"Maafin Aira ya Ma, baru pulang," ujar Aira merasa bersalah kepada mama mertuanya yang sudah seharian mengurus Gibran yang sakit.
Mama Sari mengulas senyuman tipis. "Tidak apa-apa. Gibran itu juga masih anak mama. Walaupun Gibran sudah menikah, Gibran tetap anak mama. Kamu itu istrinya, tidak harus 24 jam bersama Gibran."
Aira mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Mama mertuanya memang pengertian. Dia beruntung sekali.
"Tadi sudah mama kasih obat. Kayaknya masih tidur ini. Coba gih kamu tengok. Kamu bersih-bersih sana dulu, terus makan. Masakan buatanmu tadi pagi masih ada kok. Udah mama hangatin!" titah mama mertuanya. Aira melenggang masuk ke dalam rumah. Dia berjalan hati-hati saat melihat Gibran tidur. Meletakkan tasnya, mengambil baju lalu ke luar menuju kamar mandi.
Tampak mama mertuanya asyik menonton televisi sambil memakan keripik singkong pedas. Volumenya pun pelan, mungkin tak ingin mengganggu Gibran yang sedang tidur. Dia dengan segera mandi dengan cepat. Mama mertuanya sepertinya tidak pulang sama sekali. Kasihan papa mertuanya sendirian di rumah.
"Baru pulang?" tanya Gibran saat Aira duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Aira menoleh ke arah Gibran yang kedua matanya tampak sayu.
"Iya."
"Gimana kantor?"
"Baik," jawab Aira singkat. "Kamu rindu dengan kantor?"
"Ya tentu, besok aku udah masuk kantor. Oh ya, soal bisnis yang hendak kamu jalani sudah kupanggilkan beberapa orang untuk membuat kandang."
"Hah? Kapan kamu manggi?"
"Tadi," jawab Gibran dengan santai hingga membuat Aira terkejut. Santai sekali lelaki itu. Padahal masih sakit, masih saja sibuk mengurus pekerjaan lain.
"Terima kasih. Seharusnya kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengurusnya sekarang. Aku juga bisa cari sendiri. Cuman lagi sibuk sama kerjaan kantor saja ya belum sempat."
"Udahlah, harus sat set dong. Biarpun tubuh sakit, otak 'kan masih tetap jalan. Aku nyuruh orang buat nyari, dan buat ngurus. Kamu tinggal terima beres," jelas Gibran. Dia meletakkan bantal di kepala ranjang. Menyenderkan tubuh sambil menatap Aira yang tampak lebih cantik dan wangi setelah mandi.
"Ya udah, terima kasih. Aku mau ke luar dulu." Gibran mengangguk.
Aira menghampiri mama mertuanya. "Mama sudah makan?"
"Sudah. Kamu udah pulang, mama mau pulang ya. Udah ada jemputan," ujar mama mertuanya.
"Papa yang jemput?"
"Supir rumah. Ya udah, nanti kamu suruh Gibran minum obat lagi. Dia gak bisa diem." Aira mengangguk. Dia mengantar mama mertuanya ke depan rumah. Tangannya melambai saat mama mertuanya sudah masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil hilang dari pandangannya, Aira masuk ke dalam rumah dan menemukan Gibran yang asyik berselancar di dunia maya. "Masih sakit mainan ponsel," tegur Aira.
"Cuman sakit doang, tangan masih sehat." Aira menghela nafas panjang. Dia bingung harus berbicara apa.
Beginilah pernikahan. Kehidupannya tentang pembicaraan. Jika tidak, apa yang akan dibicarakan? Komunikasi adalah yang utama. Kegiatan sehari-hari yakni berkomunikasi. Entah apapun itu. Aira yang tak biasa dekat dengan lelaki memilih bingung. Dia berjalan ke luar kamar untuk menikmati makanan yang dia masak tadi pagi.
Tiba-tiba dia ingin burger. Sepertinya enak jika makan burger buat nanti malam. Dia kembali ke kamar mengambil ponsel. "Mau burger?"
Gibran hanya diam saja. Apa lelaki itu tak mendengarnya? "Mau burger tidak?" tanya Aira lagi.
Masih diam. Padahal volume di ponsel lelaki itu tidak keras. "Gibran, mau burger?" tanyanya dengan gemas bercampur kesal.
Gibran mendongakkan kepala menatap Aira. "Oh, kamu berbicara denganku?"
"Sama siapa lagi."
Gibran menggaruk lehernya yang tak gatal. "Boleh," jawab Gibran singkat.
Aira menghentakkan kaki dengan kesal. Berjalan ke luar kamar sambil membawa ponselnya. Sungguh menyebalkan sikap Gibran. Tidak sakit maupun sakit sama-sama menyebalkan tingkahnya. Melebihi anak kecil saja.
*******
"Wah, Pak Gibran udah sehat," ujar salah satu karyawannya. Gibran hanya menampilkan wajah datar.
"Pak Gibran ini memang lelaki kuat. Pak Salim cerita kalau masih sakit pun Pak Gibran masih memikirkan pekerjaannya. Waw, aku juga ingin memiliki suami seperti Pak Gibran. Udah tampan, kaya, perfeksionis. Siapa sih yang gak mau memiliki suami macam Pak Gibran."
"Beruntung sekali Bu Aira ya! Jadi, gak sabar pengen nikah."
"Kamu kira nikah gampang? Gak segampang dunia hayalanmu kali. Sana urus kerjaanmu! Jangan sampai Pak Gibran marah melihat karyawatinya sibuk bergosip."
Gibran mendengarkannya, tetapi dia tetap tak acuh. Tetap melangkah menuju lift yang mengantarkan dirinya ke ruangannya.
Walau sekantor, dia dan Aira berangkat sendiri-sendiri. Ada dua mobil. Lagipula Aira sibuk dengan urusan rumah tangga. Dia yang menjadi boss harus menjadi panutan bagi karyawan karyawatinya untuk mendisiplinkan diri. Sakit sehari membuatnya rindu urusan pekerjaan.
Dia juga sedang membuka cabang bisnis baru di bidang fashion. Berharap usahanya banyak melebar dimana-mana. Segala sesuatu tidak akan ada yang sia-sia. Dia akan menikmati hasil dari kerja kerasnya. Orang-orang yang dulunya tidak pernah menganggapnya ada, tiba-tiba mengaku-ngaku sebagai teman bahkan saudara. Sudah jelas terlihat siapa yang selalu ada dalam suka maupun duka. Jatuh bangun mendirikan bisnis hingga sampai sukses seperti sekarang itu tidaklah mudah.
Dia juga akan mengembangkan film animasi bertema pendidikan anak-anak. Apalagi yang ditayangkan di televisi sekarang film kartun sudah jarang ditemukan. Tak ayal itu membuat anak-anak mudah terkontaminasi akan film yang ratingnya 13+. Seperti yang ditonton oleh Aira, kisah rumah tangga masih mendominasi. Jika sampai anak-anak umur 5 tahun menonton tayangan seperti itu tidak baik untuk tumbuh kembangnya. Terlebih orang tua belum tentu mengawasi sang anak selama 24 jam.
Film animasi ini akan dia tentukan menjadi 2 kategori. Kategori pertama anak-anak yang lingkungannya menyangkut sekolah, bermain bersama teman. Kategori kedua lebih bertema kepada anak-anak dalam rumah yang diajarkan oleh kedua orang tuanya tentang do'a-do'a, surat pendek, bahkan mengajarkan tentang etika.
Anak akan mudah mengambil dari pesan film tersebut. Dimana anak akan melihat, merekamnya di dalam otak maupun hati. Apalagi untuk anak berumur 5 tahun dan 6 tahun yang suka mengikuti perkataan orang-orang. Seperti yang rame dimasa sekarang, kabar terbaru anak-anak mengikuti kosa kata 'ora gumon'. Ketika diajak mengobrol sama orang pun anak akan mengatakan hal tersebut. Dengan hasil pengamatan yang dia lakukan, dia akan memgembangkan film animasi itu. Masih sekedar rencana. Dia juga akan menampilkannya di sosial media lainnya nanti. Dia berharap akan dimudahkan.
"Siapkan rapat untuk nanti!" suruh Gibran kepada sang sekretaris.
"Baik, Pak!"
Dia akan mengadakan rapat dengan antar divisi untuk membahas rencana barunya ini juga soal inovasi atas usahanya yang lain. Melihat seberapa banyak berkas di mejanya membuat dirinya senang. Bukan pusing. Dia memang sesenang itu dengan urusan pekerjaan. Tak apa berangkat pagi dan pulang malam.
*********
"Gibran, mamamu minta kita ke sana untuk makan malam bersama!" Aira menelfonnya dikala dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Wanita itu sudah pulang lebih dulu dari kantor tentunya sesuai dengan jam kantor.
"Untuk apa?"
"Ada yang ingin diomongin katanya."
Gibran mengacak rambutnya dengan kasar. "Kamu saja yang datang ke sana. Aku sibuk!"
"Bagaimana bisa aku datang sendirian ke sana? Mama Sari memintamu untuk datang juga."
"Mama kenapa sih," ujar Gibran dengan kesal.
"Itu mamamu Gibran!" tekan Aira. Dia juga kesal atas respon suaminya.
"Aku masih banyak pekerjaan. Kamu duluan ke sana. Nanti aku telfon mama."
"Mama udah memberikan ultimatum kamu diminta untuk ikut ke sana bersamaan denganku."
"Memangnya kamu gak bisa memberikan alasan apa gitu. Bilang saja aku habis libur banyak kerjaan ini."
"Ya bisa besok," ujar Aira. Dia memegang perutnya yang terasa mulas karena kebanyakan makan sambal.
"Tidak bisa! Aku masih banyak kerjaan ini. Udah deh, kamu duluan ke sana!" titah Gibran sambil membolak-balik berkas yang dia pegang.
"Tidak bisa!" Aira menggelengkan kepala. Dia mencengkeram perutnya.
"Aira, kamu kenapa menyebalkan sekali. Kamu bisa memberikan alasan apapun kepada orang tuaku terlebih mamaku. Pasti mengerti."
"Ini masalahnya gawat!" kata Aira sambil menghentakkan kakinya. Dia menoleh ke kanan-kiri menahan rasa mulas.
"Gawat bagaimana sih?" tanya Gibran yang udah kesal. Sepertinya kepalanya bertanduk. Ini membuatnya membuang-buang waktu saja.
"Kita lanjutkan nanti obrolannya. Kamu pokoknya datang ke sana juga. Kalau kamu tidak datang aku juga tidak datang." Setelah salam Aira menutup sambungan telfon. Dia meletakkan ponselnya sembarangan lalu berlari menuju kamar mandi. Perutnya sudah mulas. Keringat sudah memenuhi leher, dahi bahkan hampir sekujur tubuh. Lain kali dia tidak akan makan sambal sebanyak itu. Sungguh membuatnya sengsara.