Selama perjalanan pulang, pikiran Aira benar-benar tak tenang. Dia masih memikirkan jenis kelamin bayinya yang rupanya perempuan. Entah bagaimana tanggapan Gibran nanti. Lelaki itu ngotot menginginkan bayi lelaki. Padahal entah bayi perempuan atau lelaki itu sama saja yang penting sehat. Namun, kini dia tak bisa berkata apa-apa. "Aira, jangan melamun!" tegur sang ibu. Aira yang kaget pun membelokkan mobil ke arah taman. Untung saja jalanan tak begitu ramai. "Apa yang kamu pikirkan? Kamu hampir menabrak orang yang nyebrang tadi," omel sang ibu. "Maaf Bu, Aira gak sengaja." "Kalau udah gak kuat nyetir, lebih baik telfon suamimu. Bahaya Aira! Kamu kenapa sih?" tanya sang ibu dengan suara lembut. Dia masih bingung akan tingkah putrinya itu. Semenjak ke luar dari rumah sakit, tatapannya kos

