bc

Samudera Kasih

book_age18+
4
FOLLOW
1K
READ
badboy
goodgirl
drama
sweet
humorous
city
coming of age
enimies to lovers
first love
husband
like
intro-logo
Blurb

Rheya yang cantik dan mapan, menikah dengan seorang penjaga keamanan. Awal kehidupan rumah tangganya yang bahagia, berubah dalam sekejap.

Rheya kecewa akan perubahan sikap suaminya yang temprament dan pemalas. Bentakan yang di dengarnya setiap hari membuat ia pun mati rasa dengan suaminya.

Ia mencari kenyamanan pada beberapa orang pria. Lalu terjatuh dalam pelukan seorang pria beristri. Ia enggan melepaskan kekasih gelapnya.

Saat cinta yang menggebu pada kekasihnya, suaminya mulai berubah baik. Akankah rasa yang telah mati bisa dihidupkan kembali? Terlebih ada empat putri yang mengikat langkahnya.

chap-preview
Free preview
Cinta Buta Logika
Sebagian teman yang mengenal Rian melarang hubunganku dengannya yang sudah berjalan satu tahun. Mereka tidak setuju karena perbedaan usia yang jauh hampir sepuluh tahun. Bukan hanya teman, keluarga besarku pun sangat menentang jalinan cinta yang kurajut dengan lelaki yang selalu membuat hatiku bahagia. Selain karena perbedaan usia yang jauh, mereka juga melarang karena latar pendidikan yang berbeda. Aku sarjana sementara Rian hanya tamatan SLTA. Penghasilannya sebagai karyawan biasa tidak akan cukup memenuhi kebutuhanku. Ia juga bisa dipecat kapan saja. Orangtuaku berusaha mengenalkan pria lain yang lebih tampan, mapan, dan jelas bebet bibit bobotnya padaku. Namun, secara langsung aku menolak karena sudah merasa nyaman dengannya. Tidak kehabisan akal, pada hari Minggu pagi Ibu menyodorkan beberapa lembar foto pria saat aku sedang melanjutkan menulis novel. Semuanya masih muda dan gagah. Lembar foto pertama adalah seorang pria yang menggunakan jas putih kebesarannya sedang mengalungkan alat periksa detak jantung. Berkulit putih bersih, bibir tipis berwarna merah, dan memakai kacamata. Foto kedua, seorang pria yang memakai seragam coklat sebagai pelindung masyarakat. Berbadan tegap dan memiliki sepasang mata yang tajam. Foto ketiga membuatku tertarik, gambar pria tampan, berhidung mancung, sorot mata yang tajam, alis yang tebal, warna kulit yang eksotis memakai seragam loreng army. Dia memiliki aura yang berbeda dari kedua foto sebelumnya. Tanpa sadar, aku tersenyum tipis sambil menunjuk hidung pria dalam foto. Ibu tidak melewatkan ekspresiku walau tersenyum tipis. Ia merasa senang dan berpikir bahwa bisa menggoyahkan keinginanku untuk segera menikah dengan Rian. "Namanya Alex, anak teman Ibu. Sekarang lagi dinas di Jakarta. Dua bulan lagi akan pulang. Anaknya sangat baik. Selain sebagai prajurit TNI, Alex juga punya usaha sampingan sebagai pemilik beberapa cabang toko sepatu di Indonesia. Dia menyerahkan pengelolaan bisnisnya pada tangan kanannya. Apakah kau mau bertemu dengannya Rheya?" Ibu sangat berharap pikiranku akan teralihkan dari Rian. Walau aku tidak merespon perkataan Ibu, beliau terus mempromosikan pria tersebut. "Menikah tidak segampang yang kau pikirkan Rheya. Berpikirlah dahulu sebelum mengambil keputusan, agar kau tak menyesal nantinya," Sambung ibu tegas berjalan meninggalkan ku yang sedang termenung di sudut kamar. Saat sedang memikirkan nasehat Ibu, ponselku berbunyi menerima pesan dari Rian. "Hai Sayang, sudah siap-siap belum?" "Belum, Mas. Ini lagi nulis dikit lagi." "Yah Sayang… kamu lupa ya kalau hari ini kita akan ke rumah Ibu, Mas? Kita kan sudah janjian kemaren, Sayang." "Oh iya. Maaf, Mas Aku lupa. Satu jam lagi, Mas jemput ya. Aku siap-siap dulu." Balasku. Tanpa menunggu pesan balasan dari Rian, aku langsung membereskan alat tulis dan menyelipkan lembaran foto tadi di tengah rak buku. Setelah mandi kilat yang tidak seperti anak gadis lainnya, aku memakai pakaian yang pantas digunakan. Pakaian yang tidak terlalu santai juga tidak terlalu mewah adalah pilihanku. Riasan wajah juga tipis saja, hanya menggunakan pelembab wajah dan pelembab bibir. "Ini juga sudah cantik." Gumamku saat bercermin. Setelah terasa penampilanku sempurna, aku segera menuruni tangga menuju kamar Ibu untuk meminta izin keluar. Kulihat ibu berdiri di depan pintu. "Bu, Aku keluar sebentar ya. Nggak lama kok, Bu." Pamitku menyalami tangan beliau. "Kamu mau kemana sih? Mau pergi sama siapa?" "Sama Mas Rian, Bu." "Tapi…" Belum selesai kalimat yang akan dilontarkan, terdengar suara motor berhenti di depan pagar. Rian melangkah masuk perlahan. "Selamat pagi, tante." Rian mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan ibu. "Selamat pagi." Namun, Ibu tidak menjabat salam dari Rian. "Kamu mau bawa anak saya kemana?" Ibu memandang Rian dengan wajah datar. "Mau ke taman aja, Tante. Nggak jauh kok." Rian menjawab dengan rasa kurang nyaman, karena beliau tak mau menjabat salamnya. "Sekarang pukul sepuluh, nanti jam satu antar Rheya pulang ya. Karena Tante nanti ada acara sama keluarga. Jangan macam-macam sama Rheya!" Peringatan dari ibu secara tegas. "Baik, Tante. Saya izin bawa Rheya sebentar ya, Tan." Rian tetap berkata sopan walau merasa kurang nyaman. "Hati-hati di jalan." "Assalammualaikum, Tan." Rian menundukkan sedikit kepalanya lalu melangkah keluar. "Waalaikumsalam." "Aku pergi bentar ya, Bu. Assalammualaikum." Setelah mencium tangan beliau, aku menyusul Rian. "Waalaikumsalam, hati-hati ya." Aku mengangguk senang. Lalu duduk dibonceng oleh Rian. Baru beranjak beberapa meter, aku menoleh pada ibu yang masih berdiri di depan pintu menatap kepergianku. Ada rasa tak rela yang terpancar di wajahnya. Mengapa perasaanku jadi tidak enak ya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook