“Hahaha.” Bapak tertawa sementara Pak Andro menatapku sambil geleng-geleng kepala. “Jangan geleng-geleng kepala mulu, Pak. Kania tahu Kania antik, unik dan bikin tergelitik hati Bapak buat ngelirik.” “Gak usah kepedean. Situ kan yang suka sama saya?” “Iyalah, kan Bapak ganteng, kaya lagi.” “Jadi beneran kamu suka sama saya?” Pak Andro menatapku penuh selidik. “Bapak ngarepnya gimana?” godaku. “Kania!” “Pak Andro.” “Kania!” “Pak Andro.” “Jangan main-main ya kamu?!” “Gak main-main kok Pak. Cuma mastiin aja.” “Kania!” “Dalem.” “Kania!” Kami terus saja saling menyebutkan nama dan berdebat gak jelas. Mungkin Bapak saking jengahnya mendengarkan suara kami yang sahut menyahut menjadi satu perpaduan yang memekakkan telinga, Bapak pun akhirnya bertindak. Pletak. “Aduh! Sakit Pak.”

