"Kamu ini kenapa memutuskan untuk mengemudi sendiri sih?" omel Aira kepada Gibran yang kini berbaring di ranjang dengan dahi yang tertutupi oleh kain hangat. Lelaki itu sedang demam. Dia mendengar bahwa jika demam lebih baik diberikan kompresan air hangat bukan air dingin. Aira tak mengerti bagaimana merawat orang sakit.
Ketika dia sakit selalu berusaha menyembuhkan sendiri karena tak mau merepotkan siapapun. Lagipula siapa yang akan khawatir jika dirinya sakit? Orang tuanya sibuk dengan permasalahan mereka sendiri.
"Pakai maksain untuk pulang sebelum shubuh pula. Kalau ada apa-apa di jalan gimana?" Aira tak berhenti mengomeli Gibran.
"Kamu bisa diam tidak? Aku sedang sakit! Pusing ini kepala," gerutu Gibran. Dia hendak membelakangi Aira, tetapi wanita itu meminta Gibran untuk tidak tidur miring.
"Aku tuh bilang gini untuk kebaikanmu Gibran. Kalau tidak ada aku bagaimana?"
"Ya kita 'kan selamanya tinggal serumah."
Aira tersenyum. "Ya kalau pas aku tidak ada bagaimana?"
"Kamu ngomong apa sih. Udah kamu ke luar sana! Aku mau istirahat," usir Gibran dengan kedua mata terpejam. Aira menghela nafas pelan. Dia memutuskan untuk diam saja. Merapikan bajunya, mengambil tas lalu berangkat kerja.
Hendak membuka pintu mobil, suara dering ponselnya terdengar. Rupanya dari Mama Sari—mama kandung Gibran. Setelah mengucapkan salam, Aira menanyakan apa maksud tujuan mama mertuanya menelfon. Tentunya dengan bahasa yang sopan.
"Gibran katanya pulang ya?"
"Iya, Ma. Sekarang Mas Gibran sakit."
"Sakit apa?" pekik mama mertuanya membuat Aira menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Demam, Ma. Tadi sudah Aira kompres. Aira tidak bisa menunggu Mas Gibran. Aira kerja Ma," ujarnya dengan suara pelan. Berharap mama mertuanya mengerti.
"Iya kamu kerja saja. Biar mama nanti yang ke sana. Anak itu memang menyusahkan. Kamu yang sabar ya. Ini salahnya Gibran yang terlalu sibuk bekerja gak perhatian sama tubuh sendiri. Sudah beli obat belum?"
"Belum, Ma. Aira juga tadi masak sayur asem sama goreng ayam bumbu. Belum sempat membuat bubur. Maaf ya Ma, Aira ... "
Mama mertuanya menyela, "Sudah tidak apa. Kamu sudah bangun pagi menyiapkan sarapan pagi, tetapi kondisi Gibran memang tidak memungkinkan. Biar nanti mama yang ke apotik membeli obat."
"Iya, Ma. Terima kasih."
"Ya sudah mama tutup telfonnya. Pasti kamu mau berangkat kerja." Aira mengulas senyuman tipis. Senang mendapat mama mertua yang pengertian akan dirinya.
"Iya, Ma."
Sambungan telfon terputus, Aira memasukkan ponselnya ke dalam tas. Masuk ke dalam mobil kemudian mengemudikannya menuju kantor. Meninggalkan Gibran dalam kesendirian disaat sakit. Bagaimana lagi, dia sudah banyak izin kerja. Walaupun bossnya adalah suaminya sendiri, dia tak bisa masuk dan izin sesukanya.
********
Membina rumah tangga tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan, dalam dunia novel sekalipun yang kelihatannya romantis. Padahal ada permasalahan yang terjadi tetapi disembunyikan saja. Setiap orang yang kelihatan bahagia di sosial media belum tentu tidak memiliki masalah dalam hidup. Setiap masalah tidak segalanya harus di up to date di sosial media. Apalagi masalah suami istri.
Itulah pentingnya kenapa belajar dulu sebelum menikah. Belajar mengendalikan ego. Karena setelah menikah salah satunya harus mengalah. Bukan dalam artian mengalah berarti kalah, tetapi mengalah untuk mendinginkan pikiran. Jika keduanya sama-sama tak mau mengalah maka sudah dipastikan hubungan itu akan terkoyak.
Apalagi jika mengambil keputusan disaat emosi, maka hasilnya juga tidak baik. Semua akan berlanjut dengan perceraian. Hal itu terjadi karena keegoisan masing-masing pasangan. Oleh karenanya perlunya pengendalian diri yang baik juga tidsk sembarangan dalam menyimpulkan segala sesuatu.
"Tahu tidak Mbak Aira, Mbak Septi itu baru saja kena penipuan."
Saat waktunya sudah istirahat, teman kerjanya mengajaknya mengobrol lebih kasarnya mengghibah. "Maksud kamu gimana?"
"Ya gitu, Mbak. Sekarang banyak yang ngaku-ngaku saudara sampai pinjam uang. Nah, si Mbak Septi ini yang tak tega mendengar pelaku mengatakan salah satu anggota keluarganya sakit keras dan membutuhkan uang yang dipinjamkan. Pas udah dikirim, esoknya Mbak Septi tanya keadaan anggota keluarganya alias yang ngaku sepupunya itu malah memblokir namanya. Ngeri gak tuh. Mana dipinjamin lima juta."
Aira menggelengkan kepala. Hal itu masih saja dipercaya. Sesuatu yang tanpa bukti nyata tidak akan bisa dibenarkan. Lagipula kenapa Septi tidak tanya lebih lanjut. Mungkin sikap tak tegaan itulah membuat Septi meminjamkannya.
"Mbak Aira harus hati-hati. Apalagi istrinya Pak Gibran nih. Banyak uang, pasti banyak yang modus kayak gitu."
"Kamu tenang saja. Semoga dijauhkan dari hal-hal seperti itu."
Saat istirahat, Aira memutuskan ke luar untuk membeli sebungkus roti saja. Dia akan makan saat di rumah nanti. Merasa tidak lapar karena memikirkan kondisi Gibran saat ini. Walaupun dia tak mencintainya, setidaknya ini kewajiban dan tugasnya. Namun, apa daya dia tak berani untuk sekedar menelfon lebih dulu yang nantinya akan membuat lelaki itu percaya diri.
"Mbak Aira, selama di rumah Pak Gibran pasti jadi suami yang romantis ya? Imam idaman 'kan?"
Aira mengedikkan bahu. Memilih diam tak membalas. Dia asyik mengunyah roti yang dibelinya.
"Pasti romantis banget sama Mbak Aira. Di kantor dingin banget macam kulkas. Palingan kulkas juga kalah sama Pak Gibran. Aduh, coba pas senyum ganteng banget kali ya. Kenapa Pak Gibran gak mau senyum aja sih setiap di kantor. Hitung-hitung membuat karyawan semangat juga 'kan? Nah, dapat pahala Pak Gibran ini."
Aira ingin tertawa mendengarnya. Gibran mana bisa tersenyum apalagi romantis. Sifat lelaki itu yang cenderung cuek lebih mendominasi. Udah cuek, jutek, judes, dingin, sikap buruk semuanya rasanya menempel di Gibran. Tidak ada yang namanya lelaki cool tetapi perhatian dan possessive. Itu hanya ada di dunia novel. Dunia halu para kaum pembaca novel.
Lihat saja besok ketika lelaki itu sudah sembuh. Pasti akan kembali cuek kepadanya. Paling runah akan sepi sekali. Dia juga tak akan bicara jika tidak diajak berbicara lebih dulu kecuali jika benar-benar penting. Untuk apa berbicara kepada Gibran jika dirasa tidak penting amat. Hanya akan membuang-buang waktu saja baginya.
"Mbak Aira diam melamun. Pasti lagi kangen Pak Gibran dan bayangin yang enggak-enggak 'kan? Pak Gibran gak masuk karena sakit. Eh, Mbak Aira masuk kerja. Duh."
"Udah deh, kamu kembali ke tempatmu. Waktu istirahat bentar lagi habis."
"Iya, Mbak. Ini mau nyari makan dulu."
"Cepetan makanya, nanti gak makan siang pingsan deh," ledek Aira.
"Enak saja. Aku ini strong woman, Mbak. Gak pernah pingsan seumur hidupku Mbak. Walau darah rendah sekalipun gak pernah pingsan. Paling tidak rasanya ingin terbang, hehe."
Aira menggelengkan kepala. Dia memilih segera menghabiskan rotinya lalu kembali bekerja. Menyelesaikan pekerjaannya yang sudah cukup lama dia tinggalkan. Supaya nanti tidak lembur dan bisa segera pulang melihat kondisi Gibran. Mungkin sekarang mama mertuanya direpotkan dengan mengurus segala keperluan lelaki itu.
"Yang fokus ya Mbak kalau bekerja."
Aira mendelik. Dia melihat sejenak ponselnya. Hanya grup yang penuh pesan entah membahas apa. Apalagi grup angkatan SMA, dan kampusnya. Dia selalu mengarsipkannya karena cukup mengganggu dirinya. Semenjak dia menikah, banyak lelaki yang dulu berusaha mendekati dirinya pun akhirnya menjauh. Mereka tentu berpikir ulang untuk mengejar dirinya lagi. Gibran kalah jauh dari mereka. Lelaki yang dia nikahi ini kaya raya, tampan, pintar, kurang apalagi? Ya, satu yang kurang bahwa Gibran ini tidak cinta kepadanya. Dia mengerti akan hal itu. Mungkin semuanya butuh waktu.
Dia juga belum memikirkan soal anak dalam waktu dekat. Ah, membayangkan Gibran dibombardir mama mertua untuk segera memberikan anak pun dia ingin tertawa. Bagaimana dia dan Gibran segera memberikannya anak jika Gibran tak pernah menyentuhnya sama sekali. Hanya sekedar pelukan disaat tidur saja. Selebihnya saling menendang bahkan memisahkan diri dengan guling di tengah.
Perjuangannya masih panjang. Dia akan mampu melewatinya dengan baik. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selagi berusaha dan berdo'a. Jika dia tak memiliki support system, maka dirinya adalah motivasi terbaik. Dirinya adalah pendukung terbaik. Karena ketika jatuh, dirinya yang akan menguatkan untuk kembali bangkit. Dirinya yang selalu ada untuk dirinya. Memeluk diri sendiri dikala kesusahan melanda. Maka, fokusnya adalah kebahagiaan dirinya. Fokusnya menjalani semuanya dengan baik supaya di masa depan kehidupan anak-anaknya lebih baik lagi. Walau dia yakin Gibran mampu memberikan pendidikan maupun materi yang layak untuk anaknya nanti. Hanya saja, dia ragu soal cinta yang mungkin lelaki itu tak akan mudah memberikannya. Gibran yang ambisius begitu sulit ditaklukkan. Apalagi soal menang tender. Sudah dipastikan Gibran akan melakukan apapun demi memenangkannya.
Dia kembali mengetik sesuatu di layar komputer. Walau dia juga membawa laptop, tetap enak memakai komputer baginya. Jari-jarinya yang lincah berusaha memahami data dan mengelolanya dengan baik. Berhati-hati supaya tidak salah dalam pengetikan dan pengolahannya. Karena menyangkut masa depan perusahaan. Beginilah kerja. Tidak ada yang mudah. Semua merasakan lelahnya masing-masing. Namun, ketika mendapat gaji senangnya minta ampun. Apalagi jika bisa memberikan self reward kepada dirinya sendiri atas kerja kerasnya selama ini. Sungguh menyenangkan sekali baginya. Dia yakin bisa melaluinya dengan baik. Hanya soal waktu. Ya, dia harus lebih bersabar dan berusaha. Tanpa dua kata itu dia akan menjadi wanita yang hilang akal.