Bab 9. Menikmati Jadi Suami Istri

1584 Words
Karina Pov Biasanya aku sangat menyukai atmosfer di dalam gereja, terasa damai. Namun, kali ini rasa takut menyerang ketika menatap gedung bangunan sebuah gereja bagai iblis yang akan bertemu dengan Tuhannya dan akan menerima penghakiman serta hukuman atas kejahatannya. Bedanya dengan diriku adalah aku bukan seorang iblis dan tidak berbuat salah dalam hal ini. Apa Tuhan yang ku yakini benar-benar berada di dalam gedung itu dan akan menyelamatkanku dari pria bertaraf mafia ini. Akankah malaikat-malaikat membawaku terbang dan menghilang? Aku berjalan perlahan seakan sedang mengulur waktu mencari bantuan ataupun mujijat akan ada pangeran yang membebaskanku dari cengkraman Brahm. Bolehkah aku masih berharap mantan suami yang menjualku merubah pikirannya dan kembali datang membebaskanku? “Selama apapun kamu mengulur waktu, kaki kamu ini akan tetap masuk ke dalam gedung itu.” Bisik Brahm ditelingaku seakan ia bisa membaca rencana yang ada dipikiranku sendiri. Brahm menarik tanganku dan menyeretku untuk mempercepat langkah kami. “Ish, jangan ditarik, sakit tangan aku.” Tapi Brahm tidak mengindahkan gerutuanku, sampai kami berhenti tepat di depan pintu. Aku menggelengkan kepalaku dengan tatapan memohon agar ia tidak membawaku masuk ke sana. Namun, rasanya sia-sa saja. Waktu Brahm membuka pintu gereja, secara spontan ku tutup kedua mataku, takut melihat keseraman yang akan kuhadapi di dalam gedung ini. Membayangkan bangunan berkulit luar tempat suci, dengan isi dalamnya berisi peralatan menyiksa dengan suasana menyeramkan seperti di film-film tentang penyekapan. Kudengar suara bisikan Brahm ditelingaku. “Jangan bodoh. Ayo buka matamu, dan lihat kejutan yang sudah kusiapkan khusus untuk kamu.” Aku menggelengkan kepalaku dengan dahi mengernyit. “Ngak mau. Aku takut. Aku ngak mau dijual.” Sepolos itu ucapanku terdengar bergumam karena terttutup oleh kedua tanganku. Dapat ku dengar suara kekehan kecil seorang Brahm menanggapi ucapanku, kemudian ia berbisik kembali, dan kali ini ada kehangatan yang mengalir dalam darahku saat ia berucap. “Kali ini, percaya perkataanku. Aku janji ngak akan berbuat seperti yang ada dipikiran kamu sekarang. Aku bukan pengusaha kejam seperti drama-drama yang pernah kamu tonton itu. Tidak ada transaksi jual beli seperti skenario kepala kamu.” Aku masih diam tidak bergeming, membuat kesabaran Brahm mulai menipis dan perintahnya terdengar kembali di telingaku. “Buka tanganmu sekarang atau aku gendong.” Aura bisikan di telingaku begitu menyeramkan membuat bulu kudukku bergidik. Kubuka perlahan kedua mataku, mencoba mempercayai perkataan Brahm kali ini. Alangkah terkejutnya penglihatanku sendiri. Bangunan ini memang benar-benar sebuah gereja, bukan tempat settingan penganiayaan seperti dalam pikiranku tadi. Dan semua yang ada di sini membuat mataku megembun. Kulihat satu persatu orang-orang yang sedang duduk sambil memutar tubuh mereka melihat kediriku dan Brahm. Beberapa dari mereka masih menyunggingkan senyuman karena sikapku sendiri. Tunggu! Pandangan mataku tertuju pada seseorang yang sangat kukenal, yaitu ibu angkat ku, Rina beserta suami dan anak mereka. Orang tua kedua yang pernah merawatku setelah mama dan papa ku meninggal karena kecelakaan dulu. Brahm berbisik kembali ditelingaku. "Kita akan meresmikan pernikahan kita hari ini dihadapan Tuhan, agar kamu tahu aku tidak main-main dengan yang namanya pernikahan." "Tapi, bagaimana keluargaku ada disini? Bagaimana kamu tahu kalau aku punya ibu angkat? Kapan kamu.." Pertanyaanku dipotong cepat oleh Brahm. "Kamu lupa kalau aku ini mafia? Semua tentang kamu sudah pasti aku tahu. Aku datang langsung, menjelaskan tentang sikap Charles dan niatku untuk menikahimu pada Mama Rina." Dalam hati dengan keheranan, semudah itukah mereka menyetujui perkataan Brahm? Masa sih Mama Rina ngak curiga atau setidaknya bertanya dulu ke aku soal perkara ini. Seperti mendapat jawaban akupun masih bermolog dalam pikiranku sendiri. Ahh tentu saja, pasti mereka takut karena status dan kekuasaan Brahm, jadi mereka terpaksa datang. “Ayo jalan. Apa perlu aku gendong sampai depan altar?” Bisik Brahm kembali menyadarkan lamunanku. Berjalan kembali menyusuri pelataran gereja untuk kedua kalinya, tentu saja bukan impian seorang wanita unutk mengulang prosesi seperti ini. Dua kali mengucap sumpah, dua kali mengikat sebuah ikatan pernikahan. Betapa memalukan untuk seorang wanita. Melewati beberapa prosesi, kamipun menjadi suami istri secara agama dan resmi secara negara, sudah tidak ada lagi jalan keluar untuk lepas dari seorang Brahm. Inilah kenyataan hidupku, aku adalah istri dari Brahm. Satu pertanyaan yang menggangtung dalam benakku, apa nama lengkap Brahm? Sejak tadi aku hanya mendengar namanya saja disebut tanpa embel-embel nama panjangnya. Apa memang namanya hanya Brahm saja? Setelah prosesi selesai, Brahm mengijinkanku untuk menghampiri Mama Rina. Wanita paruh baya itu, menyambutku dengan senyuman yang selalu mampu menyejukkan hatiku. Tapi tidak dengan keluarganya yang lain. Mereka lebih memilih menikmati kudapan yang disajikan daripada memberikan perhatian mereka pada diriku. “Karina. Mama doain kali ini kamu bahagia sama Brahm.” “Tapi, Mah. Kami-” Belum sempat kulancarkan protes, Mama Rina memotong ucapanku. "Jaga baik-baik dirimu Karina, mama kecewa dengan perlakuan Charles terhadapmu, namun Brahm adalah pemuda sejati yang berani menghadap mama untuk mengambil semua resiko untuk mu." Mama Rina mendekap kedua tanganku dengan tatapan sayangnya. "Percaya sama Mama, Brahm adalah laki-laki yang tepat untuk kamu. Belajarlah mencintainya karena cintanya padamu tulus." Aku kaget mendengar perkataan mama angkatku, ekspektasiku adalah mama angkatku akan kesal dan menggerutu, namun ternyata perkataannya berbeda. Bisa-bisanya Mama Rina membela Brahm yang aku sendiri belum mengenalnya. Apalagi perihal Brahm datang dan menjelaskan ke mereka masalah sebenarnya? Kok bisa laki laki angkuh itu bersikap baik sama mama angkatku? Dan secepat itu dia menemukan mereka. Keningku benar-benar mengerut dua kali lipat melihat reaksi Mama Rina. Sikap patriot Brahm dari cerita Mama Rina sedikit menggelitik hati, apalagi mama Rina mengatakan kalau Brahm adalah laki-laki yang tepat untukku, dilihat dari mananya? Tapi tetap saja aku masih meragu tentang masa depanku saat ini, memikirkan nasibku menjadi istri dari laki-laki yang baru ku kenal, bagaimana sifatnya, apakah ia laki-laki yang kasar atau lembut. Atau jangan-jangan dia punya penyakit suka menyiksa perempuan di atas ranjang. Bakalan naas nasibku. Belum lagi kamu bekerja di kantor yang sama, tapi kenapa tidak ada yang mengenalnya? Brahm mengadakan pesta sederhana di halaman belakang gereja itu untuk merayakan pernikahan kami, tidak ada senyum lepas dari bibirku, hanya senyuman tipis yang terpaksa melingkar di bibirku demi menyenangkan mama angkatku. "Maukah kau berdansa denganku, Sayang?" Brahm memberikan tanganya mengajak ku berdansa, senyuman manisnya menambah kadar ketampanannya. Berbeda waktu kami bertemu pertama kali. Tatapan Brahm terasa hangat, membuatku ikut hanyut menatap dalam bola mata coklatnya. Tatapan itu seperti sebuah tatapan seseorang yang sedang, jatuh cinta. Benarkah? Dengan cepat aku mengedipkan mataku berkali-kali unutk menyadarkan pikiranku yang sedang terhipnotis oleh kehangatan sikap Brahm. Sadar Karina! Tidak mungkin laki-laki tersebut jatuh cinta sama kamu. Aku hanya salah satu boneka mainannya yang berstatus istri. Bisa jadi kan, kalau dia punya banyak simpanan perempuan. Kamu bahkan baru mengenalnya beberapa hari. Ketika Brahm memeluk pinggangku, ada perasaan lembut mengalir dalam diri, perut ini tergelitik dengan nafas terhenti sejenak. Kulihat tatapan Brahm yang berbeda dari biasanya, tatapan lembut yang pernah aku lihat pada laki laki yang pernah aku cintai dulu. Pintar sekali gumamku melihat betapa hebat seorang Brahm bersandiwara di depan umum seolah-olah kami adalah pasangan yang sedang di mabuk asmara. Terdengar pembicaraan orang-orang disekeliling yang sedang menatap kami dengan rasa iri, berdecak kagum mengatakan kami adalah pasangan serasi. Andai bisa ku berontak dan berteriak kalau aku adalah seorang tawanan.. Brahm menarik pinggangku mendekatkan ku pada tubuhnya, dan membisikkan sesuatu di telingaku. "Nikmati acara ini sayang, karena kamu sudah sah jadi istriku. Seperti kata pendeta, kalau sebagai istri kamu harus tunduk dengan perkataan suamimu." Entah perasaan senang atau marah yang harus aku balas atas ucapannya. Wajahku menanggapi dengan datar saat ia memakai nasihat pendeta tadi. “Artinya kamu juga harus mengasihi istrimu dan tidak boleh berlaku kasar. Begitu kan?” Ku balas perkataannya dengan tatapan sengit sembari meyakinkan dia agar tidak menyakitiku nanti. Brahm tersenyum geli mendengar ucapanku. Yah, Tuhan. Senyumannya kenapa nikmat sekali dipandang. Aku tidak pernah membayangkan ada pria lain yang memanggilku istri. Tapi, entah mengapa, ketika Brahm mengucapkannya, rasanya nyaman dan hangat di hatiku. Sungguh tidak masuk akal. Musik pengiring dansa kami selesai dan berhenti, dansa kami ikut berakhir. Aku lega sekali akhirnya selesai juga sesi berdekatan dengan Brahm yang membuat detak jantungku berlari.. Brahm memberiku waktu unutk berbincang dengan Mama Rina. Dari kejaugan kulihat wajah Brahm, ia tertawa lepas bercanda dengan seorang pria yang tidak kalah tampan dengannya. Anehnya, tawa Brahm menular karena tanpa sadar akupun tersenyum melihat pemandangan indah tersebut. Brahm melirik ke arahku, pandangan kami bertemu dan dia melihat senyumanku terhadap dirinya. Tersadar tingkahku ketahuan sedang menatapnya, aku memalingkan wajah ke arah lain bersikap acuh tak acuh. Siallnya rona di pipiku tidak dapat kusembunyikan. Yah, Tuhan. Mengapa aku mengagumi senyumannya itu? Apakah aku telah diguna-guna oleh pria ini? Bagaimana mungkin aku melupakan Charles dan mulai menyukainya walau belum seminggu mengenalnya. Ini gilaaa. Gumamku berargumentasi sendiri dalam hati. 2 jam kemudian, acara pernikahanku selesai dan kami pun pulang ke rumah yang sama. Suasana di malam hari ketika memasuki gerbang begitu indah. Area taman dihiasi lampu-lampu dekorasi dan lampu sorot menerangi area gerbang mengelilingi taman. Aku turun dari mobil sambil memandangi suasana. Tampak luar, rumah ini besar sekali, dikelilingi taman luas dan dekorasi air mancur.di tengah halaman depan kami. Para pelayan sudah bersiap membuka pintu untukku dan Brahm. Mereka berdiri di sisi kiri dan kanan membentuk lorong. Tiba-tiba, aku terpekik karena Brahm mengangkat dan menggendongku dengan ringannya, membawaku berjalan masuk ke rumah. "Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." Bisikku ditelinga Brahm sambil memegang tengkuk lehernya sebagai gerakan reflekku. Jangan di tanya betapa malunya ditatap oleh beberapa orang yang berada di dalam rumah ini. "Kamu istriku, bukankah seperti ini impian setiap pengantin ketika baru memasuki rumah baru mereka? Lalu kita akan menikmati hal-hal lainnya sebagai suami istri umumnya.” Tutur Brahm dengan senyuman menyeringai. Wajahku memucat menyadari makna dari ucapan Brahm.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD