Mercy
Aku sadar apa yang aku lakukan kemarin.
Ciuman itu masih membekas di bibirku walaupun aku sudah tersadar lagi dari tidur malamku. Herannya, meski aku sangat mencintai Sergio, dan sungguh-sungguh sakit hati saat tahu dia malah menghamili dokter gigi cantik itu, aku tidak pernah merasa hal serupa seperti ini.
Maksudku, merasakan sesuatu yang amat dalam sampai-sampai masih membekas saat aku bangun setelah tidur.
Aku memang menangis karena Sergio. Tapi aku tidak merasakan sakit yang amat dalam ketika bangun--kecuali saat aku melihat mereka berdua di rumah sakit.
Tapi Andrew Kristoff adalah hal yang berbeda.
"Mana cucuku yang tidak tahu malu itu?!" seru suara nyaring dari luar kamarku.
DUAR!
Aku menganga lebar saat melihat sosok Oma yang ku kenal di depanku saat ini layaknya orang yang kebakaran jenggot. "Pagi Oma..." sapaku senormal mungkin.
"Sudah berapa lama kamu berhubungan sama Andrew?" tanya Oma--tidak dengan nada yang bersahabat tentunya. Aku hanya mampu menelan ludah, mencoba mencerna apa yang akan ku katakan padanya. "Jawab! Sejak kapan Oma ngajarin kamu cuma diem aja kalo ditanya?!"
"Abby, sabar," tahan Opa, "Mercy baru bangun astaga. Tidak bisakah kau lebih lembut sedikit?"
"Jason, dia sudah dewasa. Bukan saatnya lagi untuk diberikan kelembutan."
Aku pun segera bangkit dari tempat tidurku, dan duduk. Melihat Opa dan Omaku begini, aku jadi takut sendiri.
"A.. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Andrew, Oma," jawabku. "Aku hanya..."
"Hanya ciuman sama Andrew di lapangan parkir rumah sakit, terbawa suasana, sampai lupa kalau rumah sakit itu adalah rumah sakit milik keluargamu sendiri." Oma nyerocos tanpa henti seolah menelanjangiku atas segala kesalahan yang ku lakukan kemarin. "Kamu tahu kalau satu rumah sakit lagi ngomongin kamu sekarang?"
Satu rumah sakit?
"Abs, its too much for her. Ini masih pagi--"
"Too much?! Tapi beritanya nggak bisa ditahan lagi, Han Jae Soo!" seru Oma balik ke Opa dengan nada nyaringnya yang lebih tinggi. "Bisa kamu jelasin ke Oma kalau ini cuma ciuman biasa?!"
Oma menyodorkan ponselnya. Layarnya menampilkan keadaanku dan Andrew saat berciuman. Aku melingkarkan kedua tanganku erat di sekitar lehernya, sebelah tangan Andrew memegang pinggangku dan tangan lainnya menyelinap di belakang leherku.
Glek.
Aku kehabisan kata-kata untuk menjelaskan foto itu. Entah setan mana yang merasuki kami berdua saat berciuman itu.
"Oma masih belum katarak. Penglihatan Oma sangat bagus, dan benar-benar jernih. Ini bukan sekedar ciuman biasa."
"Mercy minta maaf, Oma," kataku menyerah akhirnya. "Tapi aku dan Andrew beneran nggak ada apa-apa Oma."
"Oma nggak masalah kamu mau ada hubungan sama Andrew. Malahan bagus!" jelas Oma, "Oma cuma nggak habis pikir. Kamu, seorang calon dokter spesialis bedah, nggak bisa cari tempat yang sepi dikit apa buat ciuman? Ruang jenazah misalnya."
Aku membelalakan mataku seketika saat mendengar ucapan Oma. Aku nggak salah denger nih?
Opa pun terheran-heran saat mendengarnya.
"Oma, aku nggak salah denger?" Tanyaku, "Oma bilang bagus?"
"Iya, beneran. Malah bagus. Biar kamu sekaligan nikah sama Andrew aja. Kita temuin orangtuanya hari ini."
-----
Andrew
Aku kira ini cuma rekayasa. Eh tahunya beneran.
"Gue nggak nyangka Drew, rupanya lo pacaran sama Si Mercy. Pantesan lo bawa ke salon gue tempo hari," ujar Era dengan nada pelan. "Untung Luca sama Sean lagi di Tuscany. Kalo nggak ribet juga ya gue jelasin situasinya ke laki gue."
Aku mengembuskan napas berat.
Era adalah orang pertama yang langsung menghujamku dengan pertanyaan: 'Gak nyangka gue lo bisa juga ya hamilin anak orang?'
Konotasi itu langsung muncul dalam benak Era begitu Mama bilang aku akan nikah sebentar lagi sama Mercy. Intinya, situasi ini benar-benar membingungkan, dan tidak seharusnya aku berada di restoran hotel mewah saat ini.
Seharusnya ini saat aku menyampaikan materi kuliah!
Semuanya kacau saat Mama meneleponku pagi-pagi dan bilang kalau dia sudah berdiri di depan pintu apartemenku--bersama Era tentunya. Mama langsung menjelaskan kalau dirinya dihubungi oleh Dokter Abby, yang intinya mengatakan akan menikahkan aku dengan cucu semata wayangnya, Mercy.
"Gue kira lo cukup waras Drew, tahunya sama gilanya kayak gue," timpal Era lagi. "Nggak masalah sih, toh dia dokter juga kan ya?"
"Lo bisa diem aja nggak Ra? Jangan samain gue sama lo yang nggak waras."
Era bertemu dengan Luca karena ketidaksengajaan. Tempat yang sekarang menjadi salonnya, dulunya adalah restoran Italia milik keluarga Luca. Karena penjualan menurun akhirnya dijual. Singkatnya Era yang jomblo saat itu entah bagaimana bisa menarik perhatian Luca, yang notabenenya bujangan berkelas. Bagaimana tidak? Luca seorang head-chef di restoran hotel bintang lima yang sering keluar masuk layar TV juga.
Walaupun aku masih heran dengan pilihannya kakak iparku--yang pada akhirnya mau menikahi kakakku--setidaknya aku bersyukur karena Era tidak menjadi perawan tua sampai saat ini.
"USB lo emangnya nggak karatan di bawah tuh?" desis Era.
"USB?" Aku mengernyitkan dahiku.
"Iyalah. Emang nggak pernah lo keluarin isinya?"
"Sialan lo Ra!" Balasku setelah sadar dengan apa yang dimaksudkan 'USB' itu. "Gue bukan cowok yang asal masukin punya cewek."
"Ella, kalo bukan sepupu jauh, dia pasti udah bawa lo tidur juga. Bukan cuma Ed."
"Bisa jangan bahas hal beginian nggak?"
Aku melirik gelagat Mama, Dokter Abby dan Dokter Jason yang dari tadi bersemangat sekali menentukan ini dan itu. Sesungguhnya, aku masih aneh dengan situasi ini seperti yang ku bilang. Aku pun melirik ke arah berlawanan, dan melihat Mercy yang tercenung.
Dia memang terlihat kuat dengan senyuman riangnya setiap hari.
Tapi saat ini...
Mercy yang kulihat tidaklah seperti dirinya biasanya.
"Mey, kamu setuju kan?" Tanya Dokter Abby tiba-tiba pada Mercy yang masih terdiam.
"Hng?" Mercy bergeming saat Dokter Abby menegurnya. "Gimana tadi Oma?"
"Kamu tuh, gimana sih? Mau dinikahin malah bengang-bengong gitu!" Seru Dokter Abby. "Pokoknya, kalian berdua bakal nikah akhir tahun ini. Nanti pakai pendeta di gereja kita. Kalian berdua mulai daftar bimbingan pra-nikah ya. Terus, venuenya di Jakarta aja, atau kamu mau di luar?"
Mercy hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan neneknya. "Atur yang terbaik menurut Oma aja. Mercy ikut."
Aku menaikkan satu alisku.
Ini benar-benar tidak seperti Mercy yang ku tahu. Sangat pasrah, dan tidak ada daya untuk melawan sama sekali.
Sebenarnya kenapa sama anak ini?
"Soal Amel, kamu nggak perlu khawatir. Amel nanti tetep tinggal sama Mama kok."
Tunggu dulu.
Kenapa Mama udah jelasin ke Mercy pake 'Mama' juga?
"Papa kamu pasti seneng banget Drew, kalau tahu kamu mau nikah!" Aku tersenyum kecil menanggapinya. "Rasanya kamu mau nikah aja mama kaget. Kamu harus tahu betapa senengnya Mama tadi pagi pas tahu Dokter Abby hubungin Mama."
Aku tahu keluargaku sangat khawatir sama aku sejak Lita pergi. Tapi, bukan berarti aku nggak suka perempuan. Aku cuma nggak bisa melupakan Lita aja.
Setidaknya sampai aku nabrak Mercy tempo hari di rumah sakit.
"Ya sudah. Saya titipkan Mercy ke kamu mulai sekarang ya Drew," ucap Dokter Jason kini.
Aku merasa seperti mendapatkan beban tambahan di atas pundakku begitu mendengarnya.
Mungkin bagi Ed, Dhani atau Yulius ini adalah anugerah. Mereka bisa mendapatkan rumah sakit, sekaligus jabatan sebagai direktur untuk menggantikan Dokter Abby kelak. Tapi bagiku--sebagai orang yang tidak mengejar jabatan di rumah sakit--ini adalah bencana.
Meski aku tidak membenci Mercy, aku mengutuk diriku sendiri yang pasrah saja saat dicium olehnya kemarin.
Aku harus jelasin apa nanti ke Amel?
-----
Haiii!!
Maafkan aku yang sudah suaaaaaangat lama nggak update.
Iya lama banget, tahu.
Jadi cerita Andrew-Mercy ini aku tulis di laptop dan hardisknya kemaren rusak, dan gak ada backupnya!!! Huhu :')
Makanya agak lama buat aku ngulik-ngulik lagi ceritanya... Belom lagi deadline skripsi guys!
Puji Tuhannya, aku sudah selesaiii skripsi dan sudah ujian. Hore donggg!
Kabar baiknya, aku bisa selesain cerita-ceritaku.
Tapi kabar buruknya, aku udah lamaa banget gak nulis jadi lupa hehe :((
Tapi aku mau nanya nih...
Kira-kira kalian masih pengen buat ceritanya Mercy-Andrew di lanjutin nggak? Ceritanya Mayer-Tere juga masih mau nggak?
Ku butuh pendapat kalian nihhh... Karena aku bingung hehehee
Okee, intinya semangat ya teman-teman di tengah pandemi ini!!!
Happy Friday!
Jangan lupa vote dan komennya yaaa! God bless!