“Horang kaya, parfum, lotion dan segala t***k bengeknya merk LN guys.” Aku masih menciumi bau tubuhku yang wangi. Selanjutnya segera saja mengobrak-abrik isi tas kembali untuk mencari kaos, celana kulot panjang dan kacamata. Dengan santainya aku mulai memasukkan tangan kananku pada tali kacamata tepat ketika pintu kamar terbuka secara paksa. “Dek, kamu yang ngam— Kania!” Jeder! Aku jimprak lagi dan otomatis berbalik menghadap ke arah pintu. Kami terdiam untuk waktu yang cukup lama. Lagi, kulihat biji mata Pak Andro hampir keluar. Malu? Sungguh Malu-ku sekarang terasa dekat gak jauh lagi di sebelah Sulawesi. Ingin sekali berlari, tapi tanggung. Harga diri seorang Kania sudah jatuh sejatuh-jatuhnya jadi yang bisa kulakukan adalah melanjutkan apa yang sudah terjadi. Masa bodo dengan Malu

