Gibran dan Aira berjalan bersisian memasuki rumah mewah milik kedua orang tua Gibran. Lelaki itu tidak mau berangkat, tetapi mendapat telfon langsung dari sang mama membuatnya tidak jadi lembur.
"Akhirnya, anak menantu mama sudah datang," ujar Mama Sari penuh bahagia berdiri di samping suaminya.
Aira mencium punggung tangan mertuanya. Gibran memeluk dan mencium kedua pipi sang mama lalu memeluk papa kandungnya.
"Ayok, kita makan malam dulu!"
"Ini udah jam 8 mana ada makan malam, Ma. Udah kemaleman," ujar papa kandung Gibran mengomel. Mendelik menatap anak semata wayangnya yang datang terlambat hingga harus menahan perut yang menjerit keroncongan.
Aira hanya tersenyum tipis. Dia juga merasa tak enak karena tidak membawa buah tangan atas kunjuangannya ke rumah mertuanya sendiri. "Mama juga mendadak sih," jawab Gibran tak mau kalah.
"Ya kamu ini yang asalnya tidak mau makan malam di rumah mama."
"Memang ada hal apa sih Ma? Gibran itu banyak kerjaan," jawabnya. Aira mencubit pelan tangan Gibran sampai di pemilik tangan mengaduh.
"Makan dulu, nanti mama akan bicara sesuatu!"
Gibran dan Aira duduk bersebelahan menikmati makan malam. Masakan buatan Mama Sari yang lumayan enak. Walaupun memiliki pembantu rumah tangga, Mama Sari tetap memasak sendiri untuk keluarganya sendiri. Hanya jika sibuk maka meminta pembantu rumah tangga untuk memasak.
Ada nasi goreng sosis, ada ayam goreng kecap pedas, ada rendang, ada capcay, ada timun, dan buah-buahan. Minuman yang tersedia air putih, es jeruk, dan teh hangat. Makanan sebanyak ini dimakan untuk empat orang juga pembantu rumah tangga yang sudah diberi di awal tadi. Tidak mungkin memberikan makanan bekasan kepada orang lain. Itu tidak baik. Memberilah secara utuh.
"Gimana rasanya Aira?"
"Masakan mama memang mantap," jawabnya dengan senyuman manis.
Gibran berdecak. "Kamu belajar gih sama mama," bisiknya. Aira mengedikkan bahu tak menggubris. Gibran saja tidak memperlakukannya dengan baik, maunya suruh-suruh dia saja.
"Masakan mama inilah yang membuat papa betah makan di rumah daripada beli di luar. Selain hemat juga sudah kecanduan sama masakan mama mertuamu ini," celetuk papa kandung Gibran sambil menatap sang istri yang menunduk malu-malu.
Gibran melengos menatap kedua orang tuanya. Dia mengetukkan jari kirinya di paha dengan bosan. Setelah pulang dari sini dia akan begadang mengurus pekerjaannya kembali.
"Nah, itulah pentingnya istri belajar memasak. Masakan yang enak, apalagi dimasak dengan penuh cinta. Suami gak akan berani lirik wanita lain," ujar papa kandung Gibran membuat Aira tersenyum tipis. Dia juga bisa memasak walau mungkin masakannya tidak seenak restoran bintang lima. Dia hanya memasak sesuai selera lidahnya saja.
"Tetapi, bukan hanya wanita saja yang harus pandai memasak, lelaki pun juga. Karena itu pekerjaan bersama, bukan hanya si wanita. Memasak bisa dikerjakan oleh siapapun," ujar Mama Sari membuat Aira tersenyum lebar. "Kalau anak lelaki tidak didik keras sejak dini, dimanja, dan tahunya cari uang terus, tidak tahu cara memuliakan wanita, entah bagaimana nantinya."
"Udah deh Ma. Makan ya makan, jangan bicara dulu," ujar Gibran membuat Mama Sari mendelik kesal.
"Sepertinya kamu penasaran sekali dengan apa yang hendak mama bicarakan."
"Tentu Ma. Memangnya kenapa?"
Mama Sari menggelengkan kepala. Memilih menikmati hasil masakannya. Begitupula dengan yang lainnya. Papa kandung Gibran sampai menambah lagi.
Selesai makan, Mama Sari mengajak menantu dan anaknya untuk duduk di ruang tamu. Sambil menikmati cemilan yang dibelinya. Biarlah pembantu rumah tangga yang membereskan ruang makan.
"Mama mau bicara apa?" tanya Gibran mendesak. Sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kamu ini kenapa sih? Macam lagi dikejar anjing saja," gerutu Mama Sari menatap sang putra dengan tatapan jengkel.
"Ma, macam tidak tahu bagaimana putramu saja. Apalagi jika bukan buru-buru untuk bekerja lagi. Begadang Ma."
"Oh, begadang." Pikiran Mama Sari berkelana kemana-mana. Membayangkan betapa harmonisnya hubungan anak dan menantunya.
"Mau bicara apa sih Ma?" tanya Gibran dengan helaan nafas panjang.
"Begini Gibran, papa dan mamamu sudah tua. Mama harap kamu sama Aira tidak menunda momongan ya. Kedua orang tua Aira juga pasti ingin segera menimang cucu. Mama juga sebenarnya tak mau kamu tinggal di sana. Apalagi kalian sama-sama sibuk bekerja. Lebih baik cari rumah di sekitaran sini. Uangmu 'kan banyak, Gibran. Masa tinggal di sana. Kamu sewakan saja itu."
Gibran mengerti akan apa yang dikatakan sang mama. Hal yang sama bisa dibicarakan lewat telfon. "Ma, Gibran sama Aira juga membangun usaha di belakang rumah. Halaman belakang itu masih luas, Gibran mau membuat kandang sapi. Usaha sapi perah Ma. Nanti susunya dikirim ke luar kota."
"Ya bagus kalau begitu, kamu bisa tidak membagi waktu dan memanajemen dengan baik?" tanya papa kandung Gibran. "Papa tidak mau sampai kamu punya anak kamu telantarkan karena kesibukan kalian. Makanya mamamu ini berbaik hati memintamu pindah rumah Gibran. Kamu bisa sewakan rumah yang kamu renovasi itu. Kamu serahkan usaha barumu itu ke orang. Mungkin sistem bagi hasil."
Aira menatap Gibran. Dia ingin mendengar jawaban lelaki itu. Tak percaya bahwa Gibran membelanya. Mengaku bahwa usaha itu milik berdua. Padahal ini keinginannya.
"Gibran, kamu pindah rumah ya? Mama masih berharap kamu mau pindah rumah. Mama kalau ke sana juga jauh. Apalagi jauh sama tetangga karena luasnya halaman rumahmu. Kalau ada apa-apa gimana? Kamu sibuk bekerja. Aira sendirian di rumah. Apa jangan-jangan kalian jarang melakukan hubungan?" tanya Mama Sari menatap keduanya.
Aira mengerutkan dahi bingung. Hubungan apa yang dimaksud oleh mama mertuanya. Dia selalu mengajak Gibran berkomunikasi walau balasannya menyebalkan. "Kenapa mama tanya hal itu," jawab Gibran. Dia tak mungkin menjawab apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya mama cuman ingin tahu."
"Ma," tegur papa kandung Gibran. Aira masih tidak paham.
"Sudahlah, mama berharap kalian benar-benar tidak menunda momongan. Mama kecewa jika hal itu terjadi."
"Ma, anak itu yang kasih bukan kita, tetapi Allah."
"Ya tetapi kamu harus rajin berusaha, Gibran."
Gibran menghela nafas panjang. Rasanya dia ingin membakar ayam. Mamanya ini kenapa membuat kepalanya makin pusing. "Aku sama Mas Gibran hanya mengikuti takdir saja Ma. Yang penting kita sama-sama berusaha gitu."
Mama Sari tersenyum mendengar jawaban Aira. Gibran sampai terpuka beberapa detik. Dengannya selalu marah-marah, dengan menantunya tidak. Entah apa maunya sang mama ini.
*********
Gibran mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Pulang dari rumah orang tuanya kepalanya malah pusing. Sang mama yang banyak menuntut sedangkan dia tak tertarik. Aira memilih diam saja memandang lampu-lampu di jalan.
"Kamu punya solusi?"
"Apa?"
"Kamu punya solusi memiliki anak tanpa berhubungan?" tanya Gibran dengan geram. "Yang dimau mama hanya anak 'kan?"
Aira mendadak sedih mendengarnya. Memang dia tak semenarik itu bagi lelaki itu. Tak apa, dia pun tak memaksa. Hanya saja kenapa Gibran beranggapan seolah tak menginginkan anak darinya. Suatu saat dia memang ingin. Namun, dalam waktu dekat ini dia masih sibuk mengembangkan bisnisnya.
"Tidak tahu," jawab Aira singkat.
Gibran sebagai lelaki pun tak tahu menahu. Sebagai lelaki normal tentu dia merasa b*******h di dekat Aira. Apalagi tidur berdua dalam ranjang yang sama. Terlebih Aira ini wanita cantik dengan body yang ideal. Hanya saja selama ini dia selalu bisa menahannya. Entah bagaimana nantinya apa dia bisa menahannya atau tidak. Apalagi tidak ada cinta diantara dirinya dengan Aira. Belum lagi permintaan sang mama. Dia seketika bingung. Belum siap untuk menjadi seorang ayah, dan direpotkan dengan suara tangisan yang nyaring.
"Minggu depan kita ke dokter," ujar Gibran.
Aira menoleh. "Untuk apa?"
"Program hamil."
Aira mengangguk mengerti. Kedua pipinya memanas. Program hamil itu artinya dia dan Gibran akan melakukan hubungan suami istri. Dia mendadak tidak siap. Apalagi mendengar perkataan salah satu temannya bahwa hal itu cukup menyakitkan.
"Kamu jaga pola makannya. Rajin olahraga supaya berhasil. Paling tidak dua bulan mendatang kamu sudah hamil," ujar Gibran membuat Aira mendengkus kesal.
"Bukan hanya wanita saja, lelaki juga begitu. Kamu jangan mau enaknya saja. Kalau nanti kita punya anak jadi tanggung jawab berdua. Gak ada begadang buat kerjaan terus. Adanya begadang nungguin anak supaya tidur. Apalagi kalau malam suka nangis karena haus dan buang air kecil. Kamu juga harus mau bangun malam-malam."
"Tenang saja."
Aira mengangguk berusaha meyakini perkataan Gibran. Walau tak yakin sepenuhnya. Apalagi lelaki itu yang cukup maniak dengan dunia pekerjaan.
Tak terasa mobil berhenti di depan rumah. Aira turun diikuti Gibran. Membersihkan kedua tangan dan kaki, menyikat gigi kemudian mengganti baju dengan piyama. Gibran melakukan hal yang sama. Namun, dia memilih duduk di ruang tamu dengan laptop dipangkuannya. Aira memilih merebahkan tubuh di kasur sambil memegang ponsel. Berselancar di dunia maya. Dia dan Gibran walau menikah, hubungannya lebih kepada atasan dan bawahan dalam bekerja. Lebih ke seorang teman maupun sahabat yang ada dalam suka maupun duka. Dia tak tahu hubungan macam apa ini. Tidak ada keromantisan setiap harinya. Dia juga bukan wanita yang haus kasih sayang dan minta diperhatiin 24 jam. Dia dengan sifat cueknya yang juga tak jarang membuatnya malas berkomunikasi jika tidak penting-penting amat. Dia berharap semuanya berjalan dengan baik.