Karina Pov
Entah apa yang merasuk kedalam pikiranku saat Franky berceloteh membanggakan hasil riasannya. Status seorang Brahm sebagai penguasa yang ditakuti, ditambah dengan jejeran bodyguard di rumah ini, membuatku yang dulunya tidak percaya dengan namanya mafia, kini merubah pemikiranku. Mungkin aku akan meminta maaf kepada Leni karena sempat mengatakan dirinya kebanyakan nonton drakor. Brahm memang seorang mafia. Anak buah seorang mafia lebih tepatnya.
Tapi, kalau memang Brahm itu anak buah dari si wakil CEO di kantorku, bukankah sedikit aneh kalau seorang Brahm mampu menyewa begitu banyak anak buah di dalam kediamannya. Begitu yang kudengar dari Juni dalam percakapan kami, yang mengatakan untuk masuk ke dalam rumah ini tidaklah mudah. Mereka harus melewati penjagaan satpam depan, lalu bodyguard di depan pintu besar, dan beberapa yang berjaga di dalam.
Apa mungkin CEO di perusahaan tempatku bekerja memang seorang mafia? Logika ini semakin membenarkan pemikiranku saja. Andai saja Leni tahu kalau perusahaan tempat kita bekerja di pimpin oleh seorang mafia, bisa kubayangkan bagaimana mulutnya menganga dengan mata membulat sebesar bola tenis.
Dalam benakku kini berpikir, Brahm sengaja mempercantik diriku untuk melelang tubuhku kepada para pengusaha hidung blangblang, siapa yang menawar paling tinggi, dia yang harus aku temani. Uang hasil penjualanku pastinya akan masuk ke dalam kantong big bos, dan Brahm yang akan mendapatkan keuntungannya dari si bos. Memikirkan hal ini jantungku berdebar ketakutan dengan jalan ceritaku sendiri.
Pandanganku sempat terkagum menatap sosok tinggi berperawakan kekar dengan tatanan rambut yang sudah di atur rapi dengan wax . Mata elang yang selalu terlihat angkuh itu pun sedang menatap penampilanku. Tatapan angkuh yang sama saat pertama kali aku merasakan tubuh kekarnya di lorong kantor.
Brahm menaikan tangannya, memberikan isyarat yang dimengerti oleh Franky dan Juni. Keduanya mengangguk seraya membungkuk kemudian meninggalkan kamar ini. Saat pintu tertutup tersisa hanya diriku dengan Brahm di kamar ini. Sebelum aku terjebak dalam dunia kelam, cepat-cepat aku memohon pada laki-laki yang mengaku sudah menjadi suamiku ini.
“Brahm, aku mohon, jangan jual aku ke laki-laki lain. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Bilang saja sama bos kamu itu kalau kamu jatuh cinta sama aku dan ngak jadi jual aku. Buktinya sekarang aku ngak berontak dan marah-marah lagi kan. Jadi, tolong jangan jual aku sama bos kamu yah, yah, yah..”
Senyum yang baru saja terbit di bibir Brahm seketika menghilang saat mendengarkan ucapanku. Kening Brahm mengernyit dengan pandangan mata elangnya seperti siap menerkamku.
“Please..” Kedua tanganku menangkup memohon sambil menutup mata.agar Brahm mengasihaniku.
Sesaat kemudian rasa sakit perih menjalar di keningku karena jentikan tangan Brahm di sana. Spontan saja tanganku mengusap kening yang sudah pasti memerah. Ku beranikan diri membuka mata dan menatap Brahm dengan rasa takut.
“Kamu memang wanita pintar, nikmati sebagai istri seorang Brahm selagi kamu diberi kesempatan, sebelum aku menjual kamu ke pengusaha besok. Mungkin juga pada bos besar di kantor kita.”
Hancur sudah semuanya. Brahm benar-benar akan menjualku. Hari ini, dia pasti akan membawaku untuk dilelang seperti dalam film-film mafia. Membayangkan wajah big bos tua berbadan tambun dengan tawa menjijikkan sambil menghisap cerutu, aku tidak dapat membayangkan kalau harus melayani laki-laki semacam itu. Setelah itu besoknya aku akan dikirim kepada penawar tertinggi. Argh, sungguh malang nasibku. Lepas dari si Charles kurang ajar itu, dan masuk ke dalam kandang serigala lalu dibuang ke kandang macan. Inikah dunia hitam yang sesungguhnya?
Apa benar bos besar di perusahaanku benar-benar seorang mafia dan Brahm adalah kaki tangannya untuk menjalankan usaha illegal seperti perdagangan manusia? Yah, Tuhan. Tolong hambamu ini. Aku ngak pernah jahat sama orang lain, masa sih harus bernasib tragis.
“Mau jalan atau aku gendong?” Perintah Brahm sambil menggenggam tanganku dilengannya.
Sebuah ide terlintas kembali untuk mengulur waktu dan mencari jalan keluar. Ku pegang perutku memainkan sebuah peran.
“Aduh! Perutku sakit. Sepertinya ngak bisa pergi, biasanya kalau mau bulanan sakit perutku bisa guling-gulingan di ranjang. Aduh! Sakit beneran nih.”
Kupikir siasatku akan berhasil, kenyataannya sikap Brahm malah membuatku menyesal sudah merencanakan kekonyolan ini.
“Jadi kamu mau guling-gulingan di ranjang?” Tanya Brahm dengan seringai yang tidak kupahami.
“Kita bisa tunda acara perginya kalau kamu mau guling-gulingan di ranjang denganku. Lebih bagus lagi, jadi aku tidak perlu memaksa kamu untuk melayaniku karena kamu yang sukarela bergelut bersamaku. Urusan pergi, bisa aku atur lagi.”
Rasanya ingin ku congkel kedua mata pria tampan yang sedang tersenyum nakal menatapku kini. Sandiwaraku jelas tidak berhasil mengelabuinya. Saat Brahm bergerak untuk membuka jas nya, dengan cepat ku tahan.
“Ngak akan!” Ucapku seraya memalingkan wajahku yang terasa memanas. Apalagi seringai di wajah Brahm menunjukkan dirinya yang memenangkan permainan yang kubuat sendiri.
“Kalau begitu, jangan mencari alasan lagi. Ayo kita berangkat sekarang, Istriku.”
Perutku serasa tergelitik mendengar brahm memanggilku dengan sebutan istri. Ucapannya membuatku kembali menoleh dan memperhatikan mata yang sedang menatap ke dalam bola mataku, membawa gelenyar aneh dalam hatiku. Kemudian rohaniku serasa dibawa kembali tersadar sebenarnya posisiku sedang dalam bahaya.
“Kamu mau bawa aku kemana?”
“Ke tempat di mana status kamu akan berubah. Di mana aku ngak akan lagi merasa bersalah jika aku ingin menyentuh tubuh indah ini kembali, karena kamu akan terbiasa setelah ke tempat ini.”
Mataku membola tidak percaya mendengarkan penuturan Brahm. Ke tempat status ku berubah dan terbiasa trus menyentuh tubuhku. Tempat apa itu? Yah Tuhan, jantungku semakin berdebar kencang memikirkan tempat seperti apa itu.
“Aku ngak mau pergi. Ak-aku mau di sini saja.” Mencoba menghentikan rencana Brahm, mataku terus menatapnya meminta belas kasihan.
Tidak lagi membalas ucapanku, Brahm menarik tanganku sedikit menyeret paksa. Akupun meronta mencoba untuk membela diri agar Brahm tidak membawaku pergi. “Katanya kamu suamiku, tapi kenapa kamu seperti Charles yang juga menjualku. Aku ini bukan barang lelangan, kenapa sih kalian selalu bersikap semaunya!”
Namun usahaku sia-sia. Tenaga Brahm jauh lebih besar dari kekuatanku, akhirnya aku pun pasrah menunduk sendu, ku ikuti langkah Brahm membawaku menuju keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Saat mengangkat kepala, baru kusadar ternyata tempat ini besar sekali bahkan jarak dari pintu keluar menuju gerbang utama lumayan jauh kalau berjalan kaki..
Aku terus mencoba menerima kenyataan tentang keadaanku, dalam hati kecil memikirkan bagaimana dengan masa depanku, karirku, hidupku. Argh, aku pusing jika memikirkan semuanya itu dalam ketidakpastian. Saat ini permohonanku sangat mudah yaitu meminta keajaiban untuk lepas dari kandang serigala ini. Semoga saja Tuhan mengirimkan seorang penolong ditengah perjalanan kami nanti.
Rombongan mobil dibelakang kami berjalan mengikuti, mirip seperti seorang pemimpin kenegaraan yang sedang dikawal. Menambah lagi satu pemikiran dibenakku ini. Sebenarnya siapa Brahm sampai mempunyai fasilitas seperti ini. Sekaya apa sosok seorang penerus PT.Damian sampai-sampai mempunyai anak buah seperti Brahm. Apa mungkin rumah raksasa yang baru saja kami tinggalkan itu milik sang bos besar? Trus, kalau Brahm bilang aku ini istrinya, di mana kami akan tinggal? Istri numpang lewat dokumen saja, buktinya sekarang aku akan dijual ke pelelangan.
Dengan memperlihatkan wajah sedatar mungkin untuk menutupi rasa takut, aku kembali mencoba peruntunganku bertanya pada Brahm. Tentu saja nampaknya sia-sia karena keringat dingin terus mengucur karena rasa khawatir. Bagaimanapun tidak ada wanita yang ingin terjebak dalam situasi ku bukan?
“Kita mau ke mana sih? Tinggal bilang saja. Ke klub? Rumah ehm bor-dil? Atau kamu ngak bawa kau ke negeri lain kan? Pasport masih di rumahku.”
Brahm tetap diam berkutat dengan tablet di hadapannya, ucapanku bahkan tidak membuatnya bergeming sedikitpun. Ingin sekali aku menjambak rambut klimis rapi miliknya saat ini juga.
“Aku nanya sama kamu!. Tolong di jawab!” Bentakku hilang kesabaranku geram. Air mata pun ikut mengalir, aku tidak peduli lagi dengan hasil karya tangan Franky pada wajahku, lebih bagus juga kan kalau terlihat menyeramkan.
Brahm menatap ku dengan raut datar tanpa ekspresi yang bisa k****a sedikitpun. Kemudian kembali menekan layar di ponsel miliknya entah mengirim pesan kepada siapa. Melihat kegiatannya, sebuah pemikiran kembali menghampiriku. Apa sudah dimulai penwarannya? Kali ini keringat dingin bukan hanya mengalir dari pelipisku, namun telapak tanganku ikut berkeringat, padahal pendingin suhu di mobil ini begitu dingin.
Karena fokus dengan kekhawatiranku sendiri, tak terasa mobil kami berhenti, ku tengok ke sekeliling tempat kami berhenti. Kalau melihat bentuk gedung, sepertinya Brahm membawaku ke sebuah gereja. Tapi, untuk apa? Jangan-jangan bangunan berbentuk seperti gereja itu hanyalah sebuah kedok saja agar bisnis ilegalnya tidak diketahui siapapun. Aku harus memikirkan cara untuk kabur dari sini, tapi bagaimana caranya?
Brahm turun lebih dahulu, sedangkan aku sedang memikirkan bagaimana caranya agar malam ini aku bisa terbebas dari kekejian seorang Brahm. Tapi, hanya jalan buntuk didepanku. Tidak mungkin aku bisa bebas. Kulihat sudah ada beberapa mobil didekat bangunan ini. Sudah pasti para pengusaha itu telah hadir di dalam bangunan berbentuk gereja.
Membayangkan para tamu yang akan melihat diriku dengan wajah mereka yang sudah siap melakukan penawaran, rasanya jijik sekali membayangkan jika aku harus melayani salah satu dari mereka nanti.
Bahuku melonjak terjengit karena terkejut saat Brahm membukakan pintu untukku dan membungkukkan tubuhnya sambil mengulurkan tangan menuntunku untuk keluar..
“Ayo, semua orang sudah menunggu kehadiranmu.”
“Ngak mau! Please, jangan jual aku, Brahm. Aku bakalan nurut sama kamu.”
Tatapan elang Brahm berubah dengan tawa kecil yang baru saja ku dengar begitu menggelitik.
“Otak kamu makanya jangan kebanyakan nonton film ngak jelas. Daritadi kamu bilang aku mau jual kamu. Memangnya kamu barang yang bisa dijual.”
“Terus, ke sini mau ngapain? Tadi kamu sendiri yang bilang supaya aku menikmati statusku jadi istri kamu sebelum aku dijual besok.”
Brahm mulai menarik lenganku sedikit memaksa, matanya sudah menajam kembali.
“Mau keluar atau aku paksa?”
“Iy.. Iya, aku keluar sekarang.”
Dengan pasrah, kulangkahkan kakiku turun dari mobil. Melihat para bodyguard yang berjaga mengenakan jas hitam, sadar usahaku akan sia-sia untuk kabur saat ini. Bagaimana ini, satu-satunya jalan adalah dengan cara membuat diriku tampak buruk rupa agar mereka tidak tertarik bahkan jijik melihatku nanti.
‘Yah, Tuhan. Tolong aku.’