"Sebenarnya, mama mau menanyakan, apakah Rhea, benar-benar serius dengan Rian?" Jantungku seketika berdetak lebih cepat dan suhu ruangan tiba-tiba menjadi panas.
"Tentu saja, Ma."
Aku tak sanggup menegakkan kepala lagi, pipi juga mungkin sudah memerah, karena menahan malu mengakuinya.
"Kalau begitu, Mama hanya ingin menyampaikan. Rian, adalah anak pertama dan usianya sudah dua puluh delapan tahun. Sementara, umur Mama sudah tua dan penyakitan. Mama, ingin sekali menimang cucu dari Rian. Jika memang Rhea, serius dengan Rian, maka segeralah menikah dengannya. Jika menunggu terlalu lama, Mama takut, tidak sempat melihat anak dari Rian. Jika orangtua Rhea tidak setuju, kasihan Rian yang sudah menunggu. Dan sampai umur berapa dia akan menikah." Wanita yang sangat dihormati oleh kekasihku, berkata lembut, namun membuat dadaku terasa sesak, karena ibuku masih belum setuju jika aku dekat dengan Mas Rian. Apalagi untuk menikah.
"Apa orang tua Rhea, setuju dengan Rian?" Beliau ingin memastikan jawabanku sambil menatap mataku.
"Itu…itu, Rhea, akan membicarakan hal ini dengan Ibu, Ma."
Aku gugup dan salah tingkah memikirkan jawaban yang tepat dari pertanyaan beliau. Sementara Rian belum juga kembali. Rian meninggalkannya dengan sang ibu dalam waktu yang tidak tepat.
"Bicarakanlah dulu dengan Ibu Rhea. Jika Ibu Rhea, setuju dengan Rian, Mama akan sangat senang. Mama dan keluarga besar Rian, akan datang kesana untuk bersilaturrahmi."
Ucap beliau lagi, namun, 0berhasil membuatku panas dingin.
"Baik, Ma." Kepala ini langsung mengangguk.
"Ya sudah, mama, hanya ingin mengetahui hal itu. Mama, tidak ingin anak Mama yang tampan itu, terlambat untuk menikah. Bisa-bisa, dia sudah tua anaknya baru lahir. Ntar di panggil kakek sama anak sendiri. Hahaha...nggak kebayang deh." Wanita tua yang masih terlihat muda itu senang dan tertawa lepas.
"Oya, Rhea. Mama ada keperluan, jadi mama tinggal sebentar ya."
"Oh, iya, Ma."
"Jangan tegang gitu donk. Santai aja. Tuh, Rian udah kesini."
Aku mengangguk,l tersenyum pada beliau.
Kemudian Mama bersiap-siap sebentar, lalu segera pergi.
"Maaf, Dek. Lama di belakang, Mas, sakit perut. Jadi, semedi dulu di belakang."
"Iya, Mas. Nggak apa-apa." Jawabku dengan suara terdengar lemah.
"Adek, kenapa? Tadi cerita apa aja sama, mama?"
"Nanyain tentang kita, Mas." Akupun menyampaikan inti pertanyaan dari mama.
"Terus, apakah adek mau nikah sama, Mas?"
Dia duduk di hadapanku, sambil menunggu apa jawabanku.
"Itu… Mmh...Maaf, Mas. Tapi, Adek rasa ini terlalu cepat. Usia Adek, masih 21 tahun." Aku bingung bagaimana sebaiknya menjawab.
"Pikirkan dulu, Dek. Mas, hanya tidak ingin berpacaran terlalu lama. Mas takut khilaf, apalagi tiap berduaan dengan Adek, tubuh Mas, panas dingin rasanya." Rian pindah duduk di sampingku lalu membelai pipi yang mulai terasa panas lagi.
Tidak lama, adiknya Rian keluar dari kamar, iizin pamit mau ke rumah temannya bikin tugas. Tinggallah kami berdua di rumah itu. Pintu rumah separuh terbuka, memberi celah bagi Rian untuk menepis jarak denganku.
Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Jantungku, makin berdebar tak menentu. Perlahan mendekati bibir merahku yang merah dan Rian tidak memberi jarak dengan bibirnya. Lembut dan memabukkan, membuat tubuh merinding dan melemah.
Aku yang tidak pernah pacaran sebelumnya, sangat menikmati rasa itu. Bohong, jika aku bilang itu tidak memabukkan. Ci*man pertama, yang sangat berkesan bagiku.
"Jika Adek, tulus mencintai Mas, maka menikahlah dengan, Mas." Ucapnya menatap manik mataku.
"Bukannya aku nggak mau, Mas. Kasih aku waktu, buat bicara dengan ibu, Mas."
Rian membelai kepalaku, sesuai janjinya pada ibuku, Rian ingin mengantarkanku pulang.
"Baiklah, sekarang sebaiknya, Mas antar Adek pulang ya." Rian ingin segera mengalihkan perhatiannya dari Rhea.
"Kenapa, Mas? Kan masih ada waktu, sebelum jam yang ditentukan ibu tadi."
"Ya, nggak kenapa-kenapa."
"Mas, marah?" Aku penasaran akan sikapnya yang seketika tak banyak bicara.
Aku heran, kenapa Mas Rian tiba-tiba ingin segera mengantarkanku pulang, padahal masih ada waktu untuk bersama. Karena saling bekerja, kami tak setiap hari dapat bertemu.
"Mas, nggak marah." Ia menjawab pelan.
"Terus, kenapa diam gitu sambil mandangin aku? Biasanya juga bawel."
"Nggak ada apa-apa. Ayo, Mas, antar pulang." Ia lalu berdiri.
"Aku nggak akan pulang sebelum, Mas jelasin." Aku melipat tangan di d**a. Kesal dan cemberut, karena perubahan sikapnya.
"Bener, nggak mau pulang?" Ia menoleh ke arahku.
"Mau, pulang sih. Tapi, jelasin dulu, biasanya pas Aku mau pulang dilarang terus. Sekarang, pas masih ada waktu, malah disuruh pulang!"
"Adek tambah cantik." Celetuknya pelan.
"Nggak mempan." Ucapku pendek.
"Mas, takut khilaf kali ini, Dek." Rian menatap sayu. Ia menggigit bibirnya.
"Khilaf?"
Aku bingung. Namun, melihat ekspresi pria di depanku. Otakku mulai bekerja.
Segera kusandang slingbag merah itu lalu mendahului langkahnya melewati pintu rumah. Di depan pintu, kusarungkan sepasang sepatu ke kakiku.
"Ayo, Mas. Aku, mau pulang." Ajakku bergegas.
"Kenapa buru-buru, Dek? Masih ada waktu kok." Ia berkata santai. Tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya semula.
"Aku udah pasang sepatu, Mas. Ayo, antar balik, aku pulang." Pintaku manja.
"Hahaha...takut ya?" Tawanya meledak seketika.
"Siapa juga yang takut." Bantahku.
Rian keluar menyusulku, mengusap kepalaku lalu memakaikan helm. Kami berboncengan menuju jalan raya.
Di tengah perjalanan, Rian meraih jemari kiriku lalu mengenggamnya. Sementara tangan kanannya tetap memegang stang motor. Tanpa bicara apa pun, ia menyalurkan kehangatan lewat jemariku.
Rian menghentikan motornya di depan pagar rumahku.
"Ayo, Mas antar sampai depan pintu. Tapi maaf, Mas, nggak mampir ya."
Aku mengangguk dan melangkah bersamanya. Lalu kubuka pintu rumah.
"Assalammualaikum." Ucapku dan Mas Rian, namun tak ada yang menjawab salam.
"Mungkin Ibu, lagi sholat di kamar, Mas. Makanya nggak ada yang jawab."
"Iya, nggak apa-apa. Kalau begitu, Mas, pulang dulu, ya. Titip salam sama, Ibu."
"Iya, nanti disampaikan. Terima kasih ya, Mas."
"Sama-sama. Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rian meninggalkan rumahku.. Setelah jauh dari pandangan, barulah Rhea masuk ke dalam rumah.
Sang Ibu, ternyata memperhatikan interaksi kedua insan itu. Dari balik tirai, lantai dua rumahnya. Ia memperhatikan senyum di wajah putrinya yang sudah dewasa. Ia cemas, jika suatu saat, raut bahagia itu akan sirna jika bersanding dengan lelaki yang tidak tepat.
***
Sore hari, setelah lelah bekerja, aku langsung beristirahat di kamar. Ada beberapa berkas kantor yang kubawa pulang untuk diselesaikan.
Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban, aku memeriksa berkas penting perusahaan.
Tok tok tok
"Sayang, lagi ngapain?" Ibu berdiri di depan pintu kamarku.
"Masuk aja, Bu. Nggak dikunci." Sorakku sambil terus bekerja.
"Makan dulu. Kesehatan lebih penting. Beberapa hari ini, Ibu lihat, kamu sibuk terus. Sampai bawa pekerjaan kantor ke rumah."
"Nanti aja makannya, Bu. Ini harus diperiksa lagi berkasnya."
"Dalam minggu ini, kamu sering telat makan. Sekarang, nggak boleh lagi. Ayo, makan dulu."
"Bentar lagi aja, Bu. Aku, juga belum lapar."
"Rhea, dengar. Kita memang harus rajin bekerja, namun juga harus memperhatikan kesehatan. Sebelum kamu bergabung di perusahaan, pekerjaan kamu sudah ada petugasnya. Jika kamu keluar dari perusahaan, mereka akan mencari pegawai baru. Tidak perlu terlalu memforsir tenaga dan pikiran. Bekerja saja sesuai SOP kantor. Kecuali kamu yang punya perusahaan sendiri. Sekarang, ayo makan. Ibu tunggu di bawah!"
Kalau Ibu sudah bicara panjang lebar, aku hanya tersenyum memperhatikan wajah beliau yang mulai menua. Namun, masih terlihat awet dibanding wanita seusia beliau.
"Kenapa, kamu senyam-senyum? Kamu pikir, Ibu radio rusak gitu?"
"Cie cie...Ibu kok tambah cantik ya. Udah lama, Ibu nggak ceramah panjang lebar begini. Maafin Rhey deh, Bu. Ayo, kita makan."
Aku mencubit pelan pipi beliau dan merangkulnya. Berjalan bersama menuju meja makan. Menikmati nikmat Tuhan dengan rasa syukur.