Bab 8

1459 Words
"Aira, besok aku pulang!" kata Gibran.  Benar saja malam harinya lelaki itu menelfon dan tanpa basa-basi mengatakan akan pulang keesokan harinya. Dia yang mengerti apa yang dibutuhkan lelaki itu. Menyiapkan makanan yang enak juga air hangat supaya sesampainya di rumah lelaki itu bisa langsung mandi dan tubuh menjadi segar. Sehingga rasa capek pun hilang. "Iya," jawab Aira singkat. Dia sedang menikmati buah apel yang telah dikupasnya sambil menonton televisi yang menayangkan film istri yang diselingkuhin suaminya.  "Tadi kamu sama mama pergi ke mana?" "Ke mall, ke cafe, ya gitulah."  "Suara apa itu? Berisik sekali!" tegur Gibran tak suka. "Ini nih, istri yang diselingkuhin suaminya. Padahal istrinya sedang hamil 5 bulan." Aira melihat televisi dimana sang suami membawa selingkuhannya di rumah.  "Tak kusangka film kesayanganmu seperti itu." "Hei, sesekali saja. Memangnya kenapa?" Aira menggerutu pelan saat melihat sang istri hampir saja menabrak meja akibat dorongan si pelakor. Memang pelakor itu perlu dibasmi supaya tahu bahwa segalanya itu tak bisa didapatkan. Memang si lelaki itu kaya, tetapi kalau mau kaya ya usaha sendiri. Tidak perlu merebut lelaki orang lain. Semua yang ada di dunia ini tidak ada yang instan. Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, jatuh bangun.  "Jangan-jangan setelah menonton kamu jadi berpikiran yang tidak-tidak." Aira mengerutkan dahinya. Dia berhenti mengunyah. "Maksud kamu?" "Ya siapa tahu kamu menuduhku selingkuh nantinya." "Aduh Gibran. Ada apa sih dengan kamu? Tumben berkata begitu. Gak biasanya kamu overthinking. Dimana Gibran yang dingin dan tak peduli? Lagipula kamu sudah berjanji akan menikah sekali seumur hidup. Kamu berjanji untuk tidak menikah, lalu kenapa aku harus tidak percaya akan janji itu? Kalau kamu mengingkarinya ya kamu yang berdosa. Awas saja," kata Aira panjang sekali membuat Gibran diseberang sana mengulas senyuman tipis. Dia tampak senang Aira mempercayai dirinya. "Dalam suatu hubungan itu kuncinya kepercayaan. Jika kepercayaan saja sudah tidak ada, lantas untuk apa?" kata Aira lagi membuat Gibran mengangguk tanpa sadar. Dia tidak salah menikahi Aira. Wanita berkompeten, berpendidikan, berpikiran luas, dan selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan maupun berkata. Walau dia tahu Aira suka malas memasak dan bersih-bersih rumah. "Ya, 'kan hanya seumpama. Lebih baik kamu tidak perlu menonton film itu." "Apa sih, aku bosan di rumah terus. Sepi, besok aku mulai kerja." "Ya, kan bossmu ini udah pulang." Aira memutar bola mata malas. Dia memilih fokus melihat tayangan film di depan sana. Sang istri hanya bisa menangis sambil bersimpuh. Dia menggelengkan kepala. Kenapa tidak meninggalkan suaminya saja? Untuk apa mempertahankan hubungan yang sudah tidak layak dipertahankan itu? Begitulah akibat mempercayai orang yang salah. Perlunya mengetahui bibit bebet bobot pasangan sebelum menikah. Supaya hal ini tak terjadi. Pasangan akan diuji dengan ekonomi, jika tidak maka diuji oleh kesetiaan, jika tidak maka diuji oleh anak yang sakit. Sejatinya setiap kehidupan adalah penuh ujian. Tergantung bagaimana mengatasi setiap ujian tersebut dengan rasa sabar dan keikhlasan. "Aira, kok diam saja." "Sorry," ucap Aira merasa bersalah. "Nah, 'kan kamu gak denger apa yang aku bilang. Terlalu fokus menonton sampai tidak menghiraukan perkataan sang suami. Kamu ini memang benar-benar ya." "Iya, iya gimana tadi?" Aira memutuskan mematikan televisi. Dia memilih menikmati cemilan sambil mendengarkan perkataan Gibran. "Tidak jadi." Aira menghela nafas. Entah sebenarnya apa yang terjadi dengan lelaki itu. Tak biasanya begini.  "Tadi suruh mendengarkan, udah didengerin eh gak jadi mau bilang apa. Kamu maunya apa sih Gibran?"  "Gini ya Aira. Mulai sekarang kamu gak usan nonton film begituan. Lebih baik kamu nonton tayangan tentang bisnis. Oh ya gimana soal kandang untuk ternak sapi?" Aira tampak berpikir. "Sepertinya sapi perah saja deh. Nanti s**u ysng sudah diperah dikirim ke luar kota." "Boleh. Tetapi, kamu yakin akan usaha barumu ini?" "Iya, aku masih memiliki tabungan yang cukup. Ya, mungkin hanya dua sapi saja yang mampu kubeli untuk sementara. Kamu tahu sendiri 'kan aku harus mengirim uang setiap bulan ke orang tuaku," ujar Aira. Kalau dia membeli sapi sebanyak 4, dia takut tabungannya menipis. Lebih baik sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. "Gampang itu. Kamu bisa pakai atm yang udah kuberi." "Tumben?" "Maksud kamu?" Gibran kini yang tak paham mengenai pertanyaan Aira. "Kamu kemarin marah aku habiskan uangmu sebanyak 100 juta untuk keperluan rumah. Terus sekarang tiba-tiba menawarkan aku memakai atm itu untuk bisnis yang hendak kubangun," jelas Aira bingung. "Kamu istriku. Aku sudah bilang kebutuhanmu juga kebutuhanku. Asalkan kamu bisa bersandiwara dengan baik di depan kedua orang tua kita." "Kamu tidak pernah berpikir bagaimana pernikahan kita selanjutnya?" tanya Aira dengan kesal. "Berpikir. Kalau tidak mana mungkin aku memberikan segala fasilitas untuk kamu. Kita menikah tanpa cinta, semua butuh waktu." "Ya, memang butuh waktu. Kalau kamu tidak usaha ya mana tahu Gibran! Mamamu meminta kita tidak menunda momongan. Mamamu ingin kita memberikannya cucu." Gibran menghela nafas panjang. Tadi sang mama sudah memberikan ultimatum kepadanya. "Iya, aku mengerti. Makanya nanti ketika kita pulang akan kita temukan solusi bersama." "Ya sudah, lebih baik kamu tutup telfonnya. Aku sudah lelah. Ngantuk nih," pinta Aira. Dia sudah menghabiskan 2 buah apel dan setengah keripik singkong pedas. Setidaknya kalau setiap hari dia rajin ngemil bisa gemuk. Body idealnya harus dia dapatkan dengan rajin berolahraga. "Iya." Setelah salam, sambungan telfon pun terputus. Aira menghela nafas panjang. Semua akan indah pada waktunya. Itu hal yang bulshit! Semua tidak akan indah pada waktunya jika tidak berusaha dan jika takdir tidak mendukung. Segalanya harus bersamaan. Aira beranjak dari sofa lalu menutup toples dan membawa sampah ke dapur dimana tempat sampah berada di sana. Tak lupa mematikan lampu. Sambil menghentakkan kaki karena dia merasa takut akan bagaimana dengan gelap. Dia merasa dengan kegelapan dia diikuti oleh semacam makhluk mengerikan. Apalagi rumah ini jarang ditempati oleh Gibran. Memang Gibran sengaja. Namun, dia harus pemberani.  "Huh, suasana ini sungguh mengerikan," ujarnya pelan. Tiba-tiba dia merasakam hembusan angin kencang dilehernya. Dengan segera berlari ke arah kamar. Menguncinya lalu menyelimuti dirinya.  Tak mungkin terus-terusan begini. Dia harus berbicara dengan Gibran esok hari. Setidaknya kalau dia memiliki teman di rumah dia tak akan merasa setakut ini. Apalagi ketika malam jum'at terlebih malam jum'at kliwon. Aira memutuskan untuk memejamkan kedua mata walau susah. Rasa takutnya melebihi rasa kantuknya. Sungguh menyebalkan bagi dirinya. Aira menarik nafas sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya perlahan. Berkali-kali dia lakukan supaya ketenangan kembali dia dapatkan. Untung saja dia tak pernah mematikan lampu untuk tidur. Jika lampu kamar harus dia matikan. Dia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Membayangkan tidur dipeluk makhluk halus saja sudah membuatnya ketar-ketir. ******** Keesokan harinya, Aira harus bangun pagi-pagi menyiapkan air hangat dan membuatkan makanan untuk Gibran. Walau rasanya dia malas untuk memasak. Mau bagaimanapun dia tetap memaksa dirinya sendiri. Apalagi setelah tadi malam dia tak bisa tidur dengan nyenyak. Mata panda pun nampak di kedua matanya. Sudahlah, nanti malam dia sudah bisa tidur dengan nyenyak. Mengiris bawang merah dan bawang putih. Dia akan membuat sayur asem kacang dan kangkung. Membuat sambal tomat. Dia juga akan menggoreng ayam dengan bumbu yang sudah jadi. Praktis dan simple. Rasanya tak perlu diragukan karena ini masakan yang paling mudah baginya dibanding menggoreng ikan gurame yang sungguh hati-hati supaya minyaknya tidak terkena dirinya. Sepertinya selain ternak sapi dia bisa tambak ikan koi. Apalagi yang dia lihat saat ini penjualan ikan koi begitu meningkat. Dimana ikan hias itu banyak diminati dengan harga jual yang lumayan. Namun, jika dia bisnis yang lain bisa dipastikan dia akan pusing seketika. Manajemennya tidak mudah. Dia harus menentukannya sendiri, mengawasinya, jika menyuruh orang terus bisa bangkrut dia.  Ya sudahlah, lebih baik dia akan melakukan apa yang sekiranya mudah dulu. Dia akan membicarakannya dengan Gibran nanti. Kesempatannya menjadi orang kaya akan tercapai. Ya, walaupun suaminya itu orang kaya. Namun, dia ingin memiliki bisnis sendiri.  Mengingat bagaimana beberapa orang meremehkannya karena dia dianggap tak bisa apa-apa. Setelah dia bekerja ke perusahaan Gibran semua mendadak bungkam. Namun, ketika kabar pernikahannya terdengar beberapa orang kembali mengusiknya dengan mangatakan bahwa dia menggaet lelaki kaya dengan cara tidak wajar. Huh, padahal semua itu tidak benar. Itulah kenapa dia harus menjadi wanita karir yang sukses. Umurnya yang segini pun membuat beberapa orang menuntutnya untuk menikah. Kebetulan Gibran dan dirinya memiliki prinsip dan pemikiran yang tak beda jauh. Dia senang ketika masakannya sudah jadi. Dia membawanya ke meja dan menutupinya supaya tidak terkena lalat. Setelah itu dia memutuskan untuk mandi lalu menunggu Gibran. Namun, belum sampai dia menginjakkan kaki masuk ke dalam kamar mandi. Dia mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Pintu terbuka menampilkan Gibran dengan wajah datar tetapi kentara lelah sekali. "Aira, buatkan aku air jahe," suruh Gibran sambil memberikan tasnya kepada Aira. Tangannya sontak memegang kening lelaki itu yang rupanya memang panas. "Kamu sakit?" "Enggak, kamu sudah menyiapkan air hangat bukan?" Aira mengangguk. "Oke deh, kalau begitu aku mau mandi dulu. Jangan lupa buatkan air jahe." Aira mengangguk. Gibran sepertinya lelah sekali. Dia menyetir sendiri menuju rumah. Pantas saja lelaki itu tampak lesu. Dia memutuskan tidak mandi terlebih dahulu. Meletakkan tas Gibran di dalam kamar. Dia akan mandi ketika lelaki itu selesai mandi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD