Bakso Pinggir Jalan
Aku pun menyusul duduk dibonceng oleh Rian. Baru beranjak beberapa meter, aku menoleh pada ibu yang masih berdiri di depan pintu menatap kepergianku. Ada rasa tak rela yang terpancar di wajahnya. Mengapa perasaanku jadi tak enak ya.
Rian mengalihkan perhatianku dengan mengajak bercerita. Dia orang yang sangat humoris. Ada saja hal yang dibahasnya hingga membuatku tertawa. Tak lama mengendarai motor, kami mampir di taman kota.
Jika sebelumnya Rian mengajakku makan di sebuah kafe yang terkenal mahal, maka berbanding terbalik untuk saat ini. Kami makan bakso gerobak pinggir jalan. Awalnya aku agak malu juga, karena belum pernah makan di pinggir jalan seperti ini. Lebih tepatnya di pinggir lapangan bola.
Rian menyuruhku duduk di bangku yang ia sodorkan. Hanya sebuah bangku tanpa meja. Ia memesan dua mangkuk bakso tanpa mie. Aku yang kurang nyaman menatap para pembeli yang mulai bertambah.
Si Mas penjual bakso menyerahkan mangkuk berisi pesanan tadi pada Rian.
"Ayo, Dek. Di makan baksonya. Jangan lihat tempatnya, coba nikmati rasanya." Bisiknya.
Aku menerima semangkuk bakso beralaskan piring kecil dari tangannya. Aku bingung menaruh makanan di mana, karena tidak ada mejanya. Sementara pelanggan lain dengan santainya meletakkan semangkuk bakso di tangan kiri, lalu menyuap dengan tangan kanan.
Rian yang paham kebingunganku meletakkan satu bangku lagi di depanku. "Letak di sini aja, nggak apa-apa kok."
"Makasih, Mas."
Setelah mencicipi dua buah bakso, ternyata rasanya tidak kalah dengan bakso terkenal. Sambil menikmati baksonya, Rian sesekali memperhatikanku. Bakso milikku lebih dulu habis.
"Minum dulu, Dek." Sambil menyodorkan segelas air.
Setelah bakso miliknya habis, Rian segera berdiri untuk membayar. Kami kembali menaiki motor. Beberapa saat setelah melajukan motornya, aku minta berhenti di sebuah mini market.
Aku masuk sendiri dan memilih sebuah kue yang harganya lumayan untuk oleh-oleh ke rumah Rian. Kira-kira harganya setara dengan lima buah mangkuk bakso yang kumakan tadi.
Apapun yang Rian keluarkan untuk membayar makananku, pasti akan kubayar kembali dalam bentuk lain seperti kue untuk bawa pulang atau mentraktir balik. Aku tidak biasa ditraktir tanpa membalas traktiran orang lain.
Sesampainya di rumah Rian, ia mempersilahkanku untuk masuk. Walaupun sudah hampir setahun menjalin hubungan, namun baru tiga bulan belakangan Rian mengajakku ke rumahnya sekaligus berkenalan dengan keluarganya.
Aku menyalami tangan ibunya. Rian memiliki seorang adik perempuan yang cantik. Ia menyajikan air minum dan cemilan.
"Silahkan diminum tehnya, Kak." ucap Vina adiknya Rian.
"Terima kasih ya, Vin." jawabku.
"Oh ya, ini ada kue."
Aku meletakkan bungkusan tadi di atas meja.
"Duh...Rhea, pakai bawa-bawa kue segala. Mama jadi nggak enak lho." Mamanya Rian tampak senang.
"Nggak pa pa kok, Ma. Hanya sedikit kok." Aku tersipu malu.
Rian memang waktu awal kenalan menyuruh memanggil ibunya dengan panggilan mama, agar lebih mudah akrab. Aku mematuhi permintaan Rian saja.
Kami duduk bersama di ruang tamu. Setelah berbasa basi sebentar Vina izin mau ke kamarnya, sedangkan Rian pergi mengambil sesuatu ke kamarnya. Mereka meninggalkanku berdua dengan sang mama.
"Oya Rhea, sebenarnya ada yang mau Mama sampaikan. Boleh tidak?"
Wajah serius seorang ibu di depanku membuat perasaanku tidak enak. Jantungku berdebar seperti akan mendengar suatu hal yang kurang menyenangkan.
"Ya, boleh dong, Ma. Mama, mau menyampaikan apa?"