itu adalah apel Jumatku. Terkadang, aku mengutuk diriku yang manut-manut aja dan nggak bisa bilang nggak sama omongan Oma yang mengharuskan aku untuk ambil spesialis bedah. Tapi di sisi lain, aku juga nggak mau dibilang cuma berlindung dibalik kehebatan Oma, yang spesialis bedah plastik terkenal dan Opa, internis sekaligus direktur utama Rumah Sakit Effendi. Belum lagi kenyataaan pedih di mana Sergio mengambil obgyn. Setidaknya, karena Sergio mengambil stase besar untuk spesialisnya aku juga harus bisa sepertinya. Dari sekian stase besar yang kusukai sebenarnya nggak ada sih. Anak? No thank you, aku benci anak kecil karena mereka ribut dan sulit diatur. Penyakit dalam? Aku bukan orang yang telaten untuk sering-sering baca buku. Tidak, dan terima kasih. Obgyn? Berurusan banyak dengan cewek, dan ibu-ibu hamil di kemudian hari bukanlah hal yang kusenangi. Maksudku, sembilan puluh persen pasien yang akan kutangani kelak kalau obgyn pasti emak-emak. Pasti ribet, nyusahin dan banyak keluhannya. Apalagi kalo cerewet! Bedah? Terlalu rumit. Tapi buat Oma, pilihannya cuma bedah atau bedah atau bedah. "Jangan lupa pakai snelli!" seru Dea, "Gue nggak tanggung jawab kalo lo kena oceh Dokter Dhani lagi." "Sialan," balasku sambil mengambil snelli-ku yang ketinggalan di dalam loker ganti baju. "Tapi makasih udah ingetin gue." "Abang Sergio denger-denger jadi idolanya para suster obgyn?" Goda Dea, "Gue denger juga katanya dia lagi—" "Bisa dibahas nanti aja nggak De? Lima menit lagi telat nih," keluhku. "Woi, cepetan! Dokter Dhani udah di ruangannya!" Seru Roni dari balik pintu kamar ganti baju perempuan. "Tahu... lu berdua ngapain lagi sih?!" Tambah Heru. Aku dan Dea buru-buru membereskan tas kami. Tidak lupa mengambil ID card, dan stetoskop kami. Lalu kami berdua berjalan menuju ke pintu. "Cerewet amat sih, lo berdua!" keluhku, "Kalo gue lupa bawa stetoskop lagi gimana?" "Lah, elo ngaco juga bisa ketinggalan stetoskop! Katanya udah jaga satu tahun lebih ditugasin di UGD, tapi bisa-bisanya itu stetoskop ditinggal-tinggal," komentar Heru. "Khilaf," kilahku. "Yok cepetan ke ruangan beliau," ajak Roni. Kami berempat bergerak menuju ruangan Dokter Dhani yang berada di sayap kanan lantai pertama. Aku beruntung memiliki tim residen bedah yang berisi Dea, Heru dan Roni. Kebetulan kami berempat sudah mengenal satu sama lain sejak SMA. Iya, mereka bertiga adalah teman-teman SMA-ku, kita juga punya cita-cita yang sama untuk jadi dokter. Bedanya, mereka bertiga memang saingan mau jadi dokter bedah. Sedangkan aku tidak. Aku mau jadi dokter yang biasa-biasa aja. Saat aku masuk PPDS bedah, dan dibagi ke dalam tim betapa bersyukurnya aku bertemu dengan mereka. Namun, sepertinya tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginanku. Konsulen kami adalah konsulen paling galak, dan menyeramkan. Dibandingkan Dokter Reny, Dokter Yogi dan Dokter Freda. Kalau kata residen-residen yang lebih senior, Dokter Dhani itu udah lama ada di sini, dan aura galaknya memang dia dapatkan biar nggak ada yang menganggap enteng setiap penyakit. Makanya julukannya adalah Komandan Bedah. Denger-denger dulu waktu co-ass beliau sering kena bagian di tempat militer. Makanya jadi galak setengah mampus gitu. Kami berempat sampai di depan ruang neraka. "Masuk!" seru Dokter Dhani. Kami pun masuk. "Oke, laporan paginya bisa kalian lewatin. Saya bosen liat kalian ngomong gitu-gitu aja," kata Dokter Dhani. Aku tersenyum. "Saya udah baca semua laporan kalian," balas Dokter Dhani. "ISINYA SAMPAH SEMUA! KALIAN YAKIN KALIAN RESIDEN?!" Ya. Kalian berhasil melihat kami digampar pagi ini. "LAPORAN KALIAN NGGAK ADA BEDANYA SAMA LAPORAN ANAK CO-ASS!" Kami berempatan nggak ada yang berani mengomentari Dokter Dhani kalau sudah mengoceh begini. Kalian tahu apa yang akan dilakukannya setelah puas mengomeli kami semua? Pastinya nggak jauh-jauh untuk menghukum. "Kalian kapan sih bakal belajar?! Kalau menurut kalian memang susah, ya nggak usah PPDS!" tambahnya lagi. "Buang-buang duit aja! Kalian pikir berapa banyak dokter-dokter di luar sana yang lebih kompeten dan cerdas dari kalian yang bisa gantiin posisi kalian buat jadi residen bedah? BANYAK! Bahkan Dokter Sergio yang residen obgyn itu harusnya di sini aja! Gantiin kalian!" Aku menelan ludahku kalau Dokter Dhani sudah membawa-bawa nama Sergio di sini—dalam omelan konyolnya. "Satu otak Dokter Sergio sanggup buat menutup delapan otak dengkul kalian berempat!" Aduh, di samain sama dengkul lagi dong. Nggak apalah, ini mending. Dua minggu lalu dia nyamain otak kita cuma sebatas tumit. "Kalian nggak akan masuk ruang operasi. Nggak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan bedah selama dua minggu. Itu hukuman kalian!" seru Dokter Dhani. Kami berempat sama sekali nggak ada yang berani komentar lagi. "Dokter Dea, dan Dokter Roni kalian jaga di departemen umum dan bangsal kelas tiga!" "Tapi Dok, kita bukan co-ass—" protes Roni. "Kalian emang bukan co-ass, tapi otak kalian jauh lebih dibawah co-ass! Nggak ada protes, nggak ada penolakan. Lakukan! Mengerti!?" "Siap mengerti Dok!" Seru Roni dan Dea cepat. Setelah memastikan Roni dan Dea nggak mengeluh, mata Dokter Dhani langsung mengarah kepadaku dan Heru. "Kalian berdua!" aku mengerjap-ngerjapkan mataku begitu mendengar bentakkannya. "Jaga di UGD." Aku mengangguk pelan pertanda patuh. Namun, begitu aku menyerap lagi ucapannya, aku baru sadar. Unit Gudang Duit!? Eh salah. Maksudku, Unit Gawat Darurat?! "A—apa Dok? UGD?" ulangku tak percaya. "Kenapa? Bukannya UGD memang tempatmu kerja dulu?" Tanya Dokter Dhani, "Lagi pula apa salahnya dengan UGD?" "Dok, kalau ditukar aja gimana? Saya yang di bang—" "Apa aturan main saya?" Dokter Dhani mulai mengeluarkan jurus andalannya. Heru yang berada di sebelah kiri ku pun menghela napas panjang, seolah tidak mau tambaha diceramahi lagi oleh Dokter Dhani. "Satu, menurut dan patuh karena konsulen selalu benar. Dua tidak ada penolakan. Tiga, kalau terjadi kekeliruan dan atau kesalahan kembali kepada aturan pertama." "Nah, itu! Kalian dengar?" ulang Dokter Dhani, "Dokter Marceline kau dengar itu?" Skakmat. Aku memang nggak akan pernah menang melawan dokter manapun. Nggak Oma, nggak Opa, nggak konsulen di depan mataku ini. Akhirnya aku mengangguk lemas, dan menuruti Dokter Dhani. Kami pun mengambil surat tugas kami yang diberikan beliau. Tiap minggunya, konsulen kami memberikan surat tugas untuk menangani pasien mana yang akan kami tangani. Namun minggu ini kami malah dapat hukuman, dan bukannya mendapat pasien. "Oh ya, satu lagi," kata Dokter Dhani saat kami hendak meninggalkan ruangannya. "Saya minta kalian untuk menulis laporan untuk setiap pasien yang kalian tangani. Baik individu, atau pun bersama pasangan kalian. Tiap pasien, bukan tiap kasus. Dari awal pasien itu datang sampai pasien itu keluar. Di buat rapih, dan di tulis tangan yang dapat dibaca!" --- "Dia bilang harus bisa dibaca, padahal tulisan dia sendiri kayak rumput!" seru Roni, "Lo ingetkan terakhir kali waktu bagian farmasi sampe hampir salah kasih obat gara-gara tulisannya nggak bisa dibaca?!" Aku, Heru dan Dea mengangguk lemas sembari kami berjalan meuju lobby utama untuk menuju arah masing-masing. "Iya, tahu. Rese emang itu orang," keluh Heru. "Gue ke UGD dulu kalo gitu. Lo berdua ke departemen umum kan?" "Seenggaknya kalian lebih mending ketemu pasien yang masih kuat jalan, atau pasien yang udah tinggal pemulihan aja di bangsal. Lah gue sama Heru nggak bisa milih mau pasien yang kayak gimana!" keluhku. "Dadah! Gue ke sana ya!" aku dan Heru berpisah dengan Dea dan Roni di lobby utama. Setibanya kami di UGD, aku dan Heru langsung menghampiri dokter kepala yang berjaga di sana. Dokter Laura Carani adalah dokter senior yang berjaga di sana sekaligus adalah kepala departemen UGD. "Kalian berdua bukannya harus ketemu Dokter Dhani aja?" tanya Dokter Laura, saat menyambut kami di UGD. Aku dan Heru sama-sama memasang wajah masam kami, dengan senyum kecut, memilih untuk tidak menjawab apapun. Tapi kami berdua menyerahkan surat keramat yang menugaskan kami di UGD. "Apaan nih?" tanya Dokter Laura lagi sambil membacanya. "Saya, yang bertanda tangan di bawah ini, Dokter Dhani Dharmawan menyatakan untuk menugaskan kedua residen bedah tahun pertama saya bernama Dokter Marceline Irena Effendi-Han dan Dokter Heru Indrawan di Departemen UGD selama dua minggu terhitung sejak surat tugas ini saya sampaikan." Sisa suratnya Dokter Laura membacanya sendiri, tanpa lebih banyak lagi membeberkan isinya kepada semua orang yang bisa mendengarnya. "Oh, jadi kalian berdua dihukum—lagi?" Sebenarnya yang Dokter Laura maksud lagi itu hanya aku. Baru bulan kemarin aku dihukum di UGD selama satu minggu karena lupa membawa stetoskopku beberapa kali saat visite pasien ke bangsal. "Saya Dok, yang udah dua kali. Heru sih baru satu kali kebetulan," kataku. Dokter Laura manggut-manggut paham, "Ya udah. Kalian bisa langsung kerja. Jangan sok amnesia sama UGD. Kalian berdua dulu internship sebelum bisa PPDS kan di UGD. Kalian bisa dapet rekomendasi PPDS juga dari saya." Beruntungnya, Dokter Laura memang baik, entah bagaimana dia diperlakukan oleh konsulennya dulu sampai-sampai bisa sebaik ini. "Anggep aja lagi pulang kampung. Tapi saya nggak akan segan-segan untuk hukum kalian lebih parah dari co-ass kalau sampai kalian melakukan kesalahan!" Aku dan Heru menelan ludah kami bersama setelah mendengarnya. Kemudian aku berjalan ke bilik dua, dimana ada seorang pasien yang sedang terbujur lemas di sana. Sedangkan Heru berada di bilik empat. Aku melihat rekam medis dari pasien di bilik dua itu sekilas. Seorang perempuan yang sedang lemas, wajahnya pucat, dia memeluk dirinya sendiri sepertinya dia meriang. "Sus, Ibu ini udah ditindak?" Tanyaku pada salah seorang perawat yang lewat. "Belum Dok, karena Dokter Gina masih ngurus pasien yang satu lagi," balasnaya. Aku mengangguk, dan mendekati pasien ini. "Selamat pagi Bu. Saya Dokter Mercy. Ibu meriangnya udah lama?" Ibu itu mengangguk, "Dari semalem Dok." Aku menempelkan punggung tanganku di dahinya. Panas banget astaga! "Ibu, tolong ketiaknya sebentar ya," Aku mengeluarkan thermometer elektrik yang kebetulan hari ini aku bawa. Pasien itu mengapit thermometer tersebut di ketiak kanannya. "Ibu, sudah makan? Atau kapan terakhir kapan Ibu?" "Nggak ada Dok. Saya belum makan dari kemarin, sejak meriang." Termometernya berbunyi, pertanda selesai. Aku menariknya dan terkejut saat melihat angka yang tertera di sana. 39.5 derajat celcius! Ini sih parah! "Sus, tolong langsung diinfus dulu di sini, sambil saya minta tolong bagian lab untuk tes darah," aku minta tolong kepada perawat yang tadi aku berhentikan. Perawat itu mengangguk paham. "Ibu, dugaan saya Ibu kena DBD. Sampai hasil tes darah keluar, Ibu diinfus dulu ya agar tidak tambah lemas. Keluarga Ibu ada di sini?" Ibu itu mengangguk, dan seorang pria seumuran seperti pasien itu menghampiriku. Aku pun berkata pada pria itu kalau Ibu ini harus tes darah dulu untuk melihat apakah trombositnya beneran turun atau tidak. Aku pun segera menulis laporanku tentang pasien pertamaku hari ini. Kemudian aku meminta tolong salah seorang perawat lain untuk mengambil darah pasienku tadi. Setelah darahnya di ambil, aku pun berjalan ke laboratorium untuk memberikannya kepada petugas di sana. "Paling cepet satu jam, Dok," kata petugas laboratoriumnya. "Oke, nanti saya balik lagi. Makasih ya." Aku langsung berlari lagi menuju UGD untuk menangani pasien lain. Mungkin aku yang nggak lihat, tapi... BUKKK!!! Dahiku menabrak suatu benda yang keras. "Anda dokter?" tanya sebuah suara berat, sehingga membuatku mendongak ke atas untuk melihat ke sumber suara. Ternyata aku menabrak seorang pria. Tepatnya, sih cuma bahunya. "Anda harusnya hati-hati. Ini rumah sakit," katanya, "Kalau Anda sendiri tidak waspada dengan orang-orang sekitar Anda bagaimana Anda bisa menangani orang lain?" "Maaf," kataku, "Saya nggak lihat tadi." Sekilas saat aku memerhatikan lelaki yang nggak sengaja aku tabrak tadi, aku baru menyadari lelaki ini tampan juga. Astaga, aku seperti melihat Giacomo Gianninoti di hadapanku. Astaga, ganteng banget! "Lain kali kalau jalan lihat-lihat. Siapa tahu orang yang Anda tabrak ternyata orang sakit gimana?" balasnya. Lah... ini orang kenapa jadi ngegas gini? "Kalau malah orangnya celaka gimana?" "Iya Bapak, saya tahu. Saya ngerti. Makanya saya minta maaf karena tadi nggak sengaja nabrak Bapak," balasku. Baiklah saudara-saudara aku tarik kembali ucapanku yang bilang kalau dia ganteng kayak Giacomo Gianninoti! "Anda—" "Permisi, saya duluan. Saya harus ke UGD." Aku meninggalkan laki-laki yangtidak aku ketahui namanya, lalu berjalan saja langsung ke UGD. Ganggu aja!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD