Noah POV
Pagi ini gue dan Luna ada di bandara. Hari ini gue harus ke Bali untuk mengecek lokasi proyek gue selanjutnya. Karena Luna adalah sekretaris gue, otomatis dia harus ikut. Perjalanan kerja hari ini gue manfaatin buat kembali bujuk Luna agar mau nikah sama gue. Gue gak boleh putus asa. Menangin tender bermiliaran aja gue bisa, masa menangin hati Luna gak bisa.
Setelah menempuh beberapa waktu penerbangan, akhirnya gue sampai Bali. Sebelum pergi langsung untuk melihat lokasi pembangunan resort yang akan gue bangun di Bali, gue memutuskan untuk ngajak Luna makan dulu di salah satu restoran yang sering kami datangi. Ya kami udah cukup sering ke Bali sama-sama. Bahkan waktu masih sekolah dulu, gue, Luna dan teman-teman sekolah kami sering banget ke Bali buat liburan, jadi Bali udah gak asing lagi bagi kami.
"Kangen juga ya kesini, udah berapa lama ya kita gak kesini?" tanya Luna sambil memperhatikan laut lepas. Kebetulan restoran ini emang berada di tepi pantai, jadi pemandangannya enak banget.
"Mungkin 5 bulan," tebak gue. Kalau gak salah sih kami kesini 5 bulan yang lalu waktu tahun baru. Gue lihat Luna mengangguk meng-iyakan. Dari pada ngelihat laut, gue lebih tertarik buat lihat Luna yang sebagian wajahnya tertutupi rambut karena kena angin pantai. Hebatnya wajah Luna selalu bisa bikin gue senyum setiap kali lihatnya. Gue gak pernah puas rasanya mandangi wajah dia, padahal gue biasanya cepat banget bosan lihat muka orang lain.
"Lun," panggil gue. Luna yang tadinya melihat ke arah laut alihin pandangannya jadi menghadap gue.
"Lo kenapa sih gak mau nikah sama gue?" tanya gue. Gue lihat Luna tampak diam sejenak.
"Noah." Baru Luna mau menjawab, tiba-tiba gue dengar seseorang manggil gue. gue menoleh ke asal suara. Gue mengernyitkan dahi saat seorang cewek datang menghampiri kami. Gue sempat berdehem saat melihat ni cewek cuma pakai bikini, kayaknya dia habis berjemur.
"Noah, apa kabar? lo ingat gue?" gue kembali berpikir untuk mengingat-ingat. Terlalu banyak perempuan dalam hidup gue sampai gue lupa.
"Gue Iren, waktu itu kita kenalan di Bali Beach Club, come on Noah, gak mungkin lo lupa." Oh ya, gue ingat, dia Iren yang nemanin gue minum saat gue ada perjalanan kerja singkat ke Bali dan mutusin buat mampir ke club malamnya walaupun gak ada teman. Tiba-tiba cewek seksi ini yang nemanin gue.
"Oh iya gue ingat," balas gue yang bikin dia tersenyum sumringah.
"Lo kelihatan lebih ganteng, malam itu kurang jelas karena club nya yang gelap," kata dia yang bikin gue tersenyum. Ya memang gue ganteng.
"Gimana kalau malam ini kita kesana lagi?"
"Gue..."
"Gue duluan ya," baru gue mau nolak permintaan Iren tiba-tiba Luna bangkit dari duduknya dan pamit pergi gitu aja.
"Lun... Luna..."
"Gue gak bisa. Please kalau ketemu gue dimanapun, anggap aja kita gak pernah kenal." Setelah ngucapin kalimat itu gue langsung pergi nyusul Luna.
***
Sejak kejadian di restoran tadi, Luna sama sekali gak mau ngomong sama gue. Setiap gue tanyain kenapa, dia cuma diam aja. Dia cuma ngomong soal kerjaan saat tadi meeting, selebihnya dia cuma diam aja. Gue yang lagi di kamar hotel gue duduk dengan gelisah karena mikirin Luna. Gue gak akan bisa tenang kalau Luna ngambek gini.
Gue pun memutuskan untuk nyusulin Luna ke kamarnya dan coba minta maaf. Gue memencet bel kamar Luna beberapa kali, tapi gak dibukaan. Gue yang pantang menyerah terus pencetin belnya sampai akhirnya belnya kebuka dan Luna muncul dengan mata yang setengah tertutup, kayaknya tadi dia lagi tidur.
"Apaan sih? Berisik!" Gue langsung narik Luna masuk ke dalam kamarnya dan cepat-cepat menutup pintu.
"Lo apa-apaan sih?"
"Apa-apaan gimana? gimana kalau ada yang lewat tadi terus lihat pakaian lo kayak gitu?" Luna yang sadar akan ucapan gue langsung melihat pakaiannya. Gimana gue gak panik dia pakai baju tidur tipis gitu. Dengan cepat gue langsung lepasin jaket yang gue pakai dan pakaiin untuk nutupin tubuh Luna.
"Gak usah sok-sok ditutupin, lo kan suka lihat cewek kayak gini," Luna berkata dengan acuh terus melenggang untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya.
"Maksudnya apa sih?"
"Gak usah pura-pura polos Noah! gue udah sahabatan sama lo sejak kecil, dan gue udah tau lo gimana. Hidup lo itu cuma buat kerja, sama cewek doang. Hidup lo cuma buat nidurin cewek doangkan? terus gue pakai baju seksi gini kenapa dilihatin doang? tidurin dong! tidurin kayak lo tidurin cewek-cewek lo." Gue menatap Luna heran yang ngomongnya ngelantur gak jelas. Gue langsung mengedarkan pandangan gue ke sekeliling kamar Luna mencari tersangka yang udah bikin Luna kayak gini. Gue lihat sebotol wine dengan jenis kadar alkohol yang cukup tinggi hanya tersisa sedikit di nakas kamar hotel Luna. Gue mendekat ke Luna dan benar aja mencium bau yang gak asing bagi gue.
"Lo ngapain minum sih?" tanya gue.
"Lo ngajak gue nikah, tapi tetap aja sama godain cewek-cewek lain. Lo tanya kenapa gue gak mau nikah sama lo? ya karena ini! Lo itu buaya..." lagi-lagi Luna meracau. Gue terdiam sejenak. Gue tau Luna pasti masih mikir-mikir buat nikah sama gue karena kelakuan gue selama ini. Gue pun sebenarnya gak tega sama Luna karena maksa dia kayak gini. Tapi gue mau selalu jagain Luna dan selalu sama Luna. Gue mau berubah, gue tau gak selamanya juga gue bisa main-main kayak gini.
"Maafin gue ya," kata gue sambil megang tangan Luna.
"Gue gak secantik dan seseksi cewek-cewek lo Noah. Sama mereka aja lo bosan, apalagi sama gue. Lo mau nikah sehari dua hari doang?" gue menangkup wajah Luna dengar omongan dia yang makin ngaur.
"Dengarin gue ya, lo cantik, lo cantik banget di mata gue." Gue lihat Luna berusaha buka matanya sambil natap mata gue. Perlahan gue bisa lihat senyuman dibibir tipisnya. Pandangan gue tiba-tiba beralih ke bibir tipis itu. Untuk pertama kalinya gue lihatin bibir seseorang selama ini dan bikin gue gak bisa berpaling lihatnya.
Gue menarik dagu Luna lembut terus mencium bibir ranumnya yang terasa manis. Gue bisa rasain sisa-sisa wine tadi dibibirnya. Ini untuk pertama kalinya gue cium Luna, maksudnya cium bibirnya. Selama ini gue udah sering cium Luna, tapi paling di kening atau di pipi. Gue gak nyangka kalau bibir Luna bisa seenak ini. Gue terpejam ngerasain setiap inci bibir Luna. Namun sesaat gue tersadar, gue gak bisa ambil kesempatan saat Luna lagi mabuk kayak gini. Gue segera melepaskan ciuman kami.
"Jangan dilapas," ucapan Luna itu bikin gue yang hendak menjauhkan badan gue dari Luna langsung mengurungkan niat gue. Gue lihat Luna sedang menatap gue dengan tatapan memohonnya. Gue yakin Luna gak sadar dengan apa yang dia bilang barusan.
"Kenapa dilepas? lo gak suka ya?" tanya Luna.
"Bu..bukan gitu, gue..."
"Bibir gue gak seenak cewek-cewek lo." Mendengar ucapan Luna itu, gue langsung kembali mencium bibir dia kali ini dengan sedikit lumatan. Entah kenapa gue gak suka dengar Luna bandingin dirinya sama cewek-cewek yang lain. Kalau boleh jujur, gue gak pernah ingat rasanya cewek-cewek itu karena gue selalu ngelakuinnya dalam keadaan setengah mabuk.
Gue merasakan Luna membalas ciuman gue hingga kami saling melumat satu sama lain. Gue gak nyangka Luna ternyata cukup bagus dalam ciuman. Gue mengangkat Luna untuk duduk dipangkuan gue. Tangan gue yang bebas mengelus-elus punggung Luna membuat dia mendesah kecil dalam ciuman kami. Gue bisa merasakan yang dibawah sana dengan gak tau dirinya mengeras hanya karena ciuman. Kenapa Luna bisa bikin gue gini bahkan dia sama sekali gak berusaha menggoda gue.
Gue yang hampir kehilangan akal sehat gue tiba-tiba tersadar dan melepaskan ciuman gue dari Luna. Gak bisa diterusin, kalau diterusin gue udah bisa pastiin kalau Luna bakal kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya.
"Maafin gue ya." Gue menarik Luna lembut ke dalam pelukan gue. Gue dengar Luna gak bersuara, dia benar-benar mabuk berat. Gak berapa lama gue bisa mendengar dengkuran halus di pundak gue. Gue sedikit menoleh untuk memastikan kalau Luna benar-benar tertidur. Benar aja, dia udah tertidur. Gue yang masih mau dengar suara dengkuran halusnya memutuskan untuk tetap dengan posisi seperti ini, membiarkan Luna tidur dipangkuan gue dan menjadikan bahu gue sebagai sandaran. Gue tersenyum mengingat kejadian malam ini, bisa-bisanya gue ngambil kesempatan dalam kesempitan. Luna sih pakai mancing-mancing. Dicium sekali malah nagih. Lun... Lun... coba lo mau nikah sama gue, gue kasih dah kenikmatan dunia yang lebih. Gue terkekeh sendiri memikirkan hal itu.
Setelah beberapa saat, gue memutuskan untuk menidurkan Luna di kasurnya. Sebenarnya gue pengen ikut tidur disampingnya sambil cari kesempatan, siapa tau bisa grepe-grepe. Tapi besok pagi waktu dia bangun pasti gue langsung ditabok. Akhirnya gue memilih untuk menidurkan dia dikasur dan gue tidur di sofa buat jagain dia. Siapa tau ntar malam dia kebangun terus ngelindur lagi. Duh Noah.. Noah.. bayar kamar mahal-mahal, ujung-ujungnya tidur di sofa.