Bab 20

1231 Words

"Wah, akhirnya bakso gorengku sudah datang!" pekik Aira senang menyambut kedatangan Gibran. Dia menahan tawa menginngat percakapan yang tadi. Tampak langkah kaki Gibran yang sedikit pelan. "Kamu tidak apa-apa?" "Kamu bisa melihatnya sendiri bukan?" tanya Gibran balik. Aira berdecak kesal. Pertanyaan selalu dijawab pertanyaan. "Ya udah, makasih." Gibran berdehem saja. Dia memilih duduk sambil memijat kakinya yang tersandung batu tadi. "Nanti aku obatin! Aku mau goreng bakso dulu!" Gibran mengangguk saja. Dia lebih baik duduk menonton televisi. Bukan hanya kakinya yang sakit, badannya terasa remuk. Seharian bekerja lalu keliling mencari pesanan Aira. Sungguh dia hanya manusia biasa bukan monster. Aira mengambil mangkok, bakso itu sudah tak ada kuahnya. Gibran memang cerdik dan terniat s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD