Benar saja Mama Sinta menepati janjinya untuk datang ke rumah anak dan menantunya. Aira yang bangun pagi sekali untuk membersihkan rumah dan menyiapkan makanan untuk sang mertua pun kini sudah bisa tersenyum lega. Hanya saja dia belum sempat mandi karena sudah terlalu lelah mengerjakannya sendiri. Apalagi saat bel berbunyi makin membuatnya panik.
"Aira," panggil sang mama mertua yang masuk ke dalam rumah. Melihat bagaimana nuansa rumah yang kini menjadi lebih nyaman dan bagus. Dia tak salah pilih menantu. Aira begitu kompeten dan kreatif. Lihatlah rumah sederhana kini disulap menjadi rumah yang tampak mewah.
"Bagus sekali," puji mama mertua.
Aira hendak menyalimi tetapi tersadar dia belum mandi. Masih memakai daster. Bahkan, rambutnya masih acak-acakan. "Maaf Ma, Aira mau mandi dulu," ujarnya dengan suara pelan.
"Oh iya, kamu mandi dulu sana. Mama mengerti pasti kamu capek. Mama bisa buat minum sendiri."
Aira mengangguk. Dia lalu melenggang menuju kamarnya untuk mengambil baju ganti. Mama Sinta berjalan menuju dapur dan melihat masakan sang menantu yang sudah dihidangkan di meja. Makanan sebanyak ini entah untuk apa. Dia datang sendirian ke sini. Terlalu bosan di rumah sendirian.
Aira mandi pun tergesa-gesa karena tak ingin mama mertuanya menunggu terlalu lama. Yang penting bau keringat sudah hilang. Dia pun juga tak memakai make up maupun bedak. Hanya menyisir rambutnya supaya rapi.
"Kamu tidak capek melakukannya sendirian?" tanya mama mertuanya ketika dia sudah kembali duduk di sampingnya.
Aira menggelengkan kepala. Capek memang tentu. Namun, dia merasa senang melakukannya. Daripada menunggu Gibran yang hanya akan membuatnya kesal saja. Apalagi lelaki itu pasti lebih banyak tidak setujunya ketika dia mengirim gambar foto kemarin. Yang katanya terlalu mencolok warnanya. Yang katanya kurang ramai. Entahlah yang katanya terserah bagaimana dia melakukannya tetapi hanya sekedar omong kosong. Banyak sekali komentar dari lelaki itu.
"Tadi pagi mama sudah telfon Gibran untuk pindah rumah saja. Tetapi, katanya kamu tidak mau."
Itu tidak benar. Dia mau saja diminta untuk pindah rumah karena di sini sepi. Hanya saja sayang sekali dia sudah menata ulang rumah ini malah diminta pindah. Sudah bagus pula begini. "Tetapi, Gibran cerita kamu bakalan menggunakan halaman belakang untuk usaha peternakan sapi."
Aira mengangguk. Dia meringis. "Iya, Ma. Halaman belakang cukup luas. Jaraknya dari rumah juga lumayan. Daripada tidak terpakai bukankah lebih baik dibuat usaha. Kalau perkebunan tidak mungkin. Nanti dibuat sarang ular malah menakutkan."
Mama mertuanya mengangguk. "Mama suka dengan pemikiranmu. Tetapi, mama ingin menantu mama mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak. Bukan di sini."
"Di sini juga bagus kok, Ma." Aira mengulas senyuman manis. Memang Gibran bisa saja membeli rumah yang lebih bagus dari ini. Namun, sepertinya lelaki itu sengaja mengajaknya tinggal di sini karena merasa lebih bebas saja.
Mama kandung Gibran itu menghela nafas panjang. "Ya udah, kamu dandan sana. Mama mau mengajak kamu shopping."
"Kita makan dulu saja Ma. Tadi Aira memasak lho Ma," ajak Aira sambil berjalan menuju dapur. Mama mertuanya mengikuti.
"Iya, mama tadi lihat. Kamu masak lumayan banyak juga."
Aira mengangguk. Dia sengaja memasak banyak buat mertuanya. Namun, rupanya yang datang hanya mama mertuanya. Dia pikir papa mertuanya akan ikut sekalian. "Papa gimana kabarnya Ma?"
"Alhamdulillah baik. Sekarang papa lagi mancing ikan sama teman-temannya. Papa 'kan jarang datang ke kantor. Sepenuhnya udah dipegang Gibran. Papa ya tinggal menikmati hari tua. Makanya kamu sama Gibran jangan menunda momongan. Kalau tidak ada kegiatan gini suka bosan. Ya nyari-nyari kegiatan."
"Iya Ma. Do'akan saja. Aira sama Mas Gibran tidak menunda momongan kok Ma. Ngikuti gimana alur takdir saja Ma," jawab Aira dengan sopan. Tak mungkin dia bilang kalau belum disentuh oleh Gibran. Yang ada malah terkena masalah.
Aira hendak menawarkan untuk mengambilkan makanan, tetapi ditolak. "Mama bisa ambil sendiri."
Aira mengangguk. Dia melihat mama mertuanya mengambil oseng kangkung bercampur sosis itu. Niatnya ingin membuat capcay, tetapi dia tak memiliki waktu banyak nanti. Di depannya sudah ada gurame goreng, ayam goreng kecap pedas, oseng kangkung, sambal cabe rawit, dan dia juga membuatkan jus kesukaan mama mertuanya. Jika dia sendiri tak akan bisa menghabiskannya. Untung saja keluarga Gibran ini pecinta vegetarian.
"Rasanya enak. Menantu mama memang pintar memasak," puji mama mertuanya membuat Aira tersipu malu.
"Terima kasih, Ma."
Aira pun ikut menikmati makanan buatannya sendiri. Begitu pas dilidahnya.
********
Tokk pakaian dalam wanita menjadi incaran pertama mama mertuanya. Aira merasa malu ketika memasukinya. Karena bagaimanapun dia terbiasa membelinya sendiri. Kini harus menemani mama mertuanya beli dan dia harus beli.
Yang kedua, mama mertuanya mengajak membeli ke toko baju wanita. Banyak macam model di sana. Dia begitu tertarik akan gamis putih dengan payet yang begitu bagus.
"Itu bagus, cocok buat lebaran nanti," kata mama mertuanya yang juga sibuk memilih dress untuk dipakai di rumah.
"Iya, Ma."
Setelah memilih, Aira mendapatkan 3 potong baju sekaligus. Sedangkan, mama mertuanya mendapatkan 5 baju sekaligus. Dia diminta untuk membeli lagi. Namun, dia menolak karena tak mau menghabiskan uang yang cukup banyak untuk hari ini setelah kemarin pengeluaran yang memang cukup banyak sekitar 100 juta hingga dirinya harus mendengar omelan dari Gibran. Walau kini dia membeli memakai uangnya sendiri. Mama mertuanya ingin membelikannya tetapi dia menolak secara halus karena tak mau merepotkan saja.
"Kamu ini mama belikan kok gak mau," ucap mama mertuanya saat berjalan ke luar mall menuju cafe.
Aira hanya tersenyum tipis.
"Kamu gak perlu sungkan gitu. Mama yang ngajak itu artinya mama yang belikan kamu. Tetapi ya sudah. Tadi kamu beli memakai uang Gibran 'kan?"
Aira mengangguk saja. Sebenarnya dia membayar memakai uangnya sendiri. Namun, dia memilih tak mengatakannya. Lagipula uang Gibran belum sebulan sudah habis 100 juta. Pasti ketika pulang nanti lelaki itu akan mengingatkannya akan dirinya yang boros. Hei, dia boros untuk rumah bukan yang lainnya.
"Kita mampir ke cafe dulu untuk makan. Oh ya, ke toko roti juga. Mama mau belikan roti kesukaan papa."
"Papa suka roti apa Ma?"
Mama mertuanya tampak berpikir kemudian berkata, "Roti yang isinya banana sama coklat."
"Oh itu. Memang enak Ma."
"Iya, sekali makan bisa habis 3 deh. Perut lelaki emang gitu deh," ujar mama mertuanya sambil tertawa membuat Aira ikut tertawa. "Kalau Gibran itu suka apa saja, kecuali rasa matcha."
Aira mengangguk saja. Dia sudah tahu soal itu. Bekerja sama dengan Gibran selama ini sedikit demi sedikit mengetahui kebiasaan maupun kesukaan lelaki itu. Jadi, selama berumah tangga dia juga tak repot soal itu.
"Gibran itu tipe lelaki workaholic. Perfecsionis juga. Kalau karyawannya salah gitu sudah alamat dah."
Aira mengangguk mengerti. "Mama mau makan ke cafe mana?" tanyanya yang bingung akan menghentikan mobil ke mana. Mama mertuanya tadi berangkat ke rumahnya diantar supir.
"Ke cafe Asmara saja. Katanya makanannya enak-enak. Namanya asmara, makanan dibuat dengan cinta." Mama mertuanya tertawa membuat Aira juga ikut tertawa. Dia jadi rindu jalan-jalan berdua bersama sang ibu. Entah gimana kabarnya. Sudah seminggu dia tak menghubungi kedua orang tuanya.
Perjalanan kali ini terasa menyenangkan karena lelucon yang dibuat oleh mama mertuanya. Ada petuah-petuah tentang pernikahan. Beda dengan perjalanannya bersama Gibran yang isinya berdebat terus.
"Kalau Gibran marah itu tidak usah dibujuk, didiamkan saja. Dia itu kalau marah cuman butuh waktu dan pelampiasan. Kalau udah ya gak akan marah lagi, cuman kesal saja."
"Berarti setiap Mas Gibran marah mama gak akan bujuk Mas Gibran?"
"Ya semenjak Gibran dewasa. Kalau masih kecil jelas dibujuk, Gibran dulu cengeng." Aira terkekeh pelan.
"Ya gimana lagi anak itu maunya dimengerti terus tetapi tidak mau mengerti. Maklum ya tidak memiliki saudara. Dia anak tunggal pertama."
Gibran tentu kesepian ketika kedua orang tuanya bekerja. Lelaki itu lebih betah di luar daripada di rumah. Apalagi di keramaian, lelaki itu lebih suka nongkrong bersama teman-temannya entah membahas masalah bisnis, cinta, dan lain-lain. Aira pernah menemani Gibran bertemu teman-temannya dan dia hanya wanita sendiri. Sudah bisa dibayangkan dia jadi gombalan buaya darat. Gibran hanya diam saja menikmati gombalan teman-temannya yang dilontarkan kepada dirinya. Sungguh menyebalkan ketika mengingatnya.
Lelaki itu belum menghubunginya hari ini. Namun, dia rasa Gibran bukan tipikal lelaki yang akan menghubungi setiap hari bahkan 3 kali sehari seperti minum obat. Gibran akan menghubunginya ketika sempat dan membutuhkannya. Ya sudah, dia juga tak akan menghubungi lelaki itu. Hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Ke luar rumah dia harus izin.