Mercy
Shift 48 jam non-stop—yang pada kenyataannya 48 jam lebih—diakhiri dengan operasi transplantasi ginjal.
Kayaknya mataku lama-lama bisa buta warna sih kalo nambah satu operasi lagi.
Ayolah, yang kulihat cuma warna merah terus. Belum lagi waktu operasi terakhir tadi ada komplikasi lain. Aku dan Heru sempat panik sendiri ketika ada satu pembulu darah yang pecah. Namun harus kuakui, dari sekian operasi yang ku lalui dalam 48 jam terakhir, operasi terakhirku inilah yang paling menyenangkan.
Keluar dari ruangan operasi, aku dan Heru langsung ke ruang istirahat untuk mengganti baju operasi kami dengan yang lain. Tentu saja baju operasi kami kotor darah yang muncrat kemana-mana saat operasi.
"Cepetan Mey, ini masih kudu ketemu Dokter Dhani kan?" kata Heru mengingatkanku dari luar kamar ganti.
"Iya Baw—ADAWWW!" aku meringis memegangi pipi kiriku.
"Lo kenapa Mey!?" Heru menanyaiku heran.
Aku pun keluar buru-buru setelah selesai mengganti baju dan celana operasiku dengan yang baru. Ekspresi Heru saat melihatku keluar adalah menaikkan satu alisnya dan menahan tawanya.
"Kampret lo!" aku mengambil satu masker dari dalam lokerku dan snelli kesayanganku lalu memakainya cepat. "Buruan ke Dokter Dhani yuk," ajakku. Ngomong aja susah sekarang. Aku merapatkan gigiku saat mengatakannya agar gigiku nggak tambah ngilu.
"Bengkak banget tuh pipi," ledek Heru sembari kita berdua berjalan ke ruangan Dokter Dhani. "Tapi lucu juga ternyata kalo lo chubby ya, nggak keliatan kurang gizi kayak biasanya."
"Ledek terus... Terusin aja Her."
Sesampai kami di dalam ruangan Dokter Dhani, dia memintaku untuk membuka masker yang kupakai dnegan alasan aku tidak sedang operasi, dan masker itu hanya digunakan untuk operasi bagi dokter bedah.
"Loh? Pipimu kenapa bengkak gitu?"
"Ah, Dokter berisik deh! Cepetan apa yang mau diomongin?!" balasku nggak sabaran.
"Oke, oke. Kita cepat aja biar Mercy bisa ke dokter gigi ya," katanya, "Kalian selamat dari shift neraka 48 jam non-stop, dan sampai bertemu lagi denganku. Kalian bisa menikmati liburan kalian. Tapi tenang saja, aku sudah menentukan jadwal kalian selama kalian libur dari bedah. Mercy di bangsal anak, dan Heru di NICU."
Kita berdua melengos.
Yang benar saja! Kita berdua sengaja ambil bedah umum karena nggak suka anak-anak. Dan kita ditugasin di daerah manusia-manusia mungil itu?
Bercanda nih orang!
"Kalau kalian nggak suka, aku bisa pindahin ke UGD."
"Nggak Dok, kita siap Dok," kata Heru cepat-cepat. "Iya kan, Mey?"
Aku hanya tersenyum kecil sebagai jawaban. "Ikhlas lahir batin kok, Dok."
Dokter Dhani tersenyum puas, dan mengizinkan kami beruda untuk pulang. Sementara itu kami menuju ke ruang istirahat untuk beres-beres, Heru mengembuskan napas panjangnya, dan merasa sedih karena harus ditugaskan di NICU.
"Gue nggak masalah deh kalo ditaro di kamar jenazah sekalipun. Tapi NICU itu... itu.. Ah, sudahlah, gue bisa apa?"
"Mau tukeran sama gue?"
Heru menggeleng. "Nggak. Mendingan NICU dari pada bangsal anak."
Drrrt... Drrtt...
+62 8128 ---- ----
Ponsel di dalam snelli-ku bergetar. Nomornya tidak kukenali, entah siapa yang meneleponku.
"Siapa tuh?"
Aku mengedikkan bahuku. Apa mungkin ini Sergio yang pake nomor lain?
Ah, tapi seumur-umur aku kenal Sergio dia bukan tipikal orang yang suka gonta-ganti nomor. Sekalinya dia ganti nomor itu pun karena nomornya hangus.
"Sini, gue yang angkat." Heru langsung mengangkat panggilan itu, "Halo? Ini siapa ya? Mercynya lagi sakit gigi."
Aku melihat Heru dengan tatapan harap-harap cemas karena aku juga takut sih kalau itu memang Sergio.
"Oke, gue sampein ke Mercy ya." Dia menutup teleponnya, dan mengembalikan ponselku, "Dari Andrew. Katanya dia tunggu lu di depan lift lobby, mau ajak lo ke klinik gigi. Terus, jangan lupa simpen nomor teleponnya dia."
"Gue duluan ya, Her!" seruku seraya berjalan cepat meninggalkan Heru untuk menghampiri Andrew yang—katanya—menungguku di depan lift lobby.
---
Andrew
Aku tahu kok rasanya shift selama 48 jam non-stop.
Aku pernah mengalami di masa itu. Iya, kalian nggak salah baca. Aku pernah mengalaminya.
"Drew? Lo ngapain di sinsi?" sapa Ed saat aku sedang berada di ruang tunggu. Ed baru saja keluar dari ruangan konsultasinya. Sepertinya dia mau ke kantin untuk makan siang, melihat sekarang sudah jam satu siang.
"Nungguin Mercy ke dokter gigi," jawabku sekenanya.
"Mercy? Lo deket sama dia sekarang? Gila... Dia dijodohin buat gue, Yul atau Dhani eh malah nyantolnya sama legal consultant ini?"
Aku hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya.
"Dokter Ed," panggil seorang dokter yang lebih muda dari Ed, namun aku yakin dia bukan co-ass karena snelli yang dipakainya berlengan panjang, mungkin salah satu residen obgyn. "Sehabis dokter istirahat nanti bisa ketemu sebentar? Cynthia mau cek USG bisa?"
Ed mengangguk dengan senyuman satu sudutnya. "Di ruangan USG yang biasa saya pakai. Kamu siapkan semuanya sebelum jam dua ya. Saya makan ke bawah dulu."
Enak juga ya kalau begitu. Harusnya dulu aku minta Dokter Nico untuk membedah kepalaku saja dulu biar bisa menghapus memoriku tentang Lita. Mungkin itu akan lebih baik dari pada aku harus keluar dari program dokter spesialis bedah saraf.
Ckreeeeeettt.
Pintu ruangan dokter gigi yang dimasuki Mercy tadi terbuka, dia keluar masih menggunakan masker seperti saat tadi aku bertemu dengannya di lobby rumah sakit.
"Gimana?" tanyaku.
"Gue harus operasi, gigi gue tumbuhnya miring," katanya kumur-kumur nggak jelas. "Lo mau ke..." Ucapannya terhenti saat dia memalingkan pandangannya ke arah dokter yang ngobrol masih ngobrol sama Ed.
"Kenapa Mer?" tanyaku sambil beranjak ke arahnya. "Kamu nggak kenapa?"
Ed yang menyadari aku berada di sebelah Mercy pun tersenyum-senyum iseng.
Entah aku tidak mengerti dengan situasi aneh ini.
"Ex quarrel perhaps? Kamu bilang kemaren mau ngomong sama Mercy kan, Ser?" suara Ed terdengar jelas, sehingga aku melihat dokter yang mengobrol dengan Ed dan Mercy secara bergantian.
Jadi cowok itu yang membuat Mercy kacau balau.
Jujur saja sih, dia memang ganteng. Tipikal pria yang manly dan hebat harus kuakui.
Mercy menegang. Aku merasakan tangannya yang dingin saat aku tak sengaja menyentuh tangannya. Pandangan matanya pun kosong, hanya melihat lurus ke depan. Namun saat aku memegang tengkuknya, Mercy untuk mengecek keadaannya rasanya panas. Dia demam
"Hm... Mercy lagi sakit, mungkin belum bisa ngobrol dulu," aku langsung menggandengnya, spontan saja Mercy langsung menoleh padaku. "Mercy habis jaga 48 jam non-stop. Dia butuh makan dan istirahat. Lain kali aja ya kalian ngobrolnya?"
Ed tersenyum melihatku saat membantu Mercy, "Oke, gue makan deh. Mau turun bareng nggak?"
Aku mengangguk, lalu berjalan bersama dengan Mercy ke dalam lift bersama dengan Ed juga. Sementara Sergio masih berada di sana selama kami berjalan meninggalkan lantai enam.
Ed pergi ke kantin, sementara aku menunggu Mercy berganti baju di depan ruang istirahat, tetunya dia sekalian mengambil barang-barangnya untuk pulang. "Kamu mau makan apa?" tanyaku saat dia sudah keluar dari ruangan istirahatnya.
Dia mengedikkan bahunya.
"Laksa Singapura?" tawarku padanya. "Aku lagi pengen makan itu. Kayaknya enak buat siang-siang."
"Kenapa makanan pilihan lo selalu sehat?"
"Karena pilihan kamu yang selalu nggak sehat?"
Dia terkekeh sambil mencubit perutku, hingga aku mengaduh kesakitan. Tapi aku bisa melihat matanya yang bersinar girang saat aku mengaduh-aduh.
"You'll be more beautiful when you smile, Mer," kataku, seraya menyelipkan beberapa helaian rambutnya ke belakang daun telinga kirinya.
"Bokis lu mah."
"Beneran. Bahkan matamu sendiri udah cantik, Mer," pujiku tulus. "Your eyes are soft and warm." Aku masih memandanginya, dan aku pun ikut tersenyum saat memandangnya lekat-lekat.
Tiba-tiba Mercy melepaskan masker mulutnya, memperlihatkan pipinya yang bengkak namun bibirnya menyunggingkan senyuman kecil. "Gue masih cantik?"
"Masih, buat aku."
"Bokis."
"Ya udah kalau nggak percaya," kataku padanya. "Jadi mau nggak makan laksa?"
"Kalau dibayarin nggak apa sih."
"Iya, aku yang bayar biar kamu seneng. Anggap ini hadiah karena berhasil menyelesaikan shift 48 jam non-stop." Kami berjalan meninggalkan ruang rumah sakit menuju tempat parkir mobilku. "Kamu nggak bawa mobil kan?"
Mercy menggeleng. "Gue bisa tekor kali bayar parkir kalo bawa mobil. Selama bisa nebeng sama Oma, gue nebeng dong!" cengiran kuda yang dipaksakannya itu terlihat lucu sih buatku. "Lo nggak akan tahu rasanya jaga di rumah sakit selama 48 jam non-stop. Lo harus bersyukur karena lo bukan dokter."
Aku terkekeh pelan mendengar keluhan-keluhannya tentang segala hal yang dikerjakannya.
"Aku tahu kok rasanya gimana, dan seharusnya kamu bersyukur bisa menjadi seorang dokter."
"Nah ini nih. Bokis lagi," potongnya cepat, "Emang lo tahu gimana rasanya ngeliat organ dalam manusia berkali-kali? Dibuka-tutup, belum lagi kalau tiba-tiba pendarahan."
"Pernah dua kali. Tapi aku lebih sering buka-tutup otak."
Dia menganga melihatku saat aku bisa dengan entengnya mengatakan hal itu padanya, seolah dari tatapannya itu mengatakan: 'Serius? Buka-tutup otak? Bercanda lo!'
Aku kini tertawa lepas karena melihat ekspresi wajahnya yang amat tak percaya dengan apa yang ku katakan. "Beneran, Mer."
"Terus... kenapa lo nggak buka-tutup otak orang lagi?"
"Kapan-kapan aku ceritain."
Mercy mengernyitkan dahinya, sebagai tanda tak puas dengan jawaban yang kuberikan.
"Kita mau ke mobil terus pergi makan, atau mau penasaran doang dan kelaperan?"
"Gue maunya lo."
Deg!
Apa aku nggak salah denger apa yang barusan dia bilang? Dengan polos Mercy bilang mau aku?
"Otak kamu ikutan bengkak juga Mer?" tanyaku padaya sambil memegang puncak kepalanya yang mengusap-usapnya sekilas. Baragkali dugaan konyolku benar, ada yang bengkak di area kepalanya.
"Ih, apaan sih! Gue nggak kenapa-napa, yang sakit cuma gigi gue, bukan kepala." Dia meraih tanganku yang memegangi puncak kepalanya dan melepaskannya. "Gue sadar waktu gue ucapin tiga kata tadi, Drew."
Aku kini mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali. Perempuan di hadapanku ini beneran Mercy kan?
"Gue serius, Drew. Gue mau lo. Everything about you."
Mercy mendekatkan tubuhnya padaku, tangan kanannya yang memegang tangan kiriku dilepaskannya dan dengan kedua tangannya, ia menangkup wajahku. Tubuhnya yang lebih pendek dariku membuatnya harus sedikit mengangkat kepalanya agar dapat memandangku lekat-lekat.
Aku dapat melihat mata coklat terangnya yang indah tanpa menggunakan softlens. Tatapannya lembut, dia masih memaksakan untuk mengukir sebuah senyuman kecil dari sudut bibirnya walaupun pipinya sedang bengkak. Aku pun hedak menelusupkan tangan kiriku di tengkuknya namun terlambat.
Detik berikutnya yang kutahu Mercy sudah menempelkan bibirnya kepada bibirku, melumatnya halus. Ciumannya seolah dijadikannya sebagai alat pembuktian kepadaku kalau ucapannya bukan hanya asal-asalan, namun sebuah kejujuran dari hatinya.
"I love you, Andrew."
Bisiknya kecil. Nyaris tak terdengar malah. Namun aku masih mampu mendengarnya.
Hari itu, aku merasakan degupan jantungku mulai tak keruan lagi setelah bertahun-tahun lamanya.