Bab 21

1269 Words

"Gibran ini jadi lelaki ya yang romantis gitu. Jadi laki kok lembek," ujar Mama Sari menatap putranya dengan tatapan tajam. "Persis seperti papanya tuh, Jeng," ujar tante Gibran yang memakai make up cukup mencolok. Gibran yang duduk dengan Aira hanya diam tak menanggapi perkataan mereka yang memang cukup mengusik ketenangannya. Lagi pula Aira tak masalah. Selagi pernikahan ini tidak dijalankan karena sebuah cinta, tetapi sama-sama saling membutuhkan. Why not? Dia lelaki workaholic yang tidak mengenal cinta haruskah berpura-pura romantis dengan mengajak makan malam dengan diiringi sebuah musik atau bahkan lilin dan bunga mawar. Itu sama sekali bukan dirinya. Lebih baik menikmati waktunya dengan terus bekerja. Terlebih ketika anaknya lahir, maka kebutuhan akan semakin bertambah. Apalagi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD