Andrew
"Gue nggak abis pikir lo bawa-bawa anak kecil ini ke kampus hari ini," keluh Willy yang sedang menuntun Amel.
Hari ini aku ada di kampus setengah hari, lalu aku harus ke rumah sakit lagi untuk follow up hasil pemilihan direktur utama Rumah Sakit Effendi. Meski aku tahu pasti belum ada perkembangan yang signifikan, tapi aku tetap harus mengontrolnya. Beruntung hari ini tidak ada urusan ke pengadilan.
"Drew, ijazah dan lisensi praktek hukum gue kayaknya bukan untuk jadi baby sitter!"
"Lo ngeluh lagi, nggak akan gue ajak-ajak lagi ya Will!"
Amel terkekeh senang karena melihat Willy ku omeli. "Huu! Om Willy diomelin sama Papa lagi!!! Lasain!"
"Drew, anak lo ini ngeselinnya maksimal!"
Tanpa memedulikan Willy, aku langsung berjalan duluan meninggalkan gedung Fakultas Hukum. Semakin aku mendengar ocehannya, semakin lama juga aku menyelesaikan pekerjaanku hari ini.
"Papa... Amel mau itu..."
Suara lirih Amel yang melihat seseorang membawa gulali membuatnya ingin makan itu juga. Astaga, kenapa dia harus benar-benar seperti Lita?
Aku menggendong Amel lalu bertanya padanya, "Amel mau gulali?"
Amel mengangguk senang dengan senyuman riangnya.
Coba katakan padaku bagaimana caranya menolak permintaan anak kecil yang begitu tulus dia nyatakan kepadamu?
Aku pun berjalan menuju kafetaria yang menjual gulali.
"Drew! Lo ninggalin gue?!!" Willy meneriakiku ketika aku memutuskan untuk jalan sendirian tanpanya ke arah kafetaria.
Sesampainya di kafetaria, aku melihat sosok perempuan yang taka sing di mataku. Ingatanku masih dengan jelas mengenali siapa dirinya.
Marceline.
Dia terlihat sibuk dengan laptop putihnya, sambil menggunakan earphone untuk menyumbat telinganya. Tapi aku tidak melihat jari-jarinya sedang bergerak untuk mengetik sesuatu atau setidaknya melakukan sesuatu yang berguna dengan laptopnya.
Dari terakhir kali aku melihatnya, kini dia terlihat lebih kurus, dan pakaiannya makin tak terurus. Dia tidak terlihat seperti seorang residen spesialis, bahkan tidak akan ada yang menyadari bahwa Mercy adalah dokter aku yakin. Rambutnya kumal, matanya tidak cerah, aku bisa melihat bagian bawah matanya semakin hitam, bibirnya pucat. Jauh lebih baik ketika melihatnya mengenakan baju bedah dan snellinya.
Aku mendekatinya. "From the last time I saw you, kenapa sekarang lo tambah kacau?"
"Gue nggak kacau. Ini hari libur gue dari rumah sakit!" serunya balik dengan sigap saat aku mengomentari penampilannya. "Dan gue juga libur dari segala hal yang berbau 'perjodohan' politik rumah sakit Oma."
Aku mengangguk paham. "Terus karena lo libur hari ini, jadi lo bisa mengacaukan diri di kampus?"
"I haven't told you that my Grandma is in the house? Dia nggak ada di rumah sakit, dan kalau gue juga di rumah berarti gue harus ketemu Oma juga." Aku mendengar ucapannya seperti orang yang frustasi. "Well, can you please leave now? I'm watching my fairy tale right now."
Fairy tale?
Dia sedang menonton dongeng apaan? Maksudku, dia dua puluh enam tahun dan menonton dongeng bukanlah hal yang cocok untuk perempuan seusianya. Amel selalu memintaku untuk membacakannya dongeng-dongeng di malam hari ketika aku mampir ke rumah Mama. Setiap kali aku membacakan dongen untuk Amel, dia selalu memintaku untuk membacakan Sleeping Beauty.
"Cinderella? Atau Sleeping Beauty?"
Mercy melihatku lagi, dia menautkan alisnya, seolah bertanya: 'Apa maksud lo?'
"The fairy tale you're watching now I mean."
"Grey's Anatomy."
"You call Grey's Anatomy a fairy tale?" tanyaku tak percaya dengan jawaban yang dia berikan.
"Daripada Cinderella atau Sleeping Beauty yang lo bilang, jauh lebih baik ini."
"Kenapa lo suka nonton Grey's?" tanyaku lagi.
"Kenapa gue harus jawab pertanyaan lo?" balasnya sewot.
Oke, sekarang aku benar-benar sudah merusak hari liburnya. Dia bergegas menutup laptopnya dan beranjak pergi dari tempat duduknya. Namun, saat dia akan berjalan, dia menabrak Amel yang baru saja membeli gulali, dan gulali yang dipegangnya jatuh ke lantai.
"Papa! Gulali Amel jatoh!!" Amel merengek begitu melihat gulali yang ditunggu-tunggunya tadi jatuh ke lantai kafetaria yang kotor. "Tantenya jahat! Nablak Amel!"
"Amel, tantenya nggak sengaja nabrak Amel. Nanti Papa beliin yang baru ya." Aku berjongkok untuk menghentikan rengekkan Amel agar tidak membuat keributan di sekitar kafetaria.
"Papa?" Mercy seolah bertanya saat melihatku sedang berusaha menenangkan Amel.
God, screw me now please.
Aku berdiri dan membisikkan Mercy, "You'd better go with me to say sorry to her."
---
Tentunya bukan Mercy kalau tidak memiliki banyak alasan untuk ini dan itu. Tapi, aku berhasil menanganinya dengan mengatakan, "Lo udah membuat seorang anak kecil di sini menangis karena gulali yang diinginkannya jatuh ke lantai. Lihat antrean di stan gulali itu. Apa lo tega?"
Mercy menyerah.
Begitulah akhirnya Mercy menurutiku, dan bagaimana caranya sehingga aku, dia, Willy bersama Amel ada di restoran saat ini.
"Harusnya kita ke rumah sakit, tapi karena lo bilang sendiri Oma lo nggak di rumah sakit, jadi makan deh!" jelas Willy saat sedang memotong steik yang dipesannya.
"Tante ini siapa Pa?" tanya Amel yang dari tadi memerhatikan Mercy dengan penuh tanda tanya.
"Ini namanya Tante Mercy," jawabku. "Mer, ini Amel."
Aku bisa melihat perasaan bingungnya Mercy yang tidak tahun harus bersikap bagaimana karena anak berusia lima tahun yang ada di hadapannya. Dia berusaha untuk tersenyum—memberikan senyuman terbaiknya—untuk Amel.
Namun, ciri khas anak kecil yang selalu judge people from the cover, Amel pun menyembunyikan wajahnya dengan memelukku. "Amel takut!! Tantenya jahat!!"
Mercy melengos begitu mendengar komentar Amel yang terang-terangan tidak menyukainya. Dia pun menenggak air mineral yang tersedia di dekatnya. Sedangkan Willy yang duduk di sebelahnya Mercy langsung terkekeh.
"Lo bukan orang pertama yang ditakutin Amel kok. Gue juga."
Mercy menatap sinis pada Willy, "I'm not good to kids okay? Kids don't like me, and they never ever will like me."
"Dia cuma takut, aja kok karena ngeliat lo berantakan Mer," balasku. "You should change your look." Aku masih mengusap-usap puncak kepala Amel, agar dia mau berhenti bersembunyi dan melanjutkan makan siangnya. "Amel emang rada... hm... penakut."
"Penakut?" ulangnya dengan nada yang meninggi. "Tunggu sampai dia ketemu Oma yang lebih menyeramkan dari gue."
Acara makan siang kami tidak berjalan dengan baik karena ketegangan yang terjadi di antara anak berusia dua puluh enam tahun yang tidak mau kalah dengan bocah berusia lima tahun. Pasti ada suatu hal yang membuat Mercy menjadi sangat kacau-balau hari ini.
"Will, temenin Amel main-main bentar boleh? Dia udah nggak abis makanannya." Permintaanku langsung diiyakan olehnya dengan menggendong Amel tanpa banyak pertanyaan lagi.
"She's really your daughter?" Tanya Mercy skeptis. Raut wajahnya menunjukkan perasaan yang sulit untukku deskripsikan.
Aku tidak mau menjawabnya. Namun, kubiarkan dia berasumsi sendiri demikian.
Lebih baik dia meyakini apa yang diyakininya, ketimbang aku harus repot-repot menjelaskan segala sesuatunya.
"Lo berhutang cerita ke gue kayaknya." Mercy mengerucutkan bibirnya dengan tatapan mata yang menyedihkan. "Dari ilmu psikologi wajah yang pernah gue pelajari, I can tell that you are not okay right now."
"Sergio udah sebar undangan nikahnya dia sama Cynthia."
Dia mengeluarkan sebuah undangan berwarna krem. Ada tulisan huruf 'S' dan 'C' embossed berwarna emas, dan juga aku bisa melihat dengan jelas nama yang tertera di kolom dimana undangan itu ditujukan.
dr. Marceline Irena E. H. & Partner
"Dia ngeledek?" tanyaku tak percaya begitu melihat tulisannya. "Memangnya dia pikir semudah itu untuk bawa partner ke undangan pernikahan mantan?!"
"See?" serunya tak percaya. "Dan gue bisa apa? Dateng ke pernikahannya pakai gaun hitam untuk menunjukkan betapa menyedihkannya hidup gue setelah dia selingkuh dan meninggalkan gue? No thanks. I'd better kill myself with morphine than going to that wedding."
Saat pertama kali aku bertemu Mercy, aku pun bisa menilai bahwa hidupnya sudah cukup menyedihkan. Menjadi residen bedah saja sudah cukup sengsara, belum lagi pria yang dicintainya selingkuh. Oh, jangan lupa poin dimana neneknya sendiri memintanya untuk menikahi salah satu dokter pilihannya.
Terlebih dari itu semua, kini mantannya benar-benar akan menikahi selingkuhannya.
What a wonderful miserable life right?
Tunggu.
Aku dengar Dhani bilang hari ini residen-residennya ada seminar di Bandung, dan semuanya harus ikut tanpa terkecuali. Tapi kenapa anak ini bisa ada di kampus?
"Lo nggak bener-bener libur hari ini kan?"
"Gue? Liburlah. Apa lo pikir gue bohong?"
"Kenapa nggak?" tantangku.
Aku segera membuka ponselku dan menunjukkan padanya chat Dhani yang mengatakan kalau dirinya sedang di Bandung hari ini sampai lusa. "Lo seharusnya ada di Bandung. Dan tadi siang lo di kampus karena nggak mau ketahuan sama nenek lo kalau lo nggak ikut seminar kan?"
"Shit... Lo mau laporin gue ke Dokter Dhani?"
Aku tidak menjawabnya.
"Gue nggak takut juga sih kalau lo laporin. Toh, memang gue salah karena bohong ke Dokter Dhani," jelasnya, "Gue bilang gue sakit dan harus istirahat total."
Perempuan yang selalu kulihat tidak pernah ada yang seberantakan dirinya.
Aku membenci perempuan yang berantakan dan tidak bisa mengurus dirinya sendiri.
Pertanyaannya di sini bagaimana perempuan dihadapanku ini tidak bisa mengurus dirinya sama sekali? Memangnya sesulit itukah baginya untuk merawat dirinya?
"Gue nggak bilang ke Dhani," ucapku. "You want a revenge right?"
Mengerjapkan kedua matanya beberapa kali sebelum Willy dan Amel balik dari tempat bermainnya.
"Pa... kita pulang yuk!" ajak Amel.
Aku menggendong Amel dan tersenyum. "Ayo, kalo gitu," aku mengecup puncak kepala Amel, lalu aku mengarahkan pandanganku kepada Mercy yang masih tercenung memikirkan ucapanku untuk melakukan 'revenge.' "Amel, mau lihat Tante Mercy berubah jadi cantik nggak?"
"Emangnya bisa? Tantenya selem gitu!" serunya tak percaya.
Amel menunjuk-nunjuk Mercy yang balas menatapnya dengan raut wajah yang tak menentu. Ketika Mercy menatap Amel lekat-lekat dengan mata bulatnya yang hitam pekat itu Amel langsung menutup mukanya dengan kedua tangan mungilnya.
"Nanti kalau Tante Mercynya udah cantik pasti Amel mau main-main sama Tante Mercy terus deh," kataku. Aku mengangkat kedua sudut bibirku agar Amel mau membuka kedua tangannya yang menutup wajahnya.
"Gue? Main sama anak kecil? Only in your dreams!" Mercy tersenyum pahit mengakhiri kalimatnya.
"Will, coba telpon Era. Dia masih di tempatnya apa nggak."
---
Mercy
Sebenarnya ini juga bukan keinginanku untuk seperti ini.
Seminar yang ada di Bandung selama dua hari tiga malam itu penting. Sangat penting malahan.
Tapi aku tidak mungkin menghabiskan waktuku di bandung hanya untuk menangisi undangan pernikahan yang diberikan Sergio sore itu.
---
"Lo serius bakalan nikah nih Gi? Woah... banyak-banyak selamat ya!!" seru Roni yang ada di ruangan istirahat.
Kami berdua ditahan di rumah sakit sampai sore setelah berjaga malam. Dokter Dhani bilang ini hanya sebagai alasan aja biar kami lebih terbiasa lagi sebagai dokter.
Harusnya dia biliang itu ke co-ass!
Kami bukan dokter muda. Kami ini sudah dokter—yang umurnya memang masih muda.
"Ini ada undangan buat Heru, Dea sama Sissy juga. Gue titipin ke kalian nggak papa ya?"
Cih! Dia masih bisa-bisanya kasih undangan pernikahannya ke teman-temanku. Sementara aku tidak diberi? Oh, mungkin dia takut aku merecoki pernikahannya itu kali ya?
"Kandungannya udah berapa bulan emang? Cepet-cepet amat nikahnya. Biar nggak ketahuan melendung banget ya?" celetukku asal.
Aku tidak peduli bagaimana Sergio akan membenciku setelah ini karena ucapanku yang asal-asalan barusan. Apapun yang terjadi tidak akan mengubah fakta kalau dia adalah ayah dari anak yang dikandung Cynthia bukan?
"Sekarang masih enam minggu."
Bisa dijawab dong sama dia saudara-saudara!
"Aku nikah sama dia memang dua minggu lagi. Tapi proses lamarannya sudah dari bulan kemaren."
Ini sih emang kebangetan dianya. Belum tiga bulan putus, main nikah aja.
Terus hayati harus piye? Berlapang d**a gini?
"Ini undangan buat kamu, Mey," katanya sambil menyodorkannya kepadaku. "Kalau kalian semua nggak sibuk, jangan lupa datang ya. Acaranya dua minggu lagi kok. Jadi kalian bisa atur jadwal kalian dulu."
"Oke sip, Gi! Nanti kita-kita pasti dateng kok! Jangan kaget ya kalo prasmanan tengahnya abis karena residen bedah," ledek Roni.
Kita? Siapa yang dia maksud dengan kita? Lebih baik aku jaga 48 jam non-stop di rumah sakit dari pada harus melihat Sergio menikah dengan perempuan lain.
"Gue cabut dulu ya kalo gitu. Hari ini ada janji sama dokter obgyn juga buat periksa kandungan."
"Sehat-sehat deh buat dedek bayinya kalo gitu," celetukku lagi, dengan nada malas yang benar-benar tidak peduli dengan apa yang mau dikatakan dan dilakukan Sergio. Sepeninggalnya, Roni melotot kepadaku, seolah aku taelah melakukan suatu perbuatan yang sangat jahat pada Sergio.
"Apaan?" aku balas melotot pada Sergio. "I have the right to give blessing to his child-to-be right?"
"Gue tahu lo nggak tulus."
"Hell yeah! Teach me about sincerity now please?" sindirku sakastik.
Dari kami berempat, Roni adalah orang yang paling minus. Sejak awal dia selalu pamrih, tidak mau melakukan sesuatu jika tidak mendapatkan apa-apa.
Hening cukup lama di antara kami berdua sampai pintu ruangan terbuka.
Heru dan Dea masuk ke dalam dengan wajah yang masih riang gembira. Pastinyalah, mereka belum membusuk semalaman suntuk ditambah jaga shift pagi sampai siang di rumah sakit.
"Hai kalian yang baru selesai jaga!" sapa Heru, "Wah! Undangan nikahan siapa nih?"
"Kalo lo semua dateng, berarti kalian juga datang ke pemakaman cinta gue," kataku lesu. Aku pun bergegas membereskan barang-barangku agar bisa cepat-cepat pulang ke rumah. Lama-lama muak juga ada di rumah sakit ini. Apalagi ada mantan yang mau nikah di sini.
Roni tidak berkomentar apapun lagi. Begitu pun dengan Heru dan Dea yang hanya memandangi undangan pernikahannya Sergio dan Cynthia di atas meja.
Aku baru selesai mengganti baju dari ruang ganti, saat mereka bertiga melihatku penuh kesedihan.
Eh astaga, memangnya aku harus banget ya dilihat sekasihan itu?
"Kalian bisa ngg—"
"Kalian berempat! Lusa besok dikosongkan dari tugas!" kata Dokter Dhani yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Ucapanku tidak sempat ku lanjutkan karena kehadiran beliau yang mendadak. "Kalian ikut dengan sayaBandung buat seminar internasional bioetika. Demi masa depan kalian semua juga ini."
"Siap Dok!" spontan, kami berempat mengucapkan itu.
Dokter Dhani manggut-manggut senang.
"Baiklah, Mercy dan Roni boleh pulang. Heru dan Dea selamat berjaga." Dokter Dhani baru membuka pintu ruangan itu dan hendak keluar. Namun, ia berbalik lagi seolah ada yang kelupaan. "Ah, ngomong-ngomong aku juga dapat undangan pernikahannya. Kalian boleh datang saat pernikahan Sergio dan Cynthia kok. Tenang saja."
Damn it!
Aku rasa dosaku sudah terlampau tinggi sampai-sampai Tuhan menghukumku seperti ini.
---
"Kita di mana?" tanyaku pada Andrew saat mobil Audi Q5 yang biasa dibawanya. "Era Ladies?" aku bisa melihat ukiran tulisan nama tempat itu.
"Emerald Viani Airlangga," jawabnya.
"Siapa dia?" tanyaku heran.
"Nantilo juga tahu kok," jawabnya. "Yuk turun."