Two

1447 Words
Mercy. "Capek banget kayaknya anak bedah yang satu ini?" Tanya Sergio sembari menikmati makanan yang dipesannya. Hei, aku yakin dia juga punya teman yang mengikuti PPDS bedah, dan dia sebenarnya hanya menanyakan itu untuk basa-basi saja. "Well, as you see. I'm so tired, and having a good sleep would be so great." "Kalo gitu ngapain masih mau ketemu aku?" Tanya Sergio. "Kan aku kangen kamu, Gi," balasku. "I've tried my best to look great for you tonight. Is my concealer doesn't work?" aku khawatir karena concealer yang ku pakai tidak menutupi kantong mataku yang parah itu. Astaga! Aku buru-buru mengeluarkan kaca di dalam tas yang kubawa. "Nggak usah insecure gitu sih. Kamu mau bobo pas di jalan pulang nanti juga nggak masalah, Mey. Aku tahu kuliah lagi—dan di suatu stase yang besar—itu bukanlah suatu hal yang menyenangkan buat kamu," balasnya. "Kamu maunya rehab medik bukan?" Aku tersenyum kecut sambil mengangguk pelan. Sergio dan aku memang baru pacaran sekitar satu tahun terakhir. Tapi, kalian harus tahu kalau aku sudah mengejar Sergio sejak tahun pertama aku masuk Fakultas Kedokteran di Philantrophy University. Jangan tanya aku kenapa aku bisa mengejar-ngejar dia. Nyatanya, hampir seluruh mahasiswa kedokteran memang mengejar Sergio. Baik perempuan maupun laki-laki (khusus yang memang memiliki kasus khusus). Dia lebih tua dariku dua tahun, dan memiliki kepintaran yang luar biasa. Dia campuran Jawa-Manado, dia tidak suka dessert kecuali cheese cake, tapi sangat menyukai makanan pedas, khususnya dengan bumbu rica-rica dan woku. Sergio tidak pernah mengambil kuliah malam, pasti selalu mengambil kuliah jam pagi, dan paling sore jam lima. Waktu malam harinya saat kuliah kedokteran dulu digunakannya untuk belajar di perpustakaan kampus. Saat co-ass waktu malamnya dia gunakan untuk di rumah sakit, atau di perpustakaan—lagi—saat dia sedang tidak jaga malam. Lulus dari Fakultas Kedokteran sebagai lulusan terbaik, dengan IPK 3,93. Lalu setelah lulus, dia internship di Manado selama setahun. Setelahnya dia bekerja di rumah sakit Effendi di departemen umum, dan setelah dua tahun dia mencoba untuk mengikuti PPDS di Philantrophy University, sekali tes dia langsung masuk. Aku cukup kaget karena tahu dia mengambil obgyn. Karena aku kira dia akan mengambil neurologi atau patologi anatomi—mengingat hobinya di perpus mulu. Aku memang mengejar-ngejar Sergio sampai setahun kemarin akhirnya aku bisa resmi berpacaran dengannya. Tapi, bukan berarti aku dekat dengannya. Aku, seorang Marceline Irena Effendi bukanlah anak yang cemerlang di bidang kedokteran ini. Bukan aku yang menginginkan untuk masuk ke dunia serba riskan ini. Aku juga tidak mau untuk PPDS bedah. Tapi, karena impianku untuk bisa bersama Sergio akupun rela untuk mengubur mimpi-mimpiku yang lainnya agar bisa menjadi pasangan Sergio. "Gi, masih inget awal kamu ketemu aku?" tanyaku. Sergio manggut-manggut, sambil mengunyah makanannya. "Inget. Waktu aku lagi jadi asdos histologi kan?" tanyanya. "Bisa-bisanya lho kamu tidur di kelas." "Aku ngantuk banget waktu itu," kilahku, "Tapi kamu tetep ganteng banget walaupun jengkel karena ada mahasiswa bobo di kelas kamu." "Hei, kamu pikir aku senang untuk menambah ceramah di kelas?" balasnya. "Tapi sebenernya, itu bukan pertama kali kita ketemu lho Mey." Dia meletakkan alat makannya lalu melihatku. "Pertama kali aku ketemu kamu itu pas kamu salah masuk kelas. Jelas-jelas kita sekelas lagi belajar penyakit dalam, tapi kenapa ada satu bocah yang masuk tiba-tiba di dalam dengan muka belernya itu?" Aku terkejut mendengar itu. "Kamu... ada di kelas yang itu waktu itu?" "Kamu masih inget toh?" tanyanya balik. "Nggak nyangka aja ada anak berantakan kayak kamu dulu yang ternyata anak FK." "Stereotip anak FK pasti bersih dan rapih ya?" tanyaku balik. "Memang begitu. Tapi setidaknya aku senang karena memiliki pacar seorang dokter yang lain dari biasanya," balas Sergio. Makan malamku dengan Sergio memang singkat. Selama kita pacaran, hal yang kita lakukan hanya makan bersama, diskusi (tentu saja ini kemauan Sergio), jalan-jalan di mall sekitar satu sampai dua jam, nonton di bioskop, dan... akhirnya aku atau dia diantar ke rumah sakit untuk jaga malam. Jarang sekali ceritanya aku diantar Sergio ke rumah. "Aku jaga malam dulu ya, Mey," kata Sergio. Aku tersenyum tipis, dibalik kemudiku. "Iya. Sampai nanti." Sergio tersenyum. Aku masih melihatnya di sana sampai aku hendak jalan, ternyata Sergio berdiri di samping mobilku. Kaca mobilku sudah kututup dan siap untuk berjalan meninggalkan rumah sakit, tapi Sergio mengetuknya memintaku untuk membuka kaca mobilku. "Ada yang ketinggalan?" tanyaku. Sergio tidak menjawab, namun kepalanya mendekat kepadaku. Aku memejamkan mata karena tidak mampu melihatnya yang sedekat ini hingga... Cup! "Hati-hati di jalan." Sergio mengecup keningku dan mengucapkan kata perpisahan. Oh my, ini pertama kalinya setelah aku pacaran dengannya. Mungkinkah dewi fortuna sedang berada dipihakku malam ini? Saking senangnya aku bernyanyi terus sepanjang jalan pulang ke rumah. --- Andrew. Aku masuk ke apartemenku, dan menyalakan lampunya. Rasanya sepi sekali. Apartemen yang sudah aku abaikan selama beberapa tahun kini telah berubah menjadi wujud yang baru setelah direnovasi. Kata Calvin, dia sengaja mendesain apartemenku menjadi sebuah studio biar tidak ada sekat dimanapun kecuali untuk kamar mandinya. Aku sendiri setuju karena aku tinggal sendirian disini. Warna yang dipilihnya juga didominasi warna coklat tua, merah bata dan hitam, katanya sih biar lebih terlihat hangat saja, biar bujangan yang satu ini nggak kesepian. Tapi mau dikasih warna apapun dan didesain seperti apapun rasa-rasanya sama saja sih. Drrt... Drrtt... Ponselku bergetar, aku melihat siapa yang menelepon. William Heri. "Lo nggak bisa biarin gue sendirian dulu Will? Gue baru sampe apartemen gila!" "Ya maap, kan aing nggak tahu. Aing mau mastiin aja kalo lau udah sampe dengan selamat. Kan keselamatan lau, keselamatan aing juga," balasnya. "Si Bos bisa heboh kalo sampe tahu lau kenapa-napa. "Mata lu picek kali gue kenapa-napa!" balasku jengkel. Aku memencet layar ponselku untuk loudspeaker, sembari aku mengambil air dingin di dalam lemari es. "Cepetan lo ngomong ada apa sebelom gue hajar lo besok." "Iye, iye sabar keles..." katanya dari ujung sana. "Kan semua orang di Indonesia ini udah lumayan tahu lah ya siapa Andrew Kristoff..." "Basa-basi lo kelamaan. Gue matiin nih!" "Intinya gue cuma mau bilang, mulai minggu depan lo dapet klien baru, yaitu RS Effendi. Selain itu, masih ada beberapa klien lainnya dan jangan lupa jadwal ngajar lo di univ. Gue cuma mau sampein itu aja sih. Kali-kali aja lo lupa karena enam bulan pergi ke Scotland." "Lo pikir gue udah pikun?" "Ya nggak sih. Tapi kan nggak ada salahnya untuk mengingatkan," jelas Willy lagi. "Ya udah, have a nice night yah! Gue bobo dulu, jangan lupa bobo juga lu!!" Aku mematikan sambungan telepon. Namanya juga Willy kalau nggak gitu aku yang bingung apa yang terjadi dengannya. Tapi untung saja aku memiliki teman seperti dia, kalau tidak hidupku makin terasa hampa saja. Dua tahun meninggalkan Jakarta, rasanya seperti sudah sangat lama sekali meninggalkannya. Sebenarnya, kalau kalian pikir dua tahun adalah waktu yang sudah cukup lama, menurutku tidak sama sekali. Dibandingkan dengan umurku saat ini, dua tahun bukanlah umur yang sangat berarti untukku. Coba kalian pikirkan berapa kira-kira umurku? Aku belum mencapai kepala empat, tapi aku sudah melalui seperempat abad hidupku di dunia. Jakarta menjadi saksi hidupku selama enam belas tahun dari aku masih orok sampai menjadapatkan ijazah SMA. Kemudian, aku kuliah selama enam tahun di Bandung, lalu bekerja dua tahun di Bandung kemudian kuliah lagi—hanya sampai dua tahun juga. Tepatnya, aku tidak menyelesaikan kuliahku yang terakhir. Setelah berhenti kuliah aku kembali ke Jakarta, berdiam diri selama enam bulan sebelum memutuskan untuk kembali kuliah lagi di Depok dalam tiga setengah tahun, setelahnya aku mencoba untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri dan berhasil mendapatkan Stanford di sana selama dua tahun untuk kuliah sekaligus bekerja. Kini aku kembali ke Jakarta. Kalian berpikir mungkin kenapa hidupku hanya dihabiskan untuk kuliah, kuliah dan kuliah. Well, I can tell you. But you might get tired of my long story. Mungkin di lain waktu aku akan memberitahukannya kepada kalian. Untuk sekarang, biarkan aku mandi dan beristirahat. Kepalaku benar-benar penat karena jetlag. Belum lagi aku harus bertemu dengan klienku besok pagi kantor. Ngomong-ngomong soal kantor, aku bekerja di Liz Law Firm. Ya, kalian mungkin sudah mengetahuinya. Hanya advokat-advokat hebat sajalah yang dapat diterima di sana. Mungkin aku salah satunya? Tapi perlu aku tegaskan. Aku memang memiliki izin untuk beracara di pengadilan, yang menandakan aku seorang advokat. Tapi, aku lebih senang disebut sebagai konsultan hukum. Kenapa begitu? Karena lebih terlihat berkelas aja. Konsultan memiliki arti sebagai seorang yang ahli, dan mampu memberikan nasihat, saran dan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Sementara advokat, hanya tertuju pada kliennya saja. Siapapun kliennya itu yang harus dibela. Aku tidak suka dengan pandangan seperti ini, makanya aku memilih disebut konsultan hukum. Baru saja aku ingin merebahkan di ats tempat tidurku, w******p-ku memunculkan notifikasi dari Mama. Mama: Drew, kapan pulang ke rumah?! Mama udah bilang berapa kali pulang aja ke rumah! Andrew: Nggak bisa Ma. Mama: Mama nggak ngerti lagi sama kamu. Perlu pake Bahasa dewa kali ya biar kamu mau pulang? Andrew: Kalau dengan Andrew pulang, Lita bisa hidup lagi, Andrew pulang sekarang juga. Mama: Demi apapun Drew! Mama benci setiap kali kamu harus menghukum diri kamu! I've told you many time. Lita meninggal bukan karena kamu. Bukan kesalahan kamu. Aku mengeraskan rahangku. Bukan kesalahanku? Tentu saja aku bersalah karena tidak bisa melindunginya dari kejadian itu. Andrew: Its been late Mam. Andrew tidur dulu. Besok ada urusan di kantor. Aku sengaja membalas itu terakhir. Aku tidak ingin membahas tentang hal ini lebih lanjut lagi. Itu alasanku untuk mengakhirinya. Seperti hari itu, dimana akumengakhiri hubunganku dengan Lita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD