Thirteen

2429 Words
Andrew "Era," sapaku pada perempuan modis nan cantik yang ada di hadapanku. "Drew!!!" dia menyambutku dengan pelukan hangatnya sekaligus mencipika-cipiki kedua pipiku. "Ah, ada Willy juga. Hai Will, gimana baby sitting Amelnya?" "Mulai terbiasa." Willy mengusahakan agar dirinya bisa tersenyum, meski dalam hatinya sendiri aku yakin sudah mengutukku habis-habisan hari ini. "Seenggaknya udah nggak serewel dulu. Mendinganlah dari yang terakhir kalinya." Terakhir kali Willy kuminta untuk menjadi baby sitternya Amel adalah saat Amel masih berusia tiga tahun, sebelum aku pergi ke Stanford, untuk melanjutkan kuliah S2-ku di sana. Amel dan Willy memang tidak cocok, karena Willy merasa aku manfaatkan namun lama kelamaan dia terbiasa juga. Bahkan saat tadi pagi Willy tahu aku membawa Amel, dia sempat protes, tapi akhirnya menerima juga nasibnya hari ini. "Tante Lala!!"' seru Amel. Ah, karena dia masih cadel, dia memanggil Era dengan sebutan khusus, 'Lala.' Dulu, waktu Era masih kecil juga dia memanggil dirinya sendiri Lala. Amel pun berhambur dalam gendongan Era setelah Era membuka tangannya selebar-lebarnya untuk Amel. "Amel hali ini seneng banget Tante..." "Seneng? Habis ngapain emangnya?" "Tadi pagi Papa ajak Amel ke tempat kelja Papa, telus Amel dibeliin gulali... Tapi gulalinya dijatohin sama Tante yang jahat itu..." Amel menunjuk pada sosok Mercy yang berada disebelah kananku. Aku mengembuskan napas panjang-panjang, saat melihat Mercy hampir meluncurkan sumpah serapahnya. "Mer, tahan ya. Amel masih kecil. Tolong ya?" bisikku pelan. "Kenapa Tantenya jahat?" Tanya Era sabar. "Tante itu jatohin gulalinya Amel, telus senyumnya selem! Amel jadi takut Tante Lala!" serunya. "Sama Om Willy lebih serem mana?" "Tante itu!!" Willy yang disebelah kiriku langsung menghampiri Mercy, "Tenang ya Mbaknya. Begitu bocah itu tahu kalo situ cantiknya ngalahin dewi Yunani juga nggak bakal dihina-hina lagi kok Mbaknya." Amel pun diajak oleh Era ke ruangannya agar dia tidak mengganggu aktivitas yang akan dilakukan pada Mercy. Sementara Mercy, Willy dan aku menunggu, kami disuguhi mochi coklat dan teh hijau oleh salah satu pegawai Era. "Ini tempat apa sih sebenernya?" Tanya Mercy sekali lagi karena saking penasarannya. "Tempat yang tepat untuk make over," jelas suara nyaring Era yang sudah keluar dari ruangannya. "Make over?" ulang Mercy tak percaya. "Gue nggak ngerti." "Kira-kira berapa lama buat ugly duckling ini berubah jadi swan?" Tanyaku. "Tenang aja, kalian duduk dulu di sini," kata Era. "Dan... Hm.." "Mercy." "Ah, Mercy," lanjut Era, "Gue Era, dan gue yang akan langsung mengubah penampilan lo. Tentunya, biar lo bisa membalas dendam ke cowok b******k. He already screwed you into this kind of mess, so you can make him feel sorry to make you like this." --- Mercy Ketika dia mengatakan akan mengubah penampilanku, aku merasa tidak ada yang perlu diubah dari penampilanku. Bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah menjadi angsa yang cantik meski banyak orang mengatakan aku mewarisi gen sempurna dari Oma dan Opa. "Coffee color suits your skin," gumam Era, "Ca, tolong warnanya dong." Tak lama, asistennya yang dia panggil dengan sebutan 'Ca' datang, membawakna semiran. Sementara aku hanya menelan ludahku melihat Era mengacak-acak rambutku. "Pernah berpikiran untuk punya iris mata yang lain selain hitam?" tanyanya padaku. Aku menggeleng. Memangnya apa yang salah dengan iris mataku yang hitam ini? "I suggest grey to be your softlens color," gumamnya lagi. "Ca, tolong warna abu-abu buat softlensnya." Aku makin penasaran kenapa dia melakukan hal-hal ini padaku. Am I really that bad? "Tell me, how this girl looks," pinta Era yang sedang menyemir rambutku. "Maksudnya?" Era mendengus. "Cewek yang merebut kekasih lo yang amat lo cintai itu loh..." Ah, dia menanyakan itu rupanya. "So?" "Dia cantik. Dokter gigi, tangannya bersih, dan wangi. Gue nggak bisa bandingin diri gue sama dia." "Lalu cowok yang membuat angsa cantik ini menjadi ugly duckling? Seperti apa rupanya?" "Dia ganteng, pintar, banyak perempuan disekitarnya—karena dia seorang residen spesialis obgyn." Era hanya manggut-manggut sambil mendengar ceritaku. Sepertinya dia tidak terlalu peduli juga dengan ceritaku. Toh, memang apa yang menjadi ceritaku bukanlah hal yang indah. Bukan juga hal yang menarik untuk didengar. "Biar gue tebak, lo pasti ambil bedah ya?" Aku membulatkan mataku. "Biasa aja dong, jangan kaget gitu... Hehehe..." Era terkekeh pelan karena reaksiku yang dianggapnya berlebihan. "You look miserable, and pathetic. Nggak seharusnya lo terlihat seperti ini tahu?" "To be a surgeon is not the path I chose." "Perhaps it's your destiny," kata Era. Ucapan Era menyadarkanku. Kita memang tidak bisa menentukan takdir kita sendiri bukan? "I believe, your ex didn't see you as a beautiful girl," ucapnya sambil tersenyum setelah menyelesaikan olesan semir yang terakhir di rambutku. "He saw you as a brilliant. You don't have to look beautiful because you are beautiful in your way." Apa memang benar kalau Sergio melihatku dari sisi yang lain? Bukan dari wajahku? Selama ini, saat dia menjadi kekasihku apa yang sebenarnya dia lihat dariku? "Kita rapihin alismu yang tebal ini dulu ya Sayang," kata Era. Aku menurut dan memejamkan mataku untuk membiarkan Era merapihkan alisku yang berantakan. Sergio... Kenapa kamu harus menyakitiku seperti ini sih? "Tolong jangan bikin alis gue sampe botak, gue nggak mau jadi Cristina Yang yang dibotakin alisnya," kataku pada Era. "Lo nggak bakal jadi Cris—Tunggu dulu, Cristina Yang? Lo nonton Grey's Anatomy?" Aku membuka mataku dan melihat Era yang sedang memegang cukuran alisnya. "Its my way to make sure that I'm still capable to be a surgeon. Watching Grey's Anatomy, I mean." Wajah Era berubah antusias setelah mengetahui aku juga menonton Grey's Anatomy. "Episode mana yang jadi favorit lo?" tanyanya. "Banyak." "Nggak, lo pasti punya satu episode yang paling favorit kan?" Aku mengerutkan keningku sebentar. Dari hampir lebih tiga ratus episode yang kutonton, terlalu banyak episode favoritku. "Kalau lo sendiri suka episode yang mana emangnya?" tanyaku padanya lebih dulu. Sulit sekali menentukan yang mana yang paling favorit. "Oke, gue paling suka episode waktu Jackson stand up, dan berhentiin pernikahannya April. They really do love each other," ujarnya. "Tapi kalo pasangan yang paling gue suka adalah Mark dan Lexie." "Kenapa begitu?" "Jackson dan April memang menikah pada akhirnya, tapi mereka cerai. They love each other, but they can't be together because of their ego. Tapi beda ceritanya sama Mark dan Lexie." Aku mendengarkan alasan yang diutarakan Era, "Mark dan Lexie terlihat seperti nggak cinta satu sama lain—apalagi setelah Lexie tahu Mark punya anak berusia delapan belas tahun, dan belakangan dia hamilin Callie, sahabatnya sendiri. It hurts. Kalau gue ada di posisi Lexie gue juga ogah banget sama Mark yang suka tebar benih sana-sini." Mirip ceritaku sedikit. Bedanya, Sergio bukanlah Mark yang memiliki anak atau menghamili sahabatnya sendiri. "Tapi gue belajar kalau cinta itu nggak sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Lexie sendiri cantik, cerdas, dan lembut. Dia terlalu baik untuk Mark yang suka tidur dengan perempuan cantik manapun. But isn't love always like that right? Not perfect and full of mistakes," kata Era dengan senyum yang dipaksakannya. "Mark always love Lexie, and she also loves him. Semua orang tahu itu, kecuali mereka berdua sendiri. Mereka seharusnya bersama, and in the end they're meant to be together in heaven. Kalau buat gue mereka berdua udah lebih dari sekedar 'happily ever after.' Karena, buat apa lo bisa menikah tapi akhirnya cerai, while you can share love eternally in heaven?" Pernyataan terakhirnya membuatku jadi tersadar. Selama ini aku tidak terlalu menyukai sad ending seperti Mark dan Lexie yang harus bersama karena dipersatukan oleh maut. Atau Jackson dan April yang bisa bersama namun hanya sebentar saja karena akhirnya mereka bercerai. Kalau mau jujur, tidak ada pasangan yang ideal di dalam Grey's Anatomy. Semuanya berakhir menyedihkan. Meski begitu, aku tetap saja menyukainya dan tetap menontonnya sebagai my fairy tale. Tapi alasan aku tetap menontonnya karena satu hal. Drama itu menunjukkan padaku bahwa tidak ada yang sempurna. Tidak ada kisah cinta yang sempurna dan selamanya berakhir bahagia. Tidak ada keluarga yang hangat dan ideal seperti yang guru sekolah kalian gambarkan dulu. Tidak ada suatu keberhasilan yang digapai dengan mudah, semuanya adalah kerja keras. Selalu ada tangisan dibalik senyum keberhasilan yang didapat. "Jadi apa episode favoritmu?" "Waktu Derek bilang dia nggak bisa hidup tanpa Meredith, dan Meredith bilang dia bisa hidup tanpa Derek," jawabku. "'I can live without you, but I won't. I never want to.' Kalimat itu lebih masuk akal buat gue dari pada sekedar 'I can't live without you.' Dan nyatanya, Meredith tetap bisa hidup tanpa adanya Derek setelah dia meninggal." "Setuju." Era selesai merapihkan alisku yang menurutnya tebal itu. "Seharusnya lo juga kayak gitu." Kayak gitu? Gitu yang gimana maksudnya memang? "Lo seharusnya juga kayak Meredith. She can live without her love of life right?" tanyanya. "Lo juga harus bisa. Apalagi cuma mantan pacar yang selingkuh kan?" --- Andrew "Cewek emang kalo di make over bisa selama apa sih?" keluh Willy. Aku hanya terkekeh pelan mendengar keluhan Willy itu sambil membaca berita di tablet yang kubawa. "Palingan juga nggak ada bedanya sama cewek-cewek yang nyalon berjam-jam, tapi hasilnya sama aja." "She's beautiful, Will," kataku, "Bukannya lo sendiri naksir sama dia pas ketemu di rumah sakit pertama kali?" "Iya, gue kira dia cantik banget, tapi ternyata karena jas putih dokternya aja ternyata." Willy sempat mendengus sebal, "Lo kenapa concern banget sama Si Mercy emangnya Drew? Kalau dibandingin Lita aja masih kalah jauh ini anak." "Lo tahu istilah hidden beauty nggak? Ini yang gue sebut hidden beauty." Sejak pertama kali aku melihat Mercy, aku tahu kalau dia cantik. Namun rambutnya yang kusut, mata sayunya yang turun, dan kantong mata di sekitarnya membuatnya terlihat sangat tidak terawat. Tanpa perawatan saja dia sudah cantik. Apalagi dirawat? "And here's your beautiful swan, Drew," kata Era yang keluar dari pintu ajaibnya. Disebut pintu ajaib karena di dalam ruangan itulah dia melakukan make over. "Jangan kaget ya. Apalagi elo, Will, jangan sampe naksir lo!" Detik beriktunya Era memanggil Mercy keluar dari pintu ajaib itu. Perempuan berambut kumal, mata sayunya yang turun karena kebanyakan begadang kini sudah berubah. Penampilannya sudah jauh—ralat—maksudku sangat jauh dari sebelumnya. Rambutnya yang tadinya hampir menyentuh pinggang, sekarang sudah dipangkas sampai melewati bahu dengan model layered yang cocok untuk menghiasi wajahnya, bahkan warna baru rambutnya membuat kulitnya semakin bersinar. Alisnya yang berantakan kini sudah rapih, mata sayunya sudah tidak tidak sayu lagi. Sepasang mata bulat yang indah itu kini berwarna abu-abu tua. Tentunya tidak mungkin Mercy memakai baju kumalnya lagi. Dia kini memakai midi dress, berwarna kuning tanpa lengan yang indah. Sangat cocok degan kulit cantiknya. "Gimana? Is she already a swan now?" Menunggu selama hampir lima jam di salon kakakku ini rupanya tidak sia-sia juga penantian ini. Jujur saja, meski memiliki kakak sehebat Era yang sudah lalu-lalang di dunia persalonan internasional, aku pernah melihat secara nyata kehebatan kakakku pada orang yang kukenal. Ternyata, hasilnya sangat luar biasa. "She's a princess now," ujarku memandang hasil pekerjaan kakakku dengan kagum. Mercy mengulum senyum malu-malu. Mungkin mendengar pujian dariku, pipi putih bersihnya langsung bersemu merah. "Thanks." "Andrew DeLuca kawe super ini bisa juga ya muji cewek cantik?" sindir Era. "Yang gue tahu lo paling susah banget buat bilang cewek itu cantik." "Karena gue emang nggak suka cewek cantik," jawabku. Aku melihat jam tangan yang kupakai di tangan kiriku. 19.20. "Well, ini udah malem Ra, gue balik dulu ya," kataku, "Makasih buat make overnya." "Eh? Gue nggak bayar?" Tanya Mercy bingung. "Nope. Biar pengacara kaya itu yang bayar," balas Era sambil menaik-turunkan alisnya beberapa kali dan tersenyum penuh arti padaku. "Kalian mau anter Amel pulang atau biar Amel pulang sama gue?" tanyanya. "Amel pulang sama lo aja." "Oke," sahutnya. "Inget yang gue bilang tadi ya, Mer. You deserve happiness." Mercy tersenyum dan mengangguk kecil pada Era sebagai jawabannya. "Thanks for today, ya Ra." Sesudahnya, Mercy, Willy dan aku pun berjalan ke mobil untuk pulang. Tujuan pertama kami adalah rumah Willy. Di jalan, Willy tak henti-hentinya memerhatikan Mercy yang sudah berubah dari Mercy yang dilihatnya tadi siang. Kini, Willy percaya kalau kekuatan salon itu benar-benar ada. Setelah selama ini perempuan yang dipacarinya tidak ada bedanya dari masuk sampai keluar salon. Sampai di rumahnya, Willy mengingatkanku kalau besok jam kuliahku dikosongkan besok pun ada rapat dengan pengurus DPC advokat se-Jakarta. "Kita mau ke mana?" tanyaku. "Hm?" "Maksudnya, lo mau kemana atau mau pulang?" "Kayaknya nggak deh kalo pulang," gumamnya. "Anter ke rumah sakit aja. Biar gue nginep di sana." "Lo mau makan?" "Nggak, gue udah cukup kenya—" Kriiuuuukkk! Aku pun menahan tawaku begitu mendengar perut Mercy mulai mengumandangkan suara kelaparannya. Lain di mulut, lain di perut. "Oke, gue laper," katanya. Aku manggut-manggut masih sambil tersenyum karena usahanya untuk menolak makan tadi. "You should wear that dress with proud." Mercy menoleh kepadaku, aku menoleh kepadanya juga sedikit dan melihat raut kebingungan di wajahnya. "Kalau lo memakai dress yang cantik, dan dengan seluruh riasan wajah itu juga, lo harus bangga. Jangan minder," kataku. Mercy terdiam mendengar ucapanku. "Kalau belum pernah ada laki-laki yang memuji lo, dan mengatakan ini, biar gue yang bilang duluan." Ucapanku terpotong saat sudah masuk ke dalam area parkiran restoran cepat saji favorit semua orang. Jangan Tanya aku kenapa aku memilih tempat ini untuk makan malam, karena aku sendiri bingung ingin makan di mana. Aku memarkir mobilku dengan sempurna. "Lo cantik, Mer." Semburat merah berangsur-angsur keluar dari pipi Mercy. "Ayo makan." Aku baru hendak keluar dari pintu, namun kedua tangan Mercy menahanku. Aku pun membalikkan tubuhku lagi dan melihatnya. "Just in case if you forget it," Mercy mencoba tersenyum saat mengatakan itu, "Life is still beautiful Drew." Aku seketika mematung saat mendengar Mercy mengatakan itu. Ucapan itu adalah kalimat yang selalu Lita ucapkan setiap kali dirinya merasa dunia selalu tidak memihak padanya. Saat dunia selalu membuatnya berada di titik terbawah kehidupan. Bahkan, saat aku memutuskan untuk meninggalkannya dulu dia tetap tersenyum dan mengatakan kalau hidup itu tetap indah. Apa Era menceritakan sesuatu tentang Lita pada Mercy? "Lo kenapa?" tanyaku pada akhirnya saat melihat Mercy. Mercy menggelen pelan. "Tadi Era bilang kalau ada orang yang mau banget buat jadi dokter, tapi pada akhirnya dia nggak bisa jadi dokter. Dan gue, yang nggak mau jadi dokter bedah malah terjebat untuk menjadi dokter bedah. Perhaps, it is my destiny to be a surgeon right?" "Gue mau jadi dokter bedah," ujarku. "Kenapa emangnya?" Tanya Lita. "Biar bisa bedah hati lo, dan ukir nama gue di sana. Biar lo nggak kabur kemana-mana." Pandangan mata Mercy kosong, dia seperti melihatku, namun sebenarnya dia hanya memandang jendela yang ada di belakangku. "In that case, life is still beautiful right?" ulang Mercy, yang sepertinya ingin agar aku mengiyakan ucapannya. "It is," ucapku. Dia mengembuskan napas panjang dengan lega. "Ayo makan. Gue laper nih!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD