Aira menata barang-barang yang dibelinya. Hari ini dia belanja lumayan banyak dan cukup menguras uang. Hanya saja tidak akan membuat Gibran sampai bangkrut. Barang-barang rumah kini sudah penuh. Setelah seminggu kemarin bisa di renovasi oleh sepuluh orang karen permintaan Gibran supaya lekas selesai. Ya, kini rumah minimalis ini tampak mewah dengan hiasan dinding dan barang baru. Apalagi cat tembok juga keramik yang begitu pas.
Halaman depan yang penuh dengan berbagai jenis bunga tampak menyegarkan mata. Kini tinggal halaman belakang sekiranya dapat dia jadikan tempat peternakan. Setelah itu dia bisa fokus kembali bekerja. Menikmati hari-hari seperti sebelumnya. Hanya saja statusnya kini yang menjadi istri Gibran.
Aira yang merasa lelah memutuskan untuk memesan makanan saja. Lagipula Gibran sedang berada di luar kota untuk urusan kerja mendadak. Lelaki itu tak tahu apa yang telah dia lakukan terhadap rumah ini. Yang pasti Gibran menyerahkan semuanya kepada dirinya jadi dia merasa bebas melakukan semuanya sendiri.
Suara dering telfon yang nyaring mengalihkan fokusnya yang sedang menunggu makanan pesanannya. "Iya, halo?" tanya to the point.
"Aira, apa-apaan ini?"
Aira mengerutkan dahi. Ada apa dengan Gibran yang tiba-tiba marah kepadanya. "Ada apa sih?"
"Ada apa Aira? Kamu belanja apa saja hari ini?"
"Oh." Aira menganguk mengerti.
"Aku memang memberikanmu atmku. Kamu bebas menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Tetapi, apa yang sudah kamu beli itu? Kamu sengaja ingin menghambur-hamburkan uang?"
"Gibran, kamu ini kenapa sih? Kamu bilang membebaskanku membeli apapun yang aku mau asalkan untuk kebutuhan rumah tangga menggunakan kartu yang kamu beri itu. Apalagi?"
"Aira, kamu benar-benar. Bisa-bisanya kamu menghabiskan 100 juta dalam sehari!" jerit Gibran di seberang sana. Dia tidak salah menikahi Aira bukan? Kenapa wanita itu jadi menjengkelkan? Seharusnya Aira tidak belanja sebanyak itu dalam sehari. Entah untuk keperluan apa.
"Kamu seharusnya paham Gibran. Lihat rumah kita. Selama kamu pergi aku berusaha melengkapi semua barang-barang untuk rumah. Setelah renovasi itu selesai. Mereka juga perlu dibayar bukan? Kamu lupa belum membayar mereka setelah menyuruh mereka kerja waktu itu?" teriak Aira marah. Gibran sungguh mengacaukan harinya.
Gibran terdiam. Dia melupakan akan hal itu. Jadi, 100 juta untuk kebutuhan rumah tangganya. Benar-benar lumayan menguras. Namun, mengingat percakapan dirinya dan teman-temannya waktu itu dia mencoba untuk mengerti.
"Oke, tidak apa. Aku minta maaf."
Aira tak menjawab karena mendengar suara bel dari luar. Rupanya pengantar makanan. Lumayan cepat. Dia memberikan beberapa lembar uang lalu masuk dan mengambil piring. Dia memesan mie pedas dengan siomay kuah. Dia tak memesan minuman. Baginya lebih sehat meminum air putih. Jika dia sayang ginjal lebih baik minum lebih dari 8 gelas sehari, tidak boleh kurang.
"Aira? Kamu tidak mendengar perkataanku?" teriak Gibran di seberang sana dengan kesal.
Aira menggelengkan kepala mendengarnya. "Sorry, aku lapar Gibran."
"Maafkan aku."
Aira berdehem saja. Kemudian dia mulai menikmati siomay kuah itu yang rasanya mantap dilidah.
"Ya sudah, aku tutup telfonnya. Jangan lupa kirimkan bagaimana ruang tamu dan dapur kita."
"Kenapa tidak kamu lihat sendiri saat pulang nanti?"
"Sudah ikuti saja kemauanku," ujar Gibran. Dia memang sudah membiasakan untuk berkata aku-kamu. Takut jika nantinya kedua orang tuanya tiba-tiba datang dan mendengar bisa gawat. Dihadapan mereka tampak akur, dan topengnya bisa terbongkar begitu saja.
"Oke. Ya udah tutup telfonnya. Aku sedang makan," pinta Aira lalu meletakkan ponselnya di meja. Dia kembali menikmati makanan yang telah dia pesan. Sungguh enak rasanya.
Apalagi tubuhnya yang lelah dan capek ini memang butuh asupan yang banyak. Apalagi dengan makanan yang membuat lidahnya nagih untuk mencicipi terus. Sayang sekali dia hanya pesan 1 saja.
Tidak ada Gibran di rumah dia merasa bebas. Melihat lelaki itu selalu membuatnya emosi saja. Walau lelaki itu adalah suaminya sendiri. Namun, hubungan yang terjalin lebih kepada teman yang merangkap menjadi musuh.
Gibran masih menjadi lelaki yang cuek dan cetus sampai membuatnya ingin mencakar wajah tampannya itu. Namun, dia tak bisa melakukan apapun karena bagaimanapun Gibran tetaplah suaminya yang harus dia hormati. Dia harus menghargainya. Teringat sebuah kata bahwa suami istri itu ibaratnya sebuah pakaian. Aib salah satu terbongkar, maka sama saja salah satunya telanjang. Jadi, sama-sama menjaga aib satu sama lainnya. Walaupun bagaimana hubungan suami istri. Biarpun ada masalah hanya suami istri yang tahu dan bisa menyelesaikan dengan kepala dingin.
Asalkan masalah itu bukan soal pengkhianatan atau dengan kata lain perselingkuhan. Dia akan sangat membenci akan hal itu. Walaupun Gibran tak akan mungkin melakukannya, tetapi dia tahu bahwa lelaki itu akan melakukan yang terbaik dan menepati janjinya bahwa pernikahan ini hanya satu kali seumur hidup. Tidak ada wanita lain, bagaimanapun hubungan pernikahan ini.
Walau mungkin belum ada kata cinta, tetapi dia yakin lambat laun perasaan cinta itu akan ada. Tak mungkin selamanya pernikahan ini hanya akan sebatasa teman tidur, teman makan, teman bekerja saja. Dia juga suatu saat menginginkan kehidupan rumah tangga yang membahagiakan. Ada seorang anak yang lucu yang akan mengisi hari-harinya nanti.
Selesai makan, Aira kembali mendengar ponselnya berdering. Rupanya telfon dari mama mertuanya. Setelah mengucapkan salam, dia memutuskan duduk tak jadi ke dapur.
"Besok mama mau main ke rumah, kamu sibuk apa tidak?"
"Tidak, Ma. Besok Aira tidak ada acara kemanapun. Hanya di rumah saja."
"Oh ya, Gibran lagi di luar kota kamu tidak ikut?"
Aira menggelengkan kepala. Kemudian dia tersadar bahwa mama mertuanya tak akan melihat gelengan kepalanya. Dia menepuk keningnya pelan. Sudah makan malah telah mikir. "Iya, Ma. Aira tidak ikut. Mas Gibran 'kan ke sana karena urusan pekerjaan. Aira minta jatah libur lagi Ma. Mau beresin rumah."
"Oh, sudah selesai renovasi ya?"
"Iya, Ma."
"Gibran ini memang tega ya. Istrinya malah dikasih tempat tinggal yang tak layak gitu. Ya beli rumah lagi 'kan bisa. Rumahnya yang bagus itu disewakan, beli lagi juga bisa. Pelit amat jadi anak," gerutu Mama Sinta membuat Aira terkekeh pelan. "Kamu ini jangan mau diajak tinggal di situ. Udah kecil."
"Ma, halamannya luas. Selain itu sejuk banyak pepohonan. Jauh dari polusi udara, Ma. Rumah setelah direnovasi bagus kok Ma. Gak kalah sama perumahan type 36, Ma."
"Ya sudah, besok Mama ke sana. Kamu kalau takut tidur di rumah main saja ke rumah Mama. Atau nginep di hotel saja. Lingkungan sana lumayan sepi juga 'kan. Gibran ini benar-benar."
Aira hanya diam saja. Tidak sepi, hanya saja jarak rumahnya jauh karena halaman atau tanah rumah Gibran ini begitu luas. "Iya, Ma."
"Ya sudah mama tutup telfonnya. Kamu yang hati-hati di rumah. Makan yang banyak ya. Mama harap kalian tidak sedang menunda momongan."
"Iya, Ma."
"Bagus. Besok mama akan bicara sama Gibran kalau sudah sampai rumah. Mama gak sabar ingin gendong cucu. Kamu udah cantik dan Gibran ganteng. Pasti anaknya cantik dan ganteng. Perpaduan yang bagus," puji Mama Sinta membuat Aira hanya mengulas senyuman tipis. Dia tak berharap begitu banyak. Bagaimanapun pernikahan ini terjadi bukan karena cinta.
"Ya sudah, mama tutup telfonnya. Dari tadi gak jadi-jadi."
Sambungan telfon terputus, Aira memutuskan untuk membereskan piring yang kotor dan membuang bekas sterofoam ke tempat sampah. Perutnya sudah kenyang. Dia juga melanjutkan dengan mencuci piring. Sungguh hari yang melelahkan baginya. Namun, dia tak masalah karena hal ini yang dia inginkan. Cepat selesai daripada menunda tetapi lama.
"Aku pasti dapat menyelesaikannya dengan baik!" ujar Aira menyemangati dirinya. Supaya Senin nanti ketika dia bekerja merasa sudah baikan semuanya. Hari Sabtu ini akan dia habiskan menonton film action. Film yang menantang akan membangkitkan jiwa pemberaninya daripada film romantis yang ditinggal pacarnya pergi hingga nangis sampai berminggu-minggu.
"Selesai!" pekik Aira senang. Dia lalu memutuskan untuk mengambil baju ganti dan hendak mandi. Hari ini terasa panjang karena dia melakukannya sendiri.
Dia pikir jadi Gibran lumayan enak. Namun, pekerjaan Gibran juga cukup banyak. Seringkali dia dapati lelaki itu begadang untuk menyelesaikan pekerjaan. Belum lagi harus teliti, menganalisa. Semuanya tidak mudah begitu saja. Apalagi bisnis lelaki itu dimana-mana. Pasti pusing berkali lipat walaupun hasil yang didapatkan juga berkali lipat. Dia pasti bisa seperti itu nanti. Akan dia bungkam mulut yang telah menghinanya dahulu.
Dia bukan seseorang yang bisa diremehkan. Seseorang yang berada di depan layar tidak akan pernah mengerti apa yang terjadi di belakang layar. Mereka hanya bisa berkomentar, tetapi hanya dia yang tahu bagaimana dan seperti apa. Entah mental yang terganggu hingga sakit dan berat badan menurun. Hanya dia yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan mengingat impian-impiannya. Hanya dia yang bisa menyelesaikan segala permasalahannya. Semua orang tak bisa meremehkannya begitu saja. Karena hanya dia yang mengetahui perjuangannya dalam meraih satu persatu impiannya. Hanya dia, tidak orang lain. Sekalipun orang itu mengenalnya. Karena dia yang merasakannya, bukan orang lain.
Tubuhnya yang lelah membuatnya tak jadi menonton film action. Dia memilih mengistirahatkan tubuh maupun otak supaya besok kembali fresh. Dia hanya memesan cemilan untuk makan malam nanti ketika dia bangun di tengah malam. Tidur sendirian ditemani suara jangkrik tak membuatnya takut. Asal tidak ada suara jendela terbuka yang akan jelas membuatnya takut jika tiba-tiba ada bayangan putih melintas.